LIMBUNG BERDAULAT DI DUNIA MAYA

KONSUMERISME TAK BERSUARA DUNIA MAYA

Keberadaan internet dan media sosial memberikan celah bagi para penggunanya untuk memamerkan gaya hidupnya.

  • Sejumlah pembeli memilih berbagai merk sepatu yang dijual dengan potongan harga di gerai sepatu dan alat olahraga yang ada di pusat perbelanjaan Lotus di Jalan K.H. Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Rabu (25/10). PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mengumumkan penutupan tiga gerai Lotus akhir bulan Oktober ini menyusul telah ditutupnya dua gerai sebelumnya, melihat kinerja penjualan Lotus yang terus merosot serta alasan restrukturisasi perusahaan. ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf/foc/17.
    Sejumlah pembeli memilih berbagai merk sepatu yang dijual dengan potongan harga di gerai sepatu dan alat olahraga yang ada di pusat perbelanjaan Lotus di Jalan K.H. Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Rabu (25/10). PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mengumumkan penutupan tiga gerai Lotus akhir bulan Oktober ini menyusul telah ditutupnya dua gerai sebelumnya, melihat kinerja penjualan Lotus yang terus merosot serta alasan restrukturisasi perusahaan. ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf/foc/17.

    Oleh: Novelia, M.Si*

    Meskipun sangat membantu dalam memperoleh berbagai informasi, kehadiran dan perkembangan internet ternyata memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Terutama sejak penggunaan media sosial mulai marak, kegiatan konsumsi dengan tujuan memamerkan gaya hidup menjadi kebiasaan tak terhindarkan.

    Berdasarkan hasil survey APJII tahun 2016, di Indonesia akses terhadap media sosial menjadi hal prioritas yang mendominasi berbagai jenis hal yang menjadi tujuan pengguna internet, yaitu sebanyak 97,40%, mengalahkan hiburan di tempat kedua sebanyak 96,80%, dan berita di posisi ketiga dengan 96,40%. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial sudah menjelma menjadi kebutuhan tersendiri bagi sebagian orang.

    Tidak hanya berhenti pada kebutuhan akan akses pada media sosial ini sendiri, dampak lebih lanjut dari penggunaan berbagai platform bersosialisasi daring ini kemudian mengarah pada pembentukan gaya hidup tertentu yang dianggap ideal oleh penggunanya. Fitur-fitur yang terdapat di media sosial sangat memungkinkan penggunanya untuk berbagi kegiatan sehari-hari pada teman-teman yang mengikutinya. Tak jarang kesempatan ini digunakan para penggunanya untuk menunjukkan status kelas sosial tertentu.

    Informasi tentang keseharian seorang pengguna media sosial yang dibagikannya, dalam bentuk foto misalnya, dapat memberikan makna yang bervariasi. Terlebih ketika gambar atau foto yang dibagikan mengandung unsur komoditas tertentu yang bernilai ekonomi tinggi. Melalui komoditas atau barang tertentu yang ada dalam gambar yang dibagikan, seorang pengguna, secara sadar maupun tidak, telah membingkai gaya hidup seperti apa yang dianutnya.

    Gaya hidup sendiri merupakan hal yang telah dianggap penting oleh masyarakat Indonesia. Hal ini terungkap dari survei Mobile Browser Satisfaction Index yang dilakukan Opera di 6 kota besar Indonesia yaitu Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya Medan, dan Makassar. Berdasarkan survei ini, gaya hidup meraih perolehan terbesar, yakni sebanyak 57%, sebagai konten yang paling banyak dicari oleh pengguna browser. Menyusul setelahnya konten kesehatan sebanyak 52% dan pendidikan  sebanyak 50%.

