DISKRIMINASI AKTUALISASI PENYANDANG DISABILITAS

KETERBATASAN FISIK BUAT TUNANETRA TERKENDALA BERSOSIALISASI

Masalah tunanetra dalam berinteraksi dengan masyarakat dapat coba dikikis dengan meminimalisir diskriminasi terhadap kelompok ini

  • Sejumlah anak-anak Sekolah Dasar penyandang tuna netra (disabilitas) dari yayasan Mitra Netra, Lebak Bulus saat mengikuti
    Sejumlah anak-anak Sekolah Dasar penyandang tuna netra (disabilitas) dari yayasan Mitra Netra, Lebak Bulus saat mengikuti

    Oleh: Novelia, M.Si*

    Selama ini para penyandang difabel masih menemukan kendala dalam mendapatkan pekerjaan karena, dengan hambatan secara fisik mereka, kelompok ini tidak jarang dipandang sebagai kelompok yang tidak berdaya dan patut dikasihani oleh masyarakat. Begitu juga tunanetra.

    Namun, berbeda dengan jenis penyandang difabel lainnya, sebenarnya tunanetra memiliki potensi lebih karena hanya memiliki kekurangan pada indera penglihatan, sementara fisik dan otak mereka dapat digunakan dengan baik jika terus diasah. Apalagi, seiring perkembangan zaman, banyak ditemukan teknologi yang dapat membantu memfasilitasi mereka dalam menjalani keseharian, seperti buku audio dan braille. Namun, hal ini tidak membuat mereka lepas sepenuhnya dari kendala dalam berinteraksi dengan masyarakat sehari-hari.

    Tunanetra sendiri secara etimologi bahasa berasal dari kata tuna, yang berarti rugi, dan netra, yang berarti mata (Pradopo, 1977: 12), sehingga dapat disimpulkan sebagai keadaan di mana seseorang merugi akibat kekurangan fisik pada matanya, atau disebut cacat mata. Istilah tunanetra, yang kemudian menjadi tidak asing dalam masyarakat, dianggap cukup tepat dalam menggambarkan seseorang yang menderita kelainan pada indera penglihatannya, baik gangguan ringan maupun berat. Istilah ini sedikit berbeda dengan sebutan buta yang diasosiasikan pada individu dengan keadaan mata rusak, baik salah satu atau keduanya, yang mengakibatkan indera tersebut tidak dapat berfungsi dengan selayaknya.

    Pradopo (1977: 3-5) menjelaskan bahwa kondisi tunanetra dapat disebabkan oleh berbagai hal yang dapat dikelompokkan menjadi faktor endogen dan eksogen. Yang diklasifikasikan pada faktor endogen adalah penyebab-penyebab tunanetra yang erat kaitannya dengan hubungan darah atau keturunan, serta pertumbuhan seorang anak dalam masa kehamilan. Tidak sedikit bayi tunanetra yang terlahir sebagai hasil perkawinan antarkeluarga dekat dan perkawinan antartunanetra sendiri.

    Pada kasus perkawinan antartunanetra, yang memengaruhi adalah faktor herediter atau keturunan, sementara pada perkawinan antarkeluarga dekat, persilangan pada pasangan terkait memungkinkan kurangnya unsur variabel jenis darah tertentu karena hubungan yang masih dekat atau sedarah. Kondisi kekurangan variabel jenis darah tersebut berakibat pada lahirnya bayi tunanetra atau kekurangan fisik lain. Faktor endogen lain yang menyebabkan tunanetra adalah kondisi fisik ibu saat hamil yang mengalami gangguan atau unsur penyakit yang bersifat menahun sehingga merusak sel-sel darah pada janin yang sedang tumbuh dalam kandungan.

    Berbeda dengan faktor endogen, faktor eksogen penyebab tunanetra berkaitan dengan hal-hal di luar diri individu, seperti penyakit yang menyerang indera penglihatan pada masa seseorang tumbuh dewasa, misalnya xerophythalmia, trachoma, katarak, dan glaucoma, yang disebabkan berbagai hal. Faktor eksogen juga dapat disebabkan oleh kejadian tidak terduga seperti kecelakaan yang berhubungan langsung pada mata dan mengakibatkannya terluka dan kemudian rusak, sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

    Kurangnya kesempurnaan fisik bagi para penyandang tunanetra memberikan kesempatan bagi timbulnya berbagai masalah pada personalitas mereka dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar (Pradopo, 1977: 20-22), di antaranya:

    1. Kecurigaan terhadap orang lain – Kemampuan para penyandang tunanetra berorientasi dengan lingkungannya yang tidak memadai menyebabkan pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut menimbulkan rasa kecewa yang apabila terjadi terus-menerus akan menimbulkan kecurigaan.
    2. Sensitif dan cenderung mudah tersinggung – Terbatasnya kemampuan indera penglihatan yang tidak diiringi dengan pemberian peran lebih pada indera lain untuk membantu menutupi kekurangan yang ada memungkinkan membuat seorang penyandang tunanetra memiliki sifat emosional, meskipun pada hal kecil.
    3. Rasa tergantung yang berlebihan – Ketidaksempurnaan fisik penyandang tunanetra pada umumnya memberikan dampak pada perhatian lebih yang ditunjukkan oleh keluarga dan lingkungan sekitar. Bantuan dan perlindungan yang tidak perlu dan sebenarnya bisa dilakukan secara mandiri oleh si penyandang juga terkadang diberikan sehingga membuat individu tersebut berada dalam zona nyaman dan selalu bergantung, bahkan justru memanfaatkan kekurangannya tersebut. Masalah ini dapat diatasi dengan memberikan kesempatan pada penyandang tunanetra tersebut untuk mandiri dan berlatih menolong dirinya sendiri.

     

    Beberapa dari kendala-kendala yang dialami tunanetra dalam berinteraksi seperti yang disebutkan di atas, sebetulnya juga dialami oleh penyandang disabilitas lainnya. Kecurigaan, rasa sensitif, serta ketergantungan berlebih ini dapat dikatakan juga sebagai hasil dari perasaan dibedakan dari kelompok non-disabilitas.

    Oleh karena itu, sangat penting membuat kelompok ini merasa setara dengan masyarakat sedini mungkin. Tentunya, langkah yang harus diambil berkaitan erat dengan upaya menghapuskan dikriminasi terhadap kelompok ini. Beberapa bidang yang patut menjadi perhatian di antaranya fasilitas yang ramah difabel, pendidikan inklusif, dan kesetaraan di dunia kerja.

    *Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

     

    Referensi:

    Pradopo, Soekini. (1977). Pendidikan Anak-Anak Tunanetra. Bandung: Masa Baru.

     

    Baca juga:

    Jaminan Hak Penyandang Difabel di Dunia Kerja

    Menanti Fasilitas Ramah Kaum Difabel

    Inklusifisme Pendidikan Bagi Kaum Difabel