GELAGAPAN MENDONGKRAK KUALITAS PENDIDIKAN

Menunggu Ruang Pembentukan Perilaku Anak Didik

Aksi koboi anak sekolah kini makin mudah terpicu dan diunjukkan

  • Murid SD mengantre bersalaman dengan gurunya saat masuk sekolah di SDN Simomulyo V, Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Zabur Karuru
    Murid SD mengantre bersalaman dengan gurunya saat masuk sekolah di SDN Simomulyo V, Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    JAKARTA – Warga Kelurahan Sindangkasih, Purwakarta, bersama Babinsa dan Polsek Purwakarta Kota menangkap 15 pelajar Sekolah Dasar (SD) karena hendak tawuran dengan membawa senjata tajam, pada Jumat (20/4).

    Belasan anak berseragam putih merah itu awalnya berkerumun di pinggir jalan di Kampung Baranangsiang, Kelurahan Sindangkasih. Tapi, warga sudah curiga dengan gerak-gerik mereka dan apa yang mereka bawa saat itu. Saat diamati, warga melihat bocah-bocah itu membawa sejumlah senjata tajam.

    Warga lalu berinisiatif melaporkan ke Polsek Purwakarta Kota. Selanjutnya, 15 pelajar sekolah dasar ini ditangkap dan dibawa ke Mapolsek Purwakarta Kota.

    Kapolsek Purwakarta Kota AKP Suyono mengatakan, saat dikumpulkan, polisi menyita empat parang, lima celurit, dua golok besar, masing-masing sepasang ikat pinggang dan besi tumpul dan sebuah gir motor yang diikat pada ikat pinggang dari belasan anak ini.

    Mereka diduga hendak menyerang pelajar lainnya di SDN 6 Sindangkasih karena akibat dari aksi pelemparan dari sekelompok anak-anak ke sekolah mereka. Belasan pelajar yang ditangkap ini menuding pelemparan itu dilakukan pelajar SDN 6 Sindangkasih dan lokasinya tak jauh dari sekolah mereka.

    Peristiwa semacam ini juga terjadi di beberapa daerah. Penelusuran Validnews aksi koboi para pelajar SD juga terjadi di Magelang, 18 Februari 2018. Kemudian tawuran remaja di Ciracas, Jakarta Timur, pada 11 Februari 2018, yang menyebabkan korban tewas baik siswa SMP maupun siswa SD.

    Psikolog Caroline Sekarwati menilai fenomena anak-anak yang melakukan tawuran begitu memprihatinkan. Menurut dia ada banyak sebab untuk mengurai mengapa anak-anak kini mudah melakukan kekerasan. Salah satu diantaranya pendidikan karakter.

    Menurut dia kurikulum pendidikan di Indonesia sekarang ini lebih bermuatan pemenuhan akademik. Anak-anak dituntut menguasai hitung-hitungan dan mencetak prestasi.

    “Seakan pendidikan di Indonesia lupa untuk membentuk anak-anak dengan kecerdasan yang berbeda,” ujar Caroline kepada Validnews, Selasa (8/5).

    Ada anak-anak yang memiliki kecerdasan linguistik, seni, olah raga dan ada pula anak-anak yang memiliki kecerdasan dalam hal bersosialisasi. Tapi, saat mereka bertemu dengan anak-anak yang punya prestasi akademik, sistem pendidikan di Indonesia membuat mereka merasa minder.

    Kekurangan ini menurut Caroline kurang menjadi perhatian pemerintah. Dia menilai harus ada kurikulum yang memang bertujuan untuk mengasah beragam kecerdasan anak-anak dan menanamkan pendidikan berkarakter.

    Caroline juga mengingatkan, anak-anak itu punya daya ingat yang kuat dan menentukan pola kehidupan saat dia dewasa. Oleh sebab itu, pendidikan karakter yang bisa dilakukan oleh orang tua maupun tenaga pendidik. Tentang efektif atau tidaknya, menurut dia keberhasilan pendidikan karakter terbaik adalah dengan memberikan contoh perilaku bukan sekadar kata-kata semata. “Sebanyak 75% contoh yang dilihat dan ditiru anak-anak adalah bagaimana tindakan kita, bukan verbal,” ujar dia.

    Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) DKI Jakarta Iwan Ridwan mengatakan, pembentukan karakter sepatutnya dibahas secara holistik karena dipengaruhi banyak pihak, seperti keluarga, sekolah, dan lingkungan. Lebih lanjut Iwan menjelaskan pendidikan anak bermula dari rumah karena sejak anak lahir, rumah menjadi sekolah pertama dan orang tua menjadi guru pertama. Maka dari itu, orang tua dianggap bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter anak.

    “Sekarang bagaimana pendidikan keluarga, ini memang menjadi dasar. Fase anak ada masa golden age antara 0-5 tahun dengan menyerap berbagai hal. Saat jelek, selanjutnya juga jelek,” ujar Iwan saat ditemui di Kafe Literasi, Cipete, Jumat (4/5).

    Iwan juga menyoroti kegagalan pemerintah dalam upaya pembentukan karakter anak bangsa adalah ketiadaan pendidikan keluarga, atau pendidikan bagi orang tua dan calon orang tua. “Padahal yang kita pelihara ini adalah investasi paling berharga bagi keturunan umat manusia, ini ironis,” ujar dia.

    Ia berharap pemerintah dapat memperhatikan pendidikan dalam keluarga, agar anak yang akan keluar ke dunia sosial sudah dibekali pendidikan karakter yang baik. Langkah ini akan menyempurnakan tahap pendidikan yang dijalani anak, mengingat ada pengajaran di sekolah yang berfungsi membangun karakter anak, salah satunya pendidikan agama.

    Satu hal lain yang harus diperhatikan dan mempengaruhi karakter anak menurut Iwan adalah lingkungan. Lingkungan yang Iwan maksud termasuk media sosial maupun media massa. Ketiganya harus dikondisikan jika menginginkan pembentukan karakter terbaik. “Lebih kuat mana sekarang ini pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah atau pendidikan yang diterima anak-anak yang langsung di genggaman tangannya di ponsel pintar itu,” tanya Iwan.

    Pengaruh Keluarga
    Berdasarkan Statistik Indonesia  2017 yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), persentase kepala rumah tangga yang pendidikannya SMP ke bawah mencapai 88,06% per September 2016. Padahal, kepala rumah tangga kerap kali menentukan arah kebijakan keuangan anggota keluarga lainnya.

    Masih berdasarkan data serupa, tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang paling banyak di Indonesia adalah tidak tamat SD mencapai 37,81%. Sementara itu, kepala keluarga yang berpendidikan hingga perguruan tinggi hanya 0,59%.

    Menanggapi fakta yang dipublikasikan oleh lembaga pemerintah yang menangani statistik Indonesia tersebut, Rita beranggapan bahwa tingkat pendidikan orang tua tidak selalu berpengaruh pada pembentukan karakter anak. Komisioner KPAI ini kemudian menjelaskan, penentu pembentukan karakter anak adalah kecerdasan emosional orang tua.

    “Lulusan SD maupun sarjana itu kadang-kadang kalo tidak punya emotional question atau kecerdasan emosi menurut saya juga akan sia-sia. Sebenarnya karakter itu buka soal knowledge yang transfer knowledge gitu, misal hanya soal kamu pintar apa tidak, bukan itu sebenarnya. Karakter itu lebih pada integritas, kepedulian, dan empati. Jadi pendidikan karakter itu lebih pada puncak dari segala ilmu,” tutur Komisioner KPAI Rita Pranawati kepada Validnews, Senin (7/5).

    Sebagai contoh Rita menyebutkan beberapa orang tua dengan tingkat pendidikan rendah, namun bisa mengantarkan anaknya sampai pada kesuksesan dengan cara-cara yang jujur. “Teman saya dulu orang Bali, dan orang tua tukang pecah batu. Tapi mengajarkan anaknya untuk percaya diri, untuk menghormati orang lain hingga dia bisa S2 di luar negeri,” jelas Rita.

    Lebih lanjut ia menerangkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sering memberi apresiasi pada orang tua orang tua seperti itu. “Seperti satpam yang menemukan uang Rp100 juta. Itu pendidikan karakter dan mengamalkan kalau yang bukan miliknya jangan diambil,” imbuh Rita.

    Kekerasan oleh Anak
    KPAI merangkum data kasus-kasus terkait kekerasan yang dilakukan anak 2011 – 2016. Tercatat 304 anak yang menjadi pengguna Napza. Sedangkan anak sebagai pengedar Napza tercatat ada 146 orang. KPAI juga mencatat jumlah anak yang terlibat tawuran pelajar dan perundungan dengan jumlah masing-masing 786 dan 430 anak.

