GELAGAPAN MENDONGKRAK KUALITAS PENDIDIKAN

Kurikulum Buat Penerus dengan Hasil yang Tergerus

Isu HOTS bukan lagi hal baru di dunia pendidikan internasional yang kini beralih untuk menyiapkan pengembangan pendidikan

  • Sejumlah pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Idi Rayeuk melakukan konvoi seusai corat coret seragam dan melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 di Jalan Lintas Nasional Medan-Banda Aceh di Desa Gampong Aceh, Idi Rayeuk, Aceh Timur, Aceh, Kamis (19/4). Meskipun pihak sekolah telah mengeluarkan larangan konvoi dan corat coret seragam seusai mengikuti UNBK, tapi para pelajar tetap melakukannya. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
    Sejumlah pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Idi Rayeuk melakukan konvoi seusai corat coret seragam dan melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 di Jalan Lintas Nasional Medan-Banda Aceh di Desa Gampong Aceh, Idi Rayeuk, Aceh Timur, Aceh, Kamis (19/4). Meskipun pihak sekolah telah mengeluarkan larangan konvoi dan corat coret seragam seusai mengikuti UNBK, tapi para pelajar tetap melakukannya. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

    JAKARTA – Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang diselenggarakan pada April 2018 seakan menjadi pertaruhan bagi sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menegah atas (SMA) di Indonesia untuk menunjukkan kualitasnya sebagai tempat menimba ilmu terbaik bagi siswa di Indonesia.

    Pada 2018, sebanyak 78% peserta didik mengikuti UNBK, atau sebanyak 5.967.237 peserta terdiri SMP dan SMA, dan SMK. Jumlah peserta bertambah dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 3.659.696 juta peserta didik.

    Sementara pada UN 2017, persentase peserta didik yang mengikuti UNBK hanya sebanyak 65,4% dan Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP) sebanyak 34,6%. Sedangkan pada UN 2016, jumlah peserta didik yang mengikuti UNBK sebanyak 922.447 peserta.

    Agar sukses meloloskan murid pada ujian akhir ini, pihak sekolah, baik kepala sekolah maupun jajaran guru, merancang strategi yang diterapkan pada para siswa agar mampu menjalani ujian akhir dan lulus dengan baik.

    Biasanya, sekolah memberikan pelajaran tambahan kepada siswa kelas XII SMA pada sore hari setelah para murid menyelesaikan kegiatan belajar mengajar. Ternyata, pada 2018, upaya sekolah untuk membantu para siswa mendapatkan hasil terbaik saat UNBK berlangsung tak berjalan dengan mulus.

    Kondisi seperti ini dialami oleh Laura, salah satu siswa SMA Negeri 63 di Jakarta dari jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Laura menceritakan pengalamannya saat mengikuti UNBK 2018. Ia bersama temannya mengaku kesulitan saat menjawab soal-soal yang telah tersedia.

    Penyebabnya bukan karena tak belajar. Soal yang diujikan pada tahun ini berbeda dari materi apa yang disiapkan oleh sekolah maupun saat dia mengikuti pelajaran tambahan di tempat bimbingan belajar. Pihak sekolah telah memberikan pelajaran tambahan kepada siswa tingkat akhir sejak Agustus 2017. Tetap saja, tingkat kesulitan soal UNBK di luar perkiraan para guru dan murid.

    “Semua mata pelajaran untuk ujian akhir yang saya temui berbeda dengan yang diajarkan hanya beberapa saja soal saja mudah dimengerti,” kata Laura, saat berbincang dengan Validnews, Rabu (9/5).

    Laura menceritakan kesulitan untuk menjawab soal ini lantaran tiap pertanyaan karena memuat banyak materi pelajaran. Oleh karenanya, ia dan teman-temannya harus berpikir bekali-kali sebelum menjawab soal pertanyaan.

    Tak heran, kata Laura, sangat jarang murid kelas XII SMA N 63 Jakarta mendapatkan Nilai Ujian Nasional (NUN) tinggi. Padahal, seluruh siswa telah melakukan berbagai upaya demi mendapatkan hasil terbaik.   

    Hal serupa pun dialami oleh Dahlan Simanjuntak, salah satu siswa SMA Yadika 5 Jakarta.  Ia bersama teman-teman sekelasnya tak hanya mendapatkan masalah ketika menjawab pertanyaan UNBK. Terkadang, mereka kehilangan koneksi ketika tengah fokus mengurai pertanyaan yang diberikan.

