Kapolri Ingatkan Tingginya Angka Kecelakaan Lalu Lintas Indonesia

Tingginya angka kecelakaan di Indonesia disampaikan dalam Forum Polantas Asean. Tito juga memaparkan data kecelakaan lalu lintas berada dalam peringkat 9 dari 10 peringkat penyebab kematian tertinggi dan diprediksi akan naik ke peringkat ke-5 pada 2030 setelah penyakit jantung koroner, stroke, penyakit paru-paru kronis, dan infeksi pernapasan

  •  Ilustrasi kecelakaan laluluntas. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
    Ilustrasi kecelakaan laluluntas. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    JAKARTA - Kapolri Jenderal Tito Karnavian membuka Forum Polantas Asean (ATPF) ke-2 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (15/11). Pada forum yang bertajuk “Kerja Sama Global untuk Menciptakan Keselamatan Berlalu Lintas di Negara-negara Asean” tersebut Tito menyampaikan sejumlah tantangan yang dihadapi negara-negara Asean dalam menghadapi era perdagangan bebas.

    Lima tantangan besar yakni arus bebas barang, arus bebas pelayanan, arus bebas modal, arus bebas investasi dan arus bebas keahlian sumber daya manusia. Ia mengatakan, cepatnya perpindahan barang dan jasa antarnegara turut membutuhkan jalur transportasi yang aman. Namun kenyataannya data menunjukkan bahwa jumlah kecelakaan lalu lintas masih tinggi.

    Tito memaparkan berdasarkan data dari WHO pada 2004, kecelakaan lalu lintas berada dalam peringkat 9 dari 10 peringkat penyebab kematian tertinggi dan diprediksi akan naik ke peringkat ke-5 pada 2030 setelah penyakit jantung koroner, stroke, penyakit paru-paru kronis, dan infeksi pernapasan.

    Data dari Laporan Status Global Dalam Keamanan Jalan pada 2015 juga menyebutkan penyumbang kematian terbesar di negara miskin dan negara berkembang adalah kecelakaan lalu lintas dengan rata-rata 24,1 dan 18,4 kematian per 100 ribu populasi. Sedangkan di negara maju, nilainya hanya 9,2 per 100 ribu populasi.

    Dia mengatakan bahwa enam negara yang paling tinggi angka kecelakaan lalu lintasnya yakni Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Filipina dan Laos. Sementara Brunei Darussalam dan Singapura memiliki tingkat kecelakaan lalu lintas terendah dalam lingkup Asean.

    "Hanya Brunei dan Singapura yang memiliki jalur lalu lintas paling baik. Selamat kepada Brunei dan Singapura," kata Tito dalam forum tersebut.

    Untuk meningkatkan keselamatan berkendara dan keamanan lalu lintas, Kapolri juga mengatakan bahwa Sidang Umum PBB pada 2010 telah mengumumkan "Aksi Satu Dekade Keamanan Berkendara 2011-2020" yang bertujuan untuk menstabilkan dan menurunkan tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas di dunia yang diwujudkan dalam lima pilar.

    Lima pilar tersebut yakni manajemen keamanan jalan raya, meningkatkan keamanan jalan dan mobilitas, kendaraan, pengemudi, dan respon pasca kecelakaan. Tito juga menceritakan Indonesia telah menerapkan modernisasi dalam layanan lalu lintas diantaranya layanan SIM daring, berlakunya fasilitas e-Samsat di Pulau Jawa dan Bali dan aplikasi Registrasi dan Identifikasi Elektronik (ERI). Ia juga mengungkapkan keberhasilannya mengatasi permasalahan dalam arus mudik Lebaran 2017.

    "Modernisasi juga digunakan untuk arus mudik. Sebelumnya mudik selalu menimbulkan masalah rumit, tapi pada tahun ini kami mampu meminimalisir masalah dan tingkat kecelakaan," katanya.

    Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Forum Polantas Asean (ATPF) 2017. Forum ATPF ke-2 ini akan digelar di Jakarta dan Bali sejak 14-18 November 2018. Forum ini dihadiri para delegasi dari sejumlah negara Asean yakni Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam dan Vietnam.

    Terkait kecelakaan di Indonesia, Validnews pernah membuat tulisan berjudul Mengurai Pelik Problematika Kecelakaan Lalu Lintas dan Solusi Holistik Upaya Penanganan Kecelakaan. Dari dua tulisan ini didapati data Korlantas Polri, bahwa sejak April hingga Juni tahun 2017 tercatat ada 25.148 kecelakaan yang terjadi dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 5.609 orang.

    Kemudian data terakhir yang dimiliki institusi tersebut menunjukkan bahwa jumlah kecelakaan yang tercatat di Indonesia ada sebanyak 24.770 kejadian dengan total jumlah kerugian material kendaraan sebesar Rp53.445.330.992. Dari jumlah tersebut, tercatat korban meninggal sebanyak 6.474 orang, luka berat sebanyak 4.099 orang dan luka ringan sebanyak 29.342 orang.

    Kemudian jumlah kecelakaan lalu lintas di jalan tol pada tahun 2015 berjumlah 1.030 dengan korban meninggal sebanyak 72 jiwa. Fakor penyebab dari kecelakaan ini dikategorikan menjadi tiga yaitu faktor pengemudi sebanyak 840 kecelakaan, faktor kendaraan sebanyak 181 kecelakaan, dan faktor lingkungan sebanyak 3 kecelakaan. Sebanyak 81% kecelakaan di jalan tol didominasi disebabkan kelalaian manusia. (Jenda Munthe, Rohadatul Aisy)