KEARIFAN LOKAL YANG MULAI LUNTUR

Peran penting melestarikan dan merawat kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan hidup

  • SIstem subak di Bali. FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana
    SIstem subak di Bali. FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana

    Oleh: Mohammad Widyar Rahman, M.Si

    Sejak dahulu, nenek moyang kita sebenarnya telah mewariskan beragam pedoman sikap dan perilaku dalam berinteraksi dengan alam dan lingkungan. Secara empiris hal tersebut telah berhasil mencegah kerusakan fungsi lingkungan, baik tanah/lahan, hutan, maupun air (Siswadi et. al. 2011). Saat ini warisan tersebut menjadi apa yang kita sebut sebagai kearifan lokal.

    Kearifan Lokal
    Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa kearifan lokal merupakan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari. Siswadi et. al. (2011) menjelaskan bahwa kearifan lokal sering dikonsepsikan sebagai pengetahuan setempat (local knowledge), kecerdasan setempat (local genius), dan kebijakan setempat (local wisdom) oleh karenanya selalu mengandung pengetahuan masyarakat, nilai-nilai sosial, etika dan moral, dan norma-norma secara turun temurun.  

    Hal tersebut telah digunakan oleh masyarakat sebagai pedoman dan sikap perilaku dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pada dasarnya banyak pembelajaran dari kearifan lokal masyarakat Indonesia sehingga kearifan lokal sangat penting menjadi pertimbangan bijak dalam pembangunan. Kearifan lokal cenderung memandang manusia sebagai bagian integral dari alam, perilaku penuh tanggung jawab, penuh sikap hormat dan peduli terhadap kelangsungan semua kehidupan di alam semesta (Keraf, 2002).

    Contoh-contoh kearifan lokal yang ada di berbagai daerah di antaranya merti desa di Jawa Tengah, Subak di Bali, Sasi di Maluku, Tuk Serco di Kendal (Siswadi et. al., 2011), Handil di Kalimantan Timur, tanjung kerapusan, suak ulu tulung, tinjau terkukuh, tanam tukuh, dan aturan adat utan tiga ragi di Bengkulu, tabu dan pamali di Jawa Barat (Hidayati, 2016), situs buyut cili di Banyuwangi (Sufia et. al., 2016).

    Lunturnya Kearifan Lokal
    Saat ini, eksistensi kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia telah mengalami penurunan. Kondisi ini digambarkan dari banyaknya nilai kearifan lokal yang sudah tidak dipraktikkan lagi. Keberadaan kearifan lokal sudah ‘diabaikan’ dan tinggal menjadi cerita masyarakat. Di beberapa tempat lainnya, kearifan lokal bahkan telah hilang. Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan tersebut di antaranya  memudarnya nilai kebersamaan dan gotong royong, pergeseran dari dimensi sosial ke dimensi ekonomi, lunturnya kelembagaan tradisional, dan memudarnya fungsi kearifan lokal dalam menjaga keharmonisan dengan alam (Hidayati, 2016).

    Cara pandang masyarakat yang telah mengakar kemudian tergerus dalam cara pandang abad 17 dan 18 yang saat ini kita sebut sebagai zaman modern. Pergeseran ini cenderung tidak memberi ruang kepada pertimbangan nilai alam dan lingkungan hidup sehingga menyebabkan lunturnya kearifan lokal masyarakat di berbagai daerah. Perlu ada alternatif cara pandang yang memungkinkan sikap dan perilaku yang lebih ramah lingkungan. Hal tersebut membutuhkan peran seluruh elemen terkait dalam melestarikannya agar kelak kearifan lokal masyarakat tidak punah.

    Masalah sosial budaya berpusat pada sumber daya manusia, pendidikan, dan budaya yang dimiliki oleh setiap orang. Perubahan pemahaman tentang kehidupan yang berdampingan dengan alam atau biasa disebut naturalisme menjadi antroposentrisme. Kehidupan modern saat ini memiliki kegiatan eksploitasi alam dengan intensitas yang tinggi, merupakan tanda bahwa kerusakan lingkungan juga bertambah luas. Kemajuan teknologi tidak menjamin suatu wilayah dapat lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Namun, pola pikir dan gaya hidup masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan lingkungan (Sufia et. al., 2016).

    Dilihat dari aspek praktik-praktik pengelolaan lingkungannya, meski sistem pengetahuan dan teknologi lokal tersebut tidak dipahami sebagai suatu sistem pengetahuan yang tuntas dan sempurna, kearifan budaya lokal seharusnya dipahami sebagai sistem pengetahuan yang dinamis dan berkembang terus sejalan dengan tuntutan kebutuhan manusia. Pemahaman terhadap sistem pengetahuan dan teknologi lokal dari berbagai daerah sangat penting dalam menunjang pembangunan.

    Ketika cara pandang ekologis sebagai alternatif mendorong untuk meninggalkan antroposentrisme, sebenarnya diajak untuk kembali ke kearifan lokal, kembali ke jati dirinya sebagai manusia ekologis (Keraf, 2002). Oleh karena itu, semakin pesatnya kemajuan zaman yang berpotensi dapat menggerus cara pandang generasi saat ini dengan bias ekonomi. Namun, hal itu bukan berarti harus melupakan budayanya yang telah ada sejak dulu karena kearifan lokal sebagai etika tradisional bisa menjadi alternatif di tengah pergeseran cara pandang yang cenderung mengabaikan etika dan lingkungan hidup.

    *) Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

    Referensi:
    Hidayati, D. 2016. Memudarnya Nilai Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya Air. Jurnal Kependudukan Indonesia, 11 (1): 39-48.

    Keraf, A. S. 2002. Etika Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

    Siswadi, T. Taruna, H. Purnaweni. 2011. Kearifan Lokal Dalam Melestarikan Mata Air (Studi Kasus Di Desa Purwogondo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal). Jurnal Ilmu Lingkungan, 9 (2): 63-68.

    Sufia, R. Sumarmi, A. Amirudin 2016. Kearifan Lokal dalam Melestarikan Lingkungan Hidup (Studi Kasus Masyarakat Adat Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi). Jurnal Pendidikan, 1 (4): 726-731.
    ???????
    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaaan Lingkungan Hidup.