    Sebenarnya, sejak Januari 2018 para guru di sekolahnya telah memberikan pelajaran tambahan kepada tiap murid tingkat akhir. Tapi apa mau dikata, seluruh pelajaran yang ia pelajari bersama teman-temannya sia-sia belaka. Hanya sedikit dari pelajaran yang ia dalami keluar sebagai pertanyaan di UNBK 2018 silam.

    “Kita itu sudah ikut pelajaran tambahan, les, belajar lagi di rumah. Tetap saja, soal yang dikasi lebih sulit dibandingkan dalam buku,” ucap Dahlan.

    Bukan hanya Laura dan Dahlan yang mengalami kesulitan saat menjalani UNBK 2018. Di akun resmi Inspektorat Jenderal Kementerian pendidikan dan Kebudayaan (Kemendilbud) RI dibanjari keluh kesah mengenai pelaksanaan ujian ini.

    @smp_bahrera misalnya, yang melontarkan 'tampaknya untuk seluruh dinonesia belum siap'. Akun @Meirisakusnadi berujar 'UNBK hari pertama malah offline hampir 30 menit, bagaimana solusinya'.

    Selain itu, akun @wijayantogempar mengunggah komentar-komentar anak kelas XII SMA di media sosial Instagram. Salah satunya keluhan dari akun @kryagracella'Yang menjadi permasalahan kami selaku siswa/siswi terhadap soal UNBK untuk mtk bukan hanya karena soal yang susah, namun soal yang keluar tidak sesuai dengan simulasi yang telah disediakan’.

    @fanysuaa_ pak kasian temen saya pak @ikkysftr dia ketawa sambil ngelus elus laptopnya berharap nemu jawaban. Belum lagi, akun milik @hilwaretika17 mengungkap "@Kemdikbud_RI Assalamualaikum saya segenap perwakilan siswa dan siswi peserta UNBK tahun 2018 meminta segenap kebijakan dari kementerian pendidikan aras kebocoran soal ujian nasional tahun 2018. Sumber soal difoto lewat ponsel kemudian dibagikan kepada teman”.

    Menurun
    Dampaknya, kesulitan di UNBK 2018 ini membuat nilai siswa menurun dibandingkan dengan tahun 2017 silam. Kepala Badan Penelitian dan Pembangunan Kemendikbud Totok Suprayitno mengatakan, UNBK menampilkan capaian murni yang tak mungkin ada toleransi untuk mengatrolnya.  Hal ini dapat dilihat dari SMA pada 2017 meraih skor UN berbasis kertas dan pensil 64,5. Ketika mengikuti UNBK, skor mereka turun menjadi 25,52.

    Menurunnya skor in juga disebakan oleh pengelompokan soal menjadi mudah, sedang, dan susah. Secara umum, soal-soal UNBK terdiri dari 30% pengetahuan suatu mata pelajaran, 60% cara penerapannya, dan 10% penalaran.

    Soal-soal yang membutuhkan penalaran tingkat tinggi membuat siswa kesulitan. Sebanyak 40% peserta UNBK memiliki kemampuan di bawah standar soal.

    “Soal berisi materi harus diajarkan di kelas. Hal ini menunjukkan capaian pendidikan di kelas masih jauh di bawah target minimum kurikulum,” kata Totok, di Jakarta, Selasa (8/5).

    Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad menjelaskan, hasil UNBK ini digunakan untuk merancang perbaikan proses pendidikan dan penalaran dan aplikasi di kelas. Intervensi akan dirancang sesuai titik kelemahan tiap sekolah. Karena itu, tidak ada pemeringkatan sekolah berdasarkan hasil UN. Pasalnya, tiap sekolah memiliki masalah yang berbeda-beda.

    Menurut Hamid, pemerintah sudah menganjurkan sekolah untuk meningkatkan kemampuan penalaran, analisis dan berbagai keahlian lain. Tapi, para pengajar tak melakukan hal tersebut. Oleh sebab itu, siswa jatuh dalam seakan berada di tingkat kesulitan yang tinggi selama masa ujian.

