Masih Banyak Potensi Berkah di Pasar Modal Syariah

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016 yang dilakukan OJK, tingkat literasi pasar modal syariah di Indonesia hanya 0,02%. Sementara tingkat inklusi atau penggunaannya hanya 0,01%

  • Aktivitas bursa saham di Pasar Keuangan Dubai, UEA. AFP PHOTO / KARIM SAHIB
    Aktivitas bursa saham di Pasar Keuangan Dubai, UEA. AFP PHOTO / KARIM SAHIB

    JAKARTA- Maraknya investasi ilegal atau bodong akhir-akhir ini kian meresahkan masyarakat. Parahnya lagi, tak jarang investasi bodong tersebut menggunakan kedok agama untuk menambah minat masyarakat.

    Untung yang berkah dengan cara syariah kerap menjadi ‘bujukan maut’. Bagi para investor, yang tak jarang berasal dari kalangan menengah atas, niat ingin mendapatkan untung pun tak jarang justru berujung buntung.

    Pada akhir November lalu, Satuan Tugas Waspada Investasi mengungkapkan jumlah kerugian masyarakat dalam 10 tahun terakhir akibat praktik investasi bodong adalah sebesar Rp105,81 triliun. Dalam periode tersebut sudah 132 badan usaha penawar investasi bodong yang dinyatakan ilegal.

    Kerugian terbesar disebabkan oleh investasi bodong yang digawangi oleh Pandawa Group dengan kerugian Rp3,8 triliun dan korban 549 ribu orang. Parahnya, salah satu teknik Pandawa Group dalam menjaring investornya adalah dengan penggiringan opini bahwa seolah-olah Pandawa menganut sistem syariah.

    Sebelumnya, pada tahun 2016, masyarakat juga dibuat geger oleh tokoh bernama Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang disebut-sebut mampu menggandakan uang. Dalam praktiknya menjaring korban, Taat Pribadi juga melakukan penyalahgunaan agama, seperti mengadakan pengajian, mendirikan padepokan dan menggunakan simbol-simbol agama.

    Menurut Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sujanto, masyarakat Indonesia memang masih mudah tertipu oleh investasi yang menjanjikan imbal hasil besar, apalagi jika sudah dibumbui unsur agama.

    “Padahal sebenarnya ada investasi yang menguntungkan serta berbasis syariah dan diawasi oleh OJK. Salah satunya adalah investasi di pasar modal syariah,” ucap Sujanto saat ditemui Validnews usai acara OJK Financial Clinic di kawasan Kuningan, beberapa waktu lalu.

    Menurut penjelasan di laman resmi OJK pasar modal syariah merupakan bagian dari industri pasar modal Indonesia. Secara umum, kegiatan pasar modal syariah sejalan dengan pasar modal pada umumnya.

    Hanya saja, terdapat beberapa karakteristik khusus pasar modal Syariah, yakni produk dan mekanisme transaksi tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal.?

    Menurut OJK, investasi di pasar modal syariah ini dijamin halal. Karena pada dasarnya kegiatan pasar modal yang merupakan kegiatan penyertaan modal dan atau jual beli efek (saham, sukuk), termasuk dalam kelompok muamalah. Sehingga transaksi dalam pasar modal diperbolehkan sepanjang tidak ada larangan menurut syariah.

    Kegiatan muamalah yang dilarang adalah kegiatan spekulasi dan manipulasi yang di dalamnya mengandung unsur gharar, riba, maisir, risywah, maksiat, dan kezaliman.

    Sejak pertama kali diluncurkannya reksa dana syariah pada tahun 1997, pasar modal syariah di Indonesia telah mengalami perkembangan selama dua dekade terakhir. Hal ini ditandai dengan berkembangnya beberapa produk syariah serta diterbitkannya regulasi terkait pasar modal syariah

    Beberapa produk investasi pasar modal syariah saat ini antara lain saham, sukuk (obligasi syariah), reksa dana syariah, efek beragun aset syariah (EBA Syariah), dana investasi real estat syariah (DIRE Syariah) dan efek syariah lainnya.

    Saham Syariah
    Salah satu instrumen pasar modal Syariah yang cukup digemari adalah saham. Selain karena karakteristiknya yang lebih likuid, imbal hasil yang dihasilkan pun relatif tinggi, meski dengan pertimbangan risiko yang tinggi juga.

