MENJAGA KESINAMBUNGAN "TAMBANG EMAS HIJAU"

Mengenal Sawit Lestari Lewat Kursus Musim Panas

Tujuan riset yang menjadi materi Palm Oil Summer Course bukan untuk menjawab kampanye hitam, melainkan untuk membuat sawit Indonesia menjadi sustainable

  • Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri Siswo Pramono. Fin Harini/Validnews
    Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri Siswo Pramono. Fin Harini/Validnews

    JAKARTA – Moratorium lahan perkebunan sawit sejatinya membawa kekhawatiran Indonesia tidak mampu memproduksi sawit untuk memenuhi kebutuhan dunia yang kian meningkat. Di sisi lain, terpaan kampanye hitam yang cenderung mendengungkan mitos masih terus menyerap energi pemerintah untuk bisa menghalaunya.

    Mengenai kedua permasalahan tersebut, sains sebenarnya dapat menjadi jawaban. Kementerian Luar Negeri melalui Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK)-nya menggamit pihak perguruan tinggi demi mendorong pengembangan industri sawit berdasarkan sains. Pasalnya, potensi ekonomi Indonesia yang bisa tercipta hanya dari lahan sawit yang sudah ada sebenarnya sungguh besar. Tanpa perlu menambah lahan, tanpa harus repot menciptakan teknologi canggih berbiaya tinggi.

    Lembaga pengkajian ini pun juga berupaya membangun kesadaran petani sawit dan masyarakat dunia akan sawit lestari lewat kursus musim panas yang bertajuk Palm Oil Summer Course.

    Kepada Validnews,  Kepala BPPK, Kementerian Luar Negeri Siswo Pramono berbincang lebar mengenai kursus musim panas ini dan pentingnya sains dalam pengembangan industri sawit. Berikut wawancara lengkap dengan Siswo Pramono di ruang kerjanya, Kamis (21/12).

    Bagaimana awal mulainya Kementerian Luar Negeri memutuskan untuk mengadakan kursus sawit ini? Apa latar belakangnya?

    Dasarnya adalah pada apa yang kita sebut sebagai diplomasi ekonomi. Kan diplomasi ekonomi ini melibatkan banyak pihak karena menurut Undang-Undang Hubungan Luar Negeri, kan semua aspek yang menyangkut hubungan luar negeri itu di bawah koordinasi Kemenlu. Sementara itu, kepentingan luar negeri itu kan banyak sekali ketika berbicara ekonomi. Nah, itu dikoordinasikan supaya bisa lebih efektif dan efisien, berhasil guna.

    Termasuk juga untuk sawit. Sawit itu masalah yang sangat kompleks karena melibatkan lingkungan hidup, melibatkan kehutanan, melibatkan perdagangan internasional, teknologi dan industri kalau kita bicara biofuel dan produk turunan. Yang lebih penting lagi ini melibatkan petani. Yang 40% adalah petani kecil atau small holder itu.

    Ini kan kaitannya dengan politik luar negeri induk kita yang dikenal dengan SDG’s, Sustainable Development Goal’s-nya, yang dulunya MDG’s sudah selesai. Itu  yang menjadi perlu dikoordinasikan agar menjadi lebih baik lagi. Soalnya sawit itu pangsa pasar utamanya di luar negeri semua, yaitu di Eropa, China, dan India. Di dalam negeri juga banyak karena kita adalah second largest consumer juga untuk sawit. Artinya, perlu ada koordinasi.

    Nah, sawit juga banyak tantangannya. Di era globalisasi ini, terutama setelah tahun 2000, pertambahan penduduk dan industrialisasinya sangat besar. Kepedulian orang untuk membangun perumahan yang bagus dan sehat juga sangat besar. Akhirnya apa? Ladang pertanian semakin sempit. Land bank di dunia, tidak hanya di Indonesia, makin menyempit. Sekarang pertanyaannya, bagaimana caranya menggunakan land bank yang terbatas untuk bisa menghasilkan vegetable oil yang bisa memenuhi kebutuhan pasar dunia? Pasarnya ada di Eropa, Amerika, dan Asia.

