LIMBUNG BERDAULAT DI DUNIA MAYA

Mata Uang Digital dan Ancaman "Bubble"

Saat ini terdapat 1.273 'cryptocurrency' dengan total kapitalisasi pasar senilai US$201,3 miliar. Bitcoin menjadi yang termahal dengan nilai tukar 1 koin nyaris setara Rp100 juta

  • Ilustrasi bitcoin. (Pixabay)
    Ilustrasi bitcoin. (Pixabay)

    JAKARTA - Penetrasi teknologi di sistem keuangan adalah sebuah keniscayaan. Termasuk dari sisi alat pembayaran, kehadiran mata uang digital (cryptocurrency) meski lekat dengan kontroversi terkait risiko dan legalitas, eksistensinya makin tak terbendung.

    Kehadiran uang dalam kehidupan manusia memang unik. Hal ini tak terlepas dari interaksi antarmanusia sebagai makhluk sosial yang hidup bermasyarakat (zoon politicon) dan manusia sebagai mahluk ekonomi (homo economicus).

    Jika awalnya hanya ada sistem barter, perkembangan selanjutnya alat tukar pun tercipta untuk makin memudahan pertukarang barang dan jasa. Perlu diingat, masyarakat Romawi kuno pernah menggunakan garam sebagai alat pembayaran upah. Inilah mengapa ada istilah salary, yang berasal dari bahasa Latin salarium yang berarti garam. 

    Selanjutnya, manusia menjadikan logam (emas, perak dan nikel) sebagai alat tukar yang sah. Selanjutnya timbulah uang kertas yang lebih mudah dan ringan untuk dibawa. 

    Semakin berkembangnya zaman, alat pembayaran juga semakin berkembang. Setelah uang kertas, muncul kartu kredit dan debit, serta uang elektronik seperti yang sekarang digunakan sebagai alat pembayaran tol di Indonesia.

    Beriringan dengan penetrasi uang dalam bentuk kartu elektronik, beberapa tahun belakangan, muncul lagi uang digital atau cryptocurrency. Disebut cryptocurrency, karena proses penciptaannya menggunakan kriptografi algoritma komputer, yang tentu tak semua orang bisa memahami dan menciptakannya dengan mudah.

    Mata uang digital pertama yang muncul adalah Bitcoin. Diciptakan oleh orang yang memakai nama samaran Satoshi Nakamoto di tahun 2009, Bitcoin dianggap sebagai pembuka jalan peer to peer electronic system. 

    Hingga saat ini, keaslian identitas Satoshi tidak pernah terungkap. Ada yang menduga, salah satu kemungkinannya adalah ahli komputer Australia Craig Steven Wright.

    Terlepasd dari miteriusnya sang pencipta, sistem pencatatan Bitcoin menggunakan sistem blockchain, dimana hanya terdapat 21 juta koin bitcoin yang diciptakan. Seperti emas dan logam lainnya, untuk mendapatkannya manusia perlu ‘menambangnya’.

    Diperlukan perangkat GPU (graphics processing unit) miner atau ASIC (application-specific integrated circuit) miner bagi para penambang Bitcoin. Untuk menambangnya, diperlukan kemampuan membaca algoritma 64-digit hexadecimal number.

    Menurut situs coindesk (https://www.coindesk.com/price/), hingga tulisan ini disusun, Rabu (8/11) sudah 16.669.575 koin bitcoin ditemukan. Artinya, hanya kurang dari 4,5 juta koin lagi yang belum ditemukan.

    Bitcoin juga diperdagangkan layaknya mata uang pada umumnya. Pada penutupan perdagangan Selasa (7/11), nilai tukar 1 bitcoin setara dengan US$7.118,8 atau setara Rp96.103.800 (asumsi 1 US$ = Rp13.500). Fluktuasi nilai tukar bitcoin tak lepas dari mekanisme pasar (permintaan dan penawaran) serta spekulasi.

    Sebenarnya, tak hanya Bitcoin, menurut situs coinmarketcap, saat ini terdapat 1.273 cryptocurrency yang beredar di dunia maya. Namun, Bitcoin masih tercatat sebagai mata uang digital termahal, dengan besarnya kapitalisasi pasar (market cap) sebesar US$122,4 miliar.

