GELIAT EKONOMI BERTAJUK RAKYAT

Memberi Ruang Besar Pemain Kecil

Menerapkan konsep koperasi untuk berbagi beban dan keuntungan, ada pula berbagi pengetahuan untuk menaikkan kelas rakyat

  • Minimarket 212MART di Jakarta. Validnews/ Fadli Mubarak
    Minimarket 212MART di Jakarta. Validnews/ Fadli Mubarak

    JAKARTA – Satu grup percakapan menggunakan aplikasi WhatsApp terbentuk 11 November 2017. Anggota grup chat itu terdiri dari perkumpulan warga Kabupaten Langsa, Nangroe Aceh Darusalam yang mengadu untuk di Qatar. Sama seperti grup chat lain ada maksud dari sekadar obrolan dengan sesama anggota kelompok.

    Setelah bertukar pikiran antar anggota grup, lahir satu gagasan untuk mendirikan gerai minimarket syariah berlogo ‘212 Mart’. Mereka tahu minimarket itu dari sesama anggota alumni gerakan 212 juga informasi melalui situs koperasisyariah212.com.

    Tri angka di logo minimarket ini mengingatkan akan gerakan politik dalam kontestasi gubernur DKI Jakarta 2017. Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016, kini beralih menjadi gerakan kebangkitan ekonomi umat Islam.

    Kembali ke grup chat tadi, anggota grup lalu mengurus legalitas pembentukan koperasi sebagai syarat badan usaha yang disyaratkan untuk mendirikan gerai minimarket 212 Mart. Para anggota grup chat juga urunan mengumpulkan modal membentuk 212 Mart. Pada 14 April 2018, gerai minimarket 212 Mart mulai beroperasi untuk pertama kali di Langsa, Aceh.

    Total duit yang terkumpul dari 190 anggota koperasi ini mencapai Rp 561 juta. Jika dirata-rata, masing-masing anggota menyetor dana sekitar Rp2 juta.

    Minimarket 212 Mart ternyata juga mulai hadir di sekolah. Pelopor 212 Mart  di sekolah adalah Sekolah Islam Al Fiida Cendekia, Setia Mekar, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

    Para guru yang juga alumni gerakan 212, atas inisiatif Yayasan Pendidikan Islam Al Fiida Cendikia, menambah bidang usaha koperasi simpan pinjam dengan anggota para guru di yayasan tersebut. Lantaran perkembangan usaha yang  lambat, pihak yayasan menyarankan untuk mendirikan gerai 212 Mart.

    Sebanyak Rp400 juta terkumpul dari sekira 150 guru di sekolah Islam ini untuk mendirikan gerai minimarket. Modal yang terkumpul itu terkumpul dari anggota yang menyetor minimal Rp500 ribu sampai Rp25 juta.

    Ratusan Gerai Umat
    Koperasi Syariah 212 sebagai induk dari koperasi-koperasi pembentuk gerai minimarket 212 Mart disahkan sebagai koperasi pada Januari 2017, setelah Aksi Bela Islam 2 Desember 2016. Berdasarkan catatan Koperasi 212 per awal April 2018, sudah berdiri 113 gerai 212 Mart di seluruh Indonesia. Toko-toko swalayan itu tersebar di Medan, Solo, Palembang, Bangka Belitung, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan sejumlah wilayah lain.

    Ratusan gerai minimarket 212 Mart itu dikelola oleh PT Hydro Perdana Retailindo. Perusahaan wakaf ini juga mengelola minimarket umat dengan merek Sodaqo.

    “Awalnya kami targetkan 50 gerai setahun. Tapi rupanya lebih, bahkan mencapai lebih dari 100 gerai,” kata Bendahara Pengurus Pusat Koperasi Syariah 212, Luqman Muhammad Baga seperti dikutip dari koperasisyariah212.com.

    Konsep gerai 212 Mart, kata Baga, lahir murni untuk memanfaatkan potensi pasar muslim yang di Indonesia. Dengan ruh syariat Islam, ia berkeyakinan lewat penyediaan kebutuhan pokok di 212 Mart akan tetap terjaga keberlangsungannya.

    Selain itu, lewat konsep berjejaring dengan usaha kecil di lokasi, maka hal itu akan membantu ketersediaan pasokan barang bagi 212 Mart. “Gerai ini adalah momentum kebangkitan bagi kompetensi umat. Jadi ini bukan konteks konfrontatif dengan bisnis serupa,” ujarnya.

    Dikatakan Baga, secara prinsip tujuan gerai 212 Mart adalah untuk mendorong kesejahteraan bagi mereka yang ikut berpartisipasi dalam donasi di Koperasi Syariah 212. Selain itu, 212 Mart akan menjadi sebuah wadah bagi umat Islam untuk saling membantu sesama.