    Kita tahu prospek sawit sekarang yang menjadi kebutuhan pasar dunia tadi, apalagi berdasarkan penelitian, sudah ketahuan bahwa yang paling efisien itu sawit. Artinya dengan land bank atau jumlah lahan yang terbatas, sawit bisa menghasilkan lebih banyak daripada bunga matahari dan jenis nabati lainnya. Ini artinya kalau dunia mau mempertimbangkan keterbatasan tanah sehingga pertanian tidak mendesak perumahan, tidak mendesak hutan, tidak mendesak taman-taman, ya kita harus menggunakan secara konsisten yang terbatas tadi sebaik mungkin dengan sawit.

    Ini bisa tercapai jika sawit tadi bisa dikelola secara lestari, secara berwawasan lingkungan. Tidak secara ekstensifikasi, tetapi intensifikasi; dia berarti harapan dunia.

    Salah satu peserta Palm Oil Summer Course 2017. Dokumen Kementerian Luar Negeri

     

    Tapi tingkat efisiensi sawit seperti tidak dianggap oleh dunia, justru banyak kampanye negatif. Itu bagaimana, Pak?

    Jadi begini, saat ini kita menghadapi real politic dari dunia global. Artinya kalau dia paling efektif, tentunya dia bersaing dengan yang tidak efektif, yaitu jenis vegetable oil yang lain, termasuk bunga matahari dan lain sebagainya. Dari situlah mulai timbul keberatan-keberatan khususnya dari petani vegetable oil. Tentunya, kan mereka keberatan karena kesaing.

    Pada saat yang sama, ada rasa bersalah dari masyarakat Eropa karena sejak Revolusi Industri bahkan sejak sebelum itu kan hutan Eropa sudah hilang. Saya pernah mengunjungi hutan-hutan asli Eropa di kawasan Skandinavia. Itu hanya satu strip tipis dari Norwegia sampai Rusia. Itu hutan asli mereka. Tapi, itu hanya kurang dari 0,5% dari seluruh hutan. Jadi walaupun kelihatannya banyak hutan, tapi itu hutan ekonomi.

    Hutan ekonomi itu misalnya hutan pinus. Dipakai untuk perkebunan, dipakai untuk bangunan, kemudian ditanam lagi. Itu persis sama kayak kita juga. Nah, mereka merasa bersalah. Di satu sisi, pasti mereka merindukan alam yang asri dan itu masih ada di tanah air dan kawasan Asia lainnya. Yang namanya rainforest (hutan hujan). Tentunya kepentingan mereka dan kepentingan kita sama. Kita ingin menyelamatkan rainforest karena kita tidak mau mengulangi kesalahan di Eropa tadi.

    Intinya saat itu kita melihat jadi ada sentimen para petani Eropa yang mungkin dagangannya akan diambil alih oleh sawit. Bunga mataharinya tersaingi oleh sawit. Rapeseed atau canola-nya tersaingi oleh sawit. Pada saat yang sama, ada  kebutuhan peradaban manusia untuk melindungi hutan yang dulunya banyak dirusak dan sudah hilang, untuk mempertahankan yang masih tersisa: hutan tropis di Asia atau di Amerika Latin.

    Khususnya pihak kita ingin mempertahankan hutan, tapi di saat yang sama meningkatkan taraf hidup rakyat. Mereka ingin juga mempertahankan sisa hutan di dunia ini, tapi pada saat yang sama juga mempertahankan taraf hidup rakyat supaya rakyatnya tidak tersaingi oleh kelapa sawit.

    Akhirnya bagaimana supaya ini bisa konvergen, memiliki kesamaan kepentingan. Oke, kita pertahankan hutan sama-sama. Caranya apa? Bantu dong Indonesia dengan intensifikasi sehingga kita tidak melakukan ekstensifikasi. Intensifikasi itu hanya bisa dilakukan dengan bibit-bibit unggul sehingga inilah inti dari replanting itu, menanam bibit unggul sehingga hasilnya bisa bertambah tanpa menambah jumlah tanah.

    Apalagi ini mengingat 40% dari bisnis sawit kita ini dikelola small holder atau petani kecil. Nah, petani kecil tadi hanya menghasilkan 1 hektare 1 ton. Kalau pas untung, bisa 2 ton. Tapi, kebanyakan 1 ton. Bahkan kadang-kadang kalau lagi apes, di bawah 1 ton. Sementara itu, perusahaan besar karena manajemennya lebih bagus, punya kapasitas modal lebih bagus, bisa antara 5—6 ton.

