MIMPI BERDIKARI OTOMOTIF DALAM NEGERI

Kijang, Eksistensi Anak Karawang Berdarah Jepang

Sampai Juni 2017, tidak kurang dari 1,98 juta mobil Kijang sukses diproduksi oleh TAM, mulai dari generasi pertamanya yang dikenal sebagai Kijang Buaya hingga All New Kijang Innova sebagai si bungsu.

  • Ilustrasi. Perakitan kijang innova oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). (Antara)
    Ilustrasi. Perakitan kijang innova oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). (Antara)

    JAKARTA – November 2017 kemarin Toyota Astra Motor (TAM) dengan bangganya merayakan 40 tahun berkiprahnya Toyota Kijang di Indonesia. Ya, tidak terasa sudah empat dekade kendaraan niaga yang popular ini mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia.

    Bagi TAM sendiri, nama Kijang dari awal eksistensinya hingga kini membawa berkah tersendiri. Paling tidak, keberadaan Kijang dianggap sebagai salah satu tonggak bersejarah buat industri otomotif Indonesia.

    Lewat Kijanglah industrialisasi otomotif dimulai. Lewat kijang pulalah preferensi masyarakat Indonesia terhadap kendaraan perlahan berubah, lebih menggemari minibus atau multi purpose vehicle (MPV) sebagai kendaraan keluarga.

    Tepat pada tahun 1977, Kijang generasi pertama diluncurkan untuk pertama kalinya dengan jumlah produksi awal sebanyak 11.68 unit. Mobil yang hadir pertama kali sebagai kendaraan niaga sederhana (pick-up) ini telah melewati segala zaman dan mampu beradaptasi dengan segala perkembangan teknologi.

    Sampai Juni 2017, tidak kurang dari 1,98 juta mobil Kijang sukses diproduksi oleh TAM, mulai dari generasi pertamanya yang dikenal sebagai Kijang Buaya hingga All New Kijang Innova sebagai si bungsu.

    Pangsa pasar Toyota untuk market dalam negeri sepanjang keberadaannya selalu bisa menembus 30%. Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pada 2016 jumlah kendaraan bermerek Toyota yang berhasil diserap pasar mencapai 381,57 ribu unit.

    Di tahun tersebut, Toyota pun cukup kencang memproduksi All New Kijang Innova. Tercatat, generasi terbaru dari Kijang ini diproduksi sebanyak 69,90 ribu unit.

    Bagi Indonesia, meski tak sepenuhnya ‘anak kandung’, keberadaan Kijang sudah banyak memengaruhi industri dan pasar otomotif Indonesia. Bahkan Kijang yang kadung lekat dengan ingatan masyarakat Indonesia sudah menjadi salah satu komoditas ekspor buat Indonesia.

    Dipicu dari pergantian tampuk kepemimpinan pada tahun 1966 dari Soekarno ke Soeharto, konsep pembangunan ekonomi kala itu menjadi andalan. Indonesia pun alhasil membutuhkan banyak kendaraan niaga berupa truk maupun kendaraan niaga lainnya.

    Kepada Validnews, Wakil Ketua Umum Bidang Industri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Johnny Darmawan mengemukakan, Kijang tak lain adalah sebuah legenda dalam dunia otomotif nasional. Bagaimana tidak, kemunculan Kijang benar-benar diinisiasi oleh orang Indonesia, diproduksi di negeri ini, dan memang ditujukan untuk Ibu Pertiwi.

    “Namanya pun benar-benar nama khas Indonesia, Kijang. Direncanakan untuk orang-orang Indonesia dengan asumsi itu masuk pedesaan, off road, segala macam, yang serbaguna,” ujar Mantan Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) ini, Senin (12/3).

    Sedikit informasi, masuknya kendaraan beroda empat dari Jepang sendiri dimulai dari tahun 1961. Impor pertama ini merupakan 100 jip Toyota Kanvas pesanan dari Departemen Transmigrasi, Koperasi, dan Pembangunan Masyarakat Desa.

