KH Noer Alie, Ulama Pejuang Benteng Bekasi

  • KH. Noer Alie. dok.Channel Profil Pesantren Indonesia
    KH. Noer Alie. dok.Channel Profil Pesantren Indonesia

    JAKARTA- Jika mendengar nama KH Noer Alie, hal pertama yang terlintas di benak sebagian banyak anak muda saat ini mungkin hanyalah sepenggal nama jalan terusan dari Jalan Kalimalang ke arah Bekasi, Jawa Barat. Di luar itu, tak banyak yang kenal siapa sosok tokoh pejuang ini, termasuk penduduk Bekasi yang berasal dari daerah lain. 

    Padahal, menyebut nama Bekasi tidaklah afdol rasanya jika tak menghubungkannya dengan Nama KH Noer Alie. Ya, penerima gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana (diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara pada 9 November 2006) ini, namanya tak bisa dilepaskan dari sejarah Bekasi. 

    Nama KH Noer Alie sejatinya telah terpajang sebagai nama jalan sejak tahun 2002, empat tahun sebelum ia diberi gelar sebagai pahlawan nasional. Bagi penduduk asli Bekasi maupun orang Betawi pada umumnya, ulama dan pejuang ini bermakna besar.

    Penyematan gelar pahlawan nasional itu disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 85/TK/2006 yang terbit pada 3 November 2006, ini buat sebagian orang memang cukup terlambat. Sebelumnya pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, KH Noer Alie hanya diberikan gelar Bintang Nararya sebagai tanda penghargaan tertinggi kepada orang yang dianggap mampu menjaga keutuhan NKRI. 

    Lahir dari keluarga kelas menengah yang cukup berada, tidak sulit bagi Noer Alie untuk mengenyam sejumlah pendidikan. Kyai kelahiran Desa Ujungharapan Bahagia, Babelan 15 Juli 1914 ini merupakan putera dari pasangan Anwar bin Layu dan Maimunah bin Tarbin. Saat Noer Alie lahir, Ujungharapan Bahagia masih bernama Desa Ujungmalang, Onderdistrik Babelan, Distrik Bekasi, Regentschap Meester Cornelis, Residensi Batavia.

    Mengutip buku KH Noer Alie, Kemandirian Ulama Pejuang karya Sejarawan Ali Anwar yang diterbitkan Yayasan Attaqwa pada 2006, disebutkan jika Noer Alie kecil sudah banyak mendapat pelajaran dari para ulama tersohor. Contohnya ketika berumur tujuh tahun, ia telah berguru kepada Guru Maksum yang ada di Bekasi serta Guru Mughni yang berdomisili di Jakarta. Dari mereka pulalah, fondasi agama Noer Alie menjadi kokoh. 

    Berguru ke Mekkah

    Pada 1934 Noer Alie menuntut ilmu ke kota Makkah, Saudi Arabia. Selain mengaji di Madrasah Darul Ulum, Noer Alie juga menuntut ilmu dengan sejumlah syeikh atau ulama besar yang tersebar di lingkungan Masjidil Haram. Disana Noer Alie belajar ilmu hadits pada Syeikh ali Al-Maliki. Dari Syeikh Umar Hamdan belajar kutubu sittah atau hadits yang diriwayatkan enam perawi: Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’I, dan Ibnu Majah.

    Syeikh Ahmad Fatoni mengajarkan ilmu fiqih dengan kitab iqna sebagai acuannya. Melalui Syeikh Muhammad Amin Al-Quthbi, Noer Alie memperoleh ilmu nahwu, qawafi (sastra), dan badi’ (mengarang), tauhid dan mantiq (ilmu logika yang mengandung falsafah Yunani) dengan kitab Asmuni sebagai acuannya.

    Syeikh Abdul Zalil mengajarkan ilmu politik. Sedangkan Syeikh Umar Atturki dan Syeikh Ibnu Arabi mengajarkan ilmu hadits dan ulumul Qur’an. Setiap ungkapan dan perintah syeikh selalu disimak dan dilaksanakan. Sehingga Noer Alie bukan saja mampu menghafal pelajaran, tetapi juga mendapat barokat-ul-ilmu (berkah ilmu).

