MENDORONG KREATIVITAS DAN INOVASI SEBAGAI LOKOMOTIF PEMBANGUNAN

Sertifikat paten inilah yang memberikan hak monopoli serta menghasilkan keuntungan di atas keuntungan yang diterima para pengusaha yang tidak berinovasi serta posisi daya saing yang lebih tinggi.

  • Ilustrasi analisis laboratorium. elcalabs.com
    Ilustrasi analisis laboratorium. elcalabs.com

    Oleh: Sita Wardhani S, SE, MSc*

    Beberapa hari yang lalu, penulis melihat sebuah video singkat yang menceritakan mengenai pembangunan jalan tol layang Ir. Wiyoto Wiyono, ruas jalan yang menghubungkan antara Cawang dan Tanjung Priok. Yang menarik dari video tersebut adalah mengenai cerita teknologi pembangunan jalan layang itu.

    Adalah Bapak Tjokorda Raka Sukawati, selaku pimpinan proyek untuk ruas Cawang - Jalan Pemuda. Beliau harus mencari sebuah metode untuk menaikkan beton dan melakukan pembangunan jalan layang tanpa mengganggu arus lalu lintas di bawahnya, karena jalan dibangun di atas jalan umum yang sudah ada sebelumnya dan di area padat pemukiman.

    Melalui Teknik Sosrobahu yang diciptakannya, Bapak Tjokorda berhasil menyelesaikan jalan layang tersebut lebih cepat sembilan bulan dari yang dijadwalkan. Jalan itu kini masih berdiri kokoh selama 28 tahun. Teknologi Sosrobahu merupakan teknologi inovasi buah pemikiran asli putra Indonesia. Teknologi ini telah digunakan untuk membangun jalan layang di beberapa negara, di antaranya Filipina, Malaysia, Thailand, dan Singapura.

    Keutamaan Inovasi Dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

    Inovasi penting bagi suatu negara dalam meraih pertumbuhan output dan memperbesar daya saing.  Peran inovasi dalam mendorong perkembangan ekonomi salah satunya dikemukakan oleh Joseph Alois Schumpeter. Menurut Schumpeter, faktor utama yang menyebabkan perkembangan ekonomi adalah proses inovasi yang dilakukan oleh para inovator atau wirausahawan (entrepreneur). Kemajuan ekonomi suatu masyarakat hanya bisa diterapkan dengan adanya inovasi. Dan kemajuan ekonomi tersebut diartikan sebagai peningkatan output total masyarakat.

    Schumpeter juga berpendapat bahwa siklus bisnis terjadi akibat adanya inovasi dalam organisasi, seperti perubahan dalam metode produksi dan transportasi, proses produksi produk baru, perubahan dalam organisasi industri, membuka pasar baru, dan lainnya. Inovasi tidak melulu berarti penemuan melainkan mengacu pada aplikasi komersial dari teknologi baru, material baru, metode baru, dan sumber energi baru.

    Lalu apa yang menjadi insentif bagi pengusaha untuk melalukan inovasi? Schumpeter menyatakan bahwa kekuatan monopoli yang mengikuti hasil inovasi itulah yang menjadi insentif pendorong inovasi. Ketika sebuah inovasi berhasil dilakukan, si pencipta dapat mendaftarkan produk atau buah pikirannya untuk dipatenkan. Dan sertifikat paten inilah yang memberikan hak monopoli serta menghasilkan keuntungan di atas keuntungan yang diterima para pengusaha yang tidak berinovasi serta posisi daya saing yang lebih tinggi.

    Inovasi Di Negara Maju

    Keutamaan inovasi juga tergambar dalam laporan Global Competitiveness Index (GCI) yang diterbitkan setiap tahunnya oleh World Economic Forum (WEF). Salah satu dari dua belas pilar yang menentukan tingkat daya saing dalam indeks daya saing ini adalah tingkat inovasi dari suatu negara. Delapan dari sepuluh negara dengan peringkat daya saing tertinggi, juga menduduki sepuluh negara dengan peringkat inovasi tertinggi. Hanya Hong Kong dan Inggris yang peringkat inovasinya tidak masuk dalam sepuluh besar.

    Selain peringkat inovasi, indikator inovasi lainnya adalah jumlah jurnal serta jumlah sitasinya. Perguruan tinggi merupakan wadah para ilmuwan untuk berkarya dan menghasilkan inovasi. Oleh sebab itu, salah satu indikator yang menggambarkan aktivitas inovasi disebuah negara adalah jumlah penulisan jurnal. Amerika Serikat merupakan negara dengan aktivitas penulisan jurnal tertinggi di dunia, diikuti dengan Cina dan Inggris di peringkat kedua dan ketiga.

    Amerika Serikat merupakan negara yang menduduki peringkat kedua sebagai negara paling inovatif menurut laporan GCI, dan juga merupakan negara dengan penulisan jurnal tertinggi. AS adalah negara yang berhasil maju berkat aktivitas inovasi. Aktivitas inovasi terutama banyak dilakukan AS pada periode akhir abad ke-19 dan di periode awal abad ke-20. Pada masa itu, AS menjadi negara industri terkemuka di dunia.