    Terkait dengan saham yang termasuk dalam efek syariah, OJK bersama dengan Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) melakukan penyaringan perusahaan-perusahaan mana yang sahamnya termasuk dalam efek syariah.

    Saham-saham yang termasuk dalam syariah adalah saham dari perusahaan yang kegiatan usahanya tidak mengandung hal-hal yang bertengangan dengan prinsip syariah, misalnya perjudian, jasa keuangan ribawi atau produksi barang haram.

    Dari sisi kondisi keuangan, perusahaan yang termasuk kategori syariah adalah perusahaan yang memiliki total utang berbasis bunga dibanding total aset tidak lebih dari 45% serta pendapatan nonhalal dibanding total pendapatan tidak lebih dari 10%.

    Setiap bulan Mei dan November, OJK merilis Daftar Efek Syariah (DES) yang diperdagangkan di pasar modal syariah. Sesuai DES yang dirilis OJK 22 November lalu, terdapat 375 efek syariah, sedangkan total efek yang tercatat di BEI adalah 565 perusahaan. Artinya, sekitar 66,37% dari efek yang ada di pasar modal Indonesia sebenarnya sudah termasuk efek syariah.

    Sesuai Daftar Efek Syariah yang dirilis OJK 22 November lalu, saat ini terdapat 375 emiten yang sahamnya termasuk dalam jenis syariah.

     

     

    Besarnya kapitalisasi pasar saham-saham yang tergabung dalam efek syariah juga terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Menurut Statistik Pasar Modal Syariah pada Oktober, nilai kapitalisasi saham-saham syariah adalah sebesar Rp3.526,65 triliun atau sekitar 53,34% dari nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia.

    Menurut Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi IPB Irfan Syauqi Beik, salah satu kelebihan dari saham-saham syariah adalah lebih tahan dalam menghadapi krisis. Hal ini disebabkan karena karakteristik kondisi keuangan perusahaan yang termasuk efek syariah.

    Ia bilang, dari penelitian yang sudah dilakukan, kemampuan untuk pulih setelah pasar dihantam krisis itu jauh lebih cepat. Hal ini karena kriteria saham Syariah yang komposisi rasio utang berbasis bunganya lebih kecil, lebih sedikit dibandingkan total ekuitasnya.

    “Sehingga kalau pun ada gunjangan pada suku bunga, seharusnya tidak terlalu terpukul dibandingkan dengan yang saham-saham perusahaan konvensional,” ujar Irfan saat dihubungi Validnews, Rabu (6/12).

    Untuk menunjang perdagangan efek secara syariah, beberapa perusahaan efek anggota bursa juga menyediakan sistem online trading syariah (SOTS). Perbedaan paling mencolok online trading syariah dengan konvensional adalah tidak diperkenankannya margin trading atau membeli saham dengan utang (ditalangi), serta tidak diperkenankannya melakukan short sell atau jual kosong.

    Menurut Nicky Hogan, SOTS ini bisa menghindari unsur spekulasi yang membuat investasi saham menjadi seperti judi. “Ini demi menjamin kenyamanan dan kehalalan investor dalam berinvestasi di saham syariah. Jadi untungnya ganda, dunia dan akhirat,” ujar Nicky.

    Asal tahu saja, hingga tahun 2016, terdapat 12 anggota bursa yang telah memiliki sertifikasi SOTS.

    Sukuk dan Reksadana
    Selain saham, efek Syariah lainnya yang juga bisa dikoleksi investor adalah obligasi Syariah (sukuk) dan reksadana Syariah. Menurut Buku Perkembangan Pasar Modal Syariah 2016, total sukuk korporasi yang sudah diterbitkan di Indonesia adalah sebanyak 102 seri.

    Selanjutnya berdasarkan data per tanggal 10 November 2017, jumlah outstanding sukuk korporasi baru tercatat tinggal sebanyak 69 sukuk atau 12% dari total obligasi dan sukuk outstanding. Jika dilihat dari nilai emisinya, nilai outstanding emisi sukuk korporasi baru mencapai Rp14,40 triliun atau 3,8% dari total nilai emisi obligasi dan sukuk korporasi outstanding.

    Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen berpendapat, penyebab rendahnya market share pasar modal syariah salah satu lantaran emiten dan penjamin emisi kurang percaya diri untuk menawarkan sukuk dalam jumlah besar, khawatir tak terserap pasar.