    Di Mekkah, Noer Alie muda bertemu seorang pelajar asing yang mempertanyakan alasan mengapa Belanda dapat menjajah Indonesia yang jauh lebih besar. Pertanyaan-pertanyaan tersebut lah yang memicu semangat nasionalisme Noer Alie. Ia pun aktif dalam organisasi kepemimpinan selama berada di Mekkah. Noer Alie bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia, Persatuan Talbah Indonesia (Pertindo), hingga Perhimpunan Pelajar Indonesia-Malaya. 

    Di sana, Noer Alie yang mudah bergaul memang memiliki banyak teman, terutama pelajar Betawi seperti Ali Syibromalisi, Hasbullah, Hasan Basri, Tohir Rohili, Mukhtar, Ahmad Djunaidi, Ahmad Arif Ismail, ASbdul Hamid, Abdul Hajar Maliki, Abdul Syakur Khoiri, dan Masturo. Dia juga menjalin hubungan dengan para pelajar dari berbagai negara lain, termasuk Muhammad Abdul Muniam Inada, pelajar Islam dari Jepang.

    Lewat berita di surat kabar, Noer Alie dapat mengetahui situasi dan kondisi dunia dan tanah airnya. Ia mendapat informasi, sejumlah perjuangan kaum pergerakan di negerinya dibatasi, bahkan beberapa dibubarkan. Semangat kebangsaan ini masuk ke relung hati Noer Alie dan kawan-kawannya di Makkah.

    Fondasi yang terpola di masa pertumbuhan itu, membuat Noer Alie muda matang dalam berpikir dan bertindak. Jadilah Noer Alie sebagai pemuda muslim yang nasionalis. Selain sebagai Ketua Persatuan Pelajar Betawi (PPB) Almanhajul Khoiri, Noer Alie juga aktif dalam Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Persatuan Talabah Indonesia (Perindo), dan Perhimpunan Pelajar Indonesia Melayu (Perindom).

    Santri berseragam berbaris di Pondok Pesantren Attaqwa Putra, Ujungharapan Bekasi.  dok.Channel Profil Pesantren Indonesia

    Pejuang Tanpa Seragam

    Tahun1939, pria ini menyudahi pendidikannya di tanah Arab. Ia memutuskan kembali ke tanah air untuk ikut berjuang melawan pemerintahan kolonial Belanda. Di awal perjuangannya, ia memilih berjuang melalui jalur pendidikan dengan membentuk pesantren Attaqwa di Ujungmalang, Bekasi (sekarang bernama Ujung Harapan).

    Di pesantren tersebut Noer Alie menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan menyemangati para muridnya untuk memperjuangkan kemerdekaan. Ketika kekuasaan penjajahan berganti dan jatuh ke tangan Jepang, Noer Alie pun tetap melawan, namun tidak secara frontal. 

    Untuk mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu bangsa Indonesia harus bertempur secara fisik, Noer Alie menyalurkan santrinya ke dalam Heiho (pembantu prajurit) dan Keibodan (barisan pembantu polisi) di Teluk Pucung. Noer Alie juga mempersilakan seorang santrinya, Marzuki Alam, mengikuti latihan kemiliteran Pembela Tanah Air (PETA)

    Pada awal proklamasi kemerdekaan, ia memperoleh informasi langsung dari badalnya (anak buah), Yakub Gani, yang menghadiri pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Saat rapat raksasa di lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monas) 19 September 1945 Noer Alie berangkat menggunakan delman.

    Sejak saat itulah ia membuka jaringan perjuangan yang lebih luas, baik di Bekasi maupun Jakarta dan membuatnya dikenal banyak orang. Sampai-sampau Bung Tomo menyebut-nyebut nama Noer Alie dalam beberapa kali siaran radionya di Surabaya, Jawa Timur. 

    Karena dalam tradisi Jawa Timur dan Jawa Tengah seorang ulama digelari Kiai, maka gelar “guru” yang melekat pada Noer Alie diganti oleh Bung Tomo menjadi “kiai haji”. Sejak saat itulah didepan nama Noer Alie tersandang gelar kiai haji (KH). Sekaligus menujukkan namanya disejajarkan dengan ulama besar lain di penjuru Nusantara.

    Fatwa Wajib Lawan Penjajah

    Sikap nasionalisnya yang terbentuk membuatnya tak rela menyaksikan agresi dan provokasi yang dilakukan tentara Sekutu untuk mengembalikan wilayah Indonesia kepada bangsa Belanda. Maka dia membentuk Laskar Rakyat pada November 1945. Badal dan santrinya diperintahkan memvakumkan proses belajar-mengajar Selama revolusi.

