Lagi, TKI Ditangkap Bawa Sabu Dari Malaysia

Tenaga kerja asal Indonesia beberapa kali ditangkap karena membawa narkoba dari luar negeri ke Indonesia

  • Kepala KPPBC Dumai, Adhang Nugroho Adi (tengah), memberikan keterangan pers saat rilis penangkapan kurir sabu seberat dua kilogram di Mapolres Dumai, Dumai, Riau, Kamis (11/1). Otoritas kepabeanan Dumai berhasil mengamankan seorang penumpang kapal pembawa sabu seberat dua kilogram berinisial CF (27) dari Selat Panjang Kepulauan Meranti di pelabuhan Pelindo I Dumai (9/1) dan dari pengembangan berikutnya, dengan bekerjasama dengan Mapolres Dumai berhasil menangkap seorang tersangka lainnya berinisial SB (20) dan diduga sabu tersebut berasal dari Johor, Malaysia. ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid
    Kepala KPPBC Dumai, Adhang Nugroho Adi (tengah), memberikan keterangan pers saat rilis penangkapan kurir sabu seberat dua kilogram di Mapolres Dumai, Dumai, Riau, Kamis (11/1). Otoritas kepabeanan Dumai berhasil mengamankan seorang penumpang kapal pembawa sabu seberat dua kilogram berinisial CF (27) dari Selat Panjang Kepulauan Meranti di pelabuhan Pelindo I Dumai (9/1) dan dari pengembangan berikutnya, dengan bekerjasama dengan Mapolres Dumai berhasil menangkap seorang tersangka lainnya berinisial SB (20) dan diduga sabu tersebut berasal dari Johor, Malaysia. ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

    JAKARTA – Aparat kepolisian Resor Dumai, Riau, bersama Bea dan Cukai, menggagalkan penyelundupan narkotika jenis sabu dari Malaysia. Dalam kasus ini polisi mengamankan satu orang tersangka, Iwan (27), seorang TKI yang bekerja di Johor, Malaysia, dengan barang bukti sabu seberat 2.081 gram (2 kilogram).

    Kapolres Dumai AKBP Restika mengatakan, penyelundupan dua kilogram sabu-sabu diduga berasal dari jaringan narkoba internasional. Menurut dia, penangkapan Iwan berawal saat petugas mencurigai gerak-gerik pelaku yang baru tiba di Pelabuhan Dumai dengan menggunakan kapal Ferry rute domestik.

    "Saat melakukan pemeriksaan, petugas Bea dan Cukai menemukan benda mencurigakan yang dibungkus alumunium foil. Setelah dibuka ternyata isinya serbuk putih yang diduga kuat narkotika jenis sabu," Kata Restika, seperti dilansir Antara, Kamis (11/1).

    Restika melanjutkan, dengan penemuan itu, petugas Bea dan Cukai langsung berkoordinasi dengan Polres Dumai untuk melakukan pengembangan kasus. Dari asil penyelidikan Polisi, diketahui bahwa sabu-sabu itu berasal dari Malaysia yang dititipkan oleh seorang wanita.

    "Sesampai di Dumai, Iwan berencana akan bertemu dengan seorang pelaku yang diduga sebagai bandar bernama Syamsul Bahri alias SUN," jelasnya.

    Dari pengakuan Iwan, polisi lalu melakukan pengejaran terhadap Bahri. Hasilnya petugas berhasil melacak jejaknya yang saat itu diketahui sedang menunggu Iwan di sebuah loket bus jurusan Medan.

    "Rencananya kedua pelaku akan membawa sabu-sabu tersebut ke Medan, Sumatera Utara, bersama-sama," ujar Restika.

    Dia melanjutkan, saat ini keduanya dalam proses pemeriksaan di Satres Narkoba Polres Dumai. Dari keterangan pelaku ternyata masih ada pelaku lainnya yang diduga merupakan jaringan narkoba tersebut berinisial H. 

    "Dia telah kita masukkan ke dalam daftar pencarian orang," tuturnya.

    Provinsi Riau masih menjadi jalur rawan peredaran narkoba jaringan internasional. Panjang garis pantai di Riau bagian pesisir serta berbatasan langsung dengan jalur pelayaran internasional membuat petugas harus ekstra waspada.

    Sebelumnya, Dua orang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia ditangkap karena kedapatan membawa 1,9 kilogram sabu. Pelaku berinisial SRD dan A menumpangi pesawat Air Asia (AK-356) dari Kuala Lumpur tujuan Bandara Adi Soemarmo di Boyolali.

    Mereka mengaku diupah masing-masing Rp30 juta untuk membawa barang haram tersebut. Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Surakarta, Kunto Prasti Trenggono.

    "Kedua tersangka memiliki paspor dan datang ke Malaysia tiga tahun lalu dalam rangka kunjungan. Tetapi setelah kita selidiki, ternyata mereka sudah tiga tahun di sana dan menjadi tenaga kerja ilegal," ucap dia.

    TKI memang rentan dimanfaatkan oleh bandar narkoba. Bahkan sebelumnya Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kepulauan Riau menyatakan pihaknya membentuk tim khusus untuk mengantisipasi penyelundupan narkoba yang memanfaatkan momen kepulangan tenaga kerja Indonesia dari Malaysia jelang Lebaran.

    "Kami sudah membentuk tim khusus terdiri dari berbagai instansi untuk meningkatkan pengawasan penyelundupan narkoba," kata Kabid Berantas BNN Kepri, Bubung Pramiadi.

    Tim tersebut, kata dia, terdiri dari perwakilan BNN Kepri, kepolisian, Bea Cukai, kantor imigrasi, kantor pelabuhan, dan karantina.

    Kepala BNN Provinsi Kepulauan Riau Nixon Manurung sebelumnya mengatakan akan meningkatkan pengawasan di seluruh wilayah demi mengantisipasi upaya penyelundupan narkoba saat musim mudik TKI.

    "Kami akan tingkatkan pengawasan bersama dengan sejumlah instansi terkait. Terlebih mendekati Lebaran nanti saat banyak arus mudik termasuk dari Malaysia," kata Nixon.

    Menurut dia, sindikat narkoba internasional kerap memanfaatkan TKI yang mudik Lebaran untuk menyelundupkan narkoba ke dalam negeri, khususnya jenis sabu.

    "Kepri merupakan wilayah yang dekat dengan Malaysia dan selama ini sering dimanfaatkan sebagai jalur transit penyelundupan narkoba. Sehingga momen ini harus diwaspadai agar tidak dimanfaatkan untuk menyelundupkan narkoba," kata Nixon.

    Nixon mengatakan, wilayah Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan, dan Kota Batam adalah tiga daerah yang dianggap paling rawan penyelundupan di Kepri. (Benny Silalahi)