LIMBUNG BERDAULAT DI DUNIA MAYA

MEDIA MASSA, YANG LALU DAN YANG KINI

Kekhawatiran akan tergerus zaman memaksa sejumlah media massa melibatkan internet dalam pelebaran bisnisnya.

  • ilustrasi koran bekas. (Pixabay)
    ilustrasi koran bekas. (Pixabay)

    Oleh: Novelia, M.Si*

    Kebutuhan akan informasi telah menjadi hal tak terpisahkan dari keseharian masyarakat, terutama di era globalisasi ini. Perkembangan dunia siber yang kian pesat dari waktu ke waktu mengakibatkan pergeseran kebiasaan dalam mengakses informasi, terutama sejak mulai bermunculan berbagai gawai yang mudah dibawa serta ke manapun oleh penggunanya, seperti ponsel pintar dan tablet.

    Perubahaan kebiasaan ini menjadi salah satu pertimbangan bagi surat kabar dan berbagai media cetak lainnya untuk berkembang dan melibatkan teknologi siber dalam penyampaian berita. Selain pergeseran kebiasaan konsumen akibat portabilitas media, jangkauan global dan konektivitas sosial juga menjadi hal yang turut mendukung alasan media massa melebarkan sayapnya di area daring.

    Sebelum era internet muncul biaya pengiriman surat kabar pada lokasi-lokasi tertentu masih terhitung sangat tinggi. Di sisi lain, internet memungkinkan kontak global secara instan. Dengan meningkatkan efektivitas dan mengurangi ongkos kirim sebuah informasi, internet mampu memperluas pasar media tradisional kepada proporsi global, serta pada jumlah lebih besar produsen informasi, yang tidak pernah terpikir sebelumnya.

    Dalam hal konektivitas sosial, informasi pada surat kabar hanya disampaikan satu arah. Para pembaca mungkin saja mendiskusikan konten berita, namun harus  melalui bentuk komunikasi lain seperti diskusi langsung atau melalui telepon. Sementara internet memiliki kemampuan melebihi media cetak dan siar, yaitu memungkinkan terjadinya interaksi many-to-many, penerimaan informasi secara serempak.

    Melalui media digital, diskusi dapat dilakukan pada halaman yang sama, misalnya dengan fitur kolom komentar yang ada di bawah suatu artikel. Interaktivitas tidak hanya terbatas pada pembuat konten dengan penerimanya (pembaca), namun juga menjangkau antarpembaca. Kemampuan media baru ini sangat penting karena interaksi sosial yang melingkupi media massa dapat mempengaruhi interpretasi penikmatnya akan konten media dan bagaimana konten tersebut memberi efek pada mereka.

    Perkembangan Industri Surat Kabar
    Sebagai media massa tertua di dunia, surat kabar pertama kali muncul di abad ke-17 sebagai dampak penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada tahun 1450. Memanfaatkan penemuan ini, Johan Carolus, seorang berkebangsaan Jerman, pada tahun 1605 mencetak surat kabar pertama di dunia, Relation aller Fürnemmen und gedenckwürdigen Historien (Collection of all distinguished and commemorable news), yang terbit di Perancis. Surat kabar ini masih dalam bentuk pamflet dan lebih dikenal dengan Petisi Carolus yang kemudian dicetak berkala.

    Setelahnya, mulai banyak surat kabar yang terbit, seperti Post - Och Inrikes Tidnigar, surat kabar Swedia, yang terbit mulai tahun 1645 dan Journal An Sou de Nouvelle, yang terbit di Perancis pada abad ke-17 (berisi tentang perjalanan tentara Napoleon dari Paris menuju Napoli di Italia). Barulah pada tahun 1744 surat kabar pertama di Indonesia, Batavia Novuvelles, terbit dalam bentuk iklan.

    Perkembangan surat kabar terus membaik dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya pada tahun 1970-an di awal kemunculan internet di Amerika, surat kabar elektronik terlahir. Bentuk surat kabar ini masih berupa telegraf elektronik yang dikirimkan pada pembacanya. Surat kabar daring kemudian bergeser menjadi berbasis web sejak diluncurkannya World Wide Web (Greer & Mensing, 2006: 13). Inovasi surat kabar elektronik dilakukan dengan mengadaptasi fungsi fungsi internet.

    Kehadiran surat kabar elektronik membuat khawatir para pengusaha surat kabar yang masih berbasis cetak. Para penerbit media cetak mencemaskan seandainya produk mereka tidak laku di pasar dan surat kabar daring lebih dipilih pembaca. Kekhawatiran ini beralasan karena sebelumnya Laswell (1948) sempat memprediksi akan terjadinya substitusi media televisi di tengah era keemasan radio. Jadi sangat mungkin hal tersebut juga akan terjadi di antara media cetak dan digital sejak kemunculan internet.  

    Didasari kekhawatiran tersebut sejumlah surat kabar mulai melakukan konvergensi dengan memperluas saluran distribusinya, memanfaatkan internet dan digitalisasi. Akhirnya sejak 1999 hampir 90% surat kabar di Amerika menggunakan teknologi daring dengan membuat situs berita (Garrison, 2000). Kemudian di Indonesia, Koran nasional pertama yang mulai menjajal teknologi digital adalah Kontan di tahun 2008. Setelah itu menyusul Harian Kompas, Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, The Jakarta Post, Jawa Post, dan portal-portal lainnya.

     

    Hingga kini media massa di seluruh dunia umumnya memiliki berbagai lini distribusi yang saling melengkapi. Tak terkecuali di Indonesia, di mana satu grup media dapat memiliki lini-lini distribusi yang sangat banyak, meliputi surat kabar, televisi, radio, majalah, portal.

     

    Meskipun perkembangan siber telah banyak mengubah bentuk media massa dan melahirkan media-media daring, bukan berarti media massa cetak punah sama sekali. Bagaimana pun masih ada pasar yang dapat diincar oleh lini ini. Kesenjangan digital antargenerasi merupakan salah satu alasan yang dapat dipertimbangkan.

    Menurut Van Dijk (1999), beberapa kelompok maupun generasi kekurangan, atau bahkan tidak memiliki daya tarik sama sekali terhadap komputer atau teknologi yang baru. Hal ini umumnya terjadi pada orang yang sudah berumur atau tua, yang akan lebih memilih membaca koran cetak dibandingkan harus membaca huruf-huruf kecil pada portal yang dibuka melalui ponsel pintar. Tetapi demi tidak tergerus perkembangan zaman, konvergensi media rasanya perlu dilakukan para pebisnis media untuk menjangkau target pasarnya.

    *Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

    Referensi:

    McQuail, Dennis. (2000). Mass Communication Theory. London: SAGE Publication.

    Metzger, Miriam J. (2009). The Study of Media Effects in The era of Internet Communication. dalam Nabi Robin L & Oliver, Mary Beth (edt). Media Process and Effects (hal 561-567). California: SAGE Publication.