MEMAJAKI DOSA

Tujuan pemerintah untuk membatasi konsumsi, dan sekaligus menghasilkan pendapatan bagi pemerintah, pun tercapai dengan cukai.

  •  Ilustrasi cukai minuman beralkohol. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
    Ilustrasi cukai minuman beralkohol. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

    Oleh: Sita Wardhani S., SE, MSc*

    Setiap warga negara yang tinggal dan melakukan usaha dan menghasilkan pendapatan wajib untuk membayar pajak. Dengan pajak, negara mampu melakukan pengeluaran fasilitas publik seperti belanja infrastruktur transportasi (jalan, jembatan, bandar udara, pelabuhan, taman, dan sebagainya); kesehatan, pendidikan, dan berbagai infrastruktur publik, baik yang bersifat hard infrastructure, maupun soft infrastructure (pengeluaran untuk sumber daya manusia). Fungsi pajak ini disebut sebagai fungsi fiskal.

    Pajak juga memiliki fungsi lain. Misalnya untuk melindungi kekurangan bahan baku di dalam negeri, pemerintah menerapkan pajak ekspor. Fungsi pajak ini disebut sebagai fungsi regulasi, yaitu fungsi  yang dapat mengatur atau mengendalikan aktivitas ekonomi. Kemudian, jika pertumbuhan ekonomi melambat, pemerintah dapat memberikan insentif kepada produsen melalui pembebasan pajak dalam periode tertentu. Pengendalian pergerakan ekonomi melalui pajak ini disebut sebagai fungsi stabilisasi. Dan fungsi terakhir pajak adalah untuk redistribusi pendapatan. Pengenaan pajak pendapatan merupakan salah satu contoh dari fungsi redistribusi pendapatan.

    Pajak bukan merupakan satu-satunya sumber pendapatan bagi pemerintah. Sumber pendapatan pemerintah lainnya di antaranya adalah hibah, pendapatan modal, hutang, dan kontribusi sosial misalnya untuk asuransi (BPJS). Secara umum, klasifikasi sumber pendapatan pemerintah dapat dilihat pada gambar 1 di bawah. Secara global, pajak masih merupakan sumber pendapatan utama bagi negara.

    Di Indonesia sendiri, penerimaan pajak mencakup 80% dari total pendaptan kas negara. Sumber penerimaan kas lain berasal dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar kurang dari 20%; serta penerimaan hibah yang tidak mencapai hingga 1% dari total penerimaan kas negara.

    Internalisasi Eksternalitas
    Jika konsumsi terhadap suatu barang dapat membawa dampak negatif, baik untuk si pengonsumsi maupun yang tidak mengonsumsinya secara langsung, maka barang tersebut dapat dikenakan pajak. Pajak ini di Indonesia dikenal sebagai cukai. Dahulu, saat zaman penjajahan Belanda, pajak ini disebut sebagai pajak kesenangan. Di Filipina pun masih disebut sebagai sin tax.

    Penerapan cukai di Indonesia diatur melalui UU no 39 tahun 2007. Menurut UU tersebut, terdapat empat karakteristik barang yang dikenakan cukai (Pasal 2), yaitu (1) untuk komoditas yang perlu di kendalikan, (2) komoditas yang peredarannya perlu diawasi; (3) konsumsi terhadap komoditas yang dapat menimbulkan dampak negatif kepada masyarakat atau lingkungan hidup; (4) komoditas yang dalam pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.

    Di Indonesia, cukai baru diterapkan untuk rokok dan produk hasil tembakau serta etanol dan minuman yang mengandung etanol. Rokok dan minuman beralkohol merupakan produk yang paling umum dikenakan cukai. Sebab, minuman beralkohol dan rokok utamanya dapat menimbulkan adiksi serta berbahaya bagi kesehatan.

    Selain itu, dampaknya tidak hanya dirasakan langsung oleh yang mengonsumsi, tetapi pihak lain yang tidak mengonsumsi dapat terkena dampak tidak langsung. Dampak negatif ini disebut eksternalitas, yaitu dampak yang dirasakan oleh pihak yang tidak melakukan aktivitas tersebut secara langsung, dan menimbulkan biaya.

    Contohnya, Ari tidak merokok. Namun, Ari bekerja dengan Dodi, seorang perokok berat. Dodi sering merokok di dalam ruangan, dan asap rokok tehisap juga oleh Ari, dan menyebabkan Ari sakit. Penyakit ini menimbulkan biaya bagi Ari untuk berobat. Sakit dan biaya yang ditimbulkan oleh Ari disebut sebagai biaya eksternalitas. Cukai menjadi alat untuk menginternalisasi biaya yang diderita Ari.

    Selain alkohol dan rokok, masih terdapat beberapa komoditas yang menjadi objek cukai di negara lain. Produk-produk tersebut di antaranya adalah bahan bakar; penggunaan bahan bakar ditengarai sebagai salah satu penyumbang terbesar dari perubahan iklim. Objek cukai lainnya yang juga terkait dengan keberlanjutan lingkungan adalah penggunaan kantong kresek.

    Komoditas lain yang dikenakan cukai karena alasan kesehatan adalah minuman yang mengandung pemanis. Sebab, minuman ini dapat meningkatkan prevelensi diabetes. Bahkan, beberapa aktivitas yang dinilai negatif namun telah mendapat legalisasi pun menjadi objek cukai. Contohnya judi, prostitusi, dan ganja (Yesnowitz & Fiore, 2017).

