GELAGAPAN MENDONGKRAK KUALITAS PENDIDIKAN

MENINJAU ULANG SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA

Diperlukan sistem pendidikan yang mampu memberikan kepada para peserta didik cara berpikir, ilmu pengetahuan, keterampilan serta mentalitas.

  • Patung
    Patung

    Oleh: Dr. Nugroho Pratomo*

    Pembangunan sumber daya manusia dalam kerangka pembangunan sebuah negara dan bangsa adalah kunci keberhasilan. Sebab dalam proses mengembangkan berbagai sumber daya lainnya, dibutuhkan keahlian dan kemampuan yang mumpuni dari masing-masing manusianya. Hal ini hanya dapat diperoleh apabila manusia-manusia tersebut memiliki bekal yang cukup. Bekal yang cukup tersebut hanya dapat diperoleh melalui proses pendidikan yang tepat.

    Jadi dengan kata lain, diperlukan sistem pendidikan yang mampu memberikan kepada para peserta didik cara berpikir/ pandang, ilmu pengetahuan, keterampilan serta mentalitas yang benar-benar dapat digunakan setiap individu untuk mengembangkan dirinya sendiri serta lingkungan di sekitarnya.

     

    Cara Berpikir
    Kemampuan berpikir adalah kelebihan yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia. Kemampuan berpikir itulah yang membedakan manusia dengan mahluk lain di muka bumi ini. Cara berpikir dalam memandang berbagai hal di muka bumi inilah yang kemudian membedakan antara manusia satu dengan manusia lainnya. Khususnya antara manusia yang ‘berpendidikan’ dengan yang ‘tidak berpendidikan’.

    Berpendidikan yang dimaksudkan dalam terminologi tersebut, tidak terbatas pada sejauh mana seseorang telah mengenyam lembaga pendidikan (sekolah/ perguruan tinggi). Lebih dari itu yang dimaksudkan berpendidikan dalam hal ini adalah sesuatu yang dimiliki oleh setiap individu dalam mempertimbangkan baik dan buruknya sesuatu hal (bernalar), menganalisisnya hingga kemudian membuat sebuah kesimpulan yang didasarkan pada prespektif yang dapat dinilai dan dapat dipertanggungjawabkan (Izhar, 2016).

    Jadi dapat disimpulkan bahwa “berpendidikan” dalam konteks cara berpikir tidak selalu identik dengan sekolah. Sekolah atau bahkan lembaga pendidikan formal lainnya hanya sebuah instrumen pendidikan. Karenanya hasil seseorang dengan lainnya meski mereka bersekolah belum tentu sama. Meski berada pada sekolah dan guru yang sama.     

    Ilmu Pengetahuan
    Berangkat dari berpikir dan bernalar tersebut, kemudian manusia mengembangkan berbagai hal di dunia ini. Diantara produk-produk nalar tersebut adalah kebudayaan dan pengetahuan. Kebudayaan yang dimaksudkan tidak terbatas pada kesenian saja. Kebudayaan sebagaimana disampaikan Koentjaraningrat adalah bentuk total atas pikiran, karya dan hasil karya manusia. Berbagai hal tersebut tidak seutuhnya berasal dari naluri manusia semata.

    Namun kesemuanya diperoleh melalui proses belajar (Koentjaraningrat, 2004). Melalui proses berpikir, manusia juga menghasilkan pengetahuan. Manusia dengan mengikuti jalan pemikirannya pada akhirnya akan mencapai sebuah kesimpulan yang kemudian dinamakan “pengetahuan” (Suriasumantri, 1994).  Lebih lanjut menurut Koentjaraningrat, terdapat berbagai unsur universal yang sekaligus merupakan isi dari semua kebudayaan sebagaimana disampaikan dalam infografis berikut ini.

    Sebagai salah satu unsur universal dan sekaligus isi kebudayaan, sistem pengetahuan tersebut kemudian ‘dibendakan’ oleh manusia yang kemudian disebut dengan “ilmu”. Karenanya, ilmu pada dasarnya juga merupakan salah satu bentuk pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.

    Ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri inilah yang membedakan sebuah ilmu dengan berbagai pengetahuan lainnya. Ilmu juga membatasi diri pada sebuah obyek, terutama yang dapat diuji oleh pancaindra manusia (Suriasumantri, 1994). Maka dari itu dikenal berbagai cabang keilmuan. Melalui berbagai kecabangan ilmu tersebut juga dimaksudkan agar pengetahuan dapat disebarkan/ diajarkan dan dikembangkan oleh banyak pihak lainnya.

    Melalui ilmu pengetahuan ini pula, muncul berbagai berbagai bentuk wujud benda lainnya yang kemudian dikenal dengan nama teknologi. Melalui keberadaan teknologi ini pula, berbagai kehidupan manusia semakin berkembang dan membentuk sebuah peradaban.

    Karenanya, teknologi yang juga sekaligus bentuk nyata  atas kebudayaan, pada dasarnya tidak lebih dari sebuah simbol pencapaian sebuah peradaban. Karenanya kecanggihan teknologi harus diperhatikan. Teknologi harus tetap merupakan alat bantu bagi kehidupan manusia. Besarnya ketergantungan kehidupan manusia terhadap teknologi harus kembali dimaknai sebagai penguasaan manusia atas pengetahuan. Bukan sebaliknya.