    Dari sepuluh pengelompokan kasus yang dibuat KPAI, pengelompokan Anak Berhadapan Hukum (ABH) merupakan kasus dengan persentase terbesar yakni 34,8%. Atau melibatkan 7.698 anak dalam kurun waktu 6 tahun tersebut. Angka tadi terbagi dua berdasarkan anak sebagai pelaku dan korban.

    Anak sebagai pelaku meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual hingga anak sebagai pelaku pembunuhan dan kepemilikan senjata tajam terhitung ada 3.250 orang. Sedangkan anak sebagai korban kasus yang disebutkan tadi, telah menimpa sekitar 4.405 anak di Indonesia.

    Iwan mengkritisi pola pikir orang tua menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan pada sekolah merupakan hal salah. Hal ini turut membuat sekolah menjadi kambing hitam manakala muridnya melakukan suatu kesalahan.

    “Sementara ini sekolah menjadi kambing hitam. Sekolah menjadi keranjang sampah. Padahal ini tanggung jawab bersama,” kata Iwan.

    Rita mengutarakan peran sekolah dalam pembentukan karakter anak hanyalah tempat kedua. Sedangkan tempat yang pertama dan paling utama adalah rumah. Jadi, sangat penting contoh baik di rumah.

    Dia memberi catatan penting tentang pemanfaatan gawai sebagai benda kecil namun memberi pengaruh buruk bagi anak yang mempengaruhi pendidikan karakter. Telepon genggam dia nilai bisa menghilangkan rasa empati, sosialisasi dan respon sosial pada anak. Menurut Rita permainan anak di gawai, terutama permainan berisi konten kekerasan menjadi penyumbang referensi dan ditiru oleh anak.

    “Anak-anak tidak bisa membedakan antara dunia maya dan dunia nyata. Tapi, gim dijadikan referensi anak melakukan kekerasan,” imbuh Rita.

    Berbicara solusi untuk sistem pembentukan karakter anak yang baik, Rita menerangkan bahwa mengubah sistem pendidikan dengan menghadirkan pengajaran khusus pembentukan karakter bukanlah jalan keluar. Membuat mata pelajaran terkait budi pekerti hanya akan membuat posisi pembelajaran itu sebagai beban baru bagi murid yang kemudian hanya dihafal dan bukan dipraktikan.

    “Pendidikan karakter itu bukan pendidikan yang harus disajikan di depan kelas. Tapi dengan contoh dan seterusnya,” ucap Rita.

    Psikolog Kasandra Putranto menjelaskan kenakalan anak dan remaja dipicu oleh pembentukan perilaku yang diserap sejak lahir sampai masa remaja dan dewasa. Ia menuturkan kecerdasan intelektual, sosial, dan emosional ditandai oleh kematangan fungsi otak seseorang mengerahkan daya pikir. Begitu juga untuk mengendalikan emosi sampai memilih dan menentukan gerakan dan situasi yang tepat.

    “Memberi pengaruh negatif terhadap kualitas perkembangan otak anak secara tidak langsung memengaruhi kualitas mental dan karakter remaja Indonesia. Mereka jadi agresif, pemahaman moral rendah dan kontrol diri terbatas,” jelas Kasandra.

    Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mengatakan, tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak merupakan permasalahan kompleks sekalipun sekolah tempat anak menimba ilmu telah menerapkan kurikulum yang wajibkan pemerintah.

    Menerapkan kurikulum yang baik, belum tentu dapat menghilangkan perilaku kekerasan anak. Artinya, perilaku tersebut bisa saja datang dari psikologi hingga lingkungannya bermain anak.

    “Semua daerah memiliki perbedaan faktor terkait kekerasan yang dilakukan oleh murid. Ditambah lagi, sekolah memiliki kebijakan yang berbeda. Terkadang kondisi inilah yang menjadi penyebab anak didik melakukan tindak kekerasan,” kata Abdul, kepada Validnews, Selasa (8/5).

    Oleh karena itu, lanjut Abdul, untuk menekan tindak kekerasan, para pendidik perlu memperingatkan tiap kesalahan anak mulai dari kesalahan kecil hingga kesalahan besar. Tak dapat dimungkiri, banyak sekolah melakukan pembiaran terhadap kesalahan kecil para murid yang berujung pada kebiasaan untuk melakukan tindakan kekerasan. (Zsazya Senorita, James Manullang, Mahatma Dania Putra)