KOPI JAWA, SI PERANGSANG REVOLUSI DUNIA

Tak banyak yang tahu, ada beberapa kejadian besar dunia yang terdampak dari dahsyatnya kopi.

  • Ilustrasi kopi jawa. ANTARA FOTO/Novrian Arbi
    Ilustrasi kopi jawa. ANTARA FOTO/Novrian Arbi

    Oleh: Novelia, M.Si*

    “Lo di mana? Gue udah di Starbucks ya, sambil nyicil tugas bagian gue.”

    Terdengar sekilas percakapan via telepon dari seorang mahasiswa di tengah riuh aktivitas dalam sebuah kedai kopi modern. Sambil menunggu teman datang, ia memilih sibuk dengan laptopnya, mulai mengerjakan tugas kelompok yang diberikan dosen.

    Starbucks sendiri dapat dikatakan sebagai pembuka jalan bagi tren di mana kedai kopi tidak lagi menjadi sekadar tempat berkumpul dan menikmati sajian, namun juga sebagai tempat yang nyaman untuk bekerja (working space). Dengan kenyamanan dan layanan internet gratis, Starbucks mampu mengekstensi kedai kopi menjadi bagian gaya hidup. Terhitung hingga kuartal ketiga tahun 2017, perusahaan ini telah memiliki 26.736 toko yang tersebar di seluruh dunia (Knoema, 2017). Eksistensi Starbucks pada akhirnya memicu munculnya berbagai kedai kopi lain dengan konsep serupa. Kopi, sebuah sajian yang kerap dipandang sebelah mata dari segi kesehatan karena dianggap menyebabkan berbagai penyakit, nyatanya digemari berbagai kalangan, utamanya anak muda.

    Kedai kopi yang awalnya hanya jadi pilihan icip-icip dan tempat pertemuan santai, kini dapat juga menjadi lokasi diskusi dan tukar pikiran. Namun, ternyata fenomena di mana kedai kopi hadir sebagai tempat terjadinya percakapan intelektual telah terjadi sejak abad ke-17. Bahkan, percakapan-percakapan bernuansa kafein itulah yang menjadi cikal bakal terjadinya dua revolusi besar dunia, yaitu Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis. Dan tahukah kita, jika kopi-kopi dari Indonesia, terutama Jawa, lah yang mungkin saja bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut?

    Hikayat Dalem Dicondre
    Tidak semua dari kita, yang bahkan penduduk Indonesia sendiri, yang tahu bahwa Jawa cukup identik dengan kopi. Hal ini juga bahkan yang membuat JavaScript, sebuah bahasa script yang populer di internet, disandingkan dengan logo kopi oleh para mahasiswa di Amerika yang membuatnya.

    “Java itu di sana adalah kopi. Sehingga, sampai istilahnya logo Javascript itu, yang ada gambarnya cangkir itu, itu konotasinya adalah kopi. Java itu adalah kopi,” ujar Prawoto Indarto, peneliti dan peminat kopi, ketika menjadi pembicara dalam acara “Riwayat Kopi di Era Hindia Belanda” yang diselenggarakan Historika Indonesia (24/2).

    Kopi Jawa mulai populer setelah sebelumnya Gubernur Jenderal VOC di awal abad ke-17 mengambil benih tanaman terkait untuk dianalisis di Belanda. Hasil studi tersebut menyatakan bahwa kopi dari tanah Jawa berkualitas sangat baik, dan oleh karena itu pada tahun 1707 direncanakan penanamannya secara besar-besaran di sana.

    Awalnya, kopi mulai ditanam di daerah pinggiran seperti Kerawang dan Bekasi. Namun, setelah diuji, daerah dataran tinggi ternyata menghasilkan kualitas yang lebih baik. Hal ini terbukti setelah pada tahun 1711 kopi-kopi dari Cianjur dibawa oleh VOC untuk dilelang di Amsterdam dan harganya meledak.

    Akhirnya, Pemerintah Hindia Belanda bekerja sama dengan Bupati Priangan untuk melakukan penanaman kopi, yang kemudian dikenal dengan sistem Koffie Stelsel. Kebijakan ini kemudian yang juga dikenal sebagai Preanger Stelsel karena komoditas-komoditas lainnya dari Cianjur juga diperdagangkan, namun tetap kopi sebagai tanaman wajibnya. Preanger Stelsel inilah yang kemudian menjadi awal mula Cultur Stelsel yang lebih umum dikenal di berbagai buku teks.

    Kekuatan kopi di tanah Jawa sedikitnya menyisakan satu tragedi di era Hindia Belanda ini. Tersebutlah kisah yang dikenal masyarakat dengan “Dalem Dicondre”, yang menceritakan kematian Wira Tanu III, Bupati Cianjur, yang meninggal ditusuk condre (sejenis keris) pada tahun 1726. Ada dua versi cerita yang menjadi latar belakang kisah ini, yaitu pemberontakan dan masalah asmara (Suryaningrat, 1982).