    Menangkap peluang, Jepang pun memproduksi berbagai kendaraan bermotor niaga sederhana (KNNS) yang sesuai kebutuhan Indonesia. Setelahnya, mobil impor asal Negeri Sakura membanjiri Nusantara. Sejak saat itu pula, kendaraan roda empat dari Eropa maupun Amerika perlahan tersingkir.

    Tidak ingin tergantung melulu pada impor mobil, Departemen Perindustrian dan Perdagangan pun mengeluarkan aturan soal larangan impor kendaraan bermotor baik dalam keadaan utuh (completely built up/CBU) atau terurai Completely Knock Down (KCD). Aturan ini termaktub dalam Surat Keputusan Nomor 25 Tahun 1974 soal Larangan Kendaraan Jenis Sedan dan Stationwagon secara Utuh yang terbit pada 22 Januari 1974.

    Kepada Validnews, Ketua 1 Gaikindo, Jongkie Sugiarto mengungkapkan, aturan tersebut membuat kendaraan dari Eropa dan Amerika semakin tersisih. Di satu sisi, mereka tidak memiliki produk yang sesuai kebutuhan. Hal ini kemudian diperparah dengan tidak tangkasnya produsen-produsen tersebut menyiasati larangan pemerintah terhadap CBU.

    “Akibatnya mereka tidak bisa ikut berkiprah atau membuat mobilnya di Indonesia. Jepanglah dengan merek-merek tententunya masuk ke Indonesia dan ikut aturan pemerintah saat itu untuk membuat di dalam negeri,” tutur Jongkie, Senin (12/3).

     

     

    Bak Terbuka
    Di tahun 1975, TAM pun mulai bergerak membuat mobil yang dirakit sendiri di Indonesia. Tentu modelnya tak jauh-jauh dari yang diinstruksikan pemerintah, yakni berupa KBNS dengan jenis bak terbuka. Pergerakan TAM ini tampak dari mulai dipamerkannya berbagai komponen dari cikal bakal kendaraan bak terbuka ini di Jakarta Fair dalam bentuk komponen-komponen terpisah.

    Komponen-komponennya sendiri banyak disuplai oleh Toyota Motor Corporation, yang merupakan induk perusahaan Toyota di Negeri Sakura. Bisa dibilang pembuatan dan perakitan Kijang memang mendapat restu penuh dari mereka.

    Karena itu pula, Jusuf Kalla sebagai salah satu orang dalam tim perumus Kijang sempat mengeluarkan guraian bahwa Kijang tak lain merupakan akronim dari Kerja Sama Indonesia Jepang.

    Selang dua tahun kemudian, produk bak terbuka yang dirakit dan memiliki kandungan komponen lokal 19% ini diluncurkan di Ballroom Hotel Hilton, Senayan, Jakarta. Tepat pada tanggal 9 Juli 1977.

    Nama Kijang dipilih sebagai identitasnya. Johnny memaparkan, nama tersebut berdasarkan filosofi salah satu binatang khas Indonesia, rusa atau yang kerap disebut juga kijang. Lincahnya fauna tersebut diharapkan dapat menggambarkan betapa tepatnya penggunaan bak terbuka dengan merek Kijang untuk berbagai keperluan niaga di kota maupun pedesaan.

    “Nama Indonesia waktu itu yang paling terkenal binatang kijang. Lincah dan cepat. Pada waktu itu para desainer yang menentukan,” tukasnya.

    Kijang generasi pertama tampil amat sederhana. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai kotak sabun. Berbentuk kotak dan sepintas menyerupai mulut buaya jika kap mesin dibuka. Dari sinilah nama kijang buaya berasal.  

    Digambarkan dalam penelitian Santriana Didiek Isnanta yang bertajuk “Kajian Desain Toyota Kijang dan Penguatan Citra pada Masyarakat Solo”, pintu Kijang Buaya belumlah menggunakan kunci kendaraan, melainkan masih menggunakan engsel-engsel besi biasa.

    Pintu dibuat hanya setengah dari bodi yang terbuka, sisanya alih-alih menghadirkan kaca jendela, melainkan hanya berupa kain kanvas yang bagian tengahnya dipasangi plastik pengganti kaca.

