KH Hamam Dja’far, Harmonisasi Lewat Diskusi  

  • KH Hamam Dja'far. Ist
    KH Hamam Dja'far. Ist

    JAKARTA- Keharmonisan dan toleransi belakangan menjadi kata yang kerap dikesampingan, entah demi beragam kepentingan atau egoisme semata. Padahal, dua kata itu berkaitan erat dan menjadi pondasi bangsa ini berkonsensus membentuk suatu negara.

    Sayangnya, tenggang rasa, tepo seliro atau toleransi sebagai sifat dasar bangsa ini kian kemari terasa kian terkikis. Membicarakannya saja sering terasa hambar, atau paling tidak membuat orang berkerut dahinya, enggan. Budaya diskusi untuk saling memahami pun kian langka terjadi.

    Alhasil, hidup harmonis dengan latar belakang yang heterogen kian hari terasa hanya menjadi slogan atau himbauan dari iklan-iklan layanan masyarakat. Klise.

    Melihat kondisi ini, sebagian orang mungkin akan merindukan sosok-sosok kharismatik pemersatu umat sekelas Gus Dur atau KH Abdurahman Wahid. Namun, selain Gus Dur yang namanya mahsyur di seantero negeri dan internasional, sejatinya tersebut juga salah satu ulama kharismatik yang mengedepankan pendekatan sosio-kultural dan menyediakan ruang dialog soal perbedaan agama, perbedaan aliran agama, perbedaan etnis dan ekspresi budaya.

    Lahir di Desa Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, pada 26 Februari 1938, KH Hamam Dja’far menjadikan Pondok Pesantren Pabelan di Magelang yang dipimpinnya menjadi ladang subur sikap multikultural.

    Bahkan, bagi M. Habib Chirzin, Dosen Universitas Gajah Mada (UGM) sekaligus Presiden Forum on Peace, Human Security and Development Studies, Kiai Hamam Dja’far dengan Pondok Pabelannya adalah sebuah fenomena. Ini lantaran terpadu di dalamnya fenomena sosio-kultural dan religius

    Sulung dari dua putra pasangan Kiai Dja’far dan Nyai Hadijah ini besar di bawah pengasuhan adik kakek pihak ibu yaitu K.H. Kholil yang tinggal di sebelah selatan masjid pondok. Dalam keluarga Hamam mengalir darah ulama yang diturunkan oleh Kiai Haji Muhammad Ali bin Kiai Kertotaruno, pendiri Pondok Pabelan (sekitar tahun 1800-an) yang pertama dan juga pengikut setia Pangeran Diponegoro.

    Menurut masyarakat setempat, Kiai Kertotaruno adalah keturunana Sunan Giri, salah satu wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

    Setelah menamatkan Sekolah Rakyat di desanya tahun 1949, Hamam melanjutkan ke Sekolah Menengah Islam di Muntilan sampai tahun 1952. Hamam sempat belajar di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, baru kemudian mondok di Pondok Moderen Gontor, Ponorogo, Jawa Timur selama kurang lebih 11 tahun (1952-1963).

    Di Gontor, Hamam berguru secara langsung kepada “Trimurti” pendiri Pondok Moderen Darussalam Gontor; K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi. Kelak, Hamam menjadi salah seorang anggota pengurus badan wakaf pondok yang terletak di Ponorogo itu.

    Balai Pendidikan
    Setamat dari Gontor, dalam usia 25 tahun, Hamam kembali ke kampung halamannya dan kemudian mendirikan Balai Pendidikan Pondok Pabelan pada 28 Agustus 1965. Pilihan untuk membangun kembali Pondok Pabelan adalah hasil dari pemikirannya yang mendalam terhadap sejarah umat islam dan kondisi riil umat dan bangsa Indonesia saat itu, termasuk kondisi riil masyarakat Desa Pabelan. Tentu tak lepas juga hasil interaksinya berbagai tokoh agama, sosial dan politik kala ia bermukim di Ibu Kota Jakarta.

    Chirzin menceritakan, mendirikan atau membangun kembali, dan mengabdikan kehidupannya di dunia pendidikan adalah amanat dari Kiainya yang dipegangnya dengan teguh. Amanat ini diberikan oleh Syaikhul Azhar Syaikh Mahmud Syalthut dari Kairo, kepada dua kakak beradik pendiri Pondok Modern Gontor, KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi, ketika berkunjung ke Indonesia.

