MENGALAP SURGA DEVISA PARIWISATA

Mendongkrak Potensi Destinasi Wisata Ala Jokowi

Pengembangan infrastruktur wisata masih membutuhkan perhatian khusus pemerintah, khususnya penyediaan air bersih di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

  • Pengunjung berwisata di Pantai Pink, Kawasan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, NTT. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
    Pengunjung berwisata di Pantai Pink, Kawasan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, NTT. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    JAKARTA –  Pesona alam Indonesia di sektor pariwisata masih memikat wisatawan mancanegara (wisman) untuk menyambangi berbagai destinasi wisatanya. Terbukti, sebanyak 12,67 juta wisman dalam periode Januari hingga November 2017 memilih untuk menghabiskan waktu liburannya di Indonesia.

    Banyaknya wisman yang datang ke Indonesia ini bukan tanpa sebab. Indonesia merupakan negara yang dianugerahi gunung, laut, dan wisata alam lainnya. Keindahaan alam inilah yang seakan menghipnotis mereka hingga tak bosan mengunjungi Indonesia.

    Secara geografisnya, Indonesia merupakan negara yang dikelilingi laut dengan luas 3,1 juta kilometer persegi. Ini menjadikan Tanah Air ini, merupakan negara kepulauan dengan panjang garis pantai lebih dari 95.181 kilometer persegi dan 13.446 pulau. Artinya, Indonesia memiliki ribuan tempat wisata air yang dapat dikunjungi oleh para traveler Negara ini komplit akan tempat wisata.

    Tak heran memang, jika sektor pariwisata Indonesia mampu menjadi penyumbang bagi devisa negara terbesar kedua setelah Crude Palm Oil (CPO). Sadar akan hal ini, Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)–Jusuf Kalla (JK) memasukan sektor pariwisata ke dalam 9 Agenda Prioritas Nawacita. Tujuannya, untuk meningkatkan daya saing wisata negeri ini di pasar internasional.

    Pariwisata diharapkan dapat menjadi peluang besar Indonesia meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Karenanya, Nawacita memprioritaskan, pengembangan kawasan pariwisata berbasis segitiga emas (Golden Triangle) pariwisata di titik strategis kawasan Indonesia guna membangun intersullar tourism dan budaya lokal.

    Dalam Nawacita juga disebut program memfasilitasi pengembangan infrastruktur pariwisata sebagai daya ungkit pembangunan nasional. Fasilitas ini berupa akses transportasi, infrastruktur pengembangan budaya lokal, maupun akses informasi dan komunikasi yang terintegrasi dengan potensi ekonomi lokal. 

    Atas dasar itulah, pemerintah merancang kebijakan anggaran pembangunan untuk meningkatkan sektor pariwisata dengan target output kemampuan. Tujuannya, mendatangkan jumlah wisatawan asing sejumlah 20 juta pada tahun 2019 mendatang. Di saat sama ditujukan untuk mencapai target outcome menggerakan sektor ekonomi lokal dan nasional. Ditetapkan lah 10 destinasi pariwisata menjadi prioritas.    

    Kesepuluh destinasi pariwisata prioritas tersebut meliputi, Danau Toba (Sumatra Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Pulau Morotai (Maluku Utara), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Tanjung Lesung (Banten), Borobudur (Jawa Tengah), Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), dan Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur). Pengembangan yang dikenal dengan istilan ‘Bali Baru’ ini bertujuan untuk memastikan Indonesia memiliki 10 destinasi nasional.

    Arahan Presiden
    Perbaikan kemudian dilakukan terhadap 10 destinasi baru itu.  Kelembagaan pengelola, infrastruktur seperti jalan, pelabuhan dan bandara, ketersediaan listrik, bahan bakar minyak, hingga air bersih, diperbaiki.  Manajemen promosi daerah, ketersediaan fasilitas umum, penataan pedagang, penataan lingkungan, dan penerimaan masyarakat, juga ditingkatkan.

    Kepada Menteri Perhubungan, Jokowi menegaskan, agar memberikan dukungan infrastruktur transportasi terutama perpanjangan landasan pacu bandara, pembangunan infrastruktur pelabuhan dan memberikan izin kepada maskapai penerbangan luar negeri yang hendak mendapatkan penerbangan langsung ke berbagai kota di Indonesia.

    Begitu pun terhadap Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Presiden menginginkan agar mendukung pembangunan destinasi tempat wisata ini dengan pembangunan jalan tol dan jalan umum, serta penyediaan infrastruktur air bersih. Perbaikan lainnya juga dimintakan kepada menteri terkait.

    Di bidang hukum, Presiden meminta, Menteri Hukum dan HAM dan Menteri Pariwisata agar melakukan pendataan ulang terhadap negara yang belum termasuk daftar Bebas Visa Kunjungan (BVK) ke Indonesia agar diberikan BVK tahap ketiga.   

