RISALAH PERGANTIAN TAHUN

Liburan Akhir Tahun, Antara Hiburan dan Rutinitas

Beberapa tempat wisata mainstream di Jakarta dan Bogor menargetkan jumlah pengunjung dari puluhan hingga ratusan ribu orang

  • Ilustrasi perayaan kembang api Tahun Baru. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
    Ilustrasi perayaan kembang api Tahun Baru. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    JAKARTA –Empat pasang pakaian beserta empat lembar kain segi panjang untuk hijab telah tertata rapih di dalam ransel berwarna merah. Perempuan berkulit putih itu masih asyik merapihkan pouchmake up-nya yang sudah penuh sesak dengan beragam cream maupun pewarna bibir berbagai jenis.

    Tak lupa, mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta ini juga menyiapkan seperangkat gawai untuk mengabadikan momen. Mulai dari perangkat sederhana, seperti ponsel, kamera saku, dan tongsis (tongkat narsis) serta gorilla pod  turut masuk ke dalam tas tersebut.

    Pagi ini, perempuan yang akrab dipanggil Zizah tersebut akan melakukan perjalanan ke Lido, Bogor bersama keluarganya. Perjalanan ini memang boleh disebut liburan. Ya, liburan tahun baru.

    Meski hanya berencana berkumpul di rumah saudara, menurutnya, momen tahun baru memanglah hal yang harus dirayakan. Tidak harus meriah sampai mendatangi tempat keramaian, seperti Monas atau Pantai Ancol, tradisi tahun baru yang dimiliki Zizah dan keluarga besar adalah kumpul bersama saat malam pergantian tahun.

    “Saya sih mengusahakan supaya tahun baru itu keluar rumah. Atau semuanya ngumpul di rumah. Istilahnya momen tahun baru itu kan orang-orang pada cuti libur kan, ya kenapa enggak  kita kumpul keluarga. Minimal harus ngumpul di rumah lah kalo enggak jalan-jalan keluar,” ucapnya.

    Sebelumnya, mahasiswi tingkat akhir ini pernah menjajal malam tahun baru di tempat ramai seperti bundaran Hotel Indonesia (HI). Zizah menuturkan perjalanannya ke HI hanyalah eksperimen dari rasa penasarannya.

    “Cuma penasaran aja, rasanya ngeliat orang di televisi tuh seru banget. Pengen ngerasain tahun baru di HI. Terus udah tahu rasanya gimana, ribet dan transportasinya susah banget. Setelah itu enggak mau lagi,” imbuhnya.

    Kepadatan dan keramaian di titik-titik tertentu di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya, memang sering membuat beberapa orang enggan bepergian di malam tahun baru.

    Contohnya Putri, penulis konten salah satu media pemasaran internet internasional mengaku tidak pernah bepergian di malam tahun baru. Menurutnya, malam pergantian tahun bukanlah sesuatu hal yang harus dirayakan atau dihabiskan untuk kegiatan yang sifatnya hanya menghibur.

    Keramaian di tempat umum juga jadi salah satu alasan dia untuk tidak ke luar rumah saat malam pergantian tahun.

    “Enggak enaknya keluar rumah soalnya terlalu ramai. Ramainya enggak terarah, enggak jelas, euforianya terlalu bebas. Kemungkinan enggak enaknya lebih banyak daripada enaknya. Di luar lebih riskan, dan berisik,” tuturnya kepada Validnews, beberapa waktu lalu.

    Putri memaknai tahun baru sebagai waktu untuk merenungkan pencapaian tahun ini dan merencanakan movement tahun berikutnya. Juga, berlibur atau bepergian di Holiday Season tahun baru bukan tradisi di keluarganya.

    “Dari kecil emang enggak ada tradisi begitu, emang enggak kenal. Enggak dikenalin dari kecil. Paling ya kalo mau libur itu quality time jadi ya di rumah sama keluarga kecil,” ungkapnya.

    Beberapa kegiatan favorit yang biasa ia lakukan di rumah saat libur tahun baru adalah membaca buku. Sekali lagi, Putri merasa membaca buku merupakan kegiatan yang lebih bermanfaat daripada berpesta di malam tahun baru.