    Wira Tanu III terkenal sebagai pejabat yang sangat tegas memberlakukan sistem tanam paksa di wilayahnya. Perangai ini tentunya sangat disukai oleh VOC, namun sebaliknya dibenci oleh para rakyat yang menderita. Pada versi pertama, Wira Tanu III dikisahkan melakukan korupsi dalam pengelolaan Koffie Stelsel. Ia hanya memberikan bayaran kopi 12,5 gulden pada Belanda dari yang seharusnya 17,5 gulden, sementara sisanya digunakan sendiri. Rakyat yang marah kemudian berontak dan akhirnya menusuk Wira Tanu III dengan condre.

    Versi kedua kisah meninggalnya Bupati Cianjur tersebut berbeda lagi adanya, yaitu disebabkan problema cinta. Dalam versi ini, Wira Tanu III jatuh cinta kepada seorang gadis cantik asal Cikembar yang bernama Apun Gentay. Apun Gentay yang sebenarnya sudah memiliki kekasih dari Citeureup pun dipanggil ke Pendopo. Pukul empat petang, Apun Gentay datang bersama seorang lelaki yang ternyata kekasihnya, namun dikira hanya sekadar pengiring. Saat Apun Gentay diperintah mendekat, lelaki tersebut ikut mendekat dan dengan cepat menusukkan sebuah condre pada Wira Tanu III hingga tumbang dengan isi perut keluar.

    Mas Purwa, saudara Wira Tanu III yang berada di lokasi, langsung saja mengejar pelaku penusuk condre. Lelaki tersebut akhirnya tewas dipenggal Mas Purwa setelah sebelumnya bertarung di alun-alun. Sementara, Wira Tanu III akhirnya meninggal di malam hari.

    Masih belum terpecahkan versi mana yang benar, namun sebagian besar warga Cianjur masih mempercayai versi masalah percintaan sebagai penyebab tragedi ini. Akan tetapi, beberapa mengkritisi bahwa versi kedua itu hanya kisah yang dibuat-buat untuk menutupi pemberontakan di era Koffie Stelsel.

    Kopi Jawa, Revolusi Perancis, Revolusi Amerika
    Di sisi lain, budidaya Kopi Jawa terus berkembang. Pada tahun 1726, bersamaan dengan tahun meninggalnya Wira Tanu III, kopi dari Priangan telah mendominasi dataran Eropa yaitu sebanyak 90%. Kopi-kopi tersebut yang akhirnya dikenal dengan Java Coffee (Indarto, 2018).

    Pada era bersamaan, pertama kali dikenal masyarakat Eropa di abad 17, minum kopi menjadi tren, terutama di Paris. Kedai kopi menjadi lokasi yang dipilih para pemuda untuk menghabiskan waktu berjam-jam. Voltaire, Benyamin Franklin, dan Napoleon (Bonaparte), adalah beberapa di antaranya. Ditemani masing-masing secangkir kopi, percakapan mereka, termasuk di dalamnya yang membahas tentang filosofi, hak-hak pribadi, hingga monarki, menjadi kian hangat dan cerdas (Laksono, 2013).

    Di Paris, kedai kopi menjadi tempat para tokoh pemicu revolusi berkumpul serta berdiskusi hingga larut di Café Procope di rue de I’Ancienne Comedie. Voltaire bahkan biasa meminum hingga empat puluh gelas kopi yang dicampur cokelat dalam sehari saja. Di kedai inilah ide-ide pencerahan akan revolusi Perancis kemudian terlahir.

    Berkawan dengan Voltaire, sebagai diplomat Amerika di Paris, Benyamin Franklin dan Jefferson juga tak jarang menghabiskan waktunya di Café Procope (Laksono, 2013). Sementara di Amerika sendiri, The Sons of Liberty, para patriot, salah satunya Paul Revere, selalu berkumpul di Green Dragon Tavern. Diskusi-diskusi yang meliputi masa depan Amerika dan pergerakan tentara Inggris saat itu pun akhirnya menjadi titik terang menuju Boston Tea Party (1773) – sebuah peristiwa besar yang menjadi pemicu Revolusi Amerika. Karena hal itulah kemudian kedai ini juga dikenal dengan sebutan The Headquarters of Revolution.

    Di Green Dragon Tavern, bahkan para pengunjung memiliki kode-kode tertentu. Orang-orang yang minum teh diasumsikan sebagai simpatisan Inggris, loyalis dari King George. Sementara, para peminum kopi merupakan para patriot pejuang Amerika.

    Ada benang merah bila mengaitkan fenomena di Eropa ini dengan perkembangan Kopi Jawa di awal abad 17. Kopi Jawa mulai mendominasi pasar Eropa pada tahun 1720-an. Kemudian di tahun-tahun berikutnya, beberapa pemikir di tanah tersebut mulai menggandrungi kedai kopi sebagai tempat berdiskusi yang melahirkan ide-ide pemicu revolusi.

    “Voltaire ini sempat membuat satu statement, bahwa kopi itu telah menstimulir gelombang otak saya (Voltaire) sehingga melahirkan satu ide brilian dan berani yang mengubah sejarah manusia melalui Revolusi Perancis,” jelas Indarto (2018). Ide yang dimaksud oleh Voltaire di sini adalah essay yang ditulisnya pada tahun 1727, yang kemudian menjadi cikal bakal Revolusi Perancis.

