MENJAGA KESINAMBUNGAN "TAMBANG EMAS HIJAU"

KEGAGALAN POTENSI BIODIESEL TANAMAN JARAK

Diperlukan lahan yang cukup luas untuk memperoleh hasil panen yang ekonomis untuk bahan baku biodiesel dari tanaman jarak pagar (Jatropha Curcas L).

  • Tanaman Jatropha curcas L (kiri), Biji Jatropha curcas L (kanan). Validnews/Nanug Pratomo
    Tanaman Jatropha curcas L (kiri), Biji Jatropha curcas L (kanan). Validnews/Nanug Pratomo

    Oleh: Nugroho Pratomo*

    Pemenuhan kebutuhan energi bagi manusia merupakan salah satu hal yang terus diupayakan oleh setiap negara. Setelah bahan bakar minyak atau energi fosil lainnya kini dinilai sebagai bahan bakar yang tidak ramah lingkungan, berbagai jenis bahan bakar nabati (BBN) kini mulai banyak dikembangkan. Salah satunya adalah biodiesel. Biodiesel  dapat diproduksi dari minyak nabati ataupun lemak hewani. Namun, biodiesel yang berasal dari minyak nabati menjadi bahan baku yang sangat potensial sebagai sumber biodiesel. Karena dengan menggunakan minyak nabati, keberadaannya lebih dapat diperbaharui.

    Secara umum, terdapat berbagai macam jenis tanaman yang dapat menghasilkan biodiesel. Hingga saat ini, kelapa sawit merupakan jenis tanaman yang menghasilkan minyak sebagai bahan baku biodiesel yang paling ekonomis. Beberapa jenis tanaman lain yang menghasilkan biodiesel lainnya adalah rapseed, kedelai, dan jarak pagar (Jatropha Curcas L).

    Jarak Pagar (Jatropha Curcas L)
    Tanaman jarak pagar pada dasarnya merupakan jenis tanaman semak (shurb). Tinggi rata-rata tanaman ini dapat mencapai enam meter. Tanaman ini hidup di daerah tropis dan subtropis. Karenanya, tanaman ini banyak tersebar di Amerika, Asia, dan Afrika. Sebaran tanaman jarak pagar di Indonesia banyak ditemukan di NTB dan NTT sebagai tanaman liar. Namun, di beberapa daerah di NTB, seperti Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, dan Bima, sudah dibudidayakan oleh masyarakat (Prihandana, 2007, hal:103-104).

    Curah hujan ideal yang dibutuhkan oleh tanaman ini antara 200—1.500 mm per tahun. Bibit tanaman jarak pagar ini dapat tumbuh pada tanah kering, kritis, dan miskin hara. Tanaman ini berbunga pada umur 6—8 bulan, namun produktivitasnya optimal dan stabil sejak berusia lima tahun. Jika hendak dibudidayakan pada tanah tandus, dalam satu hektare lahan dengan jarak antara 1 meter x 1,5 meter dapat ditanam sebanyak 3.300 batang. Pada tanah normal, densitasnya sekitar 2.500 batang (2 meter x 2 meter). Sedangkan pada tanah subur, densitasnya hanya sekitar 1.670 batang per hektare (2 meter x 3 meter).

    Klasifikasi tanaman jarak yang dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel adalah sebagai berikut (Syakir, 2010).
    Divisi                          : Spermatophyta.
    Sub Divisi                  : Angiospermae
    Kelas                          : Dicotyledonae
    Ordo                           : Euphorbiales
    Famili                         : Euphorbiaceae
    Genus                        : Jatropha
    Species                      : Jatropha curcas L

    Secara keseluruhan, Genus Jatropha terdiri atas 175 spesies, namun pada umumnya di Indonesia terdapat lima spesies, yaitu : J.curcas, J. gossypiifolia, J. integerrima, J. multifida dan J. Podagrica. Spesies jarak pagar terdiri atas dua kelompok, yaitu kelompok diploid (2m=22) dan tetraploid (20-44). Sebagian besar kelompok jarak pagar yang ada di Indonesia adalah kelompok diploid.