    Keterampilan
    Penguasaan manusia atas pengetahuan dan unsur-unsur universal kebudayaan dimana salah satunya ditandai dengan kemunculan teknologi, harus diikuti oleh kemampuan manusia untuk memanfaatkannya. Berdasar atas hal itulah dibutuhkan keterampilan. Keterampilan atau kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu hal, diperlukan sebagai bentuk pengejawantahan atas pengetahuan dan unsur-unsur kebudayaan yang dimilikinya.

    Keterampilan dalam menggunakan teknologi digital misalnya, menjadi ajang untuk membuktikan kepada dirinya dan lingkungan sekitarnya bahwa ia memiliki pengetahuan di bidang teknologi digital. Begitu pula dengan bahasa. Keterampilan seseorang dalam berbahasa terlebih bahasa asing, menjadikan seseorang tersebut memperoleh pengakuan dan kepercayaan dari lingkungannya sebagai seseorang yang mampu berkomunikasi dengan berbagai bangsa lain di luar.

    Mentalitas
    Aspek terakhir yang harus dapat diberikan oleh sistem pendidikan adalah kepercayaan diri yang tinggi. Kepercayaan diri yang tinggi inilah yang membangun seseorang untuk memiliki mentalitas yang kuat. Di masa penjajahan, banyak dari rakyat Indonesia merasa takut dan minder terhadap orang-orang kolonial. Karenanya, kemudian muncul terminologi “mental inlander”. Sebuah istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan sikap orang-orang yang terjajah. Pada masa pasca kolonial, mentalitas ini tidak serta merta hilang dari berbagai kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan belum terbangunnya kesetaraan di antara masyarakat itu sendiri. Ketidaksetaraan ini muncul diakibatkan berbagai hal, termasuk salah satunya tingkat pendidikan.

    Terkait persoalan mentalitas ini, Koentjaraningrat (2004) menegaskan bahwa terdapat beberapa kelemahan dalam mentalitas yang dimiliki oleh sebagian besar manusia Indonesia, yaitu meremehkan mutu, suka menerabas, sifat tak percaya kepada diri sendiri, tidak disiplin dan suka mengabaikan tanggung jawab. Permasalahan-permasalahan tersebut bersumber pada dua hal. Pertama, nilai budaya negatif yang memang berasal dari bangsa Indonesia sendiri. Kedua adalah akibat adanya praktik penjajahan yang dilakukan oleh bangsa lain.  

    Dalam kerangka membangun mentalitas ini, jauh lebih sulit ketimbang menyebarkan ilmu pengetahuan.  Waktu yang dibutuhkan juga lebih lama. Hal ini tidak dibatasi oleh jangka waktu yang ditetapkan sebagaimana layaknya seseorang bersekolah. Diperlukan kesinambungan dan konsistensi di dalam pelaksanaannya. Hasilnyapun dapat beraneka ragam tingkatannya atas individu satu dengan individu lainnya.

    Namun satu hal yang terpenting dalam mentalitas ini adalah kesiapan dalam bersaing. Setelah seseorang memiliki cara berpikir yang tepat, memiliki ilmu pengetahuan di bidangnya masing-masing serta keterampilan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya,  ia akan memiliki mentalitas yang kuat menghadapi semua pesaingnya.

    UU Sisdiknas
    Mengacu pada keempat hal tersebut, maka dalam konteks Indonesia keberadaan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjadi sangat penting. Sebagai payung hukum sistem pendidikan di Indonesia, maka UU tersebut diharapkan mampu menjamin pelaksanaan keempat hal tersebut dalam proses pendidikan di Indonesia.

    Mencermati UU tersebut, sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. ?

    Berdasarkan pada pasal dan ayat tersebut, sebenarnya UU pendidikan di Indonesia telah mendorong agar pendidikan di Indonesia dapat memenuhi keempat hal yang disampaikan sebelumnya. Mengacu pada UU tersebut, pendidikan di Indonesia diharapkan tidak sekedar membekali para peserta didik untuk memperoleh bekal ilmu pengetahuan atau menguasai kemampuan akademis semata. Lebih dari itu, berbagai hal di luar kemampuan akademis juga diharapkan akan dimiliki oleh para peserta didik.

    Namun kenyataan di lapangan masih menunjukkan bahwa indikator keberhasilan pendidikan masih banyak dinilai pada aspek akademis. Hal ini termasuk juga dalam hal pendidikan yang menyangkut moralitas (keagamaan). Evaluasi hasil pendidikan baru terbatas pada kemampuan membaca atau menghafal kitab suci. Celakanya, pemaknaan atas hal tersebut hingga penerapan dalam kehidupan sehari-hari masih jauh dari harapan. Hal inilah yang pada akhirnya juga mempengaruhi keberhasilan pembangunan mentalitas. Padahal mentalitas sesungguhnya adalah gambaran utuh atas hasil pendidikan yang didapatkan seseorang. Jika mentalitas manusia Indonesia masih menjukkan berbagai kelemahan sebagaimana disebutkan oleh Koentjaraningrat, artinya masih ada kesalahan dalam sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia.   

    *)Direktur Riset Visi Teliti Saksama

    Referensi
    Izhar. (2016, Januari). Mengidentifikasi Cara Berpikir Deduktif dan Induktif Dalam Teks Bacaan Melalui Pengetahuan Koteks dan Referensi Pragmatik. Jurnal Pesona, 2(1), 63-73.

    Koentjaraningrat. (2004). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta, DKI, Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama.

    Suriasumantri, J. S. (1994). Tentang Hakekat Ilmu: Sebuah pengantar Redaksi. In J. S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif (pp. 1-40). Jakarta, DKI, Indonesia: Yayasan Obor Indonesia