    Selanjutnya KH Noer Alie mengeluarkan fatwa wajib hukumnya berjuang melawan penjajah. Dalam waktu singkat KH Noer Alie menghimpun sekitar 200 orang yang merupakan gabungan santri dan pemuda disekitar Babelan, Tarumajaya, Cilincing, dan Muaragembong. Merka dilatih dasar-dasar kemiliteran oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Bekasi dan Jatinegara, seperti Anis Taminuddin, Darmukumoyo, dan Gondokusumo.

    Ia pun didaulat menjadi Ketua Laskar Rakyat Bekasi. Tidak hanya itu, Noer Alie pun diangkat menjadi Komandan Batalion III Hisbulah Bekasi. Ketika agresi militer Belanda yang pertama terjadi di Juli 1947, Noer Alie bahkan telah mendirikan dan mengomandani Markas Pusat Hisbullah Sabilillah Jakarta Raya yang berlokasi di Karawang. 

    Dari sanalah, taring Noer Alie makin tampak. Tanpa embel-embel seragam, ia menjadi “tentara pembela” Indonesia. Saat itu, kawasan Karawang sebenarnya telah porak-poranda oleh tangan Belanda. Hanya saja, Noer Alie belum menyerap. Ia memerintahkan massanya beserta masyarakat di kawasan Rawa Gede dan Karawang untuk menunjukkan Indonesia masih ada, Karawang belum diambil. 

    Simpel tetapi berhasil mengompori Belanda, saka Merah-Putih berukuran kecil yang terbuat dari kertas yang ditancapkan di setiap pohon dan rumah penduduk sukses membuat Belanda murka. Bendera-bendera itu merupakan hasil karya warga Rawa Gede dan Karawang. Pemasangannya sendiri ditujukan untuk membangkitkan moral dan semangat warga lainnya guna melawan Belanda yang hendak kembali menjajah. 

    Pihak asing tersebut mengira perlawanan melalui bendera-bendera mungil tersebut dilakukan oleh pasukan dari Mayor Lukas Kustaryo yang memang telah mengusik mereka berulang kali. Marah dan terhina, pasukan Belanda akhirnya mencarinya. Karena tidak ditemukan, pembantaian terhadap sekitar 400 warga Rawa Gede pun tidak dapat terhindarkan. Insiden tersebut pun masuk dalam laporan De Exceseen nota Belanda. 

    Kendati terasa menyakitkan, di sisi lain, tragedi ini membawa semangat lebih tinggi untuk memperjuangkan apa yang hendak diambil. Puncaknya pada 29 November 1945, pasukan Noer Alie bertarung langsung melawan kolonial. Pertempuran tersebut dikenal sebagai Pertempuran Sasak Kapuk. 

    Pada 10 Januari 1948, Noer Alie dipercaya menjabat sebagai Koordinator (Pejabat Bupati) Kabupaten Jatinegara. Tidak lama kemudian, tepatnya 17 Januari 1948, berlangsung Perjanjian Renville yang mengharuskan tentara Indonesia di Jawa Barat hijrah ke Jawa Tengah dan Banten. MPHS kemudian diresmikan menjadi satu batalyon TNI di Pandeglang, Banten. 

    Saat akan dilantik, tiba-tiba Belanda menyerbu. Noer Alie pun bersama pasukannya bertempur di Banten Utara sampai terjadinya Perjanjian Roem Royen.

    Bekasi ke NKRI

    Perjuangan mempertahankan kemerdekaan itu pun berbuah manis dengan diakuinya kedaulatan RI dalam Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949. Di tahun yang sama, ia diminta membantu Muhammad Natsir sebagai anggota delegasi Republik Indonesia Serikat di Indonesia dalam Konferensi Indonesia-Belanda. 

    Ketika pengakuan kedaulatan ditandatangani Belanda, MPHS dibubarkan. Selanjutnya, KH Noer Alie diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Ketua Masyumi Cabang Jatinegara, kemudian Ketua Masyumi Bekasi.

    Pada Januari 1950, KH Noer Alie bersama teman-teman dan anak buahnya membentuk Panitia Amanat Rakyat. Panitia Amanat Rakyat kemudian menghimpun sekitar 25.000 rakyat Bekasi dan Cikarang di Alun-Alun Bekasi pada 17 Januari 1950. Mereka mendeklarasikan resolusi yang menyatakan penyerahan kekuasaan pemerintah Federal kepada Republik Indonesia. 