    Untuk reksadana syariah, secara kumulatif sampai dengan 31 Desember 2016 terdapat 136 reksa dana syariah beredar dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) mencapai Rp14,91 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 46,24% dari jumlah reksa dana syariah akhir tahun 2015 sebanyak 93 reksa dana syariah, dan peningkatan NAB sebesar 35,30% dibanding akhir tahun 2015 sebesar Rp11,02 triliun.

    OJK sendiri optimistis dana kelolaan (asset under management/AUM) reksadana syariah di Indonesia akan terus meningkat seiring dengan terus meningkatnya jumlah produk. Direktur Pengawas Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan Fadilah Kartikasasi menyebutkan, hingga akhir November 2017 terdapat sebanyak 174 produk reksa dana syariah dengan AUM sekitar Rp23 triliun.

    ”Data 2015, ada 93 produk dengan AUM sekitar Rp11 triliun, pada 2016 terdapat 136 produk reksa dana syariah dengan AUM Rp14,9 triliun, dan data per November 2017 ada 174 reksa dana syariah dengan AUM Rp23 triliun. Market share-nya sebesar 5,2%,” ujarnya.

    Dengan beroperasinya PT PayTren Aset Manajemen (PAM) di awal bulan Desember ini, diharapkan dapat mendorong kinerja reksa dana syariah lebih baik ke depannya, apalagi minat masyarakat yang berinvestasi ke produk syariah cukup besar. “Beroperasinya PAM tentunya melihat ada komunitas massa yang besar," tuturnya.

    PAM sendiri adalah manajer investasi syariah pertama di Indonesia. Pendiri Paytren Jam'an Nurkhatib Mansur atau biasa disapa Ustaz Yusuf Mansur mengungkapkan, alasan utamanya dalam membangun PAM adalah memberikan solusi keuntungan investasi sekaligus ketenangan dalam satu paket.

    Ia melihat, minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi tidak dapat dianggap enteng. Namun agar masyarakat tidak terjebak pada investasi bodong, diperlukan wadah investasi yang mampu mengakomodasi minat tersebut.

    "Jadi bagaiamana masyarakat diajak untuk investasi jangka panjang tidak hanya pendek dan kita ingin memajukan investasi syariah," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (4/12).

    Menurutnya, PAM dapat mengakomodir minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi dengan prinsip-prinsip syariah. “Bila masyarakat punya pilihan bukan hanya legal, tetapi syariah. Tentu ini tidak hanya keuntungan tapi ketenangan dan keuntungan. Jadi bagaimana masyarakat diajak untuk investasi jangka panjang tidak hanya pendek. Kami juga ingin memajukan investasi syariah," ujarnya.

    Paytren sendiri mengklaim telah memiliki basis komunitas yang jumlahnya mencapai 1,7 juta pengguna. Ke depan PAM akan berjalan beriringan dengan manajer investasi konvensional untuk meningkatkan basis nasabah ritel di Indonesia.

    Yusuf Mansyur juga menekankan, PAM sendiri tidak dikhususkan kepada nasabah muslim tapi juga dapat dinikmati secara luas. "Kami bukan sesuatu yang berseberangan dengan reksa dana konvensional tapi bekerja sama bagaimana dua dunia ini berjalan bersama memberikan keuntungan," imbuhnya.

    Direktur Utama PAM Ayu Widuri mengatakan, pada tahap awal, PAM akan menerbitkan dua jenis produk reksadana yaitu produk reksa dana pasar uang yaitu PAM Syariah Likuid Dana Safa dan reksadana pasar saham, yaitu PAM Syariah Saham Dana Falah. Dua produk tersebut telah mendapatkan izin efektif dari OJK pada 29 November lalu.

    "Sebanyak 1,7 juta nasabah Paytren merupakan captive market kita di investor ritel. 500.000 ribu nasabah, diharapkan menjadi investor ritel perdana," yakinnya.

    Terlepas dari itu, secara umum BEI sendiri saat ini telah menjajaki peluang kerja sama dengan bursa efek negara lain selain, seperti Bursa Efek Dubai (Uni Emirat Arab) dan Turki untuk membentuk Bursa Efek Syariah yang lebih kuat. Hal ini diakui oleh Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan.

    “Sesuai salah satu arah dari Roadmap Pasar Modal Syariah 2015—2019, perlu adanya peningkatan baik itu dari sisi supply yakni perusahaan yang menerbitkan instrumen dan jenis instrumennya, serta dari sisi demand yakni kesadaran investor untuk memilih produk instrumen pasar modal syariah,” ujar Nicky kepada Validnews beberapa waktu lalu.