    Selain Bitcoin, uang digital yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar berikutnya adalah Ethereum (US$28,3 miliar), Ripple (US$8,1 miliar), Litecoin (US$3,3 miliar) dan Dash (US$2,3 miliar). Total kapitalisasi pasar dari 1.273 cryptocurrency sendiri mencapai sebesar US$201,3 miliar.

     

     

    Bitcoin Indonesia
    Di Indonesia sendiri, bitcoin menjadi mata uang digital paling dikenal. Menurut situs Bitcoin Indonesia, untuk melakukan sosialisasi dan publikasi Bitcoin di Indonesia, didirikanlah komunitas Bitcoin.co.id pada Mei 2013.

    Pada Desember 2013 Bitcoin.co.id melakukan transformasi menjadi Bitcoin Brokerage, broker profesional pertama di Indonesia yang melayani pembelian dan penjualan bitcoin dalam kurang dari 1 jam. Pada Februari 2014, Bitcoin.co.id berdiri sebagai Bitcoin spot exchange pertama di Indonesia.

    Hingga Februari 2015, tercatat jumlah member dari Bitcoin.co.id adalah sebanyak 50.000 orang. Jumlah ini disinyalir menjadi 200.000 di tahun 2016, dan diprediksi akan menjadi 500.000 pada tahun 2018.

    Namun, maraknya pemberitaan bitcoin sayangnya lebih banyak bernada negatif. Misalnya saja kejadian bom Alam Sutera pada Oktober 2015 lalu, di mana pelaku Leopard Wisnu Kumala, meminta tebusan seharga 100 bitcoin atau setara Rp300 juta saat itu.

    Pemberitaan negatif terkait Bitcoin kembali hadir saat kasus penyebaran virus Ransomware WannaCry yang sempat membuat data-data rumah sakit di Indonesia terenkripsi atau terkunci. Untuk membukanya, korban dimintai tebusan hingga 300 bitcoin.

    Menurut Ketua Lembaga Riset Keamanan Cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research Centre) Pratama Persadha, maraknya kejahatan siber yang meminta tebusan bitcoin tak terlepas dari sifat anonimitas Bitcoin.

    “Tidak seperti mata uang resmi seperti Rupiah yang diterbitkan Bank Sentral dan memiliki nomor seri, bitcoin diterbitkan secara desentralisasi. Pelaku meminta bitcoin sebagai tebusan supaya tidak terdeteksi. Ada unsur anonimitas yang membuat banyak organisasi kriminal menjadikan bitcoin sebagai sarana pencucian uang,” ujar Pratama kepada Validnews, Sabtu (4/11).

    Penggunaan uang digital tersebut di Indonesia pun dianggap ilegal oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. Menurutnya, setiap teknologi finansial harus mendapat persetujuan bank sentral jika hendak dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah.

    Di sisi lain, sebagai mata uang dunia maya yang bersistem peer-to-peer electronic cash system, Bitcoin beserta kawan-kawannya jelas tidak bernominal rupiah atau bisa jadi alat pembayaran yang sah di Indonesia.

    Sesuai Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta UU Nomor 23 Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 2009, rupiah merupakan satu-satunya alat pembayaran yang sah di Indonesia.

    "Khusus bitcoin, sudah dalam satu tahun ini menjelaskan kepada masyarakat bahwa bitcoin itu bukan alat pembayaran di Indonesia," ujar Agus di penghujung Pertemuan Tahunan Dana Moneter Indonesia (IMF) dan Bank Dunia 2017 di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu (14/10) waktu setempat.

    Berbeda pandangan, Wakil Ketua Bidang Operasional Keamanan Jaringan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure(ID-SIRTII) Muhammad Salahuddien Manggalany mengungkapkan, saat ini belum ada aturan yang kuat untuk pelarangan bitcoin di Indonesia.

    Undang-undang tentang Mata Uang pun tidak cukup mengukung penggunaan sistem mata uang virtual ini sebab sejatinya, digital currency tidak tunduk pada aturan negara manapun.

    “Paling undang-undang itu berlaku untuk membolehkan atau tidak membolehkan. Tapi kalau tidak membolehkan juga, pada praktiknya orang nggak peduli karena di dunia virtual. Bagaimana mencegahnya? Enggak bisa. Selama orang masih mau menggunakan, ya masih akan terus berlangsung,” paparnya kepada Validnews, Senin (6/11).

