Kruyt, Pencerah Versi Tanah Poso

  • A. C. Kruyt
    A. C. Kruyt

    JAKARTA – Kabupaten Poso merupakan salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sulteng) dengan luas wilayah 8.712 kilometer persegi. Mayoritas penduduk di kabupaten Poso merupakan penganut ajaran agama Kristen.

    Dominasi umat kristiani di wilayah ini bukan tanpa sebab. Dahulu, kala para misionaris menyambangi Indonesia untuk menyebarkan agama Kristen, Poso merupakan daerah yang diimpikan sebagai ‘blok’ kristiani di wilayah Sulteng.

    Ya, Albertus Christiaan Kruyt atau yang akrab dengan sapaan Kruyt-lah yang mengimpikan blok ini. Blok ini meliputi seluruh daerah, Teluk Tomini, Teluk Bone dan Selat Makasar yang kala itu masih menganut agama leluhur.

    Impian inilah membuat dirinya merupakan salah satu penginjil yang menghabiskan waktu serta buah pikirian semasa hidupnya di Poso. Tekad ini menjadi dasar bagi Kruyt dijuluki sebagai ‘Pelayan Orang Poso’.

    Campur tangan Kruyt dalam penyebaran injil di Poso ini bermula, ketika dia menginjakan kakinya di pantai selatan Teluk Tomini, sekitar muara Sungai Poso. Saat itu daerah ini merupakan wilayah pedalaman yang belum tersentuh oleh pemerintah kolonial. Saat itu, penduduk setempat masih memeluk aliaran kepercayaan.    

    Awalnya, teori penginjilan yang dilakukan Kruyt tak beda dengan para pendahulunya. Ia sempat mencoba untuk membuktikan roh-roh dan kekuatan yang ditakuti serta disembah oleh orang Toraja itu tak nyata, bahkan tidak ada sama sekali. Namun, penduduk tak menerima pendapat ilmiahnya.

    Inilah sebabnya, ia mencoba memahami sikap masyarakat setempat dan berhenti mengusik kepercayaan mereka secara langsung. Sebaliknya, ia menyerukan bahwa Tuhan dengan pesan yang dibawa bersamanya adalah lebih kuat daripada dewa lokal dan roh.   

    Untuk membuktikan kebenaran ini, Mereka membuat dua set kebun di suatu desa. Satu diantara kebun ini, disertai dengan ritual adat. Lainnya, tanpa ritual apapun. Tujuannya, untuk melihat mana yang akan memberikan pengaruh lebih baik. Bila tak terjadi perbedaan sama sekali, desa tersebut menyatakan bahwa akan untuk menganut iman Kristen.

    Menurut Kruyt, ‘agresi’ langsung terhadap agama tradisional tidaklah cukup. Ia menginginkan hal yang sama dengan para pendahulunya. Kruyt berharap pesan injil dapat menembus ke dalam hati tiap orang sehingga membawa mereka ke pertobatan pribadi.

    Tetapi untuk mendapatkan hati penduduk setempat, ia harus mengetahui pola yang ada dalam benak mereka masing-masing. Oleh karenanya, ia mulai mempelajari agama dan budaya setempat di beberapa daerah Hindia Belanda lainnya.

    Misi penginjilan yang dilakukannya berjalan tanpa preseden. Itulah sebabnya ia menjadi salah satu ahli etnografi terkemuka pada masanya.

    Rumah A.C. Kruyt

    Jalan yang ditempuh Kruyt tak seperti misionaris umumnya pada abad ke-19. Ia menghormati dan tak memaksa penduduk setempat memiliki keyakinan yang sama dengannya. Sebenarnya, masyarakat setempatlah memiliki ketertarikan dengan agama baru, namun keyakinan tradisional masih melekat kepada mereka. 

    Sekolah Rakyat
    Secara perlahan Kruyt menyadari, pengkabaran injil di Poso membutuhkan sarana pendukung strategis yakni dengan mendirikan sekolah. Pada Tahun 1891, Kruyt mulai berkunjung ke banyak daerah sekitar Poso Pesisir.

    Perjalanan panjang ini bertujuan untuk mendirikan sekolah di desa Panta dan Tomasa, di wilayah Pebato (Poso Pesisir). Kruyt mendirikan sekolah yang pertama di tempat ini. Sedangkan desa lainnya menyusul seperti desa Malitu, Poso Pesisir Selatan.

    Sayangnya, pendirian sekolah ini juga menemui hambatan. Persoalan muncul lantaran masyarakat Poso sempat berpandangan kalau sekolah bertujuan untuk mendidik para budak Belanda. Selain itu, meski sekolah ini tak dipungut biaya, masyarakat juga tetap berpikiran akan dimintai bayaran dan apabila tak mampu membayar maka anak akan dijadikan jaminan.

    Tak hanya itu, hambatan lain muncul karena tekanan dari Kerajaan Luwu dan Sigi. Dua kerajaan ini menyatakan, orang Poso tak diizinkan untuk sekolah, karena nantinya dikhawatirkan akan menyaingi kepintaran mereka.