    “Mending di rumah, baca buku, nonton. Itu lebih asyik, lebih jelas. Kalaupun ketiduran di tempat sendiri, enggak di tempat orang terus tiba-tiba keangkut gitu kan” ujar nya melalui saluran telepon.

    Menurut sosiolog Eka Wenats Wuryanta, berlibur merupakan kebutuhan setiap orang. Segala kesibukan yang menyita energi dan pikiran perlu diimbangi dengan jeda. Namun, kegiatan yang dipilih tentu berpulang pada masing-masing individu. Entah menghabiskan waktu bersama keluarga seperti Zizah, atau menikmati me-time yang berkualitas seperti Putri.

    “Setiap orang punya hak untuk mendapatkan waktu untuk mengistirahatkan dari apa yang ia alami dari setahun sebelumnya. Setiap orang pasti mempunyai keragaman dalam menghayati atau memaknai liburan,” tuturnya.

    Namun, Dosen ilmu komunikasi di Universitas Paramadina ini juga menyarankan agar masyarakat bijak saat menggunakan waktu luang yang dimilikinya. Karena menurutnya, sering kali orang tidak bisa mengambil suatu liburan yang bermakna.

    “Buruknya adalah ketika Anda harus memaksa diri sendiri berlibur tanpa kekuatan finansial yang mendukung liburan itu, tapi kemudian dipaksakan. Orang-orang modern itu makin ke sini makin mempunyai kecenderungan kehilangan makna,” kata Eka menjelaskan.

    Baginya, liburan yang hanya berupa kebiasaan atau rutinitas tanpa memperhatikan faktor pendukung lainnya menjadikan manusia itu seperti robot.

    “Liburan kan baik, tapi kalo liburan hanya seperti robot belaka, itu malah justru mengkhianati makna dari liburan. Itu sudah jadi tidak ada nilainya. Akhirnya itu hanya memenuhi apa yang dilakukan setiap tahun. Dia hanya menghamba pada perasaan saja. Menghamba pada nafsu atau keinginan saja, justru itu kan yang jadi bahayanya,” pungkasnya.

    Sementara itu, psikolog Liza Djaprie menyebutkan pilihan orang saat merayakan tahun baru terbentuk dari beragam faktor. Tak hanya dipengaruhi ajaran, tradisi, atau budaya saja, tapi sebagai makhluk sosial, seiring bertambahnya umur, semua kebiasaan maupun tadisi dalam merayakan tahun baru bisa juga berubah.

    “Pengaruh dari lingkungan luar pasti ada. Dari temen, rekan kerja, pasangan, keluarga pasangan, mungkin yang mengakibatkan akhirnya jadi pergeseran tradisi. Yang mungkin tadinya enggak ngerayain jadi ngerayain begitu juga sebaliknya,” ungkapnya, Jumat (29/12) malam.

    Beragamnya faktor itu, lanjut Liza, menyebabkan beragamnya pula pilihan orang menyambut pergantian tahun. Bagi mereka yang tidak bisa melewati perayaan malam tahun baru dalam keadaan sepi atau menuntut suatu keramaian maka ada kemungkinan orang tersebut pernah memiliki pengalaman yang memengaruhi preferensinya saat ini.

    Selanjutnya psikolog ini menerangkan bahwa kebiasaan seseorang untuk berlibur di masa liburan tidak bisa hanya dipandang dari segi kebiasaan atau bukan.

    “Ketika bicara soal manusia, kita tidak hanya bicara tradisi tidak hanya faktor lingkungan. kita enggak bisa mengatakan di tahun baru itu pasti banyak orang yang menghabiskan waktu karena bentukan kaluarga atau apa. Jadi bisa aja karena waktunya hanya ada di akhir tahun” katanya.

    Berlibur Ke Tempat Wisata
    Berbeda dengan Zizah dan Putri yang menghabiskan liburan akhir tahun di rumah, salah satu warga Bekasi bernama Tantri mengaku melewatkan liburan bersama keluarga dengan menyambangi Taman Safari Indonesia (TSI). Bersama beberapa kakak dan keponakan, karyawan swasta ini rela menembus macetnya jalur Puncak menuju tempat wisata berorientasi wawasan satwa alam bebas di kawasan Bogor itu.