    Lebih lanjut mengenai morfologi tanaman jarak pagar adalah sebagai berikut. Pada bagian akar, sistem perakaran jarak pagar dipengaruhi kondisi lahan. Pada lahan yang ideal, sistem perakaran jarak pagar yang berasal dari setek tidak berbeda dengan dari biji. Bagian tengah akar terdiri atas jaringan air (xilem) dan jaringan makanan (floem). Xilem terdiri atas sel-sel penyalur yaitu trakeid, anggota pembuluh maupun serat, dan Parenkima . Parenkima adalah jaringan pengisi yang  memiliki fungsi penyimpanan makanan. Floem terdiri atas anggota pembuluh tapis, sel pengiring, serat, dan Parenkima . Anggota pembuluh tapis berfungsi dalam translokasi zat-zat organik.

    Batang tanaman jarak termasuk tanaman sukulen yang menggugurkan daun pada musim kering dan adaptif pada lahan arid dan semi arid. Batang mempunyai struktur kayu bentuk silindris, dan bergetah dengan percabangan tidak teratur. Pada bagian daun, berbentuk menjari dengan panjang dan lebar daun masing-masing 6 dan 15 cm berselang-seling, berwarna hijau muda sampai hijau tua. Panjang tangkai daun bervariasi mulai dari 6-23 mm. Helai daun bertoreh, berlekuk, dan ujung meruncing. Daun dihubungkan dengan tangkai daun sepanjang 4-15 cm ke batang. Bunga tanaman jarak pagar umumnya berkelamin satu, serta jarang yang biseksual. Bunga tersusun atas rangkaian sekitar 100 bunga atau lebih dengan bunga betina 5-10%. Bunga terdiri atas lima sepala dan lima petala berwarna hijau kekuningan atau cokelat kekuningan. Bunga jantan mempunyai sepuluh tangkai sari dengan kepala sari melintang. Bunga betina lebih besar dari bunga jantan. Buah tanaman jarak akan menjadi masak setelah 40-50 hari. Buah yang tadinya berwarna hijau akan berubah menjadi kuning, dan kemudian mengering. Buah-buah yang mengering akan tetap melekat pada percabangan tanaman.

    Minyak jarak adalah minyak nabati yang diperoleh dari biji tanaman jarak dengan cara pengepresan atau ekstraksi pelarut. Namun demikian, minyak jarak mempunyai sifat sangat beracun. Racun tersebut terdapat dalam bentuk risin (suatu protein), risinin (suatu alkaloid) dan heat-stable allergen yang dikenal dengan CB-IA. Kandungan asam lemak essensialnya juga sangat rendah sehingga tidak dapat digunakan sebagai minyak makan dan bahan pangan (Ketaren, 1986 dalam (Kusumaningsih, Pranoto, & Saryoso, 2006)

    Asam lemak penyusun minyak jarak dapat diubah menjadi ester-esternya untuk digunakan sebagai biodiesel. Mutu biodiesel ditentukan oleh banyaknya fraksi minyak yang teresterkan. Hal tersebut disebabkan viskositasnya menjadi lebih rendah. Banyaknya asam lemak tak jenuh yang ada menyebabkan minyak jarak mudah teresterkan (Pflumm, 2001 dalam (Kusumaningsih, Pranoto, & Saryoso, 2006). Ester-ester ini dapat diperoleh dengan menciptakan reaksi trigliserida dan alkohol fraksi ringan  yang memiliki katalisis asam maupun basa. Reaksi ini dikenal sebagai reaksi transesterifikasi yaitu reaksi pertukaran bagian alkohol dari suatu ester yang bersifat dapat balik (reversible). Reaksi transesterifikasi disebut juga reaksi alkoholisis yang melibatkan peruraian (cleavage) oleh alkohol sehingga dibutuhkan alkohol dengan tingkat reaktif  yang besar (Kusumaningsih, Pranoto, & Saryoso, 2006).

