MENGULIK POLEMIK PLASTIK

Mengurangi Sampah Plastik Lewat Alih Perilaku

Kementerian membuat pendekatan pengelolaan sampah mulai dari hulu ke hilir

  • Sejumlah pengendara memperlambat laju kendaraaanya untuk menghindari tumpukan sampah yang berada di tengah Jalan Juanda, Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Risky Andrianto
    Sejumlah pengendara memperlambat laju kendaraaanya untuk menghindari tumpukan sampah yang berada di tengah Jalan Juanda, Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Risky Andrianto

    JAKARTA – Permasalahan sampah menjadi satu dari sekian masalah belum terselesaikan dengan baik di Indonesia. Sisi suplai sampah terus bertambah, sedangkan bagaimana menangani, sekalipun sudah banyak digelontorkan, masalah sampah masih bertebaran di pelbagai penjuru.

    Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa total sampah di Indonesia mencapai 65,8 juta ton per tahun. Dari jutaan ton sampah itu, sampah kantong plastik yang dibuang oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya sekitar 10,95 juta lembar.  

    Sampah plastik merupakan permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi oleh masyarakat di Indonesia dan juga Dunia. Penggunaan produk plastik secara berlebihan dapat menimbulkan masalah terhadap lingkungan hidup yang cukup serius.

    Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan sampah plastik terbesar setelah China. Mengutip data dari nature.com, Indonesia diperkirakan membuang sekitar 200.000 ton plastik per hari ke selokan dan sungai-sungai, hingga bermuara ke laut yang dapat merusak ekosistem.

    Tercatat, sebanyak 16% dari total sampah di Indonesia berasal dari plastik. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan memerlukan solusi dari pemerintah baik berupa kebijakan atau pun ajakan untuk mengurangi ketergantungan pada plastik mulai dari penggunaan kantong plastik dan lain-lainnya. Tak hanya berdampak pada lingkungan, sampah berbahan plastik dapat merusak ekosistem hingga menyebabkan kepunahan suatu spesies di bumi ini.

    Memang, penerapan hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi, pemerintah perlu memikirkan solusi pasti untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan ini. Berawal dari alih perilaku pemanfaatan plastik.

    Kepada reporter Validnews,  Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menguraikan banyak hal tentang mengelola sampah.

    Bagaimana kondisi sampah plastik, terkhusus kresek, di Indonesia dalam setahun terakhir?

    Saat ini Komposisi sampah plastik Indonesia selalu menunjukkan peningkatan. Faktanya, dalam satu dekade terjadi penambahan mencapai 5-6%. Pada tahun 2005, komposisi sampah plastik hanya mencapai angka 11% dari total seluruh sampah. Kini, kondisi sampah plastik mencapai angka 16%. Bahkan, di beberapa kota besar di Indonesia jumlah sampah plastik menyentuh angka 17% dari total sampah secara keseluruhan.

    Memang, hingga saat ini sampah organik yang berasal dari sisa makanan, sampah sayur dan sebagainya masih mendominasi. Namun, dalam satu dekade sampah plastik meningkat dengan signifikan. Situasi ini harus mendapatkan perhatian yang khusus. Sebab, banyaknya sampah plastik tak terlepas dari pola konsumsi dan pola hidup. Contohnya, selama ini bila berbelanja ke mal, pembeli tak sungkan untuk meminta lima kantong plastik. Tanpa disadari, sesampainya di rumah, kantong plastik tersebut langsung dibuang lantaran hanya untuk sekali pakai saja.

    Apa penyebab kantong kresek dapat menjadi permasalahan besar?

    Saat pergi ke pasar tradisional, biasanya orang tak membawa apa-apa. Namun, dalam satu kali belanja dapat membeli tujuh jenis. Contohnya, sayur, ikan, dan lainnya tanpa memiliki beban. Untuk membawa barang belanjaan tersebut, pembeli selalu menggunakan kantong plastik karena praktis dan pembeli bisa mendapatkannya secara cuma-cuma.