    Pandangan pria yang akrab disapan Didin tersebut tak salah memang. Karena meskipun bos BI telah melarang penggunaan bitcoin, menurut situs Bitcoin.co.id, terdapat 149 toko baik online maupun offline yang sudah menerima bitcoin sebagai alat pembayaran. Lokasi toko juga tersebar di seluruh Indonesia dan bervariasi mulai dari restoran, rental mobil, layanan isi ulang pulsa hingga toko souvenir.

    Kebanyakan toko yang menerima bitcoin berada di Bali, berdekatan dengan lokasi komunitas Bitcoin.co.id di Seminyak dan Ubud, seperti Sanur Jewellery Studio, Tabra International, S8 Hotel dan delMango Villa Estate.

    Mengenai masalah pelarangan bitcoin ini, beberapa negara pun mengeluarkan reaksi beragam. Rusia pada awal 2014 lalu sempat mengharamkan penggunaan bitcoin dan mata uang digital lainnya. Namun pada Oktober lalu, Presiden Rusia, Vladimir Putin, dilaporkan telah mengeluarkan mata uang digital nasional cryptoruble.

    Bank sentral Latvia juga sempat meminta warga untuk tidak menggunakan bitcoin karena pembelian dan pertukarannya membawa risiko. Pembuat kebijakan keuangan Korea Selatan menyatakan akan melarang pengumpulan dana dari mata uang virtual, mengikuti langkah China yang lebih dulu melarang penggunaan koin digital.

    Sementara itu, CEO Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan justru sempat menyatakan penggunaan bitcoin di Jepang sudah dianggap sebagai mata uang yang setara dengan Yen.

     

     

    Gelembung Bitcoin
    Selain digunakan sebagai alat pembayaran, bitcoin kini juga dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam berinvestasi. Hal ini tak terlepas dari meningkatnya nilai tukar bitcoin dalam waktu dekat.

    Berdasarkan data dari coindesk, pada 24 Februari 2011, nilai tukar 1 koin bitcoin setara US$1. Artinya, selama tujuh tahun terakhir, nilai bitcoin sudah naik sekitar 7.000 kali lipat. Tak heran apabila bitcoin dianggap sebagai salah satu investasi paling menarik, termasuk oleh masyarakat Indonesia.

    Menurut survei yang dilakukan oleh Luno, perusahaan Bitcoin yang berpusat di Singapura, motivasi utama masyarakat membeli bitcoin sebagian besar karena alasan finansial (25% alasan trading/spekulasi, 26,7% alasan investasi).

    Bahkan, 46,6% responden menyatakan lebih memilih bitcoin sebagai instrumen investasi ketimbang emas, sementara 40,4% tidak dapat memilih diantara keduanya, dan hanya 12,9% yang memilih emas ketimbang bitcoin.

    Bhima Yudhistira Adhinegara peneliti dari INDEF (Institute for Development of Economics & Finance) juga mengungkapkan, kenaikan harga bitcoin yang tidak wajar disebabkan karena mekanisme pasar dan spekulasi.

    “Yang pertama memang semakin banyak yang main bitcoin, ini hukum permintaan dan penawaran, makin banyak permintaan harganya makin naik. Yang kedua, semakin banyak perusahaan investasi yang menginvestasikan dananya ke bitcoin,” ujar peneliti yang akrab dipanggil Bima itu kepada Validnews, Senin (6/11).

    Menurut alumni Universitas Gadjah Mada tersebut, bitcoin sudah dilirik oleh perbankan-perbankan skala besar serta investor-investor kelas kakap yang sebelumnya berinvestasi di saham.

    “Dari Wall Street yang biasanya spekulasi saham, sekarang jadi spekulasi bitcoin. Bahkan ada reksadana bitcoin, itu dijual dan itu laku ternyata. Jadi mulai banyak pemain-pemain investor skala besar yang menginginkan bitcoin. Ini yang membuat harganya jadi tinggi dan berisiko menjadi bubble,” ujar Bima menjelaskan.

    Bubble atau gelembung yang dimaksud adalah kejadian dimana harga atau nilai suatu investasi menjadi semakin tinggi secara tidak wajar, padahal nilai seharusnya tidak setinggi itu. Layaknya gelembung, semakin lama semakin menggelembung membesar hingga akhirnya pecah dan tidak tersisa.

