KPAI Tangani Perundungan Siswa SD di Jakarta Timur

Dalam unggahan di Facebook, JSZ disebutkan mengalami kekerasan fisik salah satunya luka di tangan akibat tusukan pena

  • Sejumlah pelajar Ilustrasi melakukan teatrikal saat menggelar aksi menolak bulliying (penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain) di SMK 17 Temanggung, Jateng. ANTARA FOTO/Anis Efizudin
    Sejumlah pelajar Ilustrasi melakukan teatrikal saat menggelar aksi menolak bulliying (penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain) di SMK 17 Temanggung, Jateng. ANTARA FOTO/Anis Efizudin

    JAKARTA – Perundungan terhadap siswa etnis dan agama minoritas berinisial JSZ di sekolah dasar (SD) kawasan Pasar Rebo Jakarta Timur yang beredar di media sosial Facebook ditelusuri oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

    Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty mengatakan hasil penelusuran membuktikan informasi yang tersiar di Facebook perihal perundungan benar adanya. Hanya informasi mengenai keberadaan sekolah dimaksud yang disebutkannya kurang tepat.

    Sebelumnya beredar simpang siur mengenai dugaan kasus perundungan JSZ yang kerap mendapatkan kekerasan baik fisik, verbal maupun psikis dari lingkungan sekitarnya terutama rekan sekolahnya. Guru di sekolah tersebut juga diduga melakukan pembiaran terhadap tindakan perundungan tersebut.

    "KPAI akan melakukan penelusuran dan mediasi dengan pihak-pihak terkait, memastikan agar ananda JSZ bisa mendapatkan haknya dengan layak," kata Sitti, dilansir dari Antara, Selasa (31/10).

    Sitti menegaskan, kasus perundungan yang dilatarbelakangai masalah etnis menjadi perhatian serius KPAI. KPAI mencatat sepanjang tahun 2016 tercatat 81 anak menjadi korban perundungan di sekolah.

    Terlebih JSZ bukan berasal dari kalangan mayoritas dan perundungan terjadi di sekolah negeri. Pemenuhan terhadap hak anak kata Sitti seharusnya berlaku untuk semua kalangan, termasuk minoritas.

    Hal ini diatur dalam UU perlindungan anak No 35/2014 yang memastikan setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dan pendidikan sesuai dengan agama dan keyakinan dianut.

    "Kepentingan anak bukanlah soal jumlah, setiap anak berhak mendapatkan jaminan dari negara. Meskipun ananda JSZ hanya satu-satunya yang berbeda keyakinan agamanya," kata dia. 

    Informasi perundungan dialami JSZ menjadi viral di Facebook setelah diunggah oleh salah satu kerabatnya. Dalam unggahan disebutkan dia mengalami kekerasan fisik, antara lain tangannya terluka oleh tusukan pena. Akibat perundungan yang dialaminya, JSZ yang tercatat sebagai siswa kelas 3 tak masuk sekolah selama dua minggu.

    Selain korban bullying, KPAI selama ini diketahui menyoroti berbagai persoalan melibatkan anak, baik sebagai pelaku maupun korban. Data dimiliki KPAI, tahun 2016, rata-rata kasus melibatkan anak sebagai korban kejahatan maupun pelaku mengalami penurunan. Untuk tawuran misalnya, dari berjumlah 126 anak di tahun 2015 menjadi 41 anak yang kedapatan terlibat tawuran di tahun 2016.

    Menurunnya perilaku negatif anak tak lepas dari peran orangtua mengajarkan pendidikan agama sebagai benteng dari pergaulan negatif. Hal itu dikemukakan Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah dalam acara sosialisasi pola asuh orang tua terhadap Siswa SD kelas 1—6 yang diikuti oleh 280 orang tua siswa se-Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Kecamatan Larangan.

    Walikota menekankan peranan orangtua sangat menentukan pengembangan pola pikir sang buah hati. Ia mengingatkan agar para orang tua dapat membuka wawasannya tentang pola mendidik anak dan dapat menyesuaikan dengan perkembangan jaman.

    “Pola pendidikan kita harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman agar bisa sesuai dengan apa yang diinginkan oleh anak - anak," tegasnya.

    Data status pelaporan klasifikasi narapidana anak per-UPT wilayah-wilayah di Indonesia hingga Juli 2016 ada 14.584 narapidana anak di Indonesia. Dengan 2.784 diantaranya merupakan narapidana kelas II A Bekasi, Kanwil Jawa Barat.

    Sedangkan Tanggerang yang merupakan Kanwil Banten memiliki 290 narapidana anak pada lapas anak pria klas II A Tanggerang dan 7 narapidana anak pada lapas anak wanita klas II B Tanggerang. (Zsazya Senorita)