    Empat Prioritas
    Namun, dari 10 destinasi yang diajukan, Presiden hanya merestui empat destinasi untuk dikembangkan lebih jauh. Empat lokasi yang kini menjadi fokus pengembangan Kemenpar, yakni Danau Toba, Kawasan Candi Borobudur, KEK Mandalika, dan Labuan Bajo.

    Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Investasi Pariwisata Dadang Rizki Ratman memaparkan rencana pengembangan destinasi wisata itu. Ini terbeber dalam working paper besutannya.

    Salah satunya pengembangan Danau Toba, Sumatra Utara (Sumut). Beberapa hal di bidang infrastruktur dilakukan. Diantaranya; pembangunan jalan tol Tebing Tinggi sampai ke Pematang Siantar yang mempersingkat jarak tempuh dari Medan menuju Danau Toba menjadi 3 jam. Peningkatan jalan dari Kabanjahe ke Parapat dan jalan dari Bandara Silangit ke Danau Toba juga dilakukan.

    Untuk target, diharapkan ada 1 juta wisatawan singgah di Toba pada tahun 2019 mendatang. Dan, salah satu syarat mutlak, Danau Toba harus menjadi berstandar internasional. Pengembangan pengelolaan sarana air hingga pengembangan kawasan pemukiman setempat, untuk itu, dilakukan.

    Biaya total pengembangan sarana air bersih di Kabupaten Tapanuli Utara tak tanggung. Diperkirakan, nominal yang dihabiskan mencapai Rp76,7 miliar. Empat kabupaten di seputar danau akan peroleh dana lebih dari Rp10 miliar masing-masing. Di sisi lain, untuk perbaikan sarana jalan, juga menghabiskan biaya tak sedikit. Untuk ratusan kilometer jalan yang diperbaiki, hampir tiga ratusan miliar pula dianggarkan.

    Ini belum lagi ditambah dengan pembangunan transportasi udara. Pemerintah akan mengeluarkan kocek senilai Rp200 juta untuk pembangunan fasilitas Bandara Sibisa. 

    Kenyamanan tentunya juga memerlukan keamanan. Nah, untuk menjamin ini maka diperbaiki pula pusat pengendalian banjir, lahar gunung berapi dan pengamanan pantai. Nilainya, untuk dua kabupaten yang ada pantai dan gunung berapi, dianggarkan lebih dari Rp175 miliar.

    Yogyakarta
    Selain Toba, wilayah Yogyakarta juga bernasib baik, diperhatikan sangat oleh pemerintah. Borobudur dan wilayah sekitarnya ditetapkan sebagai destinasi pariwisata nasional dan internasional yang memiliki kekayaan potensi pariwisata budaya dan religi berkelanjutan. Wilayah ini diharap mampu menarik kunjungan 2 juta wisman pada tahun 2019 mendatang.  Mereka yang diharap singgah berasal dari Malaysia, Taiwan, Singapura, Jepang, Amerika Serikat (AS), Inggris, Hongkong, Belanda, Jerman, dan Brunei Darussalam.

    Di wilayah ini, pemerintah akan melakukan pembangunan infrastruktur hingga pengembangan kawasan pemukiman. Untuk pengembangan pengelolaan sarana air dan penyediaan air baku pemerintah akan menyiapkan Rp69,95 miliar. Rinciannya, pembangunan sarana air Kabupaten Sleman senilai Rp46,65 miliar, Kabupaten Gunung Kidul sebesar Rp11,5 miliar, dan Kabupaten Kulon Progo senilai Rp11,8 miliar.

    Mengenai pembangunan jalan baru menuju Candi Borobudur pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp59,56 miliar. Untuk pemeliharaan, pelebaran, rekontruksi dan rehabilitasi jalan, pemerintah menyiapkan akan mengucurkan dana Rp177,92 miliar.    

    Sementara itu, untuk pengembangan kawasan pemukiman, sistem penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan pemerintah menyiapkan anggaran Rp64,35 miliar. Sama seperti di Toba, pengendalian alam seperti banjir, lahar gunung berapi dan pengamanan pantai 1 kilometer di Kabupaten Pulon Progo juga dilakukan. Anggarannya mencapai sekitar Rp5 miliar.

    Timur Indonesia
    Dua destinasi lainnya yang menjadi prioritas pemerintah adalah Mandalika, Nusa Tenggara Barat dan Labuan Bajo, Nusa Tanggara Timur. Dari pembangunan wisata Mandalika, pemerintah menargetkan kunjungan 1 juta wisman pada 2019 mendatang.