    Indarto menjelaskan, bila diurutkan secara kronologis, hal ini akan sangat menarik. Bagaimana tidak? Pada tahun 1726 kopi Jawa mendominasi kopi-kopi di Eropa. Di sisi lain, Voltaire yang menjadi salah satu pelopor Revolusi Perancis, menulis essay-nya setahun setelah itu, serta mengakui bahwa kopi yang ia favoritkan turut mendukung ide-idenya. Sehingga, sangat besar kemungkinan kopi Jawa-lah yang dimaksud sang pemikir tersebut, yang kemudian bertanggung jawab atas Revolusi Perancis.

    “Apakah ini ada kaitannya? Antara Kopi Jawa, terutama Kopi Jawa Barat, dengan Revolusi Perancis? Karena Voltaire mengungkap essay-nya itu tahun 1727. (Sementara pada tahun) 1726 (sebanyak) 90% kopi Eropa adalah Kopi Jawa. Bisa jadi.”

     

    Kafein dan Ide Cemerlang
    Ternyata bukan cuma Voltaire yang mengakui dahsyatnya kekuatan kopi. Beberapa pemikir lain pun tak menyangkalnya, sebut saja Jonathan Swift, seorang penulis essay berkebangsaan Irlandia yang tertarik kepada dunia politik dan agama. Swift (dalam Laksono, 2013) memuji kopi dengan mengatakan, “Coffee makes us severe, and grave, and philosophical.”

    Pada buku teks The Pharmacological Basic of Therapeutics (Goodman & Gilman, 1970), Dr. J. Murdoch merangkum efek-efek yang ditimbulkan kafein dalam kopi, teh, soda, serta minuman lainnya. Beberapa efek baik dari kafein terkait dengan bagaimana zat ini menstimulir kerja korteks serebral, yaitu bagian otak yang menangani ‘pemikiran yang lebih tinggi’. Korteks serebral ini berfungsi menciptakan alur pikiran yang lebih jelas dan cepat, serta mengatasi kantuk dan kelelahan.

    Seseorang yang mengonsumsi kafein akan lebih mampu melakukan aktivitas intelektual yang lebih besar dan memancing ide-ide yang lebih sempurna (Goodman & Gilman, 1970). Zat ini akan memicu aktivitas motorik yang lebih baik, membuat kecepatan meningkat saat bekerja dan mengurangi kesalahan.

    Mendorong Kecerdasan dengan Diskusi Kedai Kopi
    Dengan kebaikan kopi terhadap otak, tak heran jika banyak di antara para pemikir yang sebelumnya dibahas, merupakan penikmat loyal minuman ini. Bahkan Isaac Newton, salah satu ilmuwan paling berpengaruh dunia, memiliki hobi minum di kedai kopi Grecian Coffee House di London.

    Bibit Kopi Jawa yang diberikan oleh wakil Pemerintah Hindia Belanda kepada Louis XIV, menjadi awal mula merebaknya tren kedai kopi di Paris, yang kemudian menjadi tombak-tombak revolusi dunia. Menjadi lokasi di mana warga dapat berkumpul dan bersosialisasi, kedai kopi mendorong fungsi ruang publik dalam memfasilitasi lahirnya intelegensia kota (Laksono, 2013). Berbagai ide dan gerakan besar terpicu dari diskusi dan debat yang terjadi di sini.

    Ruang publik menjadi vital karena peranannya, baik bagi kota itu sendiri maupun seluruh bangsanya, sebagai pusat ide kota yang mendorong berbagai kreativitas.  Sebagai satu ruang publik, kedai kopi tentunya juga menyimpan harapan tersebut.

    Maka dari itu, tren menghabiskan waktu di kedai kopi yang sedang digandrungi muda-mudi dapat menjadi awal yang baik. Mungkin saja habitus ini dapat menjadi pintu gerbang terbitnya ide-ide besar yang bermanfaat tak hanya bagi sekelompok orang saja, namun juga bagi generasi setelahnya. Siapa tahu?

    *Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

     

    Referensi:

    Goodman, L. S., & Gilman, A. (1970). The Pharmacological Basic of Therapeutics, 4th ed. New York: McGraw Hill.

    Indarto, P. (2018, Februari 24). Diskusi Riwayat Kopi di Era Hindia Belanda. Jakarta, Indonesia: Historika Indonesia.

    Knoema. (2017, Oktober 29). Retrieved Maret 6, 2018, from Number of Starbucks Stores Globally, 1992-2016: https://knoema.com/kchdsge/number-of-starbucks-stores-globally-1992-2016

    Laksono, E. (2013). Metropolis Universalis: Belajar Membangun Kota yang Maju dari Sejarah Perkembangan Kota di Dunia. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

    Suryaningrat, B. (1982). Sajarah Cianjur Sareng Raden Aria Wira Tanu Dalem Cikundul Cianjur. Jakarta: Rukun Warga Cianjur.