GELAGAPAN MENDONGKRAK KUALITAS PENDIDIKAN

Kampus Diminta Mampu Cetak Pengusaha Baru

Perguruan tinggi sudah seharusnya menghasilkan pebisnis baru, sehingga bisa membantu pemerintah dalam mencari jalan keluar dari masalah pengangguran dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru

  • Ilustrasi aktivitas belajar mengajar di Kampus. anakUI.com
    Ilustrasi aktivitas belajar mengajar di Kampus. anakUI.com

    JAKARTATak hanya menciptaan lulusan siap kerja, perguruan tinggi diminta juga menghasilkan pebisnis-pebisnis baru yang dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Keunggulan lokal sudah seharusnya bisa dioptimalkan perguruan tinggi dalam mencetak pengusaha.

    "Perguruan tinggi sudah seharusnya menghasilkan pebisnis baru sehingga bisa membantu pemerintah dalam mencari jalan keluar dari masalah pengangguran dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru," kata Rektor Universitas Tarumanagara Agustinus Purna Irawan di Jakarta, Rabu (23/5) seperti dilansir Antara

    Ia melanjutkan, perguruan tinggi juga sudah selayaknya memiliki komitmen untuk tidak menghasilkan para pengangguran. Apalagi, lanjutnya, Indonesia memiliki potensi lokal, tapi belum dikembangkan dengan maksimal, untuk mendorong pertumbuhan pengusaha nasional.

    Keunggulan lokal yang dimaksud dimulai dari makanan, budaya hingga keindahan alam yang tidak dimiliki oleh negara lain.

    "Kita punya keunggulan lokal yang bisa diangkat ke kancah internasional, contohnya rendang. Siapa sekarang yang tidak tahu dengan rendang, salah satu makanan terlezat di dunia. Yang terpenting adalah bagaimana mengangkat keunggulan lokal ke dunia internasional,” tuturnya.

    Setiap tahun pihaknya mengadakan Pekan Wirausaha atau Entrepreneur Week (EW) yang diselenggarakan pada 18 Mei hingga 20 Mei 2018. Kegiatan tersebut merupakan ajang penerapan rencana bisnis, sebagai bagian dari proses pembelajaran kewirausahaan yang diberikan kepada mahasiswa.

    Menurut Agustinus, pekan wirausaha itu sangat penting dilakukan agar mahasiswa tidak hanya tahu teori tetapi juga praktik. "Dengan menanamkan pola pikir wirausaha, maka perguruan tinggi menyiapkan mahasiswa agar siap menjadi wirausaha saat mereka lulus,"imbuhnya.  

    Selain itu, di dalam kurikulum mahasiswa dipersiapkan sejak semester pertama mendapatkan mata kuliah yang terkait dengan berbagai aspek kewirausahaan. Jadi, kelak memiliki bekal dalam membangun bisnisnya sendiri.

     

     

    Pusat Kajian
    Sebelumnya, Sekolah tinggi ilmu komunikasi London School of Public Relations (LSPR) di Jakarta, juga mengaku berkomitmen mendorong mahasiswa dan lulusannya menjadi pengusaha yang kreatif dan inovatif melalui berbagai media pembelajaran.

    "Rasa untuk menjadi pengusaha dan kualitas kewirausahaan harus dibangun dalam pikiran para mahasiswa sejak dini. Pola pikir kewirausahaan akan menumbuhkan bisnis baik yang berskala kecil atau pun besar," kata Pendiri dan Direktur LSPR Prita Kemal Gani pada peluncuran Pusat Kajian Kewirausahaan Kreatif ASEAN (CACS) di Jakarta baru-baru ini.

    Pusat kajian tersebut dibangun sebagai lembaga pendukung pembelajaran guna mempersiapkan mahasiswa menjadi penggiat usaha yang kreatif. Menurut Prita, banyak pengusaha membutuhkan bantuan ahli komunikasi guna membantu mereka dalam mempromosikan bisnis kepada masyarakat.

    Hal ini bertujuan membangun pemahaman dan menarik perhatian masyarakat tentang produk dan layanan yang dijual. "Ingat bahwa orang suka membeli dari orang yang mereka sukai. Jadi, mahasiswa yang belajar ilmu komunikasi perlu belajar tentang kewirausahaan," tuturnya.

    Dia melanjutkan bahwa mahasiswa yang belajar ilmu komunikasi serta studi kewirausahaan akan segera menjadi pengusaha yang sukses. Ini karena mereka memiliki dua kualitas, yakni keterampilan kewirausahaan dan keterampilan komunikasi.

    Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2015 menyebutkan bahwa ekonomi kreatif Indonesia adalah salah satu sektor bisnis utama yang perlu didorong, diperkuat dan dipromosikan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Prita menyebutkan, Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) memprediksi pertumbuhan sektor kreatif di Indonesia pada 2018 akan mencapai 6,25% dan mempekerjakan 16,70 juta orang.

    "Di Indonesia, sektor kuliner akan memimpin perubahan, diikuti oleh fashion, aplikasi, film dan musik," katanya.

    Ia menambahkan, dengan alas an inilah LSPR mendirikan pusat kajian kewirausahaan, agar bisa memotivasi para mahasiswa untuk menjadi pengusaha di industri kreatif. Kehadiran Pusat Kajian Kewirausahaan Kreatif ASEAN diharapkan dapat mempersiapkan mahasiswa berkualitas tinggi yang akan menjadi lulusan, dengan kompetensi di bidang bisnis kreatif.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengakui, saat ini Indonesia masih kekurangan jumlah pengusaha. Menurutnya, di negara maju, rata-rata 14 persen penduduknya berprofesi sebagai pengusaha. “Sementara di kita, angkanya masih 3,1%. Artinya perlu percepatan," ujar Presiden saat menerima rombongan pengusaha dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) beberapa waktu lalu.

    Joowi pun mengapresiasi langkah-langkah Hipmi yang aktif menyebarkan menebarkan nilai-nilai entrepreneurship sekolah, kampus, pondok pesantren. "HIPMI memang perlu terus mengajak rekan-rekannya. Ada HIPMI goes to school, HIPMI goes to campus dan nanti ada lagi HIPMI goes to pesantren. Ini akan mempengaruhi anak-anak muda sekarang untuk menyukai bidang kewirausahaan," tuturnya.

    Hipmi sendiri mendorong pihak eksekutif dan legislatif untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) kewirausahaan. Ketua Umum HIPMI Bahlil Lahadalia menilai, penyelesaikan Rancangan Undang-Undang (RUU) kewirausahaan sangat penting karena menjadi wadah kreatifitas dan inovasi pengusaha muda di Indonesia.

    Dengan adanya landasan hukum tersebut bisa meningkatkan jumlah pengusaha di Indonesia sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. "Jadi mendorong orang jadi pengusaha ini harus by design. Nah ini kita lakukan lewat regulasi. RUU Kewirausahaan wajib dilakukan untuk menghindari ketimpangan ekonomi," tandasnya. (Faisal Rachman)