MENJAGA KESINAMBUNGAN "TAMBANG EMAS HIJAU"

KELAPA SAWIT : PRIMADONA KOMODITAS INDONESIA

Melalui sertifikasi, maka produk minyak kelapa sawit yang dihasilkan dijamin merupakan produk yang berkelanjutan.

  • ilustrasi biji sawit. (Pixabay)
    ilustrasi biji sawit. (Pixabay)

    Oleh: *Dr. Nugroho Pratomo

    Keberadaan industri perkebunan kelapa sawit yang disertai dengan berbagai produk turunannya, harus diakui masih menjadi unggulan utama produk komoditas Indonesia. Perkebunan kelapa sawit yang menghasilkan minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) masih menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Hingga tahun 2017, Indonesia masih tercatat sebagai eksportir terbesar di dunia untuk komoditas tersebut. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI),  volume ekspor minyak sawit Indonesia, baik dalam bentuk CPO, PKO, dan produk turunannya termasuk oleokimia dan biodiesel, mencapai 16,6 juta ton. Jumlah tersebut naik 25% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 yang hanya mencapai 12,5 juta ton (Herlinda, 2017). Besarnya peluang bisnis yang diperoleh dari industri dan komoditas kelapa sawit inilah yang kemudian menarik perhatian dan ketertarikan banyak pihak untuk masuk ke dalam bisnis ini. Tidak hanya perusahaan perkebunan berskala besar, namun komoditas ini juga telah menarik para petani untuk ikut serta menanam kelapa sawit meski dalam lahan yang terbatas.

    Sejarah Kelapa Sawit Indonesia
    Sebagai tanaman yang bukan merupakan tanaman asli Indonesia, keberadaan tanaman kelapa sawit di Indonesia dimulai ketika Belanda memulai revolusi industrinya. Kondisi tersebut memunculkan kebutuhan atas bahan baku industri. Hal inilah yang kemudian mendorong adanya politik liberal oleh Belanda atas negara-negara jajahannya menjelang abad ke-19.

    Tanaman kelapa sawit pertama di Indonesia didatangkan pada tahun 1848 dari Afrika Barat yang ditanam di Kebun Raya Bogor. Selanjutnya, dimulai pada tahun 1870-an, tanaman tersebut mulai dibudidayakan dan dilakukan pembukaan perkebunan di Deli (KEHATI, 2005). Pengembangan dan pembukaan perkebunan kelapa sawit juga dimulai di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaysia, pada tahun 1911—1912. Anne Booth mencatat bahwa selama periode 1921—1930 produksi kelapa sawit telah mencapai 17 ribu ton dengan luas mencapai 34,7 ribu hektare, produktivitas kelapa sawit Indonesia telah mencapai 490 kilogram per hektare. Pada periode yang sama, belum ada catatan mengenai produksi kelapa sawit di Malaysia (Booth, 1988).

    Dalam perkembangannya, selama masa penjajahan Jepang, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia menurun sebesar 16%. Hingga pada tahun 1943, penjajah Jepang menghentikan produksi minyak kelapa sawit di seluruh Indonesia (KEHATI, 2005). Pasca-kemerdekaan, Pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi atas berbagai perusahaan perkebunan milik Belanda. Namun, nasionalisasi tersebut tidak serta merta menyebabkan peningkatan produksi. Sebaliknya, produksi kelapa sawit Indonesia mengalami penurunan.

    Industri perkebunan kelapa sawit mengalami perkembangan yang pesat ketika memasuki masa Orde Baru. Semenjak akhir tahun 1960-an hingga memasuki dekade 1980-an, perkebunan kelapa sawit tumbuh dengan pesat. Pertumbuhan yang pesat tersebut ditunjukkan dari tabel berikut ini.   

    Terjadinya krisis ekonomi 1997—1998 yang dimulai dengan masalah moneter, ternyata telah membuka peluang bisnis yang semakin luas bagi kelapa sawit. Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan harga minyak kelapa sawit yang dihasilkan semakin kompetitif di pasar dunia.