    Padahal, sikap tersebut salah. Sebenarnya, plastik tersebut tak gratis. Sebab, memiliki ongkos produksi. Misalnya, tiap supermarket atau mal pasti membeli kantong plastik dari pabrik plastik. Jadi, kantong plastik itu memiliki harga. Namun, selama ini, para pedagang memberikan kantong plastik itu secara gratis kepada masyarakat. Itu sebabnya, masyarakat merasa kantong plastik tersebut hak mereka serta gratis. Nah, pemberian secara cuma-cuma ini membuat pembeli sering meminta kantong plastik dalam jumlah yang banyak. Selanjutnya, tanpa beban membuangnya sembarangan sehingga sampah plastik kian meningkat.

    Bagaimana dampaknya?

    Sampah plastik berbeda dari komposisi sampah lain. Butuh waktu yang lama untuk mengurai sampah plastik. Bisa saja, dalam kurun waktu ratusan tahun sampah plastik baru dapat terurai. Sebaiknya, masyarakat membuang sampah plastik ke TPA (tempat pembuangan akhir) agar tak mencemari lingkungan sekitar.

    Masalah muncul, bila masyarakat membuang sampah plastik sembarangan, seperti ke sungai, laut, dan tempat lain. Kondisi ini dapat memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan. Karena, plastik tak bisa terurai langsung di alam. Kemudian, terpecah menjadi mikroplastik dan bila termakan ikan atau burung, penyu dan lainnya dapat menyebabkan kematian.   

    Dalam film Plastic Ocean, digambarkan ketika mikroplastik masuk ke dalam tubuh paus biru. Ternyata, hal tersebut menyebabkan kepunahan bagi paus biru. Begitu juga fakta bahwa banyak burung-burung mati dengan potongan plastik kecil di dalam perutnya.

    Artinya, sampah plastik berbahaya bagi lingkungan. Memang, persoalannya, pengelolaan sampah dari hulu ke hilir belum terkelola dengan sempurna. Apalagi, tak seluruh sampah plastik masuk ke TPA.

    Dalam istilah yang digunakan orang-orang persampahan adalah kecelakaan besar bila sampah plastik masuknya ke perairan. Harusnya sampai ke TPA walaupun tidak bisa diolah lagi.

    Untuk mencegah timbulnya dampak negatif dari sampah plastik ini, upaya apa saja yang dilakukan oleh KLHK untuk mengurangi sampah plastik, terutama kresek, di Indonesia?

    Untuk mencegah ini, kementerian melakukan pendekatan dari hulu dan hilir. Hulu sebelum plastik diproduksi hingga hilir sampai sampah dikuburkan. Jadi, ada upstream dan downstream. Kedua hal tersebut merupakan prioritas.

    Dulu, pendekatan yang dilakukan untuk mencegah hal ini cukup dilakukan di hilir aja. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengumpulkan sampah dan membuang sampah tersebut ke TPA. Kemudian, dikelola oleh Dinas Kebersihan.

    Sekarang, pengelolaan sampah plastik tak sesederhana itu. Sebab, kebanyakan TPA penuh. Sementara susah untuk membuka lahan TPA yang baru karena membutuhkan anggaran yang besar. Apalagi, untuk membangun TPA, harus memiliki persyaratan yang tak mudah. Oleh karenanya, kebijakan kementerian bergerak ke hulu.

    Di hulu terdapat dua stakeholder besar. Pertama, produsesn yang menghasilkan kemasan dari produknya. Kemudian, kemasan tersebut menghasilkan sampah. Misalnya, industri manufaktur, sampo, minyak goreng, dan lainnya.

