KPK Tahan Mantan Pengacara Setnov

Fredrich Yunadi ditahan seusai diperiksa sebagai tersangka tindak pidana dengan sengaja mencegah, merintangi penyidikan dugaan tindak pidana korupsi proyek KTP-elektronik atas tersangka Setya Novanto

  • akil Ketua KPK Basaria Panjaitan memberikan keterangan terkait penetapan tersangka baru di gedung KPK Jakarta, Rabu (10/1). KPK menetapkan mantan penasehat hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi dan dokter dari RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo menjadi tersangka karena diduga menghalangi penyidik KPK dalam pengusutan kasus dugaan korupsi KTP elektronik. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras/18
    akil Ketua KPK Basaria Panjaitan memberikan keterangan terkait penetapan tersangka baru di gedung KPK Jakarta, Rabu (10/1). KPK menetapkan mantan penasehat hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi dan dokter dari RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo menjadi tersangka karena diduga menghalangi penyidik KPK dalam pengusutan kasus dugaan korupsi KTP elektronik. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras/18

    JAKARTA – Komisi Pembarantasan Korupsi  (KPK) menahan mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi seusai diperiksa sebagai tersangka tindak pidana dengan sengaja mencegah, merintangi penyidikan dugaan tindak pidana korupsi proyek KTP-elektronik atas tersangka Setya Novanto.

    Dilansir dari Antara, Sabtu (13/1) Fredrich keluar sekitar pukul 11.05 WIB dari gedung KPK Jakarta setelah ditangkap dan dibawa ke gedung itu pada sekitar pukul 00.05 WIB. Ia ditahan selama 20 hari pertama di rumah tahanan (rutan) Jakarta Timur klas I cabang gedung KPK.

    "Saya sebagai seorang advokat melakukan tugas dan kewajiban saya membela Pak Setya Novanto, saya difitnah katanya melakukan pelanggaran," kata Fredrich yang sudah mengenakan rompi tahanan warna oranye saat keluar gedung KPK.

    Fredrich mengaku bahwa ia merasa "dibumihanguskan" oleh KPK.

    "Namun sekarang saya dibumihanguskan, adalah suatu pekerjaan yang diperkirakan ingin menghabiskan profesi advokat. Hari ini saya diperlakukan oleh KPK berarti semua advokat akan diperlakukan hal yang sama dan ini akan diikuti oleh kepolisian maupun jaksa. Jadi advokat sedikit-sedikit disebut menghalangi," ungkap Fredrich

    Ia pun mengaku mendapat laporan bahwa ada salah seorang anak buahnya yang mendapat ancaman saat KPK melakukan penggeledahan di kantornya pada Kamis (11/1).

    "Anak buah saya mengirim foto ada orang KPK melakukan penggeledahan, anak buah saya cewek dapat ancaman katanya `kamu menghambat penyidikan, kamu bisa dijerat pasal 21`," cerita Fredrich.

    Fredrich dengan tegas membantah melakukan skenario untuk menghalangi penyidikan Setya Novanto dalam kasus KTP-E.

    "Sama sekali tidak ada, buktikan, itu permainan. Tidak ada itu sesuatu hal rangkaian itu namanya skenario ingin membumihanguskan, bohong semua," ungkap Fredrich.

    Ia mempertanyakan penangkapan terhadap dirinya.

    "Yang jelas satu, sekarang ya saya baru tidak memenuhi surat panggilan pertama untuk datang jam 10, tetapi jam 8 (malam) sudah datang untuk paksa dijemput, belum sampai 24 jam. Penangkapan itu kan tidak bisa dilakukan, harus setelah dua kali panggilan, ini satu kali panggilan saja belum selesai," tegas Fredrich.

    Pengacara yang pernah mengaku suka kemewahan itu juga sudah menyiapkan pengacara untuk membela dirinya. Fredrich tiba di gedung KPK pada Sabtu (13/1) dini hari sekitar pukul 00.08 WIB dengan dikawal oleh penyidik KPK Ambarita Damanik dan sejumlah petugas lainnya.

    Ia tampak mengenakan kaus hitam, celana jeans dan sepatu hitam dengan hanya membawa secarik kertas turun dari mobil petugas KPK.

    Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, alasan penjemputan Fredrich dikarenakan sebelumnya eksponen pengacara Setya Novanto itu mangkir dalam pemanggilan untuk diproses sebagai tersangka. Fredrich melalui kuasa hukumnya Sapriyanto Refa malah meminta KPK bisa menunda pemeriksaan sampai adanya putusan terkait pemeriksaan Fredrich oleh Komisi Pengawas Peradi tersebut.

    Sementara menururt Febri proses penyidikan terhadap Fredrich di KPK tentu berjalan terpisah dengan proses pemeriksaan di Peradi tersebut. Alasannya karena bukan domain KPK juga untuk membatasi atau memberikan waktu pada organisasi profesi.

    "KPK sudah lakukan pemanggilan secara patut untuk hadir diperiksa sebagai tersangka pada hari Jumat, dan kami juga sudah ingatkan agar datang dalam panggilan tersebut. Penyidik telah menunggu sampai hari kerja berakhir di Jumat ini. Setelah itu, diputuskan untuk melakukan pencarian FY di beberapa lokasi di Jakarta hingga ditemukan di salah satu tempat di Jakarta Selatan," ucap Febri.

    Sebelumnya pada Jumat (12/1) malam, KPK menahan dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo seusai diperiksa sebagai tersangka dalam kasus yang selama di Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur untuk 20 hari pertama.

    Fredrich dan Bimanesh diduga bekerja sama untuk memalsukan tersangka Setya Novanto ke rumah sakit untuk dilakukan rawat inap dengan data-data medis yang diduga dimanipulasi sedemikian rupa untuk menghindari panggilan dan pemeriksaan oleh penyidik KPK termasuk dengan menyewa satu lantai di RS Medika Permata Hijau.

    Atas perbuatannya tersebut, Fredrich dan Bimanesh disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

    Pasal tersebut mengatur mengenai orang yang sengaja mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang terdakwa dalam perkara korupsi dapat dipidana maksimal 12 tahun dan denda paling banyak Rp600 juta. (Fadli Mubarok)