    “Makanya, kalau kemarin itu banyak yang ngeluh pelajarannya sulit, karena tidak pernah diajarkan. Murid hanya diajarkan mengenai ingatan sama ingatan saja, jadinya hafalan,” kata Hamid saat ditemui Validnews, Rabu (9/5).  

    Malas Belajar
    Menurutnya, bila jajaran guru memberikan pelajaran sesuai kurikulum 2013 (K13) seharusnya para siswa tak mengeluh kesusahan ketika UNBK berlangsung. Keluhan ini seperti menunjukan pelajaran yang diterima siswa tak efektif. Akibatnya, mereka hanya dapat memperoleh nilain minimum saja.

    “Coba lihat sekolah-sekolah yang memang bagus, itu kan guru-gurunya mengawal sampai setiap siswa itu paham mulai dari konsepnya, paham bagaimana mengaplikasikannya. Kemudian bagaimana kalau ada yang sifatnya analisis dan lainnya,” ungkap dia.

    Kepala Sekolah Negeri 46 Jakarta Farid Wahidin mengakui, para siswa kelas XII mengeluh kesulitan saat mengikuti UNBK tahun 2018. Apalagi, saat para murid menghadapi ujian matematika. Mereka mengeluh terkait tingkat kesulitan yang diberikan pemerintah.

    “Tapi kalau masalah ini diakui juga oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, dan beliau meminta maaf apabila soal yang diberikan diluar perkiraan dan saya jangkau para siswa,” kata Farid.

    Buktinya, sekolah telah memberikan para siswa tingkat akhir pelajaran tambahan setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar regular. Namun, para siswa tetap mengaku mendapatkan kesulitan saat mengikuti ujian.   

    Sebetulnya, Farid berpandangan, kesulitan ini berasal dari para siswa sendiri. Ia menilai, sisa zaman ‘now’ malas untuk belajar. Mereka gemar memainakan telepon seluler (handphone) dibandingkan membaca buku.

    “Kayaknya karakter anak sekarang, tidak mengedepakan pelajaran lagi. Padahal saya selalu marah kepada anak-anak. Jangan hanya bermain gim saja, tapi tingkatkan keinginan belajar. Kadang saya diabaikan sama para murid,” ucapnya.

    Sementara itu, Anggota Komisi X dari Fraksi Gerindra Nizar Zahro menjelaskan, murid-murid tak akan merasa kesulitan ketika menghadapi UNBK 2018 bila para guru konsisten menerapkan kurikulum K13 dengan baik karena sistem ini secara perlahan memberikan perbaikan dalam dunia pendidikan tanah air.

    “Sistem ini memaksa murid lebih dominan dibandingkan gurunya. Itu sebabnya, sistem ini tak perlu diubah tapi ditetapkan agar dapat kelihatan bagaimana hasilnya. Apalagi sekarang baru masuk kelas X mereka sudah diminta untuk menentukan pilihan jurusannya,” jelas Nizar.

    Berbeda dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dari segi penilaian. K13 tak hanya melihat dari hasil ujian saja melainkan dari aspek kesopanan, praktik, dan lainnya. Penilaian ini untuk memunculkan karakter siswa.

    Buktinya, saat UNBK para siswa masih saja kedapatan melakukan kecurangan. Padahal, UNBK diyakini menjadi dapat menekan praktik kecurangan yang dilakukan siswa ataupun oknum yang memberikan kunci jawaban.

    “Memang ada kecurangan, tapi ukurannya tak banyak. Kalau di UNBK nilai siswa tidak akan turun drastis seperti sistem sebelumnya,” jelasnya.  

    Menurut Nizar, pemerintah jangan hanya terfokus pada permasalahan siswa mengikuti UNBK ataupun ujian lainnya. Pemerintah perlu memperbaiki jenjang pendidikan siswa SMA selanjutnya. Mana lagi, perguruan tinggi negeri (PTN) tak mampu menampung siswa dalam jumlah yang besar.

    Menurut data, dari 600 ribu siswa yang mengikuti Ujian Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2018, hanya 130 ribu orang yang akan diterima. Sebenarnya, kondisi ini memberikan keuntungan kepada perguruan tinggi swasta untuk mendapatkan calon mahasiswa dalam jumlah yang besar.  

    “Tapi permasalahannya tidak hanya itu. Bagaimana Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia ini memperoleh pendidikan yang baik agar dapat digunakan ketika bekerja ataupun saat menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Nizar.