     

     

    Tahan Krisis
    Perencana Keuangan Prita Hapsari Ghozie menyarankan, investor yang ingin menanamkan dananya secara jangka Panjang, bisa menjadikan beberapa efek syariah sebagai alternatif portofolionya.

    “Kalau pasar lagi bagus banget biasanya tidak yang terbaik, tapi ketika pasar lagi hancur, dia bukan yang terburuk. Kalau anda ingin portofolio yang optimal memang sebaiknya memasukkan emiten yang berasal dari daftar emiten syariah,” ujar Prita kepada Validnews beberapa waktu lalu.

    Terlepas dari keunggulannya, faktanya minat investor untuk lebih memilih efek-efek syariah dan sistem trading syariah masih belum terlalu tinggi. Berdasarkan data dari Buku Perkembangan Pasar Modal Syariah 2016, hingga Desember 2016 lalu jumlah investor saham syariah tercatat sebanyak 159.086 investor.

    Adapun menurut KSEI, jumlah investor saham secara keseluruhan mengacu pada jumlah pemilik Single Investor Identification (SID) pada tahun 2016 adalah sebesar 894.116 investor. Artinya, jumlah investor yang menggunakan sistem syariah baru sekitar 17,8% dari jumlah investor keseluruhan yang tak sampai sejuta itu.

    Bandingkan dengan jumlah korban dari investasi Pandawa Group yang berhasil membuat boncos 549.000 orang hingga Rp3,8 triliun. Belum dari entitas investasi bodong lainnya yang tak kalah agresif merekrut investor.

    Menurut Irfan, rendahnya literasi keuangan, apalagi terhadap pasar modal, menjadi penyebab terhambatnya pertumbuhan pasar modal Indonesia, baik konvensional ataupun syariah.

    “Jadi saya melihat, bahkan untuk yang konvensional sekalipun, masyarakat banyak yang belum memahami dan banyak yang belum terlibat. Di tengah angka yang rendah ini, yang syariah jauh lebih rendah lagi,” ujar Irfan.

    Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016 yang dilakukan OJK, tingkat literasi pasar modal syariah di Indonesia hanya 0,02%. Sementara tingkat inklusi atau penggunaannya hanya 0,01%.

    Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Amirsyah Tambunan saat peluncuran Program Shadaqah dan Zakat Saham Nasabah di Main Hall BEI pertengahan November lalu mengakui, pasar modal syariah belum banyak dipahami di Indonesia.

    Ia pun merasa perlu adanya sosialisasi kepada pelaku usaha dalam menciptakan pemahaman mengenai pasar modal syariah. “Ini karena kurangnya sosialisasi,” serunya.

    Padahal jika dilihat dari jumlah penduduk Indonesia dan predikat Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, potensi pasar modal syariah Indonesia seharusnya bisa berkembang lebih tinggi lagi. Irfan pun menilai Indonesia bisa belajar dari beberapa negara untuk mengembangkan pasar modal syariah dan instrumennya.

    Untuk negara Islam sendiri ada Malaysia yang terdekat. Juga Dubai (Uni Emirat Arab-red) yang sekarang tengah berkembang.  Untuk negara ‘nonmuslim’, ada Singapura dengan pasarnya yang sangat menarik.

    Indonesia, lanjutnya, punya kelebihan tersendiri sebenarnya. “Contoh pemerintah kita itu dikenal sebagai frequent issuer dari sukuk negara. Jadi kalau bicara sukuk negara maka Indonesia seharusnya bisa menggantikan Malaysia sebagai frequent issuer,” imbuhnya.

    Pernyataan Irfan ini sesuai laporan Islamic Commercial Law Report 2017, seperti dikutip dari Buku Perkembangan Pasar Modal Syariah 2016. Tahun 2015, Indonesia berada di posisi keempat negara dengan outstanding nilai sukuk terbesar yaitu senilai US$24,74 miliar

    Negara yang memiliki nilai sukuk terbesar, yaitu Malaysia yang diikuti oleh Arab Saudi dan UEA. Dari sisi penerbitan sukuk, Indonesia dengan nilai penerbitan sebesar US$8,81 miliar berada pada posisi kedua terbesar setelah Malaysia.