    Taman Safari dipilih karena menurutnya tempat wisata ini lebih dapat mengedukasi anak-anak daripada tempat wisata yang hanya menyediakan permainan.

    “Kalo ke Taman Safari walaupun macet tapi worth it kan bawa anak-anak kecil. Jadi mereka lebih excited dan lebih enjoy. Buat education juga, secara di Taman Safari juga kan banyak ngasih info tentang satwa-satwa dari mana asal dan kebiasaan dan habitat satwa situ juga,” katanya menjelaskan.

    Tantri mendatangi Taman Safari Bogor pada Kamis (28/12). Hari biasa ia pilih untuk menghindari kepadatan tempat wisata yang membludak.

    Taman Safari memang sudah menjadi salah satu pilihan destinasi wisata yang dikenal masyarakat luas. Pada musim liburan seperti libur akhir tahun, Taman Safari selalu mengalami pelonjakan pengunjung.

    Staf Humas Taman Safari, Yulius mengatakan, kepadatan di Taman Safari mulai terlihat sejak musim libur sekolah dimulai. Bahkan khusus libur Natal tanggal 25 Desember lalu, dikatakannya jumlah pengunjung Taman Safari menyentuh angka 20 ribu orang.

    “Peningkatan pengunjung itu terjadi setelah penerimaan rapot 18 Desember. Jumat (29/12) masih terjadi antrean di loket tapi tidak sedahsyat tanggal 24 dan tanggal 25 kemarin,” ungkapnya kepada Validnews.

    Untuk menghadapi pembludakan pegunjung di libur tahun baru ini, pihak pengelola Taman Safari Indonesia (TSI) akan melakukan penambahan 3 loket tiket dan beberapa personil di pintu masuk untuk menghindari penumpukkan kendaraan.

    Selain didatangi warga Bogor dan Jakarta, Yulius juga mengatakan bahwa TSI banyak dikunjungi warga kota lain, seperti Semarang dan Balikpapan. Ia pun memprediksikan puncak keramaian di wisata alam habitat satwa ini akan terjadi pada tanggal 1 Januari 2018.

    Kembali ke Kota Jakarta, bicara soal tempat wisata, warga Jakarta dan sekitarnya bahkan masyarakat Indonesia, pasti mengenal Taman Impian Jaya Ancol. Tempat wisata yang berlokasi di utara Jakarta ini terkenal dengan wisata airnya, baik pantai maupun waterpark.

    Ancol juga terkenal dengan pagelaran acaranya dalam perayaan tahun baru. Untuk malam pergantian tahun besok, berlokasi di Pantai Lagoon, Taman Impian Jaya Ancol akan mengadakan Musical Fireworks. Kembang api yang diklaim akan terdiri dari 23 ribu letupan ini akan disajikan dengan durasi 15 menit.

    Untuk menghadapi pelonjakan jumlah pengunjung, Taman Impian Jaya Ancol telah menyediakan tiga sentral parkir. Antara lain, Zona Parkir Timur di area Pantai Carnaval, Zona Parkir Tengah di area parkir gondola, dan Zona Parkir Barat di area parkir Ecovention.

    Untuk mengamankan pengunjung yang diperkirakan akan mencapai 280 ribu orang, pengelola Ancol berkoordinasi dengan beberapa pihak akan menyediakan 4.900 ribu petugas keamanan dan petugas lainnya.

    Selanjutnya Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Etalase budaya Indonesia ini juga menyajikan beragam hiburan khusus perayaan tahun baru 2018. Seperti Nitra Mapping Show, Panampilan Musik Dangdut MONATA, Wayang Kulit semalam suntuk, dan pastinya Pesta Kembang Api.

    Berbeda dengan Taman Safari dan Taman Impian Jaya Ancol, TMII memberlakukan penyesuaian harga tiket masuk khusus, pada pekan libur Natal dan Tahun Baru. Jika biasanya warga bisa menikmati indahnya miniatur Indonesia dengan harga Rp10.000, khusus tanggal 16-30 Desember pengunjung harus membayar Rp20.000 per orang. Dan Rp30.000 pada tanggal 31 Desember dan 1 Januari.