    Cukai adalah cara pemerintah dalam menginternalisasi biaya sosial yang timbul dari konsumsi sebuah barang. Oleh karena itu, sebagian dari pendapatan cukai digunakan untuk membiayai aktivitas terkait dampak negatif dari konsumsi. Di Indonesia, sebagian pendapatan cukai rokok digunakan untuk membiayai BPJS. Kemudian di AS, pendapatan cukai dari perjudian digunakan untuk memberikan beasiswa dan anggaran pendidikan pemerintah

    Ekstensifikasi Pajak
    Cukai adalah sumber pendapatan yang menguntungkan karena mereka dapat dikelola dengan lebih mudah daripada pajak lainnya. Cukai dikenakan untuk barang akhir. Pengenaan dilakukan ketika barang akan keluar dari pabrik. Pengenaan pajak cukai pada alkohol, rokok, bahan bakar motor, dan kendaraan bermotor dapat dengan mudah dikumpulkan karena produk mudah diidentifikasi. Volume penjualan pun cenderung tinggi, sehingga pendapatannya juga tinggi.

    Pemikiran pengenaan cukai mirip dengan perdebatan kebijakan kuota vs tarif impor. Tujuan dan dampak dari kuota impor dan tarif sama, perbedaannya hanyalah pada kuota, keuntungan diterima oleh produsen, sedangkan pada tarif, ada pendapatan untuk pemerintah.

    Baca:

    Di tahun 2017, proporsi cukai terhadap pendapatan perpajakan pemerintah Indonesia mencapai 13,4%, atau terjadi pertumbuhan pendapatan cukai sebesar 6,8%. Sebelumnya, di tahun 2015, pendapatan cukai meningkat pesat hingga mencapai 22,5% terhadap pendapatan perpajakan, namun di tahun 2016 turun, menjadi 0,8%. Penurunan di tahun 2016 terjadi karena adanya kenaikan tarif cukai rokok.

    Tarif yang meningkat dapat memicu dua hal, sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan, pertama adalah konsumsi turun akibat harga yang naik, atau kedua, semakin maraknya rokok illegal. Jika cukai menjadi sumber pendapatan, penting bagi pemerintah untuk menetapkan nilai cukai yang optimal, karena jika cukai terlalu tinggi, maka bisa jadi konsumen akan menurunkan konsumsinya, dan akibatnya penjualan turun, dan pendapatan pemerintah pun turun.

    Produk tembakau dan hasil olahannya merupakan produk yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penerimaan cukai negara. Seperti yang tergambar pada grafik di bawah ini, sepanjang 2010 hingga 2015, cukai tembakau berkontribusi lebih dari 95% terhadap penerimaan cukai secara total.

    Masih banyak komoditas yang memiliki potensi untuk dikenakan cukai, terutama komoditas yang menimbulkan eksternalitas negatif. Cukai terhadap kantong plastik, cukai untuk bahan bakar, dan cukai untuk minuman yang mengandung gula, merupakan cukai yang sudah banyak diterapkan di beberapa negara. Pemerintah mungkin tidak dapat menerapkan cukai untuk perjudian atau bahkan prostitusi, karena aktivitas tersebut masih merupakan aktivitas yang dianggap illegal.

    Dari segi produsen, cukai seharusnya tidak akan memengaruhi biaya produksi. Sebab cukai dikenakan terhadap barang akhir, yang langsung dijual untuk dikonsumsi. Dengan begitu, produsen pun bisa melakukan transfer harga terhadap beban cukai yang dibayarkannya. Tujuan pemerintah untuk membatasi konsumsi dan sekaligus menghasilkan pendapatan bagi pemerintah pun tercapai dengan cukai.

    Barang yang terkena cukai pun kemungkinan bersifat inelastik dalam jangka pendek. Sebab seperti asal usul namanya, cukai dikenakan terhadap barang yang memberikan kesenangan. Dalam jangka pendek, konsumen kemungkinan tidak akan terpengaruh dengan kenaikan harga akibat cukai. Namun, dalam jangka panjang, perilakunya dapat berubah. Atau jika produk yang dikenakan cukai tidak memiliki substitusi, maka cukai dapat menghasilkan pendapatan tinggi bagi pemerintah, sebab konsumen tetap akan konsumsi meski harga naik akibat cukai, dan mereka tidak memiliki alternatif lain.

    Oleh karena itu, dengan hanya dua produk saja yang masih dikenakan cukai di Indonesia, cukai masih bisa menjadi alternatif bagi pemerintah untuk menaikkan sumber pendapatannya.

    *) Peneliti Utama dan Staf Pengajar FEB UI

    Referensi

    Esteban Ortiz-Ospina and Max Roser (2018) - "Taxation". Published online at OurWorldInData.org. Retrieved from: 'https://ourworldindata.org/taxation' 

    Giertz, J. F. (n.d.). Excise taxes. Retrieved from https://www.urban.org/sites/default/files/publication/71071/1000527-Excise-Taxes.PDF

    Yesnowitz, J., & Fiore, E. (2017, October 17). The History and Purpose Behind Sin Taxes. Retrieved from Bloomberg Tax: https://www.bna.com/history-purpose-behind-n73014470961/