MOMENTUM HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA

Pentingnya kontribusi semua pihak dalam melindungi populasi kita dari dampak negatif perubahan iklim

  • Tumpukan sampah yang terbawa arus laut di Pantai Kuta, Bali, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana Deskripsi : foto ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana - don. fokus/06062018
    Tumpukan sampah yang terbawa arus laut di Pantai Kuta, Bali, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana Deskripsi : foto ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana - don. fokus/06062018

    Oleh: Mohammad Widyar Rahman, M.Si

    Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia jatuh pada tanggal 5 Juni 2018. Tema yang diusung pada peringatan tahun ini yaitu “Kendalikan Sampah Plastik”. Tema tersebut memiliki arti penting dalam rangka pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia. 

    Tantangan Pengelolaan Sampah
    Berbicara tentang pengelolaan sampah, wilayah yang menjadi sebaran sampah mulai dari kota-kota besar hingga ke wilayah pesisir. Sebaran sampah secara umum yang cukup besar bersumber dari masyarakat di wilayah pesisir yang terdekat ke laut. Data Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir tahun 2016 menyebutkan bahwa pencemaran yang paling sering terjadi di desa pesisir berasal dari limbah pabrik (24,06%), diikuti limbah rumah tangga (16,80%). Berdasarkan data PODES 2014, jumlah desa pesisir yang mempunyai fasilitas TPS (Tempat Pembuangan Sementara) hanya sekitar 11,05%. Perilaku terhadap sampah sebagian besar keluarga yang tinggal di desa pesisir antara lain membuang sampah di sungai atau saluran irigasi atau danau atau laut sebesar 21,57%, membuang sampah dalam lubang atau membakar (55,69%), dan hanya 11,34% keluarga yang tinggal di desa pesisir membuang sampah di tempat sampah kemudian diangkut (BPS, 2016).

    Di sisi lain, tantangan peningkatan sampah baik di perkotaan maupun pedesaan seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Menurut ICCSR (2010), Indonesia pada tahun 2005 memiliki tingkat produksi sampah perkapita 0,6 kg/orang/hari untuk wilayah perkotaan dan 0,3 kg/orang/hari untuk wilayah pedesaan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, produksi sampah perkapita akan terus naik sehingga di tahun 2030 mencapai 1,2 kg/kapita/hari untuk perkotaan dan 0,55 kg/orang/hari untuk pedesaan. Saat ini, perkiraan produksi limbah domestik rata-rata ibukota provinsi di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 2135,32 m3 per hari dengan rata-rata volume terangkut sebesar 1451.10 m3 per hari. Hal ini memberikan persentase terangkut rata-rata dari setiap ibukota tersebut sebesar 71.50% (BPS, 2017).

    Menurut ICCSR (2010), Pengelolaan Persampahan Domestik (Municipal Solid Waste/MSW) di Indonesia masih menghadapi banyak masalah seperti:

    • Mayoritas kota tidak memiliki perencanaan (master plan) yang konsisten dalam penanganan sampah

    • Pengelolaan Persampahan belum diberikan prioritas yang cukup dalam peraturan pemerintah daerah sehingga menjadikan anggaran dana untuk pengelolaan sampah sangat terbatas.

    • Fasilitas untuk pengumpulan, transportasi, dan penyimpanan sampah juga terbatas.
    • Sebagian besar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) merupakan open dumping yang menyebabkan polusi air, udara, dan bau tidak sedap.

    Dampak Terhadap Perubahan Iklim
    Timbulan sampah memiliki kontribusi cukup besar terhadap perubahan iklim. Menurut Aldrian et. al. (2011), dampak fisik dari perubahan iklim terjadi perubahan siklus air dan perluasan wilayah tropis, perubahan frekuensi kejadian ENSO, peningkatan kejadian puting beliung, kejadian iklim ekstrem, serta gelombang tinggi. Dalam kondisi normal, Indonesia memiliki dua musim; hujan dan kemarau. Namun pada kondisi anomali, hampir seluruh kawasan Indonesia hanya mengalami musim hujan sebagaimana pernah terjadi pada tahun 2010. Hal ini menyebabkan berbagai macam dampak, baik pada produksi pertanian, perkebunan, perikanan, transportasi, maupun gangguan pada beberapa jenis (spesies) hewan dan tumbuhan tertentu.

    Pada tahun 2014, total emisi GRK Indonesia telah mencapai 1.808 juta ton CO2e. Angka ini, secara konsisten menunjukkan adanya peningkatan emisi dalam kurun waktu 2000-2013 sebesar 3,5% per tahun. Sektor limbah telah berkontribusi sebesar 5,44% terhadap emisi GRK Indonesia. Sektor limbah menjadi yang paling besar menghasilkan emisi CH4. Pada tahun 2012, emisi gas rumah kaca yang bersumber dari sektor limbah sebesar 94.64 ribu ton CO2e (CH4), 2.27 ribu ton CO2e (CO2), dan 3.09 ribu ton CO2e (N2O). Sebagai catatan, jenis gas N2O yang berpotensi paling tinggi menciptakan pemanasan global sebesar 310 kali dari CO2. Kemudian, jenis gas CH4 berpotensi 21 kali lipat untuk menghasilkan pemanasan global dibandingkan dengan gas CO2 (BPS, 2017).

    Oleh karena itu, peningkatan timbulan sampah di Indonesia berkontribusi besar terhadap peningkatan emisi karbon. Kondisi ini menunjukkan bahwa pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan dalam rangka menciptakan pembangunan yang berwawasan lingkungan.  

    *) Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

    Referensi:
    Aldrian E, Karmini M, Budiman. (2011). Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di Indonesia. Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, Kedeputian Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

    [BPS] Badan Pusat Statistik. (2016). Statistik Sumberdaya Laut dan Pesisir 2016. Badan Pusat Statistik: Jakarta.

    [BPS] Badan Pusat Statistik. (2017). Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2017. Badan Pusat Statsitik: Jakarta.

    [ICCSR] Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap. (2010). Roadmap Perubahan Iklim Sektor Limbah. Bappenas: Jakarta.