    Kedua, produsen yang berkaitan dengan ritel, mal. Mereka menjual kemudian memberi kantong plastik untuk membawa belanjaan. Berikutnya, produsen dari hotel, rumah makan, kafe, yang menjual minuman dengan cup plastik. Kemudian, cup dan sedotan plastiknya menjadi sampah. Bila masuk ke laut, sedotan itu tak dapat diolah masuk ke hidung penyu dan menyebabkan kematian. Oleh karenanya, kementerian bergerak ke hulu dalam mengolah sampah, dari sisi produsennya.

    Langkah selanjutnya, pemerintah akan mengeluarkan regulasi tentang roadmap mengenai cara mengurangi sampah dari produsen. Kebijakan ini akan mendorong produsen memiliki based line seperti satu perusahaan manufaktur memiliki data beberapa lembar plastik yang diproduksi dalam setahun. Dengan adanya roadmap itu otomatis akan mengurangi jumlah sampah plastik. Bisa jadi, bahan pembuatan kresek semakin tipis.

    Contoh lainnya, program recollecting kemasan oleh salah satu perusahaan makanan minuman besar di Indonesia. Tahun ini, 11% collecting, tahun 2025 sebanyak 50% recollecting, setelah mencapai target 100% pengumpulan dan dilanjutkan 100% pengolahan. Dari sisi produsennya, kami akan dorong untuk membuat yang ramah lingkungan. 

    Berikutnya, sisi hulu lainnya adalah masyarakat sebagai stakeholder kedua. Memang, harus dibangun kegiatan di masyarakat, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah mendeklarasikan anggota untuk mendorong gerakan membawa kantong belanja. Jadi, pemerintah juga harus masuk ke sisi masyarakat agar warga lebih perhatian.  

    Sebelum belanja, ada baiknya masyarakat mencatat dulu akan membeli apa? sehingga dapat membawa tempatnya dari rumah, seperti Tupperware. Artinya, sebelum belanja ke supermarket masyarakat telah memikirkan apa yang harus dibawa agar menghindari penggunaan kantong belanja sehingga tak menghasilkan sampah plastik ketika tiba di rumah. Memang, gerakan ini harus dimulai dari hal paling kecil. Sebelum sampah dihasilkan.

    Tak hanya itu saja, pemerintah mendorong adanya gerakan membawa tumbler minimum 3 liter yang serta enam botol plastik. Kalau bisa gerakan ini jadi lifestyle masyarakat. Lebih baik lagi, bila menjadi way of style kalau tidak mau menghasilkan sampah. Dapat dikatakan tiap orang dapat bertanggungjawab atas sampah yang dihasilkan. Sikap ini dapat membuat masyarakat tak ingin memproduksi sampah.  

    Pastinya, pemerintah akan menyiapkan rencana tersebut agar muncul gerakan movement di masyarakat. Apalagi, di masyarakat telah muncul gerakan bawa kantong belanja, pilah sampah, bank sampah. Hanya di Indonesia, bank sampah merupakan inisiatif orang Indonesia meski belum massif.

    Harapannya, satu kota bila terdiri dari 1.000 RT memiliki 1.000 bank sampah pula. Jadi kekuatan sosial, karena kenyataannya, semua orang itu bisa menyelesaikan sampahnya minimal 80%. Misalnya, sampah organik, seperti sisa makanan, buah, sayur, dijadikan kompos Takakura. Anorganiknya, botol dipisah, keras dipisah, kaleng juga dipisah. Kemudian, dalam waktu kurang dari dua bulan, sampah itu di bawa ke bank sampah.

     

    Menangani permasalahan sampah ini, apakah KLHK berkoordinasi dengan pihak lain? Bila ya, seperti apa bentuk kerja samanya? Dan bagaimana perkembangannya?  

    Ya, dalam menyelesaikan permasalahan ini, kementerian berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. Seperti kepada pemerintah daerah (pemda) untuk menganjurkan masyarakatnya agar membuang sampah ke tempat-tempat khusus. Sebab, pemda dapat membangun kekuatan sosial di masyarakat.