    Ketika Kiai Sahal menyampaikan amanat tersebut kepada para santeri di Gontor, di gedung BPPM (Balai Pertemuan Pondok Modern), seorang santeri maju ke depan dan menyatakan sanggup menerima amanat tersebut, ambil menjabat erat tangan sang Kiai. Santri itu adalah Hamam Dja’far di usianya yang menjelang 20 tahun. Amanat itu menjadi tekad yang membara di dalam hatinya.

    Di tengah upayanya membangun lembaga pendidikan, kehidupan umat Islam di Indonesia pada umumnya bisa dikatakan dalam keadaan terancam bahayanya komunisme. Awal pemimpin pondok pesantren Pabelan, santrinya hanya berjumlah 35 orang dan tidak dipungut bayaran.

    Untuk biaya pesantren ia dan santrinya mengerjakan sawah milik seorang warga desa Pabelan dengan cara bagi hasil. ”Kami juga menanam jeruk, pisang dan buah-buahan,“ kata Kiai Hamam.

    Peran orang-orang yang sangat dekat dengan Kiai Hamam sangatlah besar, terutama pada saat Pondok Pabelan belum banyak dikenal orang. Sang istri, Nyai Djuhanah, dengan tekun dan setia mendampingi Kiai Hamam, sambil mengasuh dua putranya tercinta Ahmad Najib Amin (sekarang KH Ahmad Najib Amin) dan Ahmad Faiz Amin (sekarang Kepala Desa Pabelan).

    Pendidikan di pesantrennya tidak melulu berada di ruang kelas. Para santri diajarkan berbagai ketrampilan. Misalnya ketrampilan-keterampilan mengolah batu. Dalam mendidik santrinya Kiai Hamam banyak melakukan dengan pendekatan lingkungan.

     

    Pondok Pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah. Ist

    Model Rujukan
    Terbukti, membangun Pondok Pabelan adalah sebuah pilihan budaya yang sangat cerdas. Dari sebuah desa miskin dengan kondisi pendidikan dan kesehatan yang menyedihkan, dengan sumber-sumber daya yang sangat terbatas, kemudian dalam jangka 15 tahun terlihat berubah.

    Wilayah tersebut tumbuh menjadi sebuah harapan, alternatif, model pendidikan dan dakwah pembangunan masyarakat yang dikunjungi, dikaji dan diperbincangkan masyarakat dunia.

    Di bidang pendidikan misalnya, Pondok Pabelan telah menarik perhatian tokoh pendidikan legendaris dunia Ivan Illich, yang terkenal dengan bukunya, yang menjadi bacaan setiap aktivis dan pendidik, “De Schooling Society”. Illich kemudian datang berkunjung pada tahun 1978.

    Ia melihat Pondok Pabelan sebagai bentuk kongkrit dari “De Schooling Society” yang telah membebaskan masyarakat dari ritualisme pendidikan, formalisme dan institutionalisme pendidikan. Ia pun merasakan di Pondok Pabelan, pendidikan benar-benar menjadi proses pemanusiaan (humanisasi) dan suatu budaya untuk pembebasan manusiawi (cultural action for freedom).

    Dalam pendidikan agama, dakwah dan kepemimpinan sosial, Pondok Pabelan memperoleh perhatian besar dari seorang Mufti Besar dari Kuwait Sheikh Abdullah Annuri yang kemudian sangat mencintai Kiai Hamam dan beberapa kali melakukan kunjungan ke Pabelan. Bukan tanpa alasan, pasalnya sebuah Pesantren yang jauh di pelosok Jawa itu, bisa melestarikan warisan peradaban Islam (al Turats Al Islamy) yang sangat kaya. 

    Demikian pula kecintaan Ki DR. Sarino Mangunpranoto, seorang tokoh pendidikan nasional, pimpinan Majelis Luhur Taman Siswa dan mantan Menteri Pendidikan pada masa Presiden Sukarno. Ia berkali-kali berkunjung ke Pondok Pabelan dan merasa menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Pabelan.

    Ini karena ia merasa prinsip-prinsip pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, pendiri Perguruan Taman Siswa, terus hidup, dipraktikkan dan terpelihara di Pondok Pabelan. Termasuk sistem amongnya yang tercermin pada hubungan Kiai dengan santri. Kemudian Tri Pusat pendidikan (Keluarga, Sekolah dan Masyarakat) yang dapat menyatu di dalam praktik pendidikan di Pondok Pabelan.