    Inovasi yang dilakukan AS pada periode ini banyak dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan yang berjasa dalam penemuan teknologi pionir. Sebutlah nama-nama seperti Thomas Edison and Nikola Tesla yang berjasa dalam menemukan listrik yang berguna untuk penerangan. Kemudian Alexander Graham Bel dalam dunia komunikasi.

    Sebuah studi yang dilakukan oleh Akcigit, Grigsby, & Nicholas (2017) membuktikan bahwa inovasi berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Analisa dilakukan dengan melihat bagaimana peran inovasi, yang dilihat melalui jumlah paten dan hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi, di setiap negara bagian.

    Inovasi di Dalam Negeri

    Lalu bagaimana dengan kondisi Indonesia? Jika mengacu pada laporan GCI, peringkat daya saing Indonesia cukup baik, yaitu adalah ke-31 dari 137 negara, dan untuk inovasinya pun menduduki peringkat ke-36. Jika dibandingkan dengan negara-nagara ASEAN lain, posisi Indonesia cukup baik. Memang peringkat inovasi Inodnesia dalam laporan GCI ini, masih lebih rendah di bandingkan Singapura, yang berada pada peringkat 9 dan Malaysia di peringkat ke-20. Tetapi, Thailand berada di peringkat 50, sedangkan Vietnam di peringkat 71. Namun jika melihat aktivitas ilmiah di perguruan tinggi, dengan melihat jumlah penulisan jurnal, Indonesia masih tertinggal dibandingkan Thailand.

    baca juga: Menakar Kualitas Dosen Lewat Jurnal Ilmiah

    Negara ASEAN

    Meski tertinggal di ASEAN, Pemerintah melalui Kemenristek terus berupaya untuk mendorong aktifitas ilmiah dan publikasinya di jurnal ilmiah. Hal ini dilakukan dengan berbagai program hibah yang mendorong penelitian dan penulisan jurnal ilmiah. Program beasiswa untuk perguruan tinggi baik didalam maupun luar negeri, serta mengundang dosen dan peneliti asing dari luar, maupun dosen dan peneliti Indonesia ke luar negeri juga merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas ilmuwan Indonesia.

    Namun perlu diingat juga, bahwa inovasi tidak hanya dilakukan di lingkungan universitas, tetapi perlu juga ada kerjasama antara perusahaan dan universitas. Sebab, inovasi di suatu negara tidak hanya dilakukan di lingkungan akademisi, tetapi juga oleh perusahaan. Seperti yang diungkapkan oleh Schumpeter, pelaku inovasi adalah para entrepreneur.

    Hal ini pula yang dikemukakan oleh Akcigit, Grigsby, & Nicholas (2017). Mereka melihat tren inovasi di AS saat ini dan yang terjadi satu abad yang lalu berbeda. Di periode emas inovasi AS sebagian besar penemuan dilakukan oleh para ilmuwan di universitas maupun laboratorium individu. Namun saat ini inovasi lebih banyak dilakukan oleh perusahaan. Hampir sebagian besar perusahaan, terutama perusahaan yang telah mendunia, memiliki divisi penelitian dan pengembangannya (R&D) sendiri. Lagi-lagi mengutip ucapan Schumpeter, inovasi memberikan kekuatan pasar/monopoli bagi perusahaan. Itulah mengapa mereka melakukan aktivitas litbang tersebut.

    Masih ada harapan bagi Indonesia, meski jumlah penulisan jurnal dan sitasi artikel ilmiah Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN. Indikator inovasi serta peringkat GCI memberikan indikasi bahwa Indonesia memiliki peluang untuk meraih kekuatan daya saing, sebab dunia bisnis di Indonesia mendukung kegiatan yang inovatif. Sehingga usaha pemerintah untuk meningkatkan penulisan jurnal, ditambah lingkungan bisnis yang terus diperbaiki untuk mendorong aktivitas inovasi, dapat semakin kuat mewujudkan Indonesia menjadi di antara sepuluh negara dengan PDB terbesar di 2050.

    Teknologi Sosrobahu merupakan salah satu inovasi putra bangsa, selain inovasi lain yang juga mendunia, seperti pondasi cakar ayam yang ditemukan oleh Prof. Sedijatmo. Kedua inovasi yang mendunia dan berguna dalam mempermudah kehidupan manusia ini dapat menjadi penyemangat bagi generasi muda lain, untuk giat belajar, berpikir kritis, dan berinovasi mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi umat manusia.

    *Peneliti Utama dan Staf Pengajar FEB UI

    Referensi:

    Akcigit, U., Grigsby, J., & Nicholas, T. (2017, Maret 6). Business History. Retrieved from Harvard Business Review: https://hbr.org/2017/03/when-america-was-most-innovative-and-why