MENGALAP SURGA DEVISA PARIWISATA

Menarik Minat Wisman Melalui Festival Budaya

Meski dukungan dana tak besar, pelbagai festival budaya diselenggarakan di berbagai negara buat mempromosikan budaya dan kuliner khas Indonesia

  • Promosi pariwisata Indonensia di Berlin, Jerman. Kemlu.go.id
    Promosi pariwisata Indonensia di Berlin, Jerman. Kemlu.go.id

    JAKARTA – Kebudayaan Indonesia jadi magnet yang menarik banyak wisatawan mancanegara (wisman) untuk berkunjung ke Indonesia. Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Kementerian Luar Negeri hingga tingkat komunitas, sering kali mengadakan festival budaya di berbagai negara. Tujuannya satu, memperkenalkan budaya indonesia dan menarik perhatian masyarakat global untuk berkunjung ke Indonesia.

    Dari tahun ke tahun ada saja agenda tahunan yang dilakukan pemerintah untuk bisa terus meningkatkan pendapatan dari sektor ini. Salah satu yang paling terkenal adalah festival IKON yang secara rutin diadakan di Inggris. Festival IKON atau Indonesia Kontemporer selalu menyuguhkan tampilan kebudayaan etnik dan kuliner khas Indonesia.

    Festival ini sendiri diselenggarakan melalui kerja sama antara ARTiUK, sebuah komunitas kesenian dan budaya Indonesia yang berbasis di London, Inggris, dengan Pusat Studi Asia Tenggara (CSEAS) SOAS University of London, dan KBRI London.

    Festival IKON pertama kali diselenggarakan pada 2011 lalu. Adanya antusiasme tinggi dari masyarakat London membuat acara ini kemudian diselenggarakan tiap tahun hingga tahun 2017 lalu. Festival ini berisi pertunjukan, pelatihan, kerajinan tangan, screening film dan tentunya kuliner khas Indonesia. Dilansir dari situs KBRI London, Festival IKON 2017 menonjolkan kenikmatan kuliner Indonesia dengan mengangkat tema Glorious Food dengan menampilkan demo masak dari koki kelas dunia, yakni Petty Eliot dan Budiono bin Sukim.

    Selain Festival IKON di Inggris, ada juga festival Indonesia yang rutin diselenggarakan di Australia. Festival ini pertama kali diselenggarakan oleh KBRI Canberra pada tahun 2008 dan terus dilakukan setiap tahunnya.

    Dilaksanakan di pelataran gedung KBRI Canberra, paling tidak setiap tahunnya ada 5.000 pengunjung yang datang ke acara budaya tersebut. Saking populernya, Festival Indonesia ini disebut-sebut sebagai ikon festival budaya di kota itu.

    Di dalamnya, pengunjung bisa menikmati penampilan-penampilan seni asli Indonesia seperti tari pendet dari Bali, tari manuk dadali, tari tor-tor hingga musik dangdut sembari menyantap kuliner Indonesia seperti sate, gado-gado, pecel, dan berbagai jenis kuliner lainnya. Selain itu, di acara ini juga dilakukan pengenalan permainan tradisional Indonesia kepada anak-anak Australia melalui aktivitas kids corner.

    Indonesia juga sempat membuat festival budaya Indonesia yang pertama kali dilakukan di Rusia, lebih tepatnya di kota Svetlogorsk. Selama dua hari, para pengunjung dapat menyaksikan beragam tarian tradisional Indonesia seperti tari merak, tari genjring, tari ratak, sekar pudyastuti hingga tari wigaringtyas.

    Dilansir dari situs resmi Kemenlu, dalam pagelaran ini Duta Besar Indonesia untuk Rusia merangkap Belarus, Wahid Supriyadi, juga turut tampil sebagai pengisi acara dengan menyanyikan dua lagu, yakni “Selamat Bertemu Lagi” dan “Selamat Jalan” sambil diiringi musik tradisional Rusia.

    Selain tarian dan nyanyian, seperti festival-festival lainnya, KBRI juga menyajikan kuliner Indonesia seperti  nasi dan mie goreng, kerupuk, dan bakwan udang. KBRI juga menampilkan film promosi “Wonderful Indonesia”. Uniknya, salah satu aktivitas yang digelar dalam festival ini juga kursus kilat bahasa Indonesia bagi para pengunjung.

    Akhir tahun lalu di bulan September, Indonesia juga sempat menggelar Festival Budaya Europalia Indonesia di Brussel, Belgia. Festival ini termasuk salah satu acara yang berjalan cukup panjang, yakni dari 10 Oktober 2017 hingga 28 Januari 2018 nanti. Andalan dari festival ini adalah pagelaran tari Bali dan musik gamelan. Paling tidak, ada sebanyak 12 jenis tarian yang akan dipentaskan selama festival berlangsung, penonton pun diperbolehkan untuk mencoba alat musik gamelan di sela-sela pertunjukan. Memang, acara ini memfokuskan acaranya pada bentuk seni tarian dan juga musik khas Indonesia.