    Pondok Pabelan juga menarik para pakar dan tokoh di bidang pembangunan dan advokasi sosial budaya. Di dalam bidang Kesehatan Masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak, seorang Direktur Jenderal UNICEF, DR. James Grant jauh-jauh datang dari kantor Pusat PBB di New York, mengunjungi program Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM) di Desa Pabelan.

    Iapun memberikan pujian dan dukungannya, terutama dalam bidang kelangsungan hidup anak Children survival. Antara lain pencegahan dan penyembuhan diare dengan mensosialisasikan garam oralit.

    Di bidang pembangunan masyarakat, seorang tokoh dunia yang juga pendiri sebuah gerakan pembangunan masyarakat, SARVODAYA, di Sri Langka DR. AT Arya Ratna, penerima berbagai penghargaan yang prestisius, datang ke Pabelan dan memberikan ucapan selamat atas model pengembangan masyarakat oleh Pondok Pesantren.

    Arya Ratna juga menghargai Pondok Pabelan karena melakukan upaya pembangunan dari dalam, dengan merevitalisasi nilai-nilai sosial budaya yang ada di dalam masyarakat. Ditambah lagi pondok pesantren juga memaksimalkan pemanfaatan sumber daya lokal tanpa merusak lingkungan, bahkan melestarikannya.

    Pada bidang pengembangan dan advokasi sosial dan budaya, beberapa tokoh budaya dan HAM kelas dunia Ajarn Sulak Sivaraksa, salah seorang pendiri ACFOD (Asian Cultural Forum on Development) dan penerima Ramon Magsaysay Award menginap di Pondok Pabelan pada tahun 1979. Ajarn Sulak memandang Pondok Pabelan sebagai contoh yang berhasil dalam membangun masyarakat dengan mengembangkan integritas kultural (cultural integrity) makna hidup dan kualitas hidup.

    Sehingga tidak terjebak oleh arus konsumerisme dan pragmatisme dangkal. Demikian pula memelihara dan melestarikan sumber-sumber daya hayati lokal, termasuk benih-benih tanaman pangan maupun buah-buahan di lingkungan Pondok maupun masyarakat sekitar.

    Beberapa tokoh ACFOD lainnya yang pernah berkujung ke Pondok Pabelan antara lain Noel Mondejar, Edgardo Valenzuella, Jun Atienza (Filipina), Prof. LG Hewage (Sri Langka), Kamla Bhasin (India), Rita Baua (Filipina), Muto Ichiyo (Jepang), Kaiser Zaman (Bangladesh), Father Stanislaus Fernando (Sri Langka), Surendra Chakrapani (India), M. Abdus Sabur (Bangladesh) dan lainnya.

    Budaya dan Ruang Publik
    Daya tarik Kiai Hamam dengan Pondok Pabelannya juga memasuki wilayah seni, budaya, dan bahkan arsitektur. Seorang novelis kelas dunia, penerima hadiah Nobel di bidang sastra yang berasal dari Trinidad Tobago VS Naipaul, menyempatkan diri berkunjung dan berdialog di Pondok Pabelan. Penulis novel “Among The Believers: an Islamic Journey” pada tahun 1980, bahkan memasukan pengalamannya ke dalam bukunya yang diterbitkan oleh Vintage Books, New York, 1982.

    Pada tahun 1980 Pondok Pabelan memperoleh penghargaan dunia di bidang arsitektur, “The International Aga Khan Award for Architecture”, yang diterima langsung oleh KH Hamam Dja’far dari HRH Aga Khan. Pemberian penghargaan tersebut disaksikan oleh Presiden Pakistan Jendral Ziaul Haq.

    Semula, memang bangunan semacam kampus Pondok Pabelan tidak termasuk dalam katagori arsitektur yang dimaksud oleh Aga Khan Award. Namun akhirnya dimasukkan oleh karena dianggap sebuah model settlement dengan cara pembangunan dan pemanfatannya secara sosial yang menarik.

    Dari dalam negeri, Pondok Pabelan menerima penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup, atas prestasinya di dalam pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya air.

    Dalam perjalanan waktu tersebut, Pondok Pabelan telah pula berhasil menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat, seperti LP3ES, Yayasan Mandiri, LSP, Bina Desa, ACFOD, FNS, PKBI, P3M, LPTP, WALHI, YLKI, INSIST dan juga para ilmuwan, budayawan, tokoh-tokoh agama dan masyarakat.