    Untuk mendapatkan udara yang lebih banyak ke dalam kabin mobil, kanvas tersebut bisa digulung ke atas. Kijang generasi awal ini berkapasitas mesin 1.200 cc. Transmisinya sendiri memiliki empat percepatan.

    Sebenarnya di waktu yang hampir bersamaan, tidak hanya Toyota yang meluncurkan Kijang dengan nuansa kenusantaraannya. Ada pula Datsun Sena, Volkswagen Mitra, hingga Dodge Sembrani yang sama-sama bermain di kendaraan niaga sederhana.

    Meskipun diterbitkan hampir bersamaan, menurut Jongkie, kehadiran berbagai kendaraan niaga serupa bak terbuka tersebut, tetap tak terlepas dari pengaruh Kijang sebagai pionirnya. Ini mengingat “kelahiran” Kijang sebenarnya sudah dimulai dari pameran berbagai komponennya di tahun 1975.

    Sayangnya, kehadiran berbagai kendaraan niaga sederhana tersebut tak berlangsung lama. Tidak mendapat restu penuh dari perusahaan induk, pengembangan berbagai kendaraan berbak terbuka tersebut pun tak mulus, lama-kelamaan hanya tersisa namanya dalam sejarah. Alhasil, Kijang Buaya melaju tanpa lawan.

    James Luhulima dalam bukunya yang berjudul Sejarah Mobil dan Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini menuturkan, sejatinya merek yang mampu bertahan untuk terus memproduksi kendaraan bak terbukanya adalah Mitsubishi dengan Colt T120 nya. Mitsubishi sendiri pada waktu itu berada dalam naungan PT Krama Yudha Tiga Berlian.

    Entah dipicu oleh tuntutan konsumen atau ada hal lainnya, pada tahun 1981, PT Krama Yudha Tiga Berlian tidak lagi mengeluarkan Mitsubishi Colt T120. Sebagai gantinya, perusahaan mengeluarkan kendaraan baru yang dipredikatkan sebagai Mitsubishi Colt L300.

    Namun, Colt L300 merupakan kendaraan niaga yang jauh lebih besar. Beda segmentasi inilah yang membuat Kijang semakin berlari kencang tanpa lawan sepadan.

     

     

    Raja MPV
    Dari awal peluncurannya hingga akhir 1980, total telah diproduksi 12.069 unit Kijang Buaya. Tidak berpuas diri, TAM berusaha menyempurnakan Kijang generasi pertama.

    Hanya dalam jangka waktu empat tahun dari peluncuran perdananya, muncul generasi kedua Kijang yang bentuknya pun sama-sama bak terbuka. Mengusung tagline iklan “Toyota Kijang Semakin Meyakinkan”, generasi kedua dari brand ini tak ubahnya merupakan penyempurnaan dari Kijang Buaya.

    Tiada lagi kanvas pengganti jendela, digantikan oleh pelat dan kaca yang sesungguhnya. Tiada lagi engsel untuk membuka pintu setengah, digantikan oleh kunci mobil yang cukup otomatis. Kapasitas mesin pun dikembangkan dari 1.200 cc menjadi 1.300 cc.

    Tidak lagi menggembar-gemborkan diri sebagai kendaraan niaga sederhana, Kijang generasi II yang lebih masyhur disebut Kijang Doyok lebih memperkenalkan dirinya sebagai kendaraan multiguna.

    Sebab selain pick-up, bentuknya pun bisa dimodifikasikan oleh perusahaan karoseri untuk keperluan lain. Salah satunya menjadi angkutan perkotaan (angkot).

    Produksi generasi kedua dari Kijang ini bertahan hampir lima tahun. Pada 1986, TAM mengeluarkan generasi ketiga dari Kijang yang mengarah pada mobil keluarga.

    Bentuk Kijang yang keluar dengan jenis Super dan Grand ini mulai sedikit membulat, tidak terlalu mengotak seperti pendahulunya. Hanya saja, untuk bentuk body masih dikerjakan oleh perusahaan karoseri. Sedangkan kapasitas mesinnya sendiri bertambah menjadi 1.500 cc dengan empat percepatan.

    Berdasarkan data TAM yang dikeluarkan dalam acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017, produksi Kijang generasi ketiga melompat jauh dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Angkanya bahkan mencapai 515 ribu unit pada akhir tahun 1996.