    Pengembalian seluruh Jawa Barat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. KH Noer Alie bersama Lukas Kustaryo menuntut agar nama kabupaten Jatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi. Tuntutan tersebut diterima oleh Perdana Menteri Muhammad Natsir, sehingga pada 15 Agustus 1950 terbentuklah Kabupaten Bekasi di Jatinegara, serta selanjutnya dimasukkan ke dalam wilayah Provinsi Jawa Barat.

    Masih di tahun yang sama, KH Noer Alie mendirikan Madrasah Diniyah di Ujungmalang dan selanjutnya mendirikan Sekolah Rakyat Indonesia (SRI) di berbagai tempat di Bekasi, kemudian juga di tempat lain, hingga ke luar Jawa. Pada 1953, KH Noer Alie membentuk organisasi pendidikan dengan nama Pembangunan Pemeliharaan Pertolongan Islam (P3) yang dijadikan induk bagi SRI, pesantren dan kegiatan sosial.

    Pada Pemilu I tahun 1955, Masyumi Bekasi berhasil memperoleh suara terbanyak. Dengan perolehan itu, pada Desember 1956, KH Noer Alie ditunjuk oleh Pengurus Masyumi Pusat sebagai salah seorang anggota Dewan Konstituante. 

    Pada saat terjadi pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia pada 30 September 1965, bersama rekan-rekan seperjuangan di organisasi Islam, KH Noer Alie turut berperan menumpas gerakan tersebut terutama di wilayah Bekasi dan sekitar Jakarta.

    Noer Alie sejatinya sempat diminta oleh Wakil Residen Jakarta, Muhammad Moemin, untuk menjadi Bupati Jatinegara. Namun, ditolaknya. Bagi Noer Alie, jalur bertempur tanpa seragam tetap menjadi pilihan hidupnya.

    Tahun 1971-1975 ia didaulat menjadi Ketua MUI Jawa Barat. Di samping itu, sejak 1972 menjadi Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat. Dalam perkembangan selanjutnya, ia bersikap sebagai pendamai, tidak pro satu aliran. Dengan para kiai Muhammadiyah, NU, maupun Persis, ia berkawan baik.

    Ziarah Makam Pahlawan Nasional, KH. Noer Alie di Ujungharapan Bekasi. dok.abuabbad.wordpress.com

    Benteng Umat

    Pada 1972 pemimpin pondok pesantren berpadu mendirikan Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Jawa Barat. Para pemimpin pondok pesantren tersebut diantaranya KH Noer Alie, KH Sholeh Iskandar, KH Abdullah Syafi’ie, KH Khair Effendi, KH Tubagus Hasan Basri. 

    KH Noer Alie juga salah statu kiai yang bereaksi keras terhadap Rancangan UNdang-Undang Perkawinan (RUUP) yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Melalui BKSPP KH Noer Alie juga menentang pelarangan jilbab bagi pelajar muslim (1982-1983), dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap Rancangan Undang-Undang No 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang wajib mencantumkan Pancasila sebagai satu-satunya asas. 

    Namun, sebagai ulama dan politisi yang menganut asas konstitusional, KH Noer Alie menerimanya setelah asas tunggal disahkan dan diundangkan. KH Noer Alie juga menuntut penghapusan Porkas Sepak Bola yang dinilainya sebagai judi.

    Di akhir hidupnya, KH Noer Alie bersama Bupati Bekasi Suko Martono mendirikan Yayasan Nurul Islam, yang salah satu programnya membangun gedung Islamic Center Bekasi. Dia juga ikut mendirikan Forom Ukhuwah Islamiyah (FUI) yang dipelopori Mohammad Natsir, dan aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).

    Pada 29 Januari 1992 M/25 Rajab 1412 H, KH Noer Alie wafat di rumahnya. Kemudian di makamkan di Pondok Pesantren Attaqwa Puteri, Ujungharapan Bahagia, Babelan, Bekasi pada usia 78 tahun. Akhir tahun 2016 lalu, lahir wacana yang menyebutkan Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Kabupaten Bekasi akan membangun museum KH Noer Alie.

    “Mengenang KH Noer Alie adalah mengenang pejuang sepanjang hayat, di bidang manapun diperlukan bangsa dan umat. Nama beliau mesti tercatat di 'tugu syuhada' Indonesia sebagai ulama teladan yang selalu bersama rakyat dan umat” - Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution.

    (Teodora Nirmala, Faisal Rachman, MG-Afif, dari berbagai sumber)