    Dialog dan silaturahmi merupakan kekuatan kepribadian Kiai Hamam dalam membangun Pondok Pabelan dan masyarakat. Ia menjadikan Pondok Pabelan sebuah ruang publik yang terbuka dari berbagai kalangan untuk bertemu dan berdialog, tentang berbagai masalah yang terjadi di desa dan tanah air.

    Ketika pada awal tahun 1970-an masyarakat Islam Indonesia mengalami perbedaan pendapat yang sangat tajam, bahkan menjurus kepada perpecahan, termasuk antara generasi muda dan cendekiawannya, Kiai Hamam dengan Pondok Pabelannya membuka ruang dialog dalam proses silaturahmi dan kerja sama.

    Tokoh-tokoh semisal Endang Saifuddin Anshari, Ahmad Sadzali, Ahmad Noekman, Ajip Rasidi, Yosef CMB, Noercholish Madjid, Kiai Yusuf Hasyim, Abdurrahman Wachid (Gus Dur), Zamroni, Fahmi Dja’far Saifuddin, M. Dawam Rahardjo, Dochak Latief, Utomo Danandjaja, Usep Fatchuddin, Adi Sasono, Ismid Haddad, Abdullah Syarwani, Nashihin Hassan dan lainnya dapat dengan akrab berbincang di Pondok Pabelan.

    Bahkan sempat menyelenggarakan Leadership Training bersama pada tahun 1974, yang kemudian melahirkan kegiatan seperti peningkatan minat baca dan perpustakaan, peningkatan metode belajar dan mengajar, pengadaan air bersih, pengembangan teknologi tepat guna, usaha kesehatan masyarakat (UKM), sampai dengan gerakan pengembangan masyarakat oleh pondok pesantren.

    Pondok Pabelan memang bukanlah lembaga yang bernaung di bawah salah satu organisasi Islam, baik Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama (NU). Jati diri pondok tampak dalam ajaran pluralisme Sang Kiai tidak terhenti lintas dan antariman, tetapi juga antarkelompok dalam tubuh Islam sendiri.

    Berulang kali Kiai Hamam ‘meledek’ konflik NU dan Muhammadiyah. "Santri Pabelan jangan sibuk dengan NU atau Muhammadiyah. Kita bisa menjadi Muhammad NU atau Nahdlatul Diyah," serunya.

    Meski begitu, tradisi ritual Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah juga dihargai. Seperti halnya para sesepuh Pabelan yang lekat dengan ke-NU-annya, digelarkan sajadah untuk jadi imam solat dengan qunut atau tarawih 21 rakaat.

     

    Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel (kiri) berdialog dengan pimpinan Pondok Pesantren Pabelan KH. Ahmad Mustofa (tengah) saat mengunjungi Ponpes Pabelan, Muntilan, Magelang, Jateng, beberapa waktu lalu. Dalam kunjungannya Scot Marciel berjanji akan membantu mewujudkan permintaan pihak Ponpes Pabelan mengenai tenaga pengajar bahasa Inggris dari Amerika melalui program "voluntary", yakni pemuda AS sebagai relawan yang tinggal di masyarakat dan membantu kegiatan belajar di Ponpes. FOTO ANTARA/Anis Efizudin

    Diskusi Kampus
    Selain pintu diskusi, Pengembangan Masyarakat merupakan bentuk kepedulian sosial Pondok Pabelan yang sekaligus merupakan ruang partisipasi masyarakat desa dalam membangun diri sendiri (self development). Pondok Pabelan kemudian berkembang menjadi pusat belajar masyarakat, lembaga partisipasi sosial, sumber informasi pembangunan sampai pusat alat-alat pembangunan (tools center) bagi masyarakat.

    “Secara pribadi saya mencintai dan mempercayai keunggulan sistem Pondok Pesantren ini,” kata Chirzin.

    Chirzin kembali menceritakan, ketika dunia kampus mengalami kelesuan dan kebuntuan ekspresi dan aktualissasi budaya, sosial dan politik mahasiswa maka Pondok Pabelan dengan Kiai Hamam-nya justru menjadi pilihan beberapa aktivis kampus untuk berdiskusi, melakukan eksperimen dan sekaligus aksi sosial.