    Hambatan lain yakni adanya anggapan masyarakat, bahwa sekolah akan merusak kehidupan adat masyarakat Poso. Sekolah juga dikhawatirkan akan merongrong kewibawaan orang tua sehingga anak-anak tak perlu pintar.

    Meski ada pelbagai hambatan, niat Kruyt tak lantas ciut. Dia tetap berpendirian untuk mendirikan sekolah di wilayah Poso. Maka, sejak tahun 1904 tiap desa di wilayah Poso mulai didirikan Sekolah Rakyat (Volkschool).

    Pendirian sekolah ini akhirnya memberikan dampak yang positif di masyarakat. Lambat laun penduduk mulai menyadari, pentingnya pendidikan. Oleh karena itu, akhirnya mereka mendukung pembangunan gedung sekolah secara swadaya.

    Di masa-masa awal, untuk memenuhi tenaga pengajar, Kruyt mendatangkan guru dari Minahasa. Guru-guru pertama yang didatangkannya adalah J. Sekeh, M. Kalengkongan, Kaligis, Kolondam, Posumah. Menyadari kebutuhan guru meningkat, Kruyt berpikiran untuk mendirikan sekolah guru. Tujuannya, agar para pengajar Volkschool dapat mulai direkrut dari orang-orang Poso sendiri.

    Dalam perjalanannya, kebutuhan tenaga guru terus bertambah seiring dengan pendirian Sekolah Rakyat di daerah-daerah Poso. Jadi di tahun 1915 didirikan Vervolgschool. Lulusannya, diangkat menjadi guru pada Volkschool.

    Bagusnya pemikiran Kruyt ini mendapatkan respon dari Nederlands Bijbelgenootschap (NBG) di Belanda. Efeknya pada 27 Januari 1913 Hollandsche Indische Kweekschool (HIK) (Sekolah Guru.red) didirikan di Pendolo, dan Kruyt ditetapkan menjadi kepala sekolah dibantu oleh A. Possumah.

    Sekolah Guru Cursus for Volka Onderwijers (CVO) atau Opleiding for Volks Onderwijers (OVO) didirikan di Pendolo ini memberikan waktu belajar selama dua tahun. Angkatan pertama di sekolah ini sebanyak 14 orang, masing-masing 1 orang dari Pebato, 1 orang dari Napu, 2 orang dari Bancea, 6 orang dari Wingke Poso, dan 4 orang dari Lage.  

    Pendidikan yang diberikan oleh sekolah-sekolah ini menganut cara mengajar kebaratan yaitu menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, dengan masa belajar 7 tahun. Murid sekolah ini juga diutamakan dari anak-akan golongan bangsawan serta tokoh terkemuka tanpa membedakan golongan etnis dan agama.  

    Pada tahun 1932, Kruyt bersama istrinya kembali ke Belanda. Hasil pengkabaran injil yang telah dirintisnya membuat Kruyt menjadi anggota pengurus Zending dan mencetuskan ide agar sekolah guru di Poso dikembangkan menjadi sekolah pendidikan Teologia. Sebab selama ini Zending mendapatkan kesulitan untuk menyesuaikan dengan kehidupan masyarakat Poso.

    Atas dasar itulah, ia berharap agar jemaat hasil pengkabaran injil di Sulteng dapat mendirikan satu organisasi gerejawi sendiri. Harapan ini akhirnya direspon dengan pendirian Gereja Masehi Injil di Minahasa, Sulawesi Utara pada tahun 1934. Selain itu, tahun 1935 telah lahir Gereja Protestan Maluku.

    Saat Perang Dunia ke-II, hubungan penginjilan terputus dan Zending mengalami banyak tekanan. Situasi ini, membuat penatua beserta guru jemaat mau tak mau harus mengurusi jemaat masing-masing secara mandiri.

    Kondisi ini membuat jemaat lambat laun menjadi mandiri. Oleh karena itu, ketika Perang Dunia ke-II berakhir, telah banyak berdiri persekutuan gereja-gereja baru.  

    Pada 18 Oktober 1947 berdirilah Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang menyatakan sebagai salah satu persekutuan gereja di Indonesia. Kabar ini menjadi sukacita bagi Kruyt di masa akhir hidupnya, dengan menyaksikan hasil karya penginjilan telah berdiri satu organisasi gerejawi. 

    Kruyt merupakan seorang berkebangsaan Belanda yang lahir di Mojowarno, Jombang, Jawa Timur, pada 10 Oktober 1869. Semasa kecil, ayah dan ibunya memang telah menyiapkan anaknya untuk menjadi penginjil di kemudian hari. Mereka mengirim Kruyt ke Belanda ketika hendak memasuki usia sekolah. Mengemban sebagai penginjil memang sudah tugas Kruyt sejak kecil. Kruyt. Ia menghembuskan nafas terakhirnya meninggal di Gravenhage, Belanda, 19 Januari 1949. (Berbagai sumber, James Manullang)