    Kita bayangkan kalau penghasilan sawit Indonesia tadi yang 40% ini bisa ditingkatkan menjadi 5 ton. Itu kan berarti menambah produksi sawit dengan kualitas yang bagus, tetapi tidak menambah jumlah tanah. Di situlah inti dari sains. Tugas sains itu menjembatani antara kekurangan dan kelebihan agar seimbang. Itulah yang saya sebut kenapa kerja sama dengan negara maju di Uni Eropa menjadi penting.

    Lalu kita sampai pada kesimpulan, oke karena sawit itu bagian dari SDG’s dan para para pendukung  SDG’s itu kan juga orang Eropa—harus mengentaskan kemiskinan tapi melindungi kehutanan—akhirnya kita bikin yang namanya kerja sama sains tadi. Itu bukan hal yang baru.

    Salah satu contoh adalah kerja sama antara Universitas Kottingen dengan tiga universitas di Indonesia. Jadi, ada kerja sama konsorsium, yang terdiri dari Universitas Kottingen dari Jerman dan Universitas Tadulako dari Sulawesi; Universitas Jambi yang sangat terkenal kehutanannya itu, dan IPB Bogor. Nah, empat ini sudah melakukan kerja sama lama sekali, sejak tahun 2000-an. Sudah 10 tahunlah kira-kira.

    Kerja sama meliputi apa saja?

    Awalnya kerja sama, topiknya sama, yaitu transformasi lahan. Dari lahan hutan ke lahan penggunaan yang lain. Dulu yang di Sulawesi itu awalnya dengan kakao, tanaman cokelat. Kemudian fase selanjutnya berkembang menjadi kerja sama transformasi lahan dari hutan ke sawit dan ke jungle rubber (hutan karet). Semua itu tadi intinya mengenai sustainability.

    Kembali ke sawit, artinya kita mau meningkatkan produksi sawit tanpa menambah lahan baru. Harus diakui bahwa dulu ketika zaman pembalakan hutan di era Orde Baru, banyak hutan yang rusak ditebang. Nah, hutan yang rusak itu yang kemudian dijadikan ladang sawit untuk dihijaukan kembali melalui sawit. Intinya sekarang bagaimana menyetop moratorium penebangan hutan. Soalnya dengan kebijakan moratorium yang terus diperpanjang tadi, memang lahan sawit harus disetop. Sekarang yang 12 juta hektare itu harus berhenti. Kalau untuk meningkatkan, dengan intensifikasi tadi.

    Kembali ke inti kerja sama Indonesia-Jerman tadi adalah bagaimana melakukan  pengelolaan secara lestari. Tadi kan lima tahun pertama mengenai kakao ya. Nah, yang untuk sawit itu sudah lima tahun dengan fokus di Sumatra.

    Kerja sama tadi menghasilkan 80 artikel ilmiah. Sebanyak 62 artikel ilmiah mengenai pengembangan sawit yang sustainable tadi sudah berhasil dipublikasikan di jurnal-jurnal akademis ilmiah internasional. Artinya ilmu yang dihasilkan dalam lima tahun ini mengenai sustainibility, mengenai biodiversity, dan mengenai dampak sosial dari sawit itu sudah terdokumentasikan dalam jurnal-jurnal internasional yang jumlahnya 62 artikel. Yang lainnya sedang dalam proses atau diterbitkan di Indonesia.

    Nah 62 artikel dari hasil kerja konsorsium tadi selama lima tahun tadi kan sangat berharga, itulah yang kemudian kita gali lagi. Kita jadikan sebuah sumber pengetahuan yang berbahasa populer. Kalau artikel ilmiah, yang bisa baca itu hanya ilmuwan karena itu cuma grafik, matematika, angka, regresi, dan sebagainya. Masyarakat awam enggak tahu. Padahal, yang perlu tahu adalah adalah masyarakat awam, apakah petani sawitnya sendiri atau pemakai sawit di Eropa tadi.

    Akhirnya, kita bekerja sama dengan beberapa LSM, misalnya dengan The Conversations yang ada di Australia. Bagaimana caranya mereka bantu kita menerjemahkan ulang sains-sains yang sangat ilmiah tadi dalam bahasa populer yang dimengerti oleh orang awam seperti kita. Yang namanya bisa policy brief, bisa juga naratif mengenai palm oil.