    Interaksi antara para aktivis kampus dengan Kiai Hamam di Pondok Pabelan mempunyai berbagai fungsi. Bagi para aktivis yang karena kegiatan praktisnya yang cenderung menjadi “aktivisme” maka dialog dan mukim mereka di Pabelan menjadi semacam pengkayaan kultural (cultural enrichment). “Bahkan bagi beberapa orang menjadi suatu proses pencerahan spiritual (spiritual enlightenment) dan menjadikan Pondok Pabelan sebuah “kedung” atau reservoir budaya dan spiritual,” tuturnya.

    Menurutnya, para mahasiswa UGM, IAIN Sunan Kalijaga, IKIP Negeri Yogyakarta dan para mahasiswa dari Semarang pun tidak kurang aktifnya melakukan dialog budaya dan spiritual yang sama di Pondok Pabelan. Interaksi antara aktivis kampus dengan pesantren inilah yang kemudian membangun saling pengertian dan kerja sama antara budaya kampus dan pesantren.

    Sementara itu, kehadiran maestro pelukis Affandi bersama sahabat-sahabatnya, pelukis Wahdi, Amri Yahya dan lainnya, kemudian budayawan Umar Kayam, Misbach Yusa Biran, Ashadi Siregar, Emha Ainun Najib kian menyuburkan warna kultural yang memang sudah berakar kuat di desa Pabelan. Dialog budaya antara para pelaku dan budayawan kampus dengan Kiai dengan budaya pesantrennya telah turut memperkaya khazanah kultural pesantren dan masyarakat.

    Demikian pula ketika si penyair kesohor, si Burung Merak, WS Rendra, bermain film bersama Kiai Hamam di dalam “Al Kautsa” yang disutradarai oleh Choirul Umam, pada tahun 1978. Kiai Hamam-pun kemudian dikenal sebagai Kiai Bintang Film. Kebetulan film ini memenangkan Festival Film Asia di Bangkok pada tahun 1980.

    Kata Chirzin, peran kultural Kiai Hamam ini ditengarai oleh Prof. DR. Wolfgang Karcher, dari Berlin Technische Hogeschulle, sebagai Cultural Broker, mengutip istilahnya Cliffort Geertz, penulis buku legendaris “Santri, Priyayi and Abangan” dan “The Religion of Java”.

    “Dalam ungkapan yang lain, Kiai Hamam telah berperan sebagai katalisator yang mempercepat proses perubahan sosial budaya, dengan tanpa menimbulkan benturan maupun gegar budaya,” tuturnya.

    Antaragama
    Kebersamaan multi-etnik, multikultural dan multi-religius, lanjutnya, telah tumbuh dan berkembang secara alami lewat dialog dan silaturahmi yang terjadi sehari-hari di lingkungan Pondok Pabelan dan masyarakat sekitarnya. Beberapa pastur Jesuit dari Federation of Asian Bishop Conference (FABC) seperti Father Prof. DR. Tom Michel yang sekarang berkedudukan di Vatikan dan para Uskup dari Filipina dan India sering berkunjung ke Pabelan.

    Mereka bersilaturahmi dan berdiskusi tentang Dialog dalam Aksi (Dialog in Action) dan Dialog untuk Hidup dan Dialog untuk Pemanusiaan (Dialog for Humanization). Demikian juga para Pendeta dari lingkungan Persekutuan Gereja-gereja Asia (Christian Conference of Asia).

    Bahkan dari Persekutuan Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches) yang didampingi oleh DR. Yudo Poerwowidagdo, Rektor Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, beberapa kali membawa rombongan untuk berkunjung dan berdialog tentang pendidikan dan pembangunan yang berkeadilan, damai dan keutuhan ciptaan (Integrity of Creation) di Pondok Pabelan.

    “Pada mulanya masyarakat memandang aneh, bagaimana seorang Romo Mangun Wijaya yang memakai kain sarung dan peci hitam dibonceng dengan sepeda motor Yamaha Bebek berwarna merah anggur, oleh Kiai Hamam yang mengenakan pakaian jubah putih, pada suatu sore hari melintasi desa Pabelan,” kata Chirzin.

    Semua tahu, Romo Mangun adalah seorang budayawan, rohaniwan dan pendidik yang sangat dekat, memahami dan mengapresiasi sistem Pondok Pesantren. Sehingga sering bersilaturahmi ke Pondok Pabelan dengan mengajak sejawatnya pastur dari Indonesia, maupun dari Filipina, India, Sri Langka dan Amerika Latin.

