MIMPI BERDIKARI OTOMOTIF DALAM NEGERI

KESEMPATAN KEDUA BAGI INDUSTRI OTOMOTIF INDONESIA

Tingkat kepemilikan mobil masyarakat Indonesia yang masih rendah serta masih minimnya kualitas serta kuantitas transportasi publik, terutama di daerah urban, menjadikan Indonesia pasar yang menarik bagi industri otomotif.

  • Suasana salah satu pameran otomotif. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
    Suasana salah satu pameran otomotif. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    Oleh: Sita Wardhani S, SE, MSc*

    Jumlah penduduk Indonesia yang besar menjadikannya sebagai tujuan pasar yang menarik. Demikian halnya dengan industri otomotif. Di antara negara-negara ASEAN, Indonesia merupakan pasar otomotif terbesar diikuti dengan Thailand dengan pangsa pasar kedua terbesar. Namun, dari sisi produksi, kapasitas produksi Indonesia masih tertinggal dari Thailand, terlebih untuk produksi mobil. Di tahun 2017, kapasitas produksi industri kendaraan roda empat Indonesia adalah 2,2 juta per tahun, sedangkan Thailand sebesar 3,81 juta unit (Krungsri, 2017).

    Permintaan kendaraan bermotor pun diprediksi akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi akan mendorong peningkatan pendapatan perkapita. Selain itu, tingkat kepemilikan mobil masyarakat Indonesia yang masih rendah (Investment-Indonesia, 2017) dan masih minimnya kualitas serta kuantitas transportasi publik, terutama di daerah urban, menjadikan Indonesia pasar yang menarik bagi industri otomotif.

    Karakteristik pasar kendaraan roda empat di Indonesia di dominasi oleh kendaraan multipurpose vehicle (MPV), yaitu kendaraan dengan ruang lega, dan dapat memuat orang yang banyak. Oleh sebab itu, kendaraan dengan 7-seaters (yang dapat memuat hingga 7 orang) merupakan kendaraan yang paling banyak diminati. Meski kemudian saat ini kendaraan kecil sejenis city car pun diminati, terutama oleh keluarga yang beranggotakan sedikit, atau oleh generasi milenial, yang baru bekerja dan ingin memiliki kendaraan.

    Sejarah Perkembangan Industri Otomotif Indonesia
    City car meraih ketenaran semenjak pemerintah mengeluarkan kebijakan LCGC (Low Cost Green Car), atau kendaraan yang harganya murah, namun efisien dan ramah lingkungan. Kebijakan ini dikeluarkan salah satunya untuk mendorong industri otomotif dalam negeri. Sebab salah satu persyaratan produsen mendapatkan insentif untuk produksi LCGC adalah persyaratan penggunakan komponen dalam negeri hingga 85%. Persyaratan lain adalah mesin yang harus menggunakan bahan bakar dengan oktan tinggi, dan konsumsi bahan bakar 1L/20 km. Pemenuhan berbagai persyaratan ini dikompensasi dengan penghapusan pajak barang mewah sehingga produsen dapat menjual kendaraan dengan harga yang rendah.

    Pemberian insentif pajak dengan persyaratan kandungan lokal merupakan kebijakan yang selama ini digunakan untuk mendorong perkembangan industri dalam negeri, salah satunya industri otomotif. Perkembangan pasar otomotif dalam negeri dimulai di akhir era 60-an, ketika pertama kalinya pemerintah, melalui kementerian perdagangan mengeluarkan kebijakan impor kendaraan bermotor, baik dalam keadaan utuh (completely-built up atau CBU) ataupun terurai (completely-knocked down, CKD) (GAIKINDO, 2015).

    Produksi otomotif dalam negeri sendiri berkembang di era tahun 70-an. Dimulai pada tahun 1974, ketika pemerintah menerbitkan peraturan yang menyetop impor mobil utuh (CBU). Impor CBU hanya boleh dilakukan oleh APM (agen pemegang merek) yang dapat memproduksi suku cadang.