    Peluang Bisnis Besar
    Kelapa sawit dinilai sebagai salah satu komoditas yang potensial karena juga memiliki produk turunan yang cukup banyak.  Mencermati struktur industri kelapa sawit dan turunannya, secara umum dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

    Industri hulu perkebunan kelapa sawit menghasilkan berbagai produk primer berupa minyak kelapa sawit dan minyak inti kelapa sawit. Kedua jenis produk tersebut kemudian dikembangkan menjadi bermacam-macam produk industri hilir. Pada intinya, kedua produk tersebut termasuk ke dalam jenis ester asam lemak dan gliserol yang disebut trigliserida. Trigliserida dari minyak kelapa sawit (CPO) banyak mengandung asam palmitat, linoeleat, stearat, dan gliserol. Sementara, trigliserida dari minyak inti sawit (PKO) mengandung asam laurat, miristat, stearat, gliserol, dan sedikit palmitat. Baik minyak kelapa sawit maupun inti sawit merupakan sumber energi pangan, seperti minyak goreng, margarin, shorteening, dan vanaspati serta sumber karbon di dalam industri oleokimia. Penggunaan ini terkait dengan sifat senyawa karbon minyak nabati yang relatif lebih mudah terurai di alam dibandingkan dengan senyawa turunan yang berasal dari minyak bumi (Pratomo & Puraka, 2008).

    Pada industri hilirnya, terdapat beberapa produk jadi lainnya, baik itu berupa makanan maupun non-pangan. Produk pangan yang dihasilkan antara lain adalah kue, roti, biskuit, cokelat, kembang gula, es krim, tepung susu nabati (filled milk), coffee whitener (coffee mate), serta mie siap saji (mie instan). Dalam industri farmasi, penggunaannya terutama pada produk vitamin A dan E. Sedangkan, untuk produk-produk non-makanan di antaranya adalah sabun, cream lotion, shampoo,  "sabun metalik" untuk minyak pelumas dan campuran cat, pelumas dan pelindung karat permukaan lembaran baja pada industri baja canai dingin (cold rolling mill), bahan pengapung (floatation agent) yang digunakan untuk memisahkan biji tembaga atau cobalt dari baja, industri karoseri, serta industri tinta cetak, lilin, dan crayon (Pratomo & Puraka, 2008).

    Minyak inti sawit (palm kernel oil) digunakan sebagai input dalam beberapa industri seperti sabun, kosmetik, serta pakan ternak. Pada proses pembuatan makanan ternak, buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90°C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu, dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur. Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos (Pratomo & Puraka, 2008).

    Banyaknya kegunaan dan produk turunan dari kelapa sawit inilah yang menyebabkan kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang laku di pasar internasional. Terlebih saat ini juga dikembangkan berbagai bahan bakar nabati. Minyak kelapa sawit menjadi salah satu bahan baku yang relatif sangat ekonomis untuk dikembangkan sebagai bahan baku biodiesel. Kadar minyak yang dihasilkan oleh kelapa sawit merupakan yang terbesar dibandingkan dengan beberapa produk lainnya. Perbandingan kadar minyak tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

    Selain itu, sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, minyak kelapa sawit juga menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia.  Berdasarkan data Un Comtrade, volume ekspor minyak kelapa sawit Indonesia selama periode 2012—2016 menunjukkan tren peningkatan. Tren peningkatan tersebut dapat dilihat pada grafik di bawah ini. Berbagai potensi inilah yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri dari berbagai pihak untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit.  

    Permasalahan Dalam Kelapa Sawit
    Besarnya potensi yang dimiliki oleh kelapa sawit ini, pada saat yang bersamaan ternyata juga menimbulkan berbagai permasalahan. Baik secara sosial maupun lingkungan. Dilihat dari sisi sosial, berbagai konflik bermunculan di berbagai daerah yang terdapat perkebunan kelapa sawit. Berakhirnya kekuasaan Orde Baru, menyebabkan konflik-konflik sosial semakin marak di Indonesia. Termasuk di antaranya merupakan konflik sosial di berbagai wilayah perkebunan kelapa sawit.

    Masalah lain yang paling sering dikemukakan ke dalam berbagai isu internasional adalah masalah lingkungan. Selama ini, perkebunan kelapa sawit didengungkan sebagai industri perkebunan yang tidak ramah lingkungan. Berbagai permasalahan lingkungan seperti kebutuhan air yang besar, terdorongnya terjadinya monokultur, pembukaan lahan perkebunan sawit dengan cara-cara membakar lahan, serta pembukaan lahan hutan lindung untuk perkebunan kelapa sawit, merupakan beberapa permasalahan yang sering dikemukakan di tingkat internasional. Pembukaan lahan untuk kelapa sawit seringkali juga dikatakan telah mengganggu habitat berbagai hewan yang ada sebelumnya. Misalnya saja, orang utan yang semakin tersingkir dan bahkan menjadi korban kebakaran hutan yang disebabkan pembakaran untuk pembukaan lahan.