    Kegagalan Biodiesel Jarak
    Pengembangan biodiesel yang berasal dari tanaman jarak pagar tersebut sebenarnya sudah pernah dilakukan di Indonesia. Melalui program yang disebut dengan Desa Mandiri Energi (DME), pengembangan biodiesel dilakukan dengan melakukan pembudidayaan secara massal. Namun, upaya tersebut tidak berjalan seperti direncanakan. Berbagai masalah yang terjadi dalam program DME tersebut mengakibatkan pengembangan biodisel dari tanaman jarak menjadi terhenti.

    Beberapa DME berbasis minyak tanaman jarak yang kini tidak lagi berjalan antara lain terdapat di Subang dengan 180 pengembang dan 10 lokasi kebun bibit; Cirebon dengan 200 pengembang dan 10 lokasi kebun bibit; serta Kota Banjar dengan 245 pengembang dan 5 lokasi kebun bibit. Di Kecamatan Prambanan dan Turi, Sleman, Propinsi DIY, jumlah luas kebun tanaman jarak berkurang dari 100 hektar di tahun 2006 menjadi 21,2 hektar pada tahun 2012 (http://www.harianjogja.com/tentang-harianjogja, 2012).

    Kegagalan tersebut pada dasarnya disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah penggunaan bibit yang bukan berasal dari daerah setempat (bukan bibit lokal). Studi yang dilakukan oleh (Pratomo, 2015) di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menyebutkan bahwa pembudidayaan tanaman jarak sebagai bahan baku biodiesel selama berlangsungnya DME dengan mengambil bibit yang berasal dari Balai Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian di Sukabumi, pada kenyataannya justru tidak mampu menghasilkan panen yang optimal. Hal ini berbeda dengan hasil pembudidayaan yang dilakukan dengan mengambil bibit dari tanaman jarak lokal. Perbedaan iklim Sukabumi di mana Balittri berada dan lokasi DME menyebabkan produktivitas tanaman jarak yang berasal dari Sukabumi menjadi berkurang.

    Dilihat dari sisi keekonomian, efisiensi budidaya tanaman jarak pagar tidak sebanding dengan minyak yang dihasilkan. Berdasarkan hasil penelitian Robert Manurung, diperlukan lahan yang cukup luas untuk memperoleh hasil panen yang ekonomis untuk bahan baku biodiesel. Sementara, di lapangan, tanaman jarak dibudidayakan sebagai sampingan atas komoditas utama yang ada (padi dan jagung). Akibatnya, produk biji yang dihasilkan juga tidak mencukupi kebutuhan produksi biodiesel (Pratomo, 2015). Hal ini berbeda dengan kelapa sawit yang sudah menjadi tanaman perkebunan dalam skala industri. Jadi, di samping aspek teknis di mana kandungan minyak yang dihasilkan kelapa sawit jauh lebih banyak, hal ini semakin menyebabkan kelapa sawit menjadi satu-satunya sumber BBN biodiesel yang sangat kompetitif di pasar energi baru dan terbarukan.    

    *)Direktur Riset Visi Teliti Saksama

    Referensi

    http://www.harianjogja.com/tentang-harianjogja. (2012, Maret 20). Diambil kembali dari http://www.harianjogja.com/: http://www.harianjogja.com/baca/2012/03/20/tajuk-masih-ada-harapan-untuk-jarak-172002


    Kusumaningsih, T., Pranoto, & Saryoso, R. (2006, Mei). Pembuatan Bahan Bakar Biodisel dari Minyak Jarak; Pengaruh Suhu dan Konsentrasi KOH pada Reaksi Transesterifikasi Berbasis Katalis Basa. Bioteknologi, 3(1), 20-26.
    Pratomo, N. (2015). Universitas Indonesia, Pascasarjana Ilmu Lingkungan. Jakarta: Universitas Indonesia.


    Prihandana, R (2007). Dari Energi Fosil Menuju Energi Hijau, Jakarta, Proklamasi Publishing House.


    Syakir, M. (2010). “Prospek dan Kendala Pengembangan Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Sebagai Bahan Bakar Nabati di Indonesia”. Perspektif Vol. 9 No. 2 /Desember 2010.