Ditangkap, Sindikat Penyedia Surat Sakit Palsu

Para pelaku juga menyediakan jasa untuk menaikkan nilai transaksi dalam bon pembelanjaan

  • Tiga orang tersangka dan barang bukti kejahatan ditunjukkan kepada wartawan saat rilis kasus surat sakit palsu di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (12/1). Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap dua orang mahasiswi berinisial NDY dan MJS karena menjual surat sakit palsu lewat media sosial www.jasasuratsakit.blogspot.com, bersama pria berinisial MKM, melalui akun Instagram @suratsakitjkt. ANTARA FOTO/Reno Esnir/ama/18.
    Tiga orang tersangka dan barang bukti kejahatan ditunjukkan kepada wartawan saat rilis kasus surat sakit palsu di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (12/1). Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap dua orang mahasiswi berinisial NDY dan MJS karena menjual surat sakit palsu lewat media sosial www.jasasuratsakit.blogspot.com, bersama pria berinisial MKM, melalui akun Instagram @suratsakitjkt. ANTARA FOTO/Reno Esnir/ama/18.

    JAKARTA – Tiga orang ini boleh dikatakan kreatif dalam upaya mencari untung. Jasa yang mereka tawarkan boleh jadi bukan jasa umum yang disediakan para pelaku usaha. Mereka menyediakan jasa untuk membuat surat keterangan sakit palsu.

    Terlihat sepele, namun omzet mereka bisa mencapai jutaan rupiah per bulan. Karena ternyata banyak yang menggunakan jasa mereka. Meski menguntungkan, namun kini mereka harus merasakan pahitnya hidup menjadi pesakitan di dalam penjara, lantaran usaha yang dilakukan tiga orang tersebut, yakni MJS, NDY, dan MKM adalah perbuatan melanggar hukum. Ketiga pelaku kini diamankan petugas Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.

    Berdasarkan keterangan yang dihimpun pihak kepolisian dari para pelaku, mereka menjual keterangan sakit dalam jaringan (daring) khususnya di media sosial (medsos), seperti Facebook, Twitter, Instagaram, hingga blog.

    "Ada akun-akun yang memperjualbelikan surat sakit. Yang menjual bukan dokter. Kami selidiki dan akhirnya berhasil menangkap tiga tersangka, MKM, NDY dan MJS dengan peran yang berbeda," kata Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Asep Safrudin seperti yang dikutip dari Antara, Jumat (12/1).

    Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang menyatakan banyak beredar surat sakit palsu yang diperjualbelikan di medsos, yakni di akun Instagram dan Facebook.

    Berdasarkan informasi tersebut, awalnya penyidik Bareskrim menangkap seorang perempuan berinisial MJS di Duri Kosambi, Cengkareng, Kamis (4/1) silam. Selanjutnya, di hari yang sama, penyidik menangkap perempuan lain berinisial NDY di Batu Ceper, Tangerang, dan kemudian seorang laki-laki berinisial MKM di Duri Kosambi, Cengkareng.

    Tersangkan MKM, jelas Asep, menagku, dia menawarkan jasa pembuatan surat sakit secara online melalui situs jasasuratsakit.blogspot.com sejak tahun 2012 silam. Dia menjual, seharga Rp25 ribu per lembar surat sakit.

    Para pelanggan melakukan pembayaran dengan cara transfer ke rekening bank atas nama SS. Dalam sehari, MKM mendapatkan pesanan surat sakit sekitar 15—20 lembar surat. Itu sebabnya, dengan melakukan praktik haram ini, MKM dapat memperoleh keuntungan sekitar Rp100 sampai Rp500 ribu per hari.

    Dengan asumsi tersebut, jika keuntungan sehari dirata-ratakan Rp300 ribu saja maka dalam sebulan mereka bisa mendapat keuntungan Rp9.000.000 hanya dengan membuat surat keterangan sakit palsu.

    Menariknya, MKM ternyata mendapatkan nama-nama dokter secara acak dari sejumlah plang tempat praktik dokter di jalanan. Kemudian, nama-nama dokter yang tertera di lembar surat sakit palsu dicatut secara acak oleh tersangka.   

    Untuk melancarkan jual surat sakit palsu ini, MKM dibantu oleh NDY. NDY mengaku telah bergabung dengan MKM sejak 2014 silam. Sementara tersangka MJS memiliki akun Instagram @suratsakitjkt dan mengiklankan diri sebagai calo surat keterangan sakit palsu.

    BIasanya, MJS mengaku memesan surat sakit kepada MKM melalui situs jasasuratsakit.blogspot.com. Herannya, MJS malah tak mengenal tersangka MKM dan NDY. 

    "MJS berinisiatif menjadi perantara jasa surat sakit karena ingin punya penghasilan dari situ," paparnya.

    MJS menggeluti bisnis ini sejak akhir 2016. Berbeda dengan MKM, untuk memperoleh keuntungan MJS mematok harga sebesar Rp50 ribu per lembar surat sakit. Di mana, Rp25 ribu ditransfer ke SS. Dalam sebulan, MJS bisa mendapatkan pesanan surat sakit palsu sebanyak 15 kali.

    Atas perbuatannya, ketiga tersangka dijerat dengan Pasal 28 Ayat 1 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 29 Ayat 1, Pasal 73 Ayat 1 Jo Pasal 77 Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

    "Para tersangka ditahan di Rutan Bareskrim Polri," tandasnya.

    Dalam pengamatan yang dilakukan Validnews jasasuratsakit.blogspot.com milik pelaku. Situs tersebut pun memawarkan jasa pemalsuan bon. Dalam situs ini dijelaskan, pelaku dapat menaikkan nilai transaksi dalam bon pembelian untuk keperluan kantor ataupun keperluan lainnya.

    “Terhadap situs Utk agan2 yg ingin menaikan nilai bon pembelian utk di kantor dsb, bisa hubungi kita gan,” demikian tertulis dalam situs jasasuratsakit.blogspot.com.

    Ironisnya, tak sedikit yang melakukan praktik kotor ini. Pada laman ini saja, terdapat belasan orang yang mengirimkan testimoninya kepada pelaku, sebagai ungkapan terima kasih. (James Manullang)