    Berbagai permasalahan tersebut pada dasarnya harus kembali dilihat secara lebih objektif. Besarnya potensi keekonomian dari bisnis kelapa sawit dan kemampuan daya saing yang cukup tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya, menciptakan persaingan yang tidak sehat di pasar internasional. Akibatnya, beberapa negara lain penghasil minyak pesaing minyak sawit, seperti minyak bunga matahari, minyak zaitun, minyak jagung, dan sebagainya, juga berupaya menekan pasar agar tidak lagi mau menggunakan minyak kelapa sawit. Beberapa negara kemudian menerapkan berbagai bentuk hambatan non tarif dengan tujuan membatasi penetrasi minyak kelapa sawit, termasuk mengeluarkan berbagai kampanye hitam atas produk minyak sawit.    

    Prospek ke Depan
    Berbagai permasalahan tersebut pada dasarnya membutuhkan penanganan tersendiri agar minyak sawit tetap memiliki prospek besar di pasar internasional. Karenanya, berawal pada tahun 2001, salah satu lembaga internasional yaitu WWF, melakukan inisiatif membangun roundtable kelapa sawit berkelanjutan. Selanjutnya, pada tahun 2004, dibentuk Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang bertujuan untuk mempromosikan pertumbuhan dan penggunaan produk-produk minyak sawit berkelanjutan melalui standar global yang kredibel dengan melibatkan para pemangku kepentingan di bidang kelapa sawit. Melalui RSPO ini pula, diupayakan untuk mengurangi deforestasi, melestarikan keanekaragaman hayati, dan menghargai kehidupan masyarakat pedesaan di negara penghasil minyak sawit (RSPO, n.d.). 

    Selain itu, Indonesia juga mengeluarkan Indonesian Sustainable Plam Oil (ISPO). ISPO adalah suatu kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pertanian, dengan tujuan untuk meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar dunia dan ikut berpartisipasi dalam rangka memenuhi komitmen Pemerintah Republik Indonesia untuk mengurangi gas rumah kaca serta memberi perhatian terhadap masalah lingkungan. Pelaksanaan ISPO akan dilakukan dengan memegang teguh prinsip pembinaan dan advokasi serta bimbingan kepada perkebunan kelapa sawit yang merupakan tugas Pemerintah (Komisi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, 2013). 

    Melalui sertifikasi yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga tersebut, maka produk minyak kelapa sawit yang dihasilkan dijamin merupakan produk yang berkelanjutan. Sertifikasi semacam ini pada akhirnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karenanya, menjadi persoalan ketika hal tersebut harus diterapkan pada tingkat petani lahan kecil. Namun, hal tersebut juga bukan merupakan hal yang mustahil. Melalui pengorganisasian kelompok tani kelapa sawit, hal tersebut masih dapat dilakukan. Sehingga, produk kelapa sawit yang dihasilkan Indonesia akan tetap memiliki propek di masa depan dalam pasar internasional.

    *)Direktur Riset Visi Teliti Saksama

    Referensi:

    Booth, A. (1988). Agricultural Development in Indonesia. London, United Kingdom: Allen and Unwin.

    Casson, A. (1999). The Hesitant Boom: Indonesia’s Oil Palm Sub-Sector in an Era of Economic Crisis and Political Change,. Bogor: Centre for International Forestry Research (CIFOR).

    Herlinda, W. D. (2017, Agustus 23). http://www.bisnis.com/. Retrieved from http://market.bisnis.com/: http://market.bisnis.com/read/20170823/94/683393/paruh-pertama-2017-volume-ekspor-minyak-sawit-tumbuh-positif

    KEHATI. (2005). Indonesian Path Toward Sustainable Energy: A Case study of developing biomass from palm oil in Indonesia. Yayasan Kehati. Jakarta: Yayasan Kehati.

    Komisi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. (2013). Retrieved from http://www.ispo-org.or.id/index.php?lang=ina: http://www.ispo-org.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=51&Itemid=209&lang=ina

    Pahan, I. (2007). Panduan Lengkap Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Jakarta, DKI, Indonesia: Penebar Swadaya.

    Pratomo, N., & Puraka, Y. W. (2008). engembangan Biofuel Dari Minyak Kelapa Sawit di Indonesia: Petani Lahan Kecil, Buruh dan Ancaman Ketahanan Pangan. Jakarta: Inrise.

    RSPO. (n.d.). https://www.rspo.org/about. Retrieved from https://www.rspo.org/: https://www.rspo.org/files/resource_centre/keydoc/8%20id_RSPO%20Fact%20sheet.pdf