    Menurut Bima, bitcoin bisa menjadi sumber krisis ekonomi berikutnya, sama seperti ketika subprime mortgage (obligasi berbasir KPR perumahan) di Amerika Serikat tahun 2008.

    “Makin lama dimainkan sama orang, digoreng, makin banyak yang terlibat, sampai suatu saat ternyata ini semua hanya hoax ya. Ternyata nilainya gak sebegitu (tinggi), akhirnya pecah bubble nya dan krisis terjadi. Mungkin awalnya dari bitcoin jadi krisis keuangan dunia, dampaknya kemana-mana,” ujar pria yang memperoleh gelar master dari Universitas Bradford, Inggris tersebut.

     

    Kekhawatiran akan gelembung bitcoin juga sebenarnya sudah menjadi perhatian dunia. Sebelumnya, direktur pelaksana IMF Christine Lagarde menganggap mata uang digital seperti bitcoin sangat berisiko.

    “Mereka terlalu mudah bergejolak, sangat berisiko dan menyita energi karena teknologi pencatatan (underlying) mereka belum terukur. Banyak yang masih buram bagi regulator, beberapa diantara mereka juga telah diretas,” ujar Lagarde seperti dilansir laman IMF.

    Selain Lagarde CEO JP Morgan Jamie Dimon juga menganggap bitcoin merupakan fenomena bubble yang menunggu untuk pecah. Dimon bahkan menganggap bitcoin lebih parah dari fenomena tulip mania, yang sempat melanda Eropa di abad 16.

    “Alasannya dua, itu bertentangan dengan aturan kita dan itu sangat bodoh. Kedua hal tersebut sangat berbahaya. Bitcoin hanya cocok bila anda di Venezuela, Ekuador, atau Korea Utara, jika anda pengedar narkoba atau pembunuh,” ujar Dimon seperti dilansir The Guardian

    Bahkan, investor legendaris sekelas Warren Buffet juga menolak keras kehadiran bitcoin. Buffet menilai investasi pada cryptocurrency adalah investasi yang tak berwujud, tak menghasilkan pendapatan ataupun dividen, serta tidak memiliki nilai intrinsik ataupun nilai buku seperti investasi seharusnya.

    “Orang yang membeli bitcoin jelas berjudi. Anda tidak bisa menilai bitcoin karena itu bukan aset yang layak dinilai. Itu jelas bubble yang akan meledak, tak masuk akal dan tidak terkontrol,” ujar Buffet seperti dilansir Forbes.

    Bayangkan saja, jika total kapitalisasi pasar uang digital senilai US$201,3 miliar, maka jika gelembung itu pecah, dampaknya akan meluas kemana-mana. Investor maupun pemerintah perlu mewaspadai itu.

    Kata Bima, pemerintah Indonesia pun harus bisa menegakan regulasi, kalau perlu marketplace-nya pun ditutup. Karena secara Undang-Undang Mata Uang juga berlawanan, tidak diawasi oleh Bank Indonesia.

    “Sebenarnya sudah kuat (alasan) untuk menutup ataupun membatasi, bahkan pemerintah bisa mengeluarkan pasal perdata, misalnya jika yang memiliki bitcoin kalau ketahuan bisa dihukum. Ini salah satu cara untuk meminimalisir terjadinya bubble tadi,” kata Bima menyarankan.

    Risiko gelembung ini pula yang dilihat oleh Didin dari ID-SIRTII. Bagaimanapun menurutnya, bitcoin yang sangat bergantung sentimen bisa membuat nilainya naik dengan tiba ataupun turun secara drastis dalam waktu singkat.

    “Kalau sentimen, rawan sekali untuk kolaps kan. Sekarang orang sudah berinvestasi dengan nilai yang sekian, ternyata karena sentimennya turun, tiba-tiba dia turun drastis. Jadi tidak bagus juga,” simpulnya.

    Fenomena disruption di dunia bisnis memang tak bisa dihindari dewasa ini. Namun alangkah baiknya jika hal tersebut disikapi dengan bijak, tidak tunduk pasrah pada zaman agar kerugian lebih besar bia diantisipasi. Bagaimanapun juga, besarnya unsur ketidakpastian yang besar, pasti memiliki konsekuensi yang besar juga. (Rizal, Teodora Nirmala Fau)