    Tujuannya dua kalau sudah jadi. Buku-buku yang mudah dicerna itu kita bagikan. Dalam bahasa Indonesia, kita kasih petani. Petani tahu jadi bagaimana yang bagusnya itu. Dalam bahasa Inggris, kita kasih ke Inggris, Eropa. Ini supaya mereka tahu.

    Bahkan kemarin saya sudah bicara dengan WWF di Jerman kalau nanti sudah jadi, mereka mungkin akan lihat dan bersedia menerjemahkan dalam bahasa Jerman dan dalam bahasa Prancis.

    Kenapa kita kerja sama banyak dengan LSM? Karena sains itu kan tidak memihak. Sains itu sejatinya kan memihak pada alam dan manusianya karena berbicara tentang sustainability. Itu bagus untuk semuanya, termasuk untuk kita.

    Yang kedua, hasil itu juga yang kita jadikan modul untuk membuat kelas kelapa sawit tadi. Jadi, kelas kelapa sawit tadi itu tidak mengarang-ngarang, tapi dari hasil penelitian yang sudah lima tahun. Yang sudah diterbitkan di jurnal-jurnal internasional di seluruh Eropa, bahkan di Amerika dan secara global. Hasil tadi yang kita jadikan sebagai kurikulum. Judulnya itu Palm Oil Summer Course. Alasannya, karena kita adakan pada saat summer di Eropa. Kalau di Indonesia, kan summer terus.

    Pesertanya yang angkatan pertama kemarin ada 15 orang. Sebelah orang dari Eropa, 4 orang dari Indonesia. Eropanya itu ada dari  Inggris, dari Jerman, dari Spanyol. Kebanyakan dari Jerman. Orang Indonesia yang empat tadi diperlukan sebagai jembatan budaya. Karena kalau cuma dosen saja agak susah. Mereka enggak mengerti bahasa Indonesia. Karena banyak nanti proyeknya itu praktik di lapangan.

    Apa saja kegiatan selama kursus itu?

    Kursus tadi itu buat tiga minggu. Satu minggu pemahaman hasil riset tadi. Teorinya dipaparkan kepada mereka di Bogor. Di sana, mereka sempat meninjau Kebun Raya Bogor di mana kelapa sawit pertama kali didatangkan dan ditanam oleh Belanda di situ.

    Setelah satu minggu di situ, mereka pindah di Jambi selama dua minggu. Mungkin cuma satu dua hari di Universitas Jambi, selebihnya mereka di lapangan.

    Apa yang mereka lakukan? Mereka belajar menanam sawit sesuai dengan kaidah-kaidah sawit lestari kita. Karena para petani sawit di Jambi itu sudah bagian dari ISPO dan RSPO. Mereka belajar cara mengangkut sawit, bagaimana menurunkan dari pohonnya. Terus belajar memupuk, belajar menyiangi.

    Yang kedua, mereka diajak melihat sapi sawit. Pengembangan tumpang sari sawit dengan sapi. Jadi, di Jambi itu sudah ada peternakan sapi yang dikasih makan limbah sawit. Kulit kernel itu diolah menjadi makanan sapi. Kemudian, kotoran sapi diolah menjadi pupuk sawit.

    Nah, mereka melihat di situ prosesnya. Ini cukup berhasil karena penggemukan sapinya cukup sukses. Bagus hasilnya. Kotoran sapinya juga menjadi pupuk kandang yang sangat bagus untuk sawit.

    Para peserta kursus juga melihat menara kontrol. Di lapangan di Jambi ada sekitar 4—5 menara kontrol. Menara itu tempat kita mengukur emisi nitrogen karbondioksida.

    Itu jadi sebuah tower yang penuh dengan peralatan elektroik komputer, dikaitkan pada dengan sebuah gardu komputer di bawahnya. Datanya dari gardu itu langsung didistribusikan ke universitas di Jerman, Konttingen. Disalurkan juga ke IPB, Universitas Jambi, dan di Tandulako. Datanya diproses di empat universitas tersebut hasilnya. Hasilnya dicocokkan. Itu pengukuran emisi selama setiap hari 24 jam selama lima tahun berturut-turut. Jadi, datanya itu sudah sangat lengkap.

    Di situ ketahuan bahwa ketika membuka lahan dan menanam sawit sampai umur 2 tahun, memang terdapat emisi karbon dan nitrogen yang cukup tinggi. Kenapa? Soalnya ketika membabat hutan itu kan banyak sampah hutannya, humusnya. Itu kemudian kan diolah oleh jasad-jasad krenik di dalam tanah. Kemudian ada pemupukan. Pupuknya kan nitrogen. Tentu ada emisi. Itu terjadi selama dua tahun.