     

    Unjuk Kelas dengan Budaya Konsumerisme
    Seperti lingkaran yang terus berputar, gaya hidup yang dibingkai oleh para pengguna media sosial juga tak jarang berawal karena terinspirasi dari akun-akun lain, baik teman maupun orang-orang yang berpengaruh di media sosial terkait. Paparan tersebut kemudian menggoda para pengguna media sosial untuk menjadi setara atau bahkan, kalau bisa, melebihi apa yang menginspirasi mereka. Setiap orang akhirnya berlomba-lomba menunjukkan status sosial melalui komoditas-komoditas yang mereka miliki.

    Baudrillard (1998: 60) mengatakan bahwa budaya konsumeris memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menandai dirinya sebagai anggota kelas tertentu, serta membedakan diri dari kelas di luarnya. Seperti pendidikan, konsumsi juga adalah institusi kelas di mana terdapat ketidaksetaraan dan diskriminasi seputar ekonomi dan selera.

    Kebutuhan untuk dianggap sebagai anggota kelas tertentu membuat masyarakat mencari hal berwujud dan dapat dilihat sebagai penanda. Seseorang tidak lagi membicarakan atau berbangga bahwa dirinya merupakan seorang dengan status sosial tinggi, namun cukup menunjukkannya melalui barang-barang yang ia konsumsi atau pakai.

    Dengan memberikan tanda tertentu pada dirinya, seseorang menganggap dirinya istimewa dan berbeda dengan kelompok ekonomi yang menurutnya lebih rendah. Dengan begitu, ada harapan bahwa orang-orang di sekitarnya otomatis memandangnya sebagai yang berkecukupan dan merupakan anggota sosial kelas atas.

    Konsumsi terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan, atau pemborosan, kemudian dianggap sesuatu yang wajar untuk mengafirmasi keberadaan dan memberikan makna pada diri seseorang. Masyarakat dikelabuhi perasaan serba berkecukupan, meski nyatanya mereka hanya terpenjara oleh tuntutan untuk mengaktualisasi diri akan eksistensi sosial.

    Hal inilah yang terjadi di berbagai media sosial. Tidak hanya melalui komoditas-komoditas yang dipakai seorang penggunanya dalam foto yang diunggahnya, berbagai kegiatan dan komunitas yang diikuti juga dapat ditunjukkan secara tidak langsung. Pengguna juga dapat menggunakan fitur lokasi untuk menunjukkan di mana ia terbiasa menghabiskan waktu bersama-sama. Semua ini merujuk kepada satu hal, yaitu upaya menunjukkan status sosial.

    Ibukota Pusat Konsumsi
    Dilihat dari data survei APJII pada tahun 2016, Pulau Jawa merupakan pusat penggunaan internet di Indonesia. Dengan jumlah 86.339.350 pengguna internet, pulau ini jauh meninggalkan daerah-daerah kepulauan lainnya. Bahkan, jumlah pengguna internet Pulau Sumatera yang berada di peringkat kedua masih terhitung kurang dari seperempat jumlah pengguna di Pulau Jawa, yaitu hanya 20.752.185 orang.

     

    Bila dihubungkan dengan data APJII sebelumnya yang menunjukkan media sosial sebagai hal yang paling menjadi tujuan berinternet.  Maka dapat dikatakan bahwa pengguna media sosial di Pulau Jawa pun mendominasi dibandingkan daerah-daerah lainnya di Indonesia.

    Seperti dijelaskan sebelumnya, penggunaan media sosial dapat memicu terjadinya persaingan gaya hidup yang mengakibatkan tingginya angka konsumsi, bahkan terhadap komoditas atau hal-hal yang tidak terlalu diperlukan.

    Berjalan beriringan dengan data persebaran penggunaan internet, rata-rata konsumsi atau pengeluaran tertinggi juga didominasi oleh Pulau Jawa, tepatnya ibukota DKI Jakarta. Dari Laporan Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia per Provinsi yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016, Jakarta tercatat sebagai provinsi dengan pengeluaran per kapita sebulan tertinggi, yaitu sebesar Rp2.025.115.Sementara untuk provinsi dengan pengeluaran terendah dipegang oleh Nusa Tenggara Timur sejumlah Rp665.315.