    Hilirnya ini, dilakukan secara konvensional. Selama ini dilakukan oleh dinas kebersihan kota. Makanya, dapat didorong dengan sarana dan prasarana agar semua tak masuk ke TPA. Bisa juga dengan membangun, recycle center, TPS3R, kemudian biodigester yang bisa menghasilkan gas, menghasilkan kompos. Tujuannya, sampah yang masuk ke TPA sedikit. Artinya, dari hulu ke hilir menjadi prioritas karena memang seluruh pengelolaan sampah semakin mengkhawatirkan.

    Sebenarnya, apa permasalahan terbesar yang dihadapi KLHK dalam mengelola sampah plastik?

    Semuanya memiliki persoalan yang besar. Pertama, di produsen karena hanya beberapa yang mau peduli dengan kondisi sampah. Oleh karena itu, pemerintah akan mendorong komitmen produsen untuk bertanggung jawab terhadap kemasannya yang menghasilkan sampah plastik.       

    Kemudian, dari sisi partisipasi publik, beban perilaku merupakan permasalahan terbesar. Dapat dilihat, masih terdapat masyarakat yang tak membuang sampah pada tempatnya. Apalagi masyarakat diminta untuk mengurangi sampah akan menjadi kesulitan tersendiri.  

    Oleh karena itu, KLHK menilai persoalan sampah di Indonesia sangat meresahkan. Data KLHK menyebut bahwa total sampah yang dibuang ke laut Indonesia mencapai angka 187,2 juta ton per tahun. Meningkatnya angka kepadatan penduduk serta keterbatasan lahan untuk menampung sisa konsumsi menjadi salah satu faktor penyebab volume sampah yang terus menggunung.

    Sebanyak 187,2 juta ton sampah per tahun, berapa jumlah per harinya?

    Dalam satu tahun itu terdapat 65,8 juta ton total sampah di seluruh Indonesia. Komposisinya 57% diantaranya terdiri dari sampah organik, 16% plastik, 10% kertas, 4% logam, sisanya kaca dan lain-lain.

    Dari jumlah tersebut, kota manakah yang paling banyak memiliki sampah?

    Jakarta. Di kota ini terdapat sekitar 7.500 ton sampah per hari.

    Apa dampak dari sampah yang telah menggunung ini?

    Pastinya menimbulkan banyak penyakit. Sempat terdapat kasus orang meninggal karena sampah di Leuwigajah, Cimahi. Ia meninggal karena TPA sekitarnya telah menggunung dan menimbulkan pencemaran. Nah, hal ini membuat sungai tersumbat lalu di makan oleh ikan itukan menyebabkan permasalahan baru. Bisa jadi, penyebab kematiannya itu saat ikan yang di makan terdapat leburan mikroplastik.

    Oleh karena itu, bagaimana cara mengolah sampah agar tak menjadi sarang penyakit?

    Harus dilakukan dari hulu sampai hilir. Indonesia telah memiliki Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Semangat regulasi ini mengubah pola pikir masyarakat sebelum membuat sampah. Kemudian, bagaimana caranya masyarakat beraktivitas tak menimbulkan banyak sampah. Dari situ akan muncul kebijakan pembatasan sampah.

    Selanjutnya, mendorong semua orang untuk menggunakan kantong belanja. Bila semua orang menggunakan kantong belanja dapat mengurangi jumlah kresek yang menjadi sampah.   

    Kemudian yang kedua kebijakannya adalah mengurangi sampah, bagaimana sampah yang dihasilkan dapat dikurangi. Kalau tiap orang dapat mengurangi sampah atau setiap komunitas sampah ikut menggalakan gerakan ini akan membuat 50%—60% sampah organik.

    Kalau dipilah dari sampah daur seperti sayur dan sebagainya, itu bisa kompos atau biomasa sudah berkurang 60%. Terhadap plastik kertas logam dapat pisahkan karena bisa didaur ulang dan terdapat nilai jualnya. Namun, gerakan ini belum massif di masyarakat. (James Manullang, Benny Silalahi)