    Karena itu, bisnis gerai 212 Mart pun menawarkan konsep terbuka kepada siapa pun untuk berdonasi, mulai dari terkecil Rp500 ribu hingga maksimal Rp20 juta. Dengan itu, mereka bisa menjadi pemilik sekaligus konsumen.

    “Setiap rupiah kita untuk membantu pengembangan ekonomi umat ke depan. Potensi umat ini sangat luar biasa,” ujarnya.

    Kinerja Koperasi Syariah 212 tampak baik seperti yang dipaparkan pengurus pada Rapat Anggota  (RAT) Tahun Buku 2017, pada 24 Maret 2018. Dalam RAT ini, Ketua Umum Koperasi Syariah 212, Syafii Antonio menjelaskan, terjadi pencapaian di beberapa target yang ditentukan pada awal 2017.

    Pada Desember 2017, jumlah anggota Koperasi Syariah 212 mencapai 33,960 orang dari target 30 ribu. Pertumbuhan Komunitas Koperasi Syariah 21, dari target 100 hasilnya mencapai 130 komunitas. Dari target 30 minimarket, mencapai 61 gerai di Desember 2017. Sedangkan dari sisi keuangan, laba kotor hingga akhir Desember 2017 mencapai Rp506,5 juta. Sedangkan laba bersih periode sama mencapai Rp486,2 juta.

    Menurut Syafii, merek 212 Mart ini bisa menjadi mitra usaha komunitas KS 212 dalam bisnis ritel. Komunitas mutlak dalam kemitraan usaha 212 Mart karena terkait target penjualan.

    Dia mencontohkan, apabila ada komunitas dengan 100 atau 200 orang anggota lalu mereka membuat satu gerai tipe kecil, dengan target sebulan omzet minimum Rp200 juta.

    Jika ada 100 orang dalam komunitas, masing-masing berkontribusi Rp4 juta, terkumpul Rp400 juta. Kemudian, jika 100 orang ini belanja satu bulannya Rp500 ribu per orang, terkumpul Rp50 juta sudah terkantongi. “Tinggal kita cari Rp150 juta lagi di open market,” ujar Syafii.

    Menurut dia jika berbasis komunitas, memungkinkan untuk mengejar omzet. Dia menilai jika satu gerai menggapai hasil penjualan kurang dari Rp200 juta, diperkirakan sulit berkembang. Supaya sukses, 212 Mart bergantung pada anggota komunitas untuk bisa menghidupinya.

     

     

    Ala OK-OCE
    Masih senada dengan 212 Mart, program One Kecamatan One Center Entrepreneurship (OK-OCE) juga menghadirkan minimarket umat dengan merek OK-OCE Mart.

    OK-OCE adalah program pemberdayaan rakyat yang ditawarkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan wakilnya Sandiaga Salahudin Uno sejak mereka mencalonkan menjadi pemimpin DKI Jakarta. OK-OCE Mart hanyalah satu diantara beberapa program OK-OCE.

    Pada Juni 2017, Sandiaga meresmikan gerai minimarket OK-OCE Mart kedua di perkampungan nelayan di Jalan Dermaga Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara. Gerai pertama didirikan di Jalan Cikajang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 1 April 2017. Keduanya punya konsep yang sama, menggunakan peti kemas yang dimodifikasi sebagai gerai minimarket.

    Jika kita melongok ke gerai OK-OCE Mart, maka peti kemas dimodifikasi, dipasangi kaca dan pintu pada bagian depannya. Ada pendingin ruangan di dalam gerai. Peti kemas itu juga diberi warna oranye dan dikombinasikan warna putih serta hitam. Pada bagian kacanya terdapat tulisan OK-OCE Mart.

    OK-OCE Mart punya konsep berbeda dengan 212 Mart, meski sama-sama mengusung pemberdayaan rakyat. Terutama dalam hal pendanaan. Karena dana untuk membangun gerai berasal dari patungan para wirausahawan anggota OK-OCE bukan satu pemodal saja. Meski sama-sama menjual kebutuhan sehari-hari yang kerap dicari konsumen.

    Saat di Penjaringan, Sandiaga menargetkan lima OK-OCE Mart dengan konsep gerai menggunakan kontainer. “Kami mesti bangun juga di Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat sebelum Oktober (2017). Jadi kami bisa memenuhi janji paling enggak di lima wilayah sudah ada OK-OCE Mart," ucap Sandi saat itu.

    Minimarket Basis Umat
    Selain OK-OCE Mart dan 212 Mart, merek minimarket lain yang mengusung pemberdayaan rakyat mulai bermunculan. Seperti Umat Market (Ummart) dan Toko Umat.

    Toko Umat adalah merek minimarket yang diusung Koperasi Putra dan Putri Indonesia (Kopprindo). Toko umat menurut Ketua Kopprindo Teguh Suwito saat membuka Toko Umat pertama di Kota Depok pertengahan Maret 2018 murni berjamaah. “Kepemilikannya tidak didominasi perorangan,” papar dia.