    Namun, di dalam area acara juga dibuka stan-stan yang menjajahkan kopi dan produk bumbu organik asli Indonesia, serta taman bacaan mini yang berisi buku-buku sastra Indonesia. Menurut informasi dari situs resmi Kemenlu, pengunjung juga dikenalkan dengan seni wayang dan menikmati sate dan martabak goreng Indonesia.

    Tak mau ketinggalan, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, Malaysia juga menggelar pameran dan pentas budaya Indonesian Week & Nite 2017 pada bulan Juli 2017. Acara ini menampilkan karya-karya ekshibisi dari Tarakan, Jogja, Bogor, dan Jakarta. Festival ini menyajikan beragam produk makanan, paket wisata, juga persembahan budaya dan kuliner dari berbagai daerah di Indonesia.

    Tak hanya membuat acara festival sendiri, pemerintah Indonesia juga kerap kali berpartisipasi dalam festival yang dibuat oleh negara-negara lain. Contohnya seperti keikutsertaan Indonesia dalam festival budaya yang diadakan di Kanada, yakni Surrey Fusion Festival. Bukan saja jadi langganan peserta, tapi Indonesia juga sering kali mendapatkan penghargaan sebagai peserta terbaik di festival ini.

    Kementerian Luar Negeri dalam situs resminya menyebutkan, pada pelaksanaannya 2016 lalu Indonesia membuka tiga paviliun, yaitu paviliun budaya, kuliner dan kopi Indonesia. Paviliun budaya menampilkan informasi berbagai destinasi wisata Indonesia, produk dan garmen khas Indonesia. Paviliun kuliner menyuguhkan makanan asli Indonesia. Mie dan nasi goreng, bakso serta tahu isi jadi favorit para pengunjung, bahkan 2.800 tusuk sate mampu terjual dalam waktu dua hari saja. Sedangkan paviliun ketiga menyajikan aneka minuman kopi dengan biji kopi yang berasal dari Toraja serta Flores.

    Dalam Surrey Fusion Festival tahun 2017 lalu, prestasi kembali disabet oleh Indonesia dengan memenangkan juara dua pakaian adat terbaik. Indonesia juga berhasil menjual 3.500 tusuk sate, 60 kilogram rendang, dan 400 gelas kopi Indonesia. Ini menunjukkan, bahwa produk dan budaya Indonesia sangat digemari bahkan menjadi salah satu yang dinanti-nanti dari setiap penyelenggaraan Surrey Fusion Festival.

    Kementerian Pariwisata RI juga rutin mengikuti pameran pariwisata internasional bernama Feria Internacional de Turismo (FITUR), yang diselenggarakan di Madrid, Spanyol. Menggandeng 20 pelaku industri pariwisata dari Indonesia, Kemenpar menawarkan berbagai bentuk pengenalan budaya di acara tersebut.

    Di tahun 2017, Indonesia mengambil tema Cultural Diversity dan menawarkan berbagai jenis minuman tradisional, seperti wedang jahe, dan kunyit asem. Turut disajikan juga kue lapis Surabaya, dan Bika Ambon. Seperti festival budaya pada umumnya, Indonesia juga menampilkan tari-tarian dan juga pakaian khas Indonesia.

    Di Jerman, Indonesia juga aktif ikut serta dalam festival budaya Kulturschrank. Melalui kerja sama antara KBRI dan Deutsche Indonesische Gesellschaft (DIG- Niedersachen) Lembaga Persahabatan Indonesia – Jerman pada tanggal 6 Januari 2018 kemarin, menampilkan pertunjukan seni budaya, pameran, dan kuliner.

    Kuliner khas Indonesia dalam festival "Wonderful of Indonesia" di Lithuania, beberapa waktu lalu. kbricph.dk

    Kewajiban KBRI
    Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri, Siswo Pramono menjelaskan, festival budaya bisa jadi sarana efektif orang-orang dari luar negeri untuk mengenal dan mempelajari kebudayaan asli Indonesia.  Melalui festival budaya, orang dari luar negeri bisa mengalami kegiatan yang tidak pernah mereka lakukan. Inilah yang bisa memberikan kesan kepada mereka sekaligus menumbuhkan kecintaan serta kekaguman terhadap kebudayaan Indonesia.

    Makanya, diplomasi budaya yang salah satunya dilakukan melalui pagelaran festival kebudayaan memang merupakan kewajiban dari KBRI di seluruh negara.

