MUSIK INDIE, MAKIN UNIK MAKIN ASYIK

Selera musik kini menjadi indikator keren atau tidaknya seseorang, terutama bagi para remaja.

  • Penampilan Band White Shoes. Validnews/Agung Natanael
    Penampilan Band White Shoes. Validnews/Agung Natanael

    Oleh: Novelia, M.Si*

    Pepatah lama bilang musik adalah bahasa internasional. Musik acapkali dikatakan sebagai sesuatu yang dapat membaurkan semua orang tanpa mengenal negara, budaya, dan kebiasaan. Kata siapa? Nyatanya, seiring dengan berjalannya waktu, musik justru terbagi-bagi lagi ke dalam berbagai genre, yang dilihat sebagai representasi para penggemar. Penikmat musik jenis satu akan berupaya menjaga selera dan tidak ingin disamakan dengan jenis musik lain. Menariknya, kini tren musik bergeser menjadi lebih mengutamakan keberbedaan dibandingkan kualitas atau hal-hal lain yang membuat seorang atau suatu grup musisi disukai.

    Fenomena terkait tercermin dari St. Jarome’s Laneway Festival, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Laneway. Festival musik yang dipelopori oleh Danny Rogers dan Jerome Borazio pada tahun 2005 di Melbourne ini mengusung tema musik indie. Dengan alasan tertarik menemukan musik-musik yang masih segar, baru, dan unik, Laneway menawarkan konsep di mana para musisi yang menjadi line-up tidak terlalu populer. Namun, justru hal inilah yang menjadi daya tarik Laneway, terutama bagi para hipster dan remaja. Ibaratnya, semakin tidak terkenal musisinya, justru para pengunjung festival akan merasa semakin tertarik.

    Dengan branding yang semakin menguat, Laneway kemudian mulai diperlebar hingga kota-kota lain di Australia, bahkan hingga ke luar negeri seperti Singapura dan New Zealand. Para konsumen datang karena konsep indie-nya, bukan karena seniman-seniman yang mengisi acaranya.

    Indie Indonesia
    Konsep indie sendiri dapat diklasifikasikan dengan membedakannya dengan major label. Sementara major label memproduksi berbagai aliran musik mengikuti selera pasar atau mainstream, mendominasi, dan berkuasa di pasar, label indie berperan dalam membebaskan musisi untuk berkarya dengan idealisme dan kreativitasnya sendiri, sehingga membuat segmentasi lebih beragam dan memungkinkan terciptanya selera antimainstream.

    Pergerakan musik indie sejatinya juga telah menjalar di Indonesia dengan mulai naiknya nama-nama seperti Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, atau Sore, yang tadinya hanya difavoritkan segelintir orang. Dulu musik para musisi tersebut hanya dapat dinikmati di program-program khusus dengan tema indie di televisi atau radio, pentas seni-pentas seni sekolah, atau tempat-tempat tertentu seperti kafe ataupun distro. Dewasa ini, karya para musisi indie mengalun di berbagai tempat dan melalui berbagai media. Dari kafe hingga swalayan, dari radio hingga spotify.

    Beberapa prestasi juga berhasil ditorehkan oleh para musisi lokal yang berangkat dari jalur indie untuk mendulang eksistensinya di mata publik. Pada tahun 1993, PAS Band mulai mendongkrak derajat aliran musik ini lewat album For Through The Sap. Dengan jalur indie, band tersebut berhasil menjual habis 5.000 kopi yang merupakan jumlah fantastis saat itu. Kesuksesan tersebut diikuti oleh Mocca yang sukses menjual album My Diary (2002) dalam jumlah lebih dari 300.000 kopi. Tak hanya itu, lagu-lagu Mocca bahkan tak jarang digunakan sebagai latar berbagai drama dan acara realitas di Korea Selatan.

    Belum lama ini juga publik dibuat jatuh hati dengan alunan lagu Akad yang merupakan karya Payung Teduh. Sebelumnya, grup band ini juga sempat meraih predikat sebagai Grup Pendatang Baru Terbaik versi Rolling Stone Indonesia. Selain PAS Band, Mocca, dan Payung Teduh, ada juga beberapa musisi indie yang meraih popularitas dengan menelurkan prestasi seperti terangkum pada infografis di bawah ini.

     

    Bila sebelumnya musik indie dianggap aneh dan terlalu nyentrik, kini ia berubah menjadi kegemaran masyarakat kontemporer. Musik indie semakin diapresiasi karena dianggap memiliki otentisitas serta pasar yang istimewa bila dibandingkan dengan musik yang diproduksi major label. Dari segi popularitas juga para musisi indie tidak kalah dari para pemain major. Bahkan, di kalangan remaja, pengetahuan tentang musik indie kerap menjadi indikator keren serta artsy atau tidaknya seseorang.