    Toko Umat didirikan oleh koperasi yang beranggotakan lebih dari 300. Toko Umat bernuansa kehidupan muslim. Sejak memasuki pintu pengunjung disuguhkan dengan berbagai dekorasi yang mengingatkan tentang bagaimana akhlah seorang muslim lewat untaian kata-kata mutiara Islami. Juga sepanjang jam-jam operasional mendengarkan alunan musik Islami yang menyejukan.

    Karyawan Toko Umat diwajibkan sholat Dhuha pada pagi hari, untuk mendapat berkah. Hal yang sama di ditemui di sekeliling Mekah dan Madinah. Semua aktivitas berniaga pun harus  dihentikan pada saat sholat tiba.

    Sedangkan Ummart adalah program Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang melirik pasar di ribuan pondok pesantren. Ummart akan mulai beroperasi pada 12 Mei 2018 pada 10 pondok pesantren dari target 1.000 gerai yang akan dibangun.

    Selain itu muncul ide membuat toko umat yang lahir di daerah. Seperti digagas Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo) di Bogor dengan label Toko Umat yang didirikan oleh anggota Kopindo yang menyetor duit minimal Rp500 ribu hingga maksimal Rp5 juta.

    Secara umum toko umat menjual produk yang sama dengan toko moderen lainnya, namun toko umat juga bergerak memberdayakan Usaha Micro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berada diwilayah setempat untuk pembinaan hingga penjualan.

    Toko Umat saat ini baru ada dua gerai yaitu di Jalan Bambarung, Kecamatan Bogor Utara dan di wilayah Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sareal.

    Diakui dia, konsepnya Toko Umat adalah investasi berjamaah yang mengedepankan pemiliknya orang lokal di wilayah setempat. Misalnya di Mekarwangi, minimal 60 persen saham pemiliknya warga Mekarwangi, termasuk para pelaku UMKM yang memadukan produk serta pegawai Toko Umat warga asli wilayah itu. Masing-masing gerai berisi hampir 30 persen produk dari UMKM lokal Kota Bogor. Bagi hasil pada anggota berdasarkan point, aktivitas belanja dan nilai saham.

    Kopindo menargetkan membuka 100 gerai Toko Umat di setiap kelurahan di Bogor.

    Agar perputaran uang berjalan lancar, setiap anggota koperasi atau pemilik saham wajib untuk belanja. Karena konsepnya dari anggota untuk anggota, dan menggairahkan UMKM.

    Pihak Toko Umat bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bogor untuk modal usaha pinjaman dari dana wakaf. Sementara pelatihan UMKM dan anggota Toko Umat gratis tanpa iuran sedikitpun.

     

    Wadah si Kecil
    Selain minimarket, banyak upaya untuk memberdayakan umat seperti ditemui di Kantin Medina, Pasaraya Manggarai, Jakarta Selatan maupun di Menara 165 Jakarta Selatan.

    Kedua tempat itu berupa foodcourt atau kantin yang menyatukan usaha kuliner pedagang kaki lima dalam satu lokasi. Kedua tempat itu dikelola PT EBS Global Nutrisarana.

    “Di kantin Menara 165 ada 10 pedagang kaki lima, di Pasar Raya ada 15. Total 25 pedagang,” kata Erik Bintang Sulaiman, Direktur PT EBS kepada Validnews, Jumat (20/4).

    Mereka, lanjut Erik, diajak bergabung setelah sebelumnya lapak usaha para pedagang ditertibkan pemerintah. Pedagang mana saja yang diajak, menurut Erik pemerintah kota administratif Jakarta Selatan yang memberikan data pada EBS. Kemudian, para pedagang dilatih untuk meningkatkan kualitas produk mereka.

    Begitu pula dengan pelatihan kewirausahaan yang digelar OK-OCE. Salah satu relawan OK-OCE Melawai, Rini Wulandari mengatakan sudah ada sekitar 16 ribu warga di Jakarta yang mendapat pelatihan kewirausahaan dari para pengusaha dari tempat itu. “Target 200 ribu selama lima tahun,” kata dia.

    Rekan Rini di OK-OCE Rasuna Said, Ade Kurniawan menambahkan meski baru dibuka, sudah ada 100 warga yang berminat mengikuti pelatihan kewirausahaan. “Mereka yang datang sendiri dan kami beri pelatihan untuk berusaha tanpa menarik biaya,” paparnya.

    Bahkan, di tempat itu, sudah ada kantin tempat warga yang mengikuti latihan untuk menjajal karya mereka sekaligus mendapatkan uang. “Mereka sudah banyak yang bisa masak, pelatihan diberikan agar mereka optimal,” sebut  Ade. (Leo Wisnu Susapto, James Manullang, Benny Silalahi)