    Barulah pada 1997, muncul generasi keempat dari Kijang. Jenis generasi yang satu ini kerap disebut sebagai Kijang Kapsul karena bentuknya yang tidak kaku lagi. Ciri khasnya ada bagian belakang berdesain melengkung. Meskipun desain berubah, konsep kesederhanaan yang diusung Kijang pada awal peluncurannya tidak terlalu banyak berubah.

    Setelah kijang generasi keempat cukup lama beredar, generasi kelima kemudian lahir pada tahun 2005. Tidak lagi menampilkan kesahajaan semata, Kijang generasi kelima yang diberi nama Kijang Innova tampil lebih mewah. Menggunakan mesin VVT-I 2000 cc, Innova menawarkan dua jenis transmisi mesin, yakni manual dan otomatis.

    Dari segi bentuk, desainnya tampil begitu aerodinamis. Alih-alih sebagai kendaraan tumpangan semata, generasi Kijang yang satu ini layak disebut multi purposes vehicle.

    Jongkie berpendapat, beralihnya fungsi Kijang di generasi kelima ini semata-mata untuk mempertahankan dan mengembangkan pasarnya. Adaptasi terhadap permintaan pasar ini pulalah yang membuat Kijang bisa terus eksis hingga saat ini.

    Selaras dalam buku karya James Luhulima, dalam peringatan 25 tahun Toyota Kjang pada 2002, Senior Managing Director Toyota Motor Corporation Akio Toyoda mengungkapkan, pergantiaan dari Kijang ke Kijang Innova memang wajib dilakukan jika ingin mengembangkan pasar.

    Diharapkan, dengan inovasi tersebut, Kijang bisa kian berkiprah di dunia internasional, tidak hanya menjadi jawara di dalam negeri. Hal yang mesti dilakukan adalah mengubah total kualitas Kijang menjadi bertaraf global.

    “Untuk menjadikan Toyota Kijang berkualitas global, tidak ada pilihan lain, kecuali meningkatkan kualitasnya dan menggunakan mesin-mesin yang lebih bersih lingkungan, hemat bahan bakar, dan tentunya lebih bertenaga,” papar Toyoda dalam tulisan tersebut.

    Terbaru pada akhir 2015, Toyota mengeluarkan generasi Kijang keenamnya yang dilabeli sebagai All New Kijang Innova. Memiliki fitur lebih lengkap dengan desain lebih mewah, hanya dalam seminggu sejak diluncurkan pada 23 November 2015, penjualannya telah mencapai 5 ribu unit.

    Dalam buku Astra, on Becoming Pride of The Nation, Yakub Liman menceritakan, meskipun tampil selalu eksis dari masa ke masa, adanya krisis moneter pada 1998 sempat membawa penjualan Kijang di masyarakat menurun. Pasalnya, harganya yang kerap disebut terjangkau menjadi naik drastis dan sulit ditebus oleh masyarakat kebanyakan.

    Meskipun demikian, generasi Innova yang digagas oleh TAM berhasil menyelamatkan penjualan seri Kijang di dalam negeri. Tercatat khusus untuk Kijang Innova yang merupakan Kijang generasi kelima, dari tahun 2005 hingga 2015 tercatat produksinya mencapai 743 ribu unit. Volume ini merupakan yang terbesar dibandingkan generasi-generasi Kijang lainnya.

    Sementara itu untuk All New Kijang Innova, produksinya dari akhir 2015 hingga semester I 2017 tercatat berada di angka 160,7 ribu unit.  Yakub Liman juga menyebutkan, rata-rata penjualan Innova bersumbangsih sekitar 13% dari total penjualan Toyota.

    Sedikit mengilustrasikannya, pada periode Januari—Juni 2017, jumlah mobil Toyota yang terjual sebanyak 195,28 ribu unit. Itu berarti ada sekitar 25,48 ribu Innova yang terjual. Jongkie pun menegaskan, untuk saat ini memang Kijang Innova masih menjadi raja dari kendaraan MPV. Pangsa pasarnya bahkan mencapai 75% dari total penjualan kendaraan MPV.