    Pada tahun 1976 pemerintah mengeluarkan paket peraturan “Program Penanggalan Komponen”. Salah satu tujuan paket program ini adalah mengenakan pajak impor tinggi terhadap kendaraan yang belum menggunakan suku cadang buatan dalam negeri. Beberapa pabrik produsen komponen, seperti radiator, knalpot, per peredam, veleg, jok dan interior, kabel, gasket komponen berbahan karet makin berkembang. Selain untuk mensuplai produsen otomotif dalam negeri, produsen komponen ini juga mensuplai komponen untuk layanan purnajual.

    Pemerintah menerbitkan “Program Penanggalan Komponen” jilid dua di tahun 1983. Programnya adalah pemberlakuan pajak tinggi untuk sejumlah impor komponen. Kebijakan protektif dari pemerintah mulai menunjukkan keberhasilan melalui pertumbuhan produsen komponen-komponen penting seperti transmisi, kopling, mesin, sistem rem, pencetakan metal, sistem pengatur pintu.

    Selanjutnya Pemerintah mengeluarkan “Paket Kebijakan Otomotif 1993” sebagai pengganti dari “Program Penanggalan Komponen. Paket kebijakan ini merupakan paket kebijakan insentif yang membuat industri kendaraan bermotor bisa menentukan komponen untuk diproduksi sendiri. Paket kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri. Sebagai imbalan, pemerintah menyediakan pemotongan hingga penghapusan pajak impor, tergantung seberapa banyak kandungan lokal pada mobil yang diproduksinya.

    Dukungan pemerintah terhadap industri otomotif sedemikian besar, sehingga di tahun 1996, pemerintah memutuskan untuk mempercepat Program Intensif dengan mengeluarkan Program Mobil Nasional. Melalui program ini, produsen mendapatkan potongan hingga pembebasan bea impor, dengan syarat penggunaan kandungan local hingga nilai tertentu. Pembebasan pajak barang mewah untuk mobil dengan kandungan lokal sedikitnya 60% mendorong industri untuk melakukan investasi pabrik baru.

    Program Mobil Nasional juga mencakup produksi mobil merek Timor serta merek lain. Program ini sempat berjalan dan menunjukkan kesuksesan, diantaranya dengan terdapatnya 20 merek mobil yang diproduksi dibawah program mobil nasional ini. Namun kemudian krisis yang menghantam Indonesia di tahun 1997 melumpuhkan perkembangan industri di Indonesia, dan diantaranya juga industri otomotif Indonesia. Industri dan pasar otomotif nasional pun tak luput dari krisis. Penjualan mobil nasional sempat mencapai  392 ribu unit pada 1997, namun kemudian turun drastis menjadi 58 ribu unit pada 1998.

    Paket kebijakan untuk memulihkan Indonesia dari krisis salah satunya menyebabkan Indonesia terpaksa tidak lagi dapat menggunakan pajak impor untuk melindungi industri domestik. Namun demikian Indonesia tetap dapat menggunakan kebijakan lainnya untuk mendorong industri otomotif dalam negeri, salah satunya adalah paket kebijakan LCGC yang telah diuraikan diatas.

    Detroit of Indonesia
    Selain dukungan pemerintah melalui insentif, infrastruktur merupakan kunci bagi perkembangan industri. Khusus untuk Industri otomotif, di Indonesia pabrik-pabrik kendaraan bermotor terpusat di daerah Jawa barat, khususnya area Bekasi, Karawang, dan Purwakarta. Daerah ini banyak mendapatkan investasi dari perusahaan-perusahaan otomotif global karena ketersediaan infrastruktur yang lengkap, seperti listrik dan sumber daya manusia yang cukup banyak. Selain itu, akses ke pelabuhan menjadikan area ini menarik sebagai lokasi investasi pabrik. Terlebih pelabuhan terdekat adalah pelabuhan Tanjung Priok, sebagai pelabuhan paling modern yang menangani lebih dari 50% pengiriman kargo.