    “Tugas perwakilan kan ada empat ya, pertama itu protecting, kedua promoting, kemudian reporting, dan keempat itu negotiating. Nah di bidang promoting itulah ada festival-festival tadi,” ungkap Siswo kepada Validnews di Jakarta, Jumat (12/1).

    Ia juga mengatakan, setiap perwakilan sudah mengantongi dana untuk melakukan festival kebudayaan melalui anggaran belanja barang non-operasional (BBNO). Namun, Siswo mengakui untuk saat ini anggaran yang bisa digunakan untuk menyelenggarakan festival budaya tidaklah besar dan disesuaikan dengan negara tempat perwakilan masing-masing.

    “Enggak banyak itu jumlahnya, paling kalau perwakilannya sebesar perwakilan kita di Berlin, di Jerman itu paling yang untuk semua kegiatan tadi, termasuk festival itu paling sekitar Rp4 miliar saja,” kata Siswo.

    Untuk menutupi kecilnya dana dari pusat, Siswo juga menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, festival budaya bisa dilakukan melalui melakukan kerja sama dengan yayasan setempat agar biaya yang dikeluarkan bisa lebih kecil. Ia mencontohkan seperti kegiatan kerja sama melalui Lembaga Persahabatan Indonesia – Jerman yang juga rutin melaksanakan kegiatan festival kebudayaan.

    “Kita cuma mungkin mengirim satu pelatih tari Bali, nah di sana mereka melatih tarian Bali. Setelah itu mereka mengajari orang Jerman lainnya tarian Bali. Nah dengan cara itu kita bekerja sama sehingga jadi murah,” jelasnya.

    Menanggapi hal ini, dosen sekaligus pengamat industri pariwisata dari Universitas Gajah Mada Janianton Damanik berpendapat bahwa untuk saat ini promosi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia berjalan secara gencar dan berhasil menyentuk titik-titik keramaian publik di wilayah Eropa dan Amerika.

    “Banyak pameran berskala besar-besaran untuk menguatkan brand wonderful Indonesia dan strategi itu memang lazim dalam promosi. Soal efektif-tidaknya kita tidak bisa klaim, karena harus jelas kriteria pengukurannya,” Katanya kepada Validnews, Jumat (12/1).

    Ia mengatakan, sebenarnya segala bentuk festival budaya akan dianggap menarik oleh penduduk luar negeri. Namun Janianton menegaskan dalam melaksanakan sebuah festival budaya, penyelenggara harus mengenali terlebih dahulu bagaimana karakteristik masyarakat di wilayah tersebut.

    “Festival itu ibarat pesta dan turis itu undangan. Jadi kalau kita bikin festival untuk menarik wisatawan maka harus dikenali turisnya dulu baru bikin acara festivalnya. Kita lemah dalam mengorganisasi event festival buat menarik wisman,” tukasnya. 

    Kualitas Transaksi
    Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, di kesempatan berbeda, mengatakan tidak semua ekshibisi berupa pertunjukan seniman dari seluruh daerah di Indonesia. Diakuinya terdapat ekshibisi khusus jualan hasil karya dari anak-anak bangsa yang dipamerkan di luar negeri.

    “Kita juga tidak melihat negaranya juga, tapi melihat kualitas transaction. Kualitas pameran, ekshibisinya seperti apa, punya nama enggak. Seperti di Venice, kita selalu setiap tahun ikut dua. Venice Art de Binale dan Venice Architecture Art Binale. Karena itu de Binale, jadi itu tiap tahunan kita selang-seling ikut di sana. Itu di sana, bukan untuk dagang kita di sana,” kata Triawan kepada Validnews di Jakarta, Jumat (12/1).

    Dia menerangkan, partisipasi Indonesia di dua ekshibisi Venice itu lantaran agar dapat melihat kualitas seni Indonesia sebagai bangsa di dunia. Jadi, tidak melulu bertujuan dagang atau berjualan ketika Bekraf hadir di acara-acara internasional.

    “Image kita sebagai negara berbudaya juga penting. Yang namanya budaya juga bukan hanya tradition, tetapi juga temporary art bagian dari budaya kita. Seperti di Venice Art de Binale, kami tidak membawa tari-tarian tradisi, bukan. Tapi, kami membawa ekspresi dari temporary art yang konsern dengan non-align movement, tentang utopia, tentang south and north. Jadi, temanya enggak mesti tradisi,” terang dia.

    Bekraf, kata dia, sudah menerima petuah dari Presiden Joko Widodo. Bekraf selalu melakukan kurasi sebelum mengirimkan para seniman beraksi sebagai representasi Indonesia. Sehingga, nama Indonesia melalui kesenian dapat dikenal luas oleh masyarakat mancanegara. (Denisa Tristianty, Muhammad Fauzi)