    Bahkan pada suatu ketika ada beberapa orang suster Katolik dari Filipina yang menginap di Pondok Pabelan. Ketika berpisah dengan Kiai Hamam dengan perasaan yang tulus dan mendalam, salah seorang di antaranya mengatakan “Ternyata Santo itu ada di mana-mana”.

    “Kami sendiri tidak mengerti arti sebenarnya dari ungkapan tersebut,” serunya

    Semangat silaturahmi, perdamaian dan rekonsiliasi yang mendalam dari Kiai Hamam sangat mengesankan tamu dari South East Quaker International Representative (SEAQIAR), sepasang suami isteri, Paul dan Sophie Quin Judge yang membawa rombongan tamu pemuka agama dan pekerja sosial dari Moro, Filipina Selatan.

    Setelah melalui kunjungan lapangan dan dialog di ruang tamu utara, Kiai Hamam memahami dan menyadari, proses konflik berkepanjangan yang terjadi di Filipina Selatan, yang telah memakan ribuan korban dari semua pihak, sebenarrnya disebabkan oleh proses ketidakadilan sosial ekonomi. Kemudian juga adanya diskriminasi sosial dan kultural dan kesenjangan dalam pembangunan maupun dalam partisipasi politik. Dan bukan semata-mata konflik antaragama.

    Maka Kiai Hamam menyarankan agar ditempuh proses perdamaian yang dilanjutkan dengan pembangunan yang merata dan partisipasi politik tanpa diskriminasi. Kerja sama dengan SEAQIAR ini sebenarnya telah dirintis sejak tahun 1976, oleh David dan Marry yang didahului dengan hadirnya Jeffery Sng yang saat ini bekerjasama dengan Ajarn Sulak Sivaraksa di Bangkok.

    “Sampai saat ini, pimpinan SEAQIAR yang telah pindah kedudukannya di Laos, sangat menghargai sikap damai dan konsiliatif dari Kiai Hamam tersebut,” ujar Chirzin.

     

    Santri melakukan shalat Jumat di Pondok Pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah. Ist

    Peninggalan
    Selesai melaksanakan salat tarawih, tepatnya di malam tanggal 23 Ramadhan tahun 1993, Kiai Hamam dipanggil kehadirat Allah setelah sebelumnya mengalami sakit. Jenazah KH Hamam dari mobil ambulans dan digotong memasuki ruang tamu, dibaringkan di atas lantai yang beralaskan karpet.

    Diceritakan, meski memiliki tubuh yang relatif besar, namun jenazahnya terasa ringan sekali digotong. Wajahnya juga terlihat cerah, seperti tersenyum.

    Keesokan harinya, selepas Zuhur, jenazah Kiai Kharismatik tersebut disalati oleh para santri dan sebagian alumnus serta masyarakat sekitar pondok. Hadir pula kala itu, KH Abdullah Syukri Zarkasyi yang memberikan sambutan terakhir pemakaman.

    Dalam sambutanya ia menggatakan,”KH Hamam memang sudah meninggalkan kita semua dan pondok Pabelan, tapi pondok ini tidak boleh mati. Kiai Hamam telah meninggalkan kita semua, tetapi warisan sepiritual, sosial dan budayanya masih terus hidup dan menjadi sumber inspirasi,” ujarnya.

    Salah seorang pimpinan Ponpes Pabelan, KH Ahmad Mustofa seperti dikutip Antara mengatakan, Kiai Hamam selama 28 tahun mengaktualisasikan dirinya melalui ponpes tersebut, berkomunikasi dangan berbagai kalangan, berpikir dan berkarya untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    "Pabelan, buah karya nyata Kiai Hamam, dan sekarang warisan kebaikannya diteruskan, kami memelihara yang baik dan mengambil yang baru, yang baik," katanya.

    Kini santri di Pabelan berjumlah sekitar 600 orang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

    Mantan Ketua Muhammadiyah Syafi`i Ma`arif, mengatakan, Kiai Hamam adalah sosok reflektif, pendamai, dan orang yang selalu memerbaiki diri. Pewaris Pabelan, katanya, perlu melakukan pemetaan tentang berbagai pemikiran Kiai Hamam untuk kepentingan rekonstruksi Pabelan. (Faisal Rachman, Diceritakan kembali dari berbagai sumber)