    Uniknya, jumlah kegiatan konsumsi di Jakarta yang tercatat tertinggi se-Indonesia tersebut lebih banyak diisi dengan pengeluaran yang bukan untuk makanan, yaitu sebesar 61,26%, sementara konsumsi untuk makanan hanya sejumlah sisanya. Padahal, masih bersumber dari data yang sama, pengeluaran per kapita dalam sebulan dari seluruh Indonesia didominasi oleh konsumsi untuk makanan sebesar 51,6%, menyisakan 48,39% untuk pengeluaran non-makanan. 

     

    Catatan ini mengindikasikan bahwa di Pulau Jawa, terutama Ibukota dan kota-kota besar sekitarnya, pangan bukan lagi hal utama yang menjadi kebutuhan hidup masyarakat. Konsumsi yang tidak ditujukan kepada makanan justru menjadi kegiatan yang utama di Jakarta. Dan salah satu dari konsumsi terhadap komoditas non-pangan ini sangat mungkin tertuju pada konsumsi demi kepentingan gaya hidup.

    Kompensasi terhadap Mobilitas Sosial
    Pada akhirnya, terkait ataupun tidak, data pengeluaran per kapita di Indonesia bergerak seirama dengan data penggunaan internet yang juga didominasi oleh Pulau Jawa. Seolah kedua hal ini, penggunaan internet dan gaya hidup, menjadi cerminan satu sama lain.

    Media sosial sebagai konten yang paling disukai masyarakat dalam menggunakan internet, dengan berbagai fiturnya, memfasilitasi para pengguna untuk menunjukkan kelas sosialnya. Para penggunanya dipancing untuk melakukan berbagai konsumsi, baik terhadap komoditas yang benar-benar dibutuhkan maupun tidak, demi mengisi konten profil masing-masing.

    Budaya konsumerisme mungkin bukan masalah bagi kelompok yang benar-benar mampu secara finansial. Namun, tak jarang ada kelompok yang melakukan konsumsi hanya demi terlihat sebagai kelompok kelas yang lebih tinggi, padahal sebenarnya bukan identitasnya. Konsumsi dipakai menutupi situasi asal kelas yang sesungguhnya sehingga bisa menjadi kompensasi mobilitas sosial (Baudrillard dalam Haryatmoko, 2016: 67).

    Diawali dengan keinginan untuk mengafirmasi diri, nafsu masyarakat akan konsumsi komoditas dan kebudayaan semakin menjadi. Konsumsi tidak jarang digunakan sebagai modal untuk melakukan kompensasi ketika seseorang tidak mampu memanjat tangga sosial yang lebih tinggi.

    Sebagai contoh, bagaimana masyarakat berebut mendapatkan model terbaru ponsel pintar untuk menandai ikutnya diri mereka terhadap tren kelompok kelas sosial atas. Padahal, tidak sedikit yang justru membayarnya secara kredit. Masyarakat memaksakan diri dan kondisi finansial yang tidak sesuai demi dianggap sebagai anggota kelas sosial di atas mereka. Hal ini dikhawatirkan akan justru menurunkan kesejahteraan masyarakat sendiri.

    Bagaimanapun, keputusan untuk membingkai gaya hidup masih menjadi hak masing-masing pribadi. Namun, menanggapi perkembangan siber yang makin mendukung kegiatan konsumsi berlebihan, maka perlu kiranya mengontrol kesadaran palsu yang terbangun dalam diri masyarakat. Masyarakat harus dibangunkan dari pemikiran bahwa dirinya kaya dan terpenuhi dengan menikmati segala barang dan jasa yang mendefinisikan kelas sosial atas, padahal nyatanya kekurangan dan sebatas meraih jiwa dari komoditas tersebut.

    *Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

    Referensi:

    Baudrillard, Jean. (1998). The Consumer Society: Myth and Structure. London: SAGE Publication.

    Haryatmoko. (2016). Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Yogyakarta: Kanisius.

    Badan Pusat Statistik. (2016). Laporan Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia per Provinsi.