    Mencari Jati Diri
    Tren musik indie menyadarkan kita akan adanya segmen pasar yang ingin selalu tampak berbeda dengan kelompok lain. Pada dasarnya, manusia cenderung akan mengikuti norma-norma sosial yang berlaku karena adanya kebutuhan untuk diterima oleh masyarakat sekitarnya. Namun, hal ini akan berbeda bila dikaitkan dengan individu-individu di usia remaja. Kiki (bukan nama sebenarnya), pengamat sekaligus lulusan program Master Psikologi Anak dan Remaja Leiden University, melihat fenomena ini sebagai krisis yang dialami anak muda dalam proses pencarian identitas.

    “Kalau remaja memang agak beda karena proses mencari jati diri itu. Tapi, sebenarnya, dalam proses pencarian jati diri itu mereka juga ikut-ikutan orang lain, sih. Apalagi peer dan idolanya,” tutur Kiki. “Terus mereka mulai membentuk kemandirian gitu, makanya jadi kayak kelihatan mau beda.”

    Penjelasan Kiki ini dapat dikaji lebih mendalam dengan teori Perkembangan Psikososial yang ditemukan oleh Erik Erikson (1959). Erik mengatakan bahwa dalam kehidupannya, seorang individu setidaknya akan mengalami delapan babak perkembangan yang masing-masing menghadapkan mereka pada krisis dan dilema tertentu yang berbeda. Babak-babak tersebut dilihat pada infografis berikut ini.

     

    Pada babak remaja, seorang individu akan mengalami krisis identitas. Pada babak yang diawali dengan masa puber dan berakhir pada usia 18 hingga 20 tahun ini, ia akan mempertanyakan dan mulai mencari-cari jati diri dan tujuan hidupnya. Seorang remaja sangat akrab dengan idealisme dan tendensi untuk melihat hitam-putih dari segala hal. Pada babak ini, individu akan berkumpul bersama individu-individu lain yang sepaham dan berupaya mendengungkan kepercayaan dan gaya hidup mereka tanpa memandang hak kelompok lain yang tidak sepaham.

    Pada fenomena ini, musik indie dapat menjadi satu kendaraan yang digunakan sebagai simbol idealisme seorang remaja. Ia mencoba menciptakan dirinya sendiri yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Jenis musik yang berbeda diharapkan dapat mendefinisikan diri dan tujuan hidupnya, memberikan jawaban atas krisis yang dialaminya dalam babak tersebut.

    Eksistensi dan Eksklusivitas
    Namun, selain dapat menyasar remaja, musik indie juga tak jarang digandrungi oleh individu-individu yang berusia lebih lanjut karena adanya kebutuhan eksistensi.

    “Manusia juga punya kebutuhan eksistensi gitu. Jadi untuk beberapa orang yang memaknai eksistensi sebagai tampil beda atau mereka memang sebenernya ‘beda’, mereka jadi tampil beda.” tambah Kiki.

    Bila dimaknai sebagai tumpuan untuk tampil beda, kebutuhan eksistensi ini selanjutnya akan mengarah lagi pada kebutuhan untuk menjadi eksklusif. Inilah sebabnya beberapa penggemar musik indie tidak terlalu antusias dengan mulai naiknya popularitas musisi favorit mereka.

    Di satu sisi, para penikmat musik indie akan merasa bangga karena seleranya akhirnya diakui pasar, serta musisi-musisi idolanya kini tak kalah populer dengan musisi major label. Namun, timbul juga kekecewaan karena nilai eksklusivitasnya mulai berkurang. Dengan kondisi di mana semua orang dapat secara kolektif mengakses dan mengidolakan musik indie, kenikmatan untuk dianggap berbeda dengan jenis musik lain pun perlahan memudar.

    Setidaknya, maraknya konsep musik indie dapat menjadi motivasi menggembirakan bagi para musisi muda untuk terus berkarya, terutama dengan berbagai perkembangan teknologi yang semakin memudahkan produksi musik secara mandiri. Pasar musik indie dirasa masih akan terus bergema dalam beberapa tahun ke depan selama kebutuhan eksistensi masih jadi adat.

    *Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

     

    Referensi:

    Boeree, C. G. (2006). Erik Erikson Personality Theories. Pennsylvania: Psychology Department Shippensburg University.

    S.Fleming, J. (2004). Erikson’s Psychosocial Developmental Stages. Retrieved Februari 7, 2018, from SWPPR: http://swppr.org/Textbook/Ch%209%20Erikson.pdf