MENJAGA KESINAMBUNGAN "TAMBANG EMAS HIJAU"

Lawan Kampanye Hitam Sawit, CPOPC Surati Carrefour

Negara-negara Produsen Miyak Sawit Dunia melayangkan surat protes ke Carrefour, karena kampanye hitam soal sawit yang dilakukan jaringan ritel raksasa asal Prancis itu

  • Petani menyiram bibit sawit yang telah disertifikasi di Desa Desa Alue Piet, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, Rabu (2/3). Sertifikasi benih kelapa sawit guna meningkatkan kualitas hasil produksi serta mencegah beredarnya bibit palsu. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/aww/16.
    Petani menyiram bibit sawit yang telah disertifikasi di Desa Desa Alue Piet, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, Rabu (2/3). Sertifikasi benih kelapa sawit guna meningkatkan kualitas hasil produksi serta mencegah beredarnya bibit palsu. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/aww/16.

    JAKARTA – Diskriminasi terhadap sawit dan produk turunannya tak hanya dilakukan oleh pemerintah Eropa. Pelaku bisnis pun ikut giat melakukannya. Setelah maskapai asal Belanda KLM, kini giliran Carrefour yang melakukannya. Jaringan ritel asal Prancis ini melarang minyak sawit pada produk yang dibuat dan dijual oleh Carrefour.

    Dalam artikel yang ditulis oleh Manajer Kualitas Makanan Carrefour, Luc Bonford, dan dirilis oleh website resmi Carrefour, disebutkan bahwa minyak kelapa sawit mengandung asam lemak jenuh yang berkontribusi terhadap peningkatan kolesterol jahat dalam tubuh. Artikel tersebut juga menuding produksi minyak kelapa sawit sebagai pemicu deforestasi dunia yang menyebabkan emisi gas CO2 besar-besaran.

    Tak tinggal diam, Dewan Negara-negara Produsen Minyak Sawit Dunia (Crude Palm Oil Producer Countries, CPOPC) melayangkan surat protes kepada CEO Carrefour, Alexandre Bompard.

    “Klaim-klaim ini tidak akurat dan tidak didasarkan atas penelitian yang mendalam dan luar,” ujar Direktur Eksekutif CPOPC, Mahendra Siregar, dalam pers rilis, Senin (1/1).

    Menurut Mahendra, informasi yang ditulis Carrefours mengesampingkan banyak referensi ilmiah yang justru menyatakan minyak kelapa sawit sebagai lemak sehat. Minyak sawit kini bahkan tercatat sebagai alternative bagi pabrik dan restoran untuk menggantikan pemanfaatan lemak trans yang belakangan diketaui berbahaya.

    Baca Juga:
    Minyak Sawit Bagi Kesehatan Tubuh
    Jejak Si Emas Hijau Dalam Keseharian

    Terkait tudingan perusakan lingkungan, dalam suratnya yang bertanggal 30 Desember 2017, Mahendra menyebutkan perlunya tinjauan menyeluruh terhadap produksi minyak-minyak nabati secara umum dan tidak hanya membidik kelapa sawit. Data-data menunjukkan produksi minyak biji rapa (rapeseed), komoditas andalan Eropa misalnya, telah memicul kontaminasi nitrat terhadap air tanah, kerusakan flora fauna, termasuk pencemaran air laut yang luas.

    Mahendra berpendapat kebijakan diskriminatif Carrefour terhadap minyak kelapa sawit bisa menciderai hubungan dagang dan investasi Prancis dengan negara-negara penghasil sawit. Carrefour sendiri memiliki jaringan mulai dari Asia, Afrika, hingga Amerika Latin.

    Di Asia, jaringan Carrefour berada di Indonesia yang juga sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia. Di Afrika, Carrefour memiliki jaringan di Ivory Coast yang juga penghasil sawit nomor 11 di dunia. Sementara persinggungan Carrefour dan negara produsen sawit di Amerika Selatan adalah dengan Brazil. Index Mundi menempatkan Brazil sebagi produsen sawit nomor 12 terbesar dunia. 

    “Dapat dipahami bahwa Carrefour lebih memfavoritkan industri lokal, dalam hal ini minyak biji rapat. Namun, Anda (Carrefour) beroperasi di ekonomi global di mana kepentingan negara tuan rumah yang juga produsen minyak kelapa sawit adalah penting,” lanjutnya.

    Mantan Wakil Menteri Perdagangan ini menyebutkan, sektor kelapa sawit menyumbang ekspor terbesar Indonesia, dengan total mencapai Rp240 triliun pada 2016.

    Kebijakan diskriminatif itu juga menunjukkan pemahaman yang kurang mengenai peran strategis sawit dalam mencapai tujuan pembangunan yang berkesinambungan (Sustainable Development Goals) yang ingin diraih pada 2030.

    “Minyak sawit tak hanya berkontribusi pada pembangunan sosial ekonomi negara penghasil dengan menurunkan angka kemiskinan, namun produksi minyak sawit juga memiliki peran penting untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia pada masa mendatang sekaligus menjaga global land bank yang berdampak positif pada linkungan,” tulis Mahendra dalam salinan surat yang diperoleh Validnews.

    Terkait upaya untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia sekaligus menjaga bank tanah, beberapa negara produsen sawit, bekerja sama dengan pihak swasta, telah melakukan peremajaan tanaman sawit dengan varietas unggul yang memiliki tingkat produktivitas lebih tinggi. Upaya ini, lanjut Mahendra, menyasar para petani kecil.

    Dengan varietas unggul ini produktivitas bisa mencapai 6 metrik ton minyak sawit per hektare (ha). Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang produktivitas rapeseed yang mencapai 600 kg per ha atau minyak kedelai 900 kg per ha.

    “Ini menunjukkan komitmen negara penghasil sawit untuk menjaga warisan alam untuk generasi mendatang,” imbuhnya.

    Baca Juga:
    Tolak Gunakan Produk Kelapa Sawit, CPOPC Protes KLM
    Berbalas Surat, KLM Akui Salah Paham

    Akhir November lalu, CPOPC juga melayangkan surat protes terhadap KLM. Artikel majalah perusahaan ini merilis bahwa maskapai asal Belanda tersebut meminta para pemasok KLM menyetop pemanfaatan minyak kelapa sawit di seluruh produk makanan, atau membatasi hanya pada minyak tersertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Kedubes Belanda di Jakarta turut merespons hal tersebut, dan KLM menyatakan pernyataan tersebut sebagai kesalahpahaman. (Fin Harini)