     

    Pasar Ekspor
    Nyatanya Indonesia memang bisa berbangga dengan kehadiran Kijang di industri otomotif nasional. Tidak hanya memacu tumbuhnya berbagai kendaraan yang diproduksi di dalam negeri, pionir kendaraan dalam negeri ini pun mampu berbicara di pasar internasional.

    Liman menjelaskan, semenjak memproduksi mobil keluarga, TAM mulai mengekspansi pasarnya. Tidak sekadar menyasar masyarakat Nusantara, tantangan ekspor pun ditanggapinya.

    Negara-negara di kawasan Asia-Pasifik pun menjadi sasarannya. Mulai dari beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara hingga negara Pasifik, seperti Fiji, Samoa, Vanuatu, dan Mikronesia.

    Awal mulanya, hanya tiga negara yang menjadi sasaran ekspor untuk produk Kijang, yakni Papua Nugini, Brunei Darussalam, dan Fiji. Generasi ketiga yang kerap dikenal sebagai Kijang Super dan Grandlah yang memeloporinya.

    Mendapatkan hasil yang tidak mengecewakan, pangsa untuk ekspor terus digenjot. Tentunya dengan demikian kebutuhan untuk kapasitas produksi kian membesar. Karena itulah, pada 1996 mulai digagas pembangunan pabrik produksi di Karawang yang diberi nama Karawang Plant.

    Di pabrik yang memiliki nilai investasi sebesar Rp462,2 miliar ini, kapasitas produksinya bisa mencapai 100 ribu unit per tahun.

    Karawang Plant memang menitikberatkan pada produk Kijang Innova untuk pasar domestik maupun internasionalnya. Hingga akhirnya pada tahun 2015, sudah ada 29 negara yang menjadi pasar ekspor untuk produk All New Kijang Innova.

    Tujuan ekspornya, antara lain ke negara-negara Timur Tengah, negara kepulauan Pasifik, serta negara-negara lain di Asia. Untuk pasar regional Asia Tenggara? Tidak perlu ditanya lagi. Setidaknya Thailand, Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam, bahkan Malaysia telah menjadi pangsa ekspor untuk generasi teranyar dari Kijang.

    Kiprah Kijang yang kian waktu kian bertumbuh membuat Jongkie harus mengacungkan jempol. Bagi insan perotomotifan, jelas Kijang menjadi kesuksesan besar dan pemicu kuat untuk pengembangan industri nasional.

    Kijang pun seakan menjadi trade “mobil nasional”, mengingat ia menjadi satu-satunya merek mobil produksi Indonesia yang mampu bertahan dari merek asing lainnya. Bahkan kini Kijang sudah bisa dijumpai di berbagai negara.

    “Di Jepang sendiri, enggak ada produksi Kijang, enggak ada. Di dunia satu-satunya yang memproduksi ya Indonesia,” imbuh Jongkie.

    Sementara itu, Johnny melihat, kehadiran Kijang tak ayal menjadi oase kerinduan akan mobil nasional yang dari dulu didambakan, namun tak pernah terwujud. Jika tidak ada embel-embel kriteria spesifik, Kijang mungkin sudah pantas mendapatkan predikat sebagai kendaraan nasional.

    “Kijang dari awal dibangun, sekarang itu local content-nya sudah hampir 100%, sudah 80%. Seharusnya bisa dinamakan mobil nasional. Maksudnya nasional itu apa? Kijang itu sebenarnya sudah mobil nasional,” tutur Johnny.

    Ya memang semenjak memproduksi All New Kijang Innova, konten lokal di kendaraan tersebut memang makin besar. Pada generasi teranyar, 85% dari komponennya merupakan konten lokal.

    Satu hal yang disayangkan, bayang-bayang perusahaan induknya yang tak lain adalah Toyota, Jepang, membuat Kijang mau tak mau hanya bisa diakui sebagai pionir dan legenda hidup industri otomotif Indonesia. Di luar itu, pemerintah masih sok sibuk mencari cara untuk bisa menciptakan mobil nasional, dengan sepenuhnya konten lokal dan sesungguhnya bermerek nasional. Tapi entah kapan.  (Teodora Nirmala Fau)