    Khusus musim liburan Natal dan tahun baru kali ini, TMII meningkatkan target pengunjungnya. Di tahun sebelumnya TMII menargetkan pengunjung sejumlah 400 ribu.

    “Target TMII di Pekan Natal & Tahun Baru (16 Desember–2 Januari) 450 ribu pengunjung. Per tanggal 16-26 Desember pengunjung TMII sudah mencapai 250 ribu orang” ujar Kepala Bagian Humas TMII, Jerry kepada Validnews, Rabu (27/12).

    Selain pilihan wisata di dalam kota, banyak juga warga Jakarta yang memilih berlibur ke luar kota. Seperti yang diungkapkan Asistean Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Pariwisata, Oneng Setya Harini. Menurutnya beberapa warga Jakarta yang sudah penat dengan hiruk pikuk kota metropolitan memilih mengunjungi desa ataupun lokasi lain yang masih memiliki kearifan lokal yang kental.

    “Orang sekarang mencari destinasi tidak hanyak untuk melihat tapi juga merasakan. Sekarang preferensi masyarakat dalam mencari liburan sudah berubah sudah bukan hanya melihat pantai. Tapi juga ingin merasakan jadi warga pesisir,” ungkapnya kepada Validnews, Rabu (27/12).

    Rekaya Lalu Lintas
    Banyaknya orang yang memilih berlibur ke luar kota tak pelak berimbas pada lalu lintas. Kepadatan tak terelakkan, terutama di daerah-daerah yang kerap dipilih masyarakat untuk merayakan dan menyambut tahun baru. Rekayasa lalu lintas pun dipilih, demi menghindarkan penumpukan kendaraan di satu lokasi.

    Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengintruksikan kepada jajaran Korps Lalu Lintas Polri untuk menutup jalur menuju arah puncak, Jawa Barat pada perayaan malam tahun baru 2018. Penutupan tersebut dilakukan untuk penyelengaraan Car Free Night atau kawasan bebas kendaraan bermotor pada malam harinya.

    Tito menyebut penutupan jalur puncak diberlakukan Minggu (31/12) pukul 18.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB keesokan harinya. Sekadar informasi, Car Free Night di Puncak juga baru pertama kali diselenggarakan pada tahun baru.

    “Saya minta penekanan khusus di Puncak ditutup Car Free Night tidak diperbolehkan kendaraan di tanggal 31 Desember malam tahun baru, dari jam 18.00 sore sampai 06.00 pagi,” kata Tito di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (28/12) seperti dikutip laman NTMC Polri.

    Tito menambahkan penutupan jalur puncak diberlakukan di kedua arah, dari arah Jakarta ke Puncak maupun sebaliknya. Untuk itu, Tito meminta masyarakat yang ingin menuju puncak agar tidak melintas saat diberlakukan Car Free Night.

    “Ini berlaku untuk kendaraan yang ingin naik maupun turun. Yang naik saya imbau kepada masyarakat supaya sebelum jam 18.00 WIB , tak usah naik lagi ke atas (puncak). Arah sebaliknya dari Cianjur juga akan ditutup,” ujar Tito.

    Tito mengatakan acara Car Free Night di Puncak nantinya masyarakat tak diperbolehkan memakai kendaraaan. Namun akan ada dipersiapkan dari Polri.

    “Ya, nanti masyarakat habiskan malam tahun baru dengan jalan kaki. Enggak ada kendaraan. Ya nanti ada kendaraan dari anggota Polri yang ada di situ untuk dipersiapkan,” kata Tito.

    Sementara itu, untuk menghindari kemacetan di jalur Puncak, petugas mengimbau pengguna jalan yang hendak ke Puncak dan Cianjur untuk menggunakan jalur alternatif Cibubur-Cileungsi-Jonggol-Cariu-Cianjur. Jarak tempuh yang akan dilalui oleh pengendara menggunakan jalur alternatif, yakni 86 kilometer.

    Polisi juga mengimbau agar masyarakat yang dalam perjalanan libur wisata atau lainnya dapat menggunakan rest area untuk istirahat atau menunggu ditempat yang nyaman selama diberlakukan satu arah.