     

     

    Rekomendasi Saham
    Khusus untuk saham, perkembangan pasar modal syariah Indonesia bisa terlihat dari pergerakan Jakarta Islamic Index (JII) dan Indonesia Sharia Stock Index (ISSI). Sekadar informasi, JII adalah indeks saham syariah pertama Indonesia yang dibentuk pada 3 Juli 2000. Indeks tersebut berisi 30 saham syariah pilihan yang dipilih oleh OJK dan DSN-MUI.

    Sementara itu, ISSI diluncurkan pada tanggal 12 Mei 2011 dengan tahun dasar yang digunakan dalam perhitungan ISSI adalah Desember 2007. Saat ini terdapat 361 saham dalam Daftar Efek Syariah (DES) dan aktif perdagangkan serta menjadi elemen perhitungan ISSI.

    Hingga penutupan perdagangan Rabu (6/12), pertumbuhan JII dan ISSI sepanjang tahun ini (year to date atau ytd) adalah sebesar 4,61% dan 3,51%. Jika dibandingkan dengan 13 indeks konstituen lainnya, pertumbuhan JII dan ISSI memang kalah jika dibandingkan dengan pertumbuhan Indeks Komposit (Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG) yang tumbuh 13,95% atau indeks LQ45 yang tumbuh 15,22%.

    Pertumbuhan JII dan ISSI hanya lebih baik dari pertumbuhan indeks SMInfra18 (2,34%) dan PEFINDO25 (-13,02%).

    Menurut analis dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Reza Priyambada, besarnya pertumbuhan JII dan ISSI yang tergolong kecil disebabkan karena tidak adanya saham-saham perbankan yang tahun ini tumbuh signifikan. Berdasarkan DES 22 November lalu, hanya saham Bank Panin Dubai Syariah (PNBS) saham sektor perbankan yang masuk ke dalam DES.

    “Saham-saham sektor perbankan adalah penopang utama pertumbuhan IHSG tahun ini. Selain itu, semakin banyaknya investor ritel (investor individual) yang hanya masuk pasar untuk jangka pendek membuat pertumbuhan JII maupun ISSI tidak tumbuh signifikan,” ujar Reza saat dihubungi Validnews, Kamis (7/12).

    Selain saham-saham perbankan, saham-saham emiten rokok yang memiliki kapitalisasi besar, seperti Gudang Garam (GGRM) dan HM Sampoerna (HMSP) juga tidak masuk kedalam DES. Untuk itu, bagi para investor yang hendak memasukkan saham-saham syariah ke dalam portofolionya, Reza merekomendasikan saham-saham yang memiliki fundamental bagus.

    “Perhatikan pula saham-saham yang masih memiliki ruang pertumbuhan yang bagus. Beberapa contohnya adalah Waskita Karya (WSKT) dan Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA). Saham-saham barang konsumsi dengan kapitalisasi tinggi seperti Unilever Indonesia (UNVR) juga bisa menjadi pilihan,” ujar analis Binaartha Parama Sekuritas itu.

    Sekadar informasi, saham-saham syariah yang menjadi top gainer hingga penutupan perdagangan bulan November 2017 adalah Wicaksana Overseas atau WICO (1.110%), Destinasi Tirta Nusantara atau PDES (409,84%), Inti Bangun Sejahtera atau IBST (408,11%), Indika Energy atau INDY (297,16%) dan Ristia Bintang Mahkotasejati atau RBMS (276,47%).

    Sementara itu, jejeran saham-saham syariah yang menjadi top loser hingga penutupan perdagangan bulan November adalah Capitol Nusantara Indonesia atau CANI (-81,84%), Island Concepts Indonesia atau ICON (-75,8%), Renuka Coalindo atau SQMI (-75%), Matahari Putra Prima atau MPPA (-72,43%) dan Graha Andrasentra Propertindo atau JGLE (-71,21%).

    Adapun mengacu pada statistik bulanan Bursa Efek Indonesia pada Oktober 2017, saham syariah dengan kapitalisasi pasar terbesar adalah Telekomunikasi Indonesia atau TLKM (Rp406,2 triliun), Unilever Indonesia atau UNVR (Rp378,5 triliun), Astra Internasional atau ASII (Rp323,9 triliun), United Tractors atau UNTR (Rp129,3 triliun) dan Indofood CBP Sukses Makmur atau ICBP (Rp102,6 triliun). (Rizal, Teodora Nirmala Fau, Faisal Rachman)