    Warga Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Taiwan, Jepang, negara Timur Tengah, Eropa, China, dan AS, menjadi tamu yang diharapkan berkunjung. Untuk pengembangan infrastruktunya mulai dari pengelolaan sarana air hingga pengembangunan sarana trasnportasi pemerintah akan mengucurkan dana sebesar Rp162,1 miliar.

    Anggaran ini digunakan untuk pengembangan, pengelolaan sarana air dan penyediaan air baku di kota Mataram sebesar Rp39,2 miliar. Pemeliharaan, pelebaran, rekonstruksi dan rehabilitasi jalan 88 kilometer di kota Mataram sebesar Rp25,7 miliar.

    Selain pengembangan kawasan pemukiman, sistem penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan di kota mataram, turut pula ditingkatkan fasilitas pelabuhan penyebrangan lembar dengan anggaran puluhan miliar. Sementara itu, untuk pembangunan Bandara Kaharuddin pemerintah akan menyiapkan anggaran Rp32 miliar, dan pengembangan Bandara Salahuddin Bima Pemeritah akan mengucurkan dana sebesar Rp24,6 miliar.

    Tak jauh dari Mandalika, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur tepatnya, pemerintah berencana menyiapkan anggaran Rp333 miliar. Rinciannya, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp16,2 miliar untuk pengembangan, pengelolaan sarana air dan penyediaan air baku 6 kilometer di Kabupaten Manggarai Barat. Untuk pembangunan jalan baru 64 kilometer di Kabupaten Manggarai Barat sebesar Rp251 miliar.

    Sementara itu, untuk pembangunan fasilitas bandar udara, pemerintah akan melakukan pengingkatan fasilitas Bandara Labuan Bajo sebesar Rp65,1 miliar, dan pembangunan fasilitas Pelabuhan Laut dan Labuan Bajo dan Bari sebesar Rp20 miliar.  

    Dengan pembangunan ini, Labuan Bajo diharapkan menjadi gerbang ekowisata dan ikon wisata Indonesia dengan mengintegrasikan pengelolaan industri pariwisata dan konservasi alam yang mampu memikat 500 ribu wisman pada tahun 2019 mendatang. Para pelancong dari Australia, Jerman, Perancis, AS, Belanda, Inggris, Singapura, Thailand, Jepang, dan Timor Leste, disasar untuk berpetualang di sana.

    Infrastruktur Tak Optimal
    Rencana pembangunan memang sudah ditetapkan. Prosesnya juga berjalan. Ternyata, hingga saat ini, pembangunan infrastruktur di sekitar destinasi wisata prioritas pemerintah ini belum memadai untuk menunjang para pengunjung tiba ke lokasi. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) Ultri S Simangunsong kepada Validnews, di Jakarta, Selasa (9/1).

    “Infrastruktur di Tobasa masih belum optimal. Tapi memang, tak memengaruhi niat para wisman untuk mendatangi Danau Toba,” beber Ultri.

    Itu sebabnya, pemerintah pusat dan pemerintah setempat sedang menyelesaikan proses pembangunan Bandara Internasional Sibisa. Rencananya, bandara baru ini akan menjadi akses lalu lintas udara khusus pariwisata.  

    “Dua tahun kedepanlah baru terasa pembangunan infrastruktur itu,” prediksinya.

    Belum selesainya pembangunan memang dikeluhkan. Namun, yang tak bisa disanggah adalah keuntungan yang sudah ditimbulkan. Dengan selesainya Bandara Silangit, Siborong-borong, Tapanuli Utara, jumlah pelancong jelas terdongkrak. Ia mengaku kaget dengan jumlah wistawan yang datang ke Danau Toba lantaran meningkat drastis dibandingkan tahun 2016 silam.

    “Ini membuat Danau Toba mulai kedatangan banyak pengunjung. Kelihatan juga, penerbangan penuh terus padahal maskapainya sudah makin banyak,” katanya. 

    Apakah wisman sudah mendominasi sesuai target? Ultri mengakui belum demikian. Wisatawan domestik masih mendominasi. Guna mensasar target itu, acara berskala internasional akan dirancang. 

    “Kalau yang asing barang kali karena bisnis. Tapi karena Bandara Silangit kita berani buat event mancanegara, seperti arum jeram,” ucapnya.

    Ada hal lain yang juga harus diperbaiki selain berbagai fasilitas. Masyarakat harusnya mulai belajar menerima para pendatang dengan baik. Diakuinya, saat ini, masyarakat masih menilai Danau Toba hanya untuk sektor perikanan saja bukan untuk pariwisata.

    “Tapi, pelan-pelan pengembangan homestay juga sudah mulai terlihat di sekitar Danau Toba. Namun, masyarakat sekitar, harus bejalar menerima tamu,” lanjutnya.