    Rekayasa lalu lintas berupa penutupan jalur juga akan dilakukan Polres Cirebon di kawasan Gronggong, Kecamatan Beberpada 31 Desember 2017. Jalur yang menghubungkan Kota Cirebon-Kabupaten Cirebon-Kabupaten Kuningan ini diprediksi menjadi titik kemacetan tertinggi pada malam pergantian tahun.

    "Rencananya diberlakukan pengalihan arus di jalur Gronggong karena di sini sering menjadi lokasi perayaan malam tahun baru dan menjadi titik rawan macet," kata Kapolres Cirebon, Jawa Barat, AKBP Risto Samodra, Jumat (29/12) seperti dikutip Antara.

    Untuk mengatasi hal itu, pada 31 Desember 2017, pukul 18.00 WIB hingga 23.00 WIB Polres Cirebon akan melakukan penutupan jalan bagi kendaraan besar seperti truk. Kemudian pukul 20.00-22.00 WIB giliran kendaraan roda empat yang dilarang masuk.

    Sedangkan pukul 22.00-00.00 WIB, seluruh jenis kendaraan dilarang masuk Gronggong. Kendaraan akan dialihkan ke jalur lain, baik dari arah Kota Cirebon maupun Kabupaten Kuningan.

    Sementara itu Kasatlantas Polres Cirebon, AKP Ahmat Troy mengatakan, rekayasa lalu lintas juga akan diberlakukan di sepanjang jalur pantura Weru-Tuparev, Kabupaten Cirebon. Polresta Cirebon berencana menutup arus kendaraan dari arah Weru dan Sumber yang menuju Kota Cirebon dan dialihkan ke jalur lain.

    "Tapi untuk kendaraan yang mengarah ke Weru dan Sumber diperbolehkan," katanya.

    Penumpukan kendaraan di jalur Gronggong diduga karena ada tempat wisata malam, yakni Bukit Gronggong.

    Selain Cirebon, rekayasa lalu lintas di kawasan wisata lainnya diberlakukan juga di Bantul, Yogyakarta. Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa (D.I.) Yogyakarta, memetakan enam titik ruas jalan rawan kemacetan selama libur akhir tahun 2017.

    Enam titik rawan kemacetan itu terdapat di jalan utama maupun alternatif di Bantul. Seperti Jalan Wates Sedayu, Jalan Wonosari Piyungan, Jalan Parangtritis, Jalan Bantul, Jalan Imogiri dan Jalan Srandakan.

    Kepala Dishub Bantul Aris Suharyanya mengatakan, langkah yang disiapkan untuk mengatasi kemacetan adalah pendistribusian rambu-rambu lalu lintas seperti road barrier untuk manajemen rekayasa lalu lintas. Dishub juga menurunkan 120 personel yang juga akan melakukan pemantauan dan pemeliharaan LPJU, penanganan parkir, dan pemantauan lalu lintas dengan menjadi pemandu informasi bagi wisatawan.

    Di samping itu, rekayasa lalu lintas juga akan diberlakukan oleh Polres Banyumas di jalur Purwokerto-Baturraden. Jalur tersebut akan dibuat satu arah dengan penutupan jalur kendaraan dari Baturraden menuju Purwokerto. Kendaraan dari Baturraden akan dialihkan ke Jalan Baturraden Barat.

    Sedangkan jalur naik dari Purwokerto ke Kawasan Wisata Baturraden di lereng selatan Gunung Slamet tetap melalui Jalan Raya Baturraden. 

    Di Bekasi, Jawa Barat, Dishub Kota Bekasi akan mengalihkan kendaraan yang akan melalui Jalan Raya Ahmad Yani ke Jalan Raya kemakmuran. Pengalihan ini dilakukan untuk kendaraan yang akan menuju Jalan Raya Sudirman dan Jalan Sultan Agung.

    Sedangkan kendaraan yang mengarah ke Jalan Raya Veteran atau Jalan Ir H Djuanda, Bekasi Utara akan dialihkan ke Jalan Raya Kemakmuran atau Jalan M Hasibuan.

    Rekayasa lalu lintas ini dilakukan karena penyelanggaraan Car Free Day (CFD) Bekasi yang akan dimulai pukul 23.00-00.30 WIB di depan Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat hingga Jembatan Summarecon Bekasi.(Zsazya Senorita)