     

    Perbaiki Perguruan Tinggi
    Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji menjelaskan, dia bersama peneliti Arizona State University tengah melakukan kajian mengenai kurikulum SMA di Indonesia. Menurut penelitian tersebut, pemerintah terlalu banyak menerapkan kurikulum untuk mendidik siswa.

    Seharusnya, sekolah-sekolah mulai memberikan ilmu pengetahuan mutakhir yang sedang ramai diperbincangkan di dunia. Seperti, mempelajari coding, ilmu mengenai komputer, yang merupakan bagian dari Sains, Technology, Mathematic, Engineering dan Art (STIME).

    “Pemerintah di Indonesia belum membicarakan masalah perkembangan pendidikan. Tapi, malah sibuk membicarakan HOTS (Higher Order Thinking Skill) yang menjadi isu pembahasan pendidikan di dunia era 2000-an,” ucap Indra.     

    Apalagi, saat ini para calon siswa SMA harus menentukan jurusan pilihan yang akan dijalananinya. Menurut dia, sudah tak zaman lagi sekolah meminta peserta didik untuk menentukan pilihan jurusan. Sebab, lanjut Indra, para siswa lebih memerlukan pendalaman mengenai membaca, menulis, berhitung, dan berpikir komputasional dibanding untuk memilih jurusan IPA, IPS, ataupun Bahasa.

    “Belum saatnya mereka terjuruskan, yang namanya kemampuan dasar semua orang bisa. Kalau anak harus menguasai mata pelajaran yang ada tapi gurunya tidak bisa. Itu ada yang salah dengan kurikulum kita,” jelas Indra.

    Buktinya pada UNBK lalu, banyak siswa mengeluh karena mendapat soal yang sulit. Pola berpikir inilah, perlu mendapatkan perbaikan dari pemerintah. Seharusnya, peserta didik lebih diarahkan ke HOTS.

    Oleh sebab itu, Indra menyesalkan banyaknya praktik curang yang dilakukan siswa saat melaksanakan UNBK kemarin. Apalagi, bukti-bukti kecurangan tersebut telah beredar di aplikasi ‘Line’ berupa foto soal ujian.

    Berdasarkan tulisan sejumlah peserta ujian di media sosial (medsos), hampir semua berisi kekesalan karena soal yang diujikan sulit. Selain itu, soal tersebut tak sesuai dengan kisi-kisi. Indra menyatakan, keluhan tentang sulitnya soal ujian terjadi setiap tahun.

    "Ini bukti kualitas pendidikan kita memang rendah," tutur dia.

    Banyaknya keluhan yang dilontarkan setelah melaksanakan UNBK ini, artinya, sudah waktunya pemerintah memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia. Apalagi, anggaran pendidikan yang lebih dari Rp400 triliun per tahun, tetapi tak memberikan manfaat yang besar.

    “Semakin HOTS, semakin susah untuk dicurangi, mereka harus berpikir tak bisa mencari kunci jawaban. Apalagi, soal yang cukup panjang tak dapat dihafalin dengan mudah,” ungkapnya.

    Indra melontarkan hal yang sama dengan Nizar. Ia pendapat, pemerintah perlu memperbaiki sistem perkuliahan di Perguruan Tinggi agar dapat menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas. Makanya, hingga saat ini, mutu pendidikan masih menjadi masalah besar bagi seluruh pihak.

    “Kajian yang dilakukan Universitas 21 (lembaga riset pendidikan), Indonesia mendapatkan peringkat 50 dari 50 negara,” ujar Indra.

    Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad mengungkapkan, sekitar 1,4 juta siswa yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Jumlah ini terdiri dari, 400 ribu siswa di Perguruan Tinggi Negeri. Sisanya, masuk ke perguruan tinggi swasta.

    Sebenarnya, para siswa tak perlu merasa takut untuk masuk ke perguruan tinggi. Pasalnya, metode pembelajaran yang digunakan Universitas hampir sama dengan kurikulum di SMA.

    “Jadi lulusannya kuliah ini disiapkan untuk entrepreneur, bekerja sendiri, melanjutkan sekolah atau pun untuk bekerja,” kata Ahmad, kepada Validnews(James Manullang, Zsasya Senorita)