    Tapi setelah sawit menjadi dewasa, katakanlah mulai dari umur 4—5 tahun sampai 25 tahun, dia menjadi penyerap karbon. Jadi, emisinya 1—2 tahun pertama. Setelah itu, dia justru nyerap emisi selama 20 tahun.

    Sekarang tinggal membandingkannya toh, berapa yang dia keluarkan dan berapa yang dia serap selama jadi pohon? Istilahnya, ada plusnya jadinya. Sawit kita nyerapnya lebih banyak. Hitungannya per siklus.

    Jadi ini melenyapkan salah satu tuduhan terdapat sawit soal menghasilkan karbon lebih banyak ketimbang karbon yang bisa dikurangi dari penggunaan biodiesel dari komoditas ini?

    Itu kesalahannya. Kalau bicara sawit kecil, tahun pertama kedua ya tentu. Itu juga tidak terbatas sawit. Semua perkebunan jenis apapun akan mengeluarkan, termasuk perkebunan di Eropa. Kan pas menanam ada sampah-sampahnya di situ, diolah oleh bakteri. Itu sudah mengeluarkan emisi. Kemudian dia pasti memupuk, mengeluarkan emisi lagi.

    Balik ke menara kontrol, peserta nanti mengukur sendiri. Itu mereka naik ke tower. Tower-nya itu tingginya 30 meter. Jadi, akan tahu kan kalau tahun 1—2 itu emisinya tinggi, tapi  selanjutnya terutama tahun 5—25 menyerapnya tinggi banget juga.

    Kemudian, lewat tower-tower bisa mengukur jatuhan air dan serapan air juga. Kesimpulannya, sawit dan hutan itu serapan airnya sama. Jangan dibilang sawit menyerap air banyak. Enggak. Hutan juga banyak airnya. Sama serapannya, tidak berbeda.

    Ya mungkin kalau dihitung batangan mungkin sawit menyerapnya banyak. Tapi, kan itu jaraknya jauh-jauh. Nah kalau hutan itu rimbunan begitu, dia juga menyerap air juga. Jadi kalau dihitung per hektarenya, tiap 5 hektare katakanlah, ya sama serapannya.

    Peserta Palm Oil Summer Course mengecek tingkat emisi pada menara kontrol. Dokumentasi Kementerian Luar Negeri

    Dan ini jadi membalik pengetahuan mereka tentang sawit?

    Jadinya para peserta tahu nih bahwa ternyata itu tidak benar. Tapi ingat, tujuan kita melakukan riset itu sebenarnya bukan untuk menjawab kampanye hitam. Terlalu mahal kalau riset untuk menjawab kampanye hitam. Tujuannya lebih untuk membuat sawit yang kita punya menjadi sustainable.

    Apa untungnya kalau sustainable? Kita bisa punya 12 juta hektare sawit dengan produksi yang maksimum tanpa menambah tanah. Pada saat yang sama, kita bisa menyelamatkan hutan tropis kita.

    Hutan hujan ini bisa menarik turis. Kita bisa charge semahal-mahalnya karena mereka enggak punya selain di sini. Di sisi lain, kita juga tetap bisa produksi sawit. Itu bisa. Tugas ilmu kan mengatur itu semua supaya seimbang.   

    Melalui penelitian CRC 90 itu mulai terlihat tanda-tanda bahwa hal itu mungkin dilakukan. Sawitnya ditingkatkan melalui intensifikasi. Hutannya dipertahankan. Jadi bisa jadi ecotourism dan lain sebagainya.

    Nah, kursus tadi melihat peluang itu semua. Makanya setelah melihat sapi sawit, praktik bercocok tanam sawit, melihat aspek sainsnya dari tower-tower, yang ketiga yang menarik juga buat mereka adalah melihat pengembangan hutan lindung. Mereka juga bisa bertemu dengan suku Anak Dalam. Jadi tidak ada rahasia kita. Kita pertemukan mereka dengan suku Anak Dalam.

    Yang paling menarik lagi bagi mereka adalah pengembangan sawit lestari. Bukan dengan sapi, tetapi ke depannya nanti seperti jungle rubber. Sekarang kan hutan mix dengan karet, ini hutan mix dengan sawit.