    Kurang Air Besih
    Pentingnya pembangunan infrastruktur ini juga perlu dirasakan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai salah satu destinasi wisata prioritas pemerintah, Kadis Pariwisata NTT, Marius Ardu Jelamu berharap, pembangunan tak hanya infrastruktur jalan saja. Pemerintah juga perlu memberikan akses telekomunikasi di Labuan Bajo, seperti jaringan internet. Pasalnya, Labuan Bajo kerap didatangi oleh wisman dari berbagai negara. Ia juga berharap, proses pengerjaan pembangunan fasilitas bandara harus dipercepat.  

    “Sebagai destinasi pariwisata yang selalu didatangi oleh 70% wisman, ya saya harapkan kelancaran komunikasinya internasioal ada di Labuan Bajo. Apalagi, Indonesia perlu destinasi prioritas nasional, salah satunya itu adalah Taman Nasional Komodo itu,” beber Marius yang berbincang dengan Validnews, Senin (9/1).

    Ironisnya, meski menjadi salah satu destinasi pariwisata yang akan menjadi ikon wisata Indonesia, Labuan Bajo tak memiliki fasilitas air bersih yang memadai. Marius mangakuinya. Persediaan air bersih tak mencukupi. Bahkan, wilayah ini pun belum mendapatkan pasokan listrik yang stabil.

    “Itu (air dan listrik-red) infrastruktur dasar yang harus dibangun dengan baik di Labuan Bajo sebagai destinasi prioritas nasional. Lalu, kemudian juga jalan negara di lintas utara, dari labuan Bajo bagian Barat menuju ke Flores bagian Timur di Lintas Utara-nya,” imbuhnya.

    Memilah Pasar
    Terhadap pengerucutan prioritas destinasi wisata itu, Janfri Sihite, Peneliti Marketing Strategi Ekonomi Politik Universitas Mercubuana menilai sebagai langkah tepat. Sebab, untuk mengembangkan lokasi pariwisata ini, pemerintah memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) terbatas dan anggaran yang minim.

    “Jadi wajar sekali kalo misalnya kemudian dari 10 destinasi yang sudah direncanakan, mau fokus dulu ke empat. Supaya jadi nih, jangan setengah-setengah dulu jalannya. Jalan setengah-setengah nanti kalo enggak jadi, tekor. Jadi difokuskan keempat daerah itu,” tutur Janfri.

    Keempat destinasi wisata prioritas ini, jelasnya, telah memiliki modal infrastruktur yang memadai. Contohnya, Danau Toba. Danau Toba telah memiliki sejarah dan peringkat di dunia. Tak hanya itu, Danau Toba telah memiliki infrastruktur yang memadai. Kemungkinan, untuk mengembangkan tempat wisata di Sumut ini tak membutuhkan biaya yang besar.

    Hal yang sama juga terjadi di Yogyakarta. Destinasi wisata Candi Borobudur sudah dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai. Apalagi, sekitar Candi Borobudur dikelilingi kota-kota yang sudah berkembang. Oleh karena itu, pemerintah dapat meningkatkan jumlah wisatawan ke Danau Toba, dan Candi Borobudur dengan mudah.

    “Menurut saya pilihan pemerintah ke sini (empat destinasi-red) karena mereka sudah punya modal dasar yang cukup untuk dikembangkan. Nanti setelah empat ini jalan, praktis yang bagus ini bisa kemudian dilakukan lagi, direplkasi, dikembangkan lagi ke destinasi yang lain,” ujar Janfri.

    Hal ini berbanding terbalik dengan destinasi wisata Labuan Bajo. Pemerintah harus bekerja keras untuk membuat Labuan Bajo menjadi ikon wisata di Indonesa. Secara geografis, Labuan Bajo merupakan daerah dengan curah hujan yang rendah. 

    Fisik alam yang kurang baik ini, membuat wilayah eksotis ini kerap mengalami kekeringan. Kondisi ini, memaksa para wisatawan untuk belajar memahami kondisi wilayah sekitar Labuan Bajo.  

    “Contoh, Kalau kita mau kejar turis dari Jepang, waduh susah kalau suruh mereka ke Labuan Bajo yang air bersihnya kurang, ya repot deh. Karena mereka nomor satu higienis kan (orang jepang). Jadi, pasarnya itu pun perlu kita pilah-pilah untuk bisa memetakan mana yang mau kita kembangkan,” ujarnya.

    Ia menilai, pertimbangan pemerintah menjatuhkan pilihan terhadap empat destinasi wisata prioritas tersebut lantaran untuk mengejar pasar pelancong dengan rentang umur 20 hingga 30 tahun.

    Rentang usia ini, masih memiliki semangat dan jiwa traveling yang tinggi. Jika demikian halnya, kesempatan ini harus diraih dan dioptimalkan. Semoga! (James Manullang, Zsazya Senorita)