    Ditambah lagi daerah ini merupakan daerah dimana terdapat 2 dari 3 kawasan industri terbesar di Indonesia, yaitu Kawasan Industri Bekasi dan Kawasan Industri Karawang, Ketersediaan infrastruktur dapat mengurangi biaya logistic. Hal inilah yang membuat area ini menarik. Dengan terpusatnya perusahaan-perusahaan otomotif di daerah ini, daerah inipun dikenal sebagai Detroit of Indonesia.

    Permasalahan dalam industri otomotif
    Geliat industri otomotif dalam negeri tidak hanya ditopang oleh pasar domestik, namun juga pasar luar negeri. Terdapat beberapa merek mobil buatan Indonesia yang telah diekspor, diantaranya adalah Toyota Avanza, Toyota Fortuner, Nissan Grand Livina, Honda Freed, Chevorelet Spin dan Suzuki APV. Beberapa negara tujuan ekspor utama adalah Thailand, Saudi Arabia, Filipina, Jepang, dan Malaysia.

    Namun demikian, masih terdapat beberapa hambatan yang dihadapi industri otomotif Indonesia, diantaranya adalah persyaratan emisi karbon monoksida, yang menggunakan standar Euro. Hingga saat ini, secara rata-rata, produksi mobil Indonesia masih pada tingkat Euro 2, sedangkan negara-negara lain sudah pada tingkat Euro 5.

    Hambatan lain adalah beratnya persaingan yang dihadapi  terutama oleh industri komponen komponen mobil domestik. Pasar komponen mobil sangat unik. Ada dua jenis pasar dalam komponen mobil. Pertama adalah pasar original equipment manufacturer(OEM), dan final market.

    Dalam pasar OEM, produsen memproduksi barang sesuai permintaan khusus dari produsen mobil. Produsen komponen hanya memproduksi, namun tidak bertanggung jawab untuk menjual. Namun untuk jenis pasar yang kedua, final market, produsen dapat memproduksi untuk merek sendiri, atau merek lain, sesuai si pemesan.

    Dalam final market, produsen bersaing dengan produsen lain yang dapat menjual dengan harga lebih rendah. Menurut asosiasi industri komponen dalam negeri (GIAMM), lebih sulit bersaing dalam pasar final market ini, karena mereka dapat bersaing dengan berbagai merek, untuk menjual dengan harga termurah. Berbeda dengan pasar OEM, yang menjual sesuai pesanan produsen mobil, dan tidak perlu bersaing dalam harga, dan pasar OEM ini lebih pasti dan jelas.

    Hal kedua yang memberatkan produsen adalah karena industri otomotif dan komponennya bukan merupakan industri prioritas, akibatnya seringkali kebijakan kurang mendukung, dan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi. Hambatan lain, adalah industri otomotif merupakan industri dengan teknologi tinggi, namun SDM Indonesia masih belum siap dengan kemampuan yang dibutuhkan dalam industri ini. Dalam hal kesiapan industri, baik dari segi SDM dan teknologi serta regulasi untuk industri otomotif, Indonesia kalah jauh jika dihadapkan pada Thailand.

    Meski demikian, industri otomotif Indonesia masih memiliki peluang, terutama dari pasar domestik serta pasar tujuan ekspor. Tidak hanya itu, keterbukaan pasar, serta proses produksi yang semakin tersebar melalui sistem global value chain (GVC), menjadikan industri otomotif Indonesia masih memiliki peluang untuk bangkit kembali. Dengan strategi pengembangan industri dan kebijakan pemerintah serta perlindungan industri domestik yang tepat, industri otomotif Indonesia dapat kembali bersaing dalam kancah persaingan industri otomotif global.

    *Peneliti Utama dan Staf Pengajar FEB UI

    Referensi:

    Investment-Indonesia. (2017, Juli 12). Automotive. Retrieved Maret Senin, 2018, from Investment-Indonesia: https://www.indonesia-investments.com/business/industries-sectors/automotive-industry/item6047?

    GAIKINDO. (2015, Maret 5). Perkembangan Industri Otomotif. Retrieved Maret 5, 2018, from Gaikindo: https://www.gaikindo.or.id/perkembangan/

    Krungsri. (2017). Thailand Industry Outlook 2017-2019: Automobile Industry. Bangkok: Bank Ayudhya.