    Ini sudah berhasil di level penelitiannya ya, jadi sawit ditumpangsarikan dengan lima tanaman lokal yang lain, yaitu jengkol, petai, durian, kemudian ada dua jenis pohon kayu yang lain. Hasilnya apa? Ada dua aspek yang penting di sini.

    Pertama, jadi di hutan campur sari tadi di tiap meter akan ditemukan keranjang. Di keranjang itu nanti akan terlihat serangga yang mati atau yang jatuh. Kotoran-kotorannya juga. Jumlah serangganya lebih banyak daripada jumlah yang hanya di monokultur sawit. Berarti kan yang namanya diversifikasi sawit tadi membawa biodiversity karena dia tumpang sari dengan pohon lain. Itu kan membantu penyerbukan dan lain-lain.

    Yang kedua, pohon-pohon yang ditanam itu memperkaya zat hara. Itu mempersubur tanah. Akhirnya dalam kebun riset itu, selain jumlah serangga bertambah, pemakaian pupuk berkurang.

    Yang lebih menarik lagi, petak yang namanya sawit tumpang sari itu itu akan dibangun di tengah perkebunan sawit. Namanya archipelago. Bisa dibayangkan ada pulau-pulau biodiversity di tengah laut perkebunan sawit yang luas. Nah, setiap kelompok sawit biodiversity tadi yang tumpang sari ternyata memengaruhi panenan di monokultur yang di sebelahnya. Dia juga ikut bertambah.

    Mungkin karena serangganya juga ikut terbang ke sana. Semakin jauh, penambahannya semakin kecil. Artinya di hasil percobaan tadi, sawitnya lebih sedikit yang ditanam karena ada pohon lain yang ditanam, tetapi hasilnya lebih banyak.

    Produktivitas satu pohon itu meningkat berapa persen?

    Yang jelas dia lebih banyak daripada kebun sawit yang biasa. Di tetangganya dia yang kebun sawit biasa juga bertambah karena masih berdekatan kebun tumpang sari tadi. Agak jauh mulai normal lagi.

    Itu kan tadi pokok satu. Pokok yang kedua begini, petani sawitnya juga lebih sustainable. Harga sawit kan naik turun enggak keruan. Kadang Rp1.500; kadang jatuh Rp1.000. Dengan tidak monokultur, bisa saja ketika panen harga jatuh, dia panen durian, petai, atau jengkol.

    Tahu enggak, harga jengkol, petai, cabai kan juga dibahas sama kabinet. Betapa pentingnya tumbuhan itu. Intinya, jenis tumbuhan lain ini bisa menjadi tumpuan hidup yang meningkatkan ekonomi petani. Artinya, ya kalau sawitnya pas harganya rendah, ya dia jual cabai, petai, atau jengkol. Apalagi itu di Sumatra, siapa enggak makan jengkol di Sumatra?

    Tumbuhan lainnya kenapa tumbuhan lokal ya karena pasarnya lokal. Nanti kalau kita bikin yang di Jawa, beda lagi lokalnya. Dicari yang di sini lokalnya apa. Nah, local wisdom yang dijadikan satu dengan teknologi tadi mempunyai dampak luar biasa. Baik pada sustainability para pendapatan petani, maupun sustainable biologinya bagi tumbuhan itu sendiri.

    PTP VI Jambi bahkan mau mencoba konsep ini. Mereka sekarang mau replanting. Dia mau replanting 1.000 hektare. Dari situ, paling 10%, 100 hektare itu, akan dicoba dengan tumpang sari hasil penelitian. Kalau itu sudah berhasil juga secara ekonomi, kita akan juga semakin percaya diri. Bagaimana tidak, pertama kali dunia akan mengenal sawit tumpang sari.

    Lalu pada akhirnya, cita-cita terakhir dari summer course ini adalah menjadikan Indonesia sebagai center of excellence untuk pengetahuan mengenai sawit. Itu penting. Sebagai negara yang paling besar memproduksi sawit dan kedua terbesar mengonsumsi sawit, alangkah baiknya kalau kita menjadi pusat pengkajian atau ilmu-ilmu yang terkait dengan sawit dan perkebunan sawit lainnya. Itu tujuan akhirnya. (Fin Harini, Teodora Nirmala Fau)