KALA HIBURAN KIAN MENAKUTKAN

Pembuatan film dengan genre horor bertujuan memunculkan rasa takut, memberikan kejutan, dan teror yang membekas di hati penontonnya.

  • Salah satu adegan dalam film
    Salah satu adegan dalam film "Pengabdi Setan". Ist

    Oleh: Gisantia Bestari, SKM*

    Satu lagi film Indonesia yang berhasil mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Setelah berhasil meraup lebih dari empat juta penonton pada penayangannya di bioskop Indonesia bulan September 2017 lalu, film Pengabdi Setan meraih penghargaan sebagai Film Terbaik dalam Overlook Film Festival 2018 pada bulan April 2018.

    Melalui akun Twitter pribadinya, Joko Anwar selaku sutradara film Pengabdi Setan mengatakan bahwa Overlook Film Festival adalah festival film horror yang di tahun keduanya sudah menjadi salah satu festival film paling bergengsi di Amerika Serikat. Film Pengabdi Setan yang merupakan adaptasi film berjudul sama tahun 1980 ini berhasil mengalahkan sejumlah film horor yang dianggap keren oleh Joko Anwar yakni Hereditary, Don't Leave Home, dan Upgrade.

    Genre horor memang bukanlah genre baru dalam industri perfilman Indonesia. Kebangkitan film horor Tanah Air di tahun 2000-an ditandai dengan munculnya film Jelangkung oleh Rizal Mantovani dan Jose Poernomo pada tahun 2001 yang mendulang kesuksesan pada masanya (Karis Singgih, 2014). Film Jelangkung, pada saat itu, tidak hanya menjadi tonggak awal kembalinya film horor Indonesia, namun juga menjadi salah satu film pendorong kembalinya industri perfilman nasional setelah tidur panjang.

    Seni Yang Menakut-Nakuti
    Berbeda dengan genre film-film lainnya, pembuatan film dengan genre horor bertujuan memunculkan rasa takut, memberikan kejutan, dan teror yang membekas di hati penontonnya. Biasanya, film horor memiliki jalan cerita seputar upaya seseorang dalam melawan kekuatan jahat, dengan bentuk teror yang dilakukan oleh karakter makhluk halus, monster, ataupun makhluk asing.

    Film bergenre horor dapat dikombinasikan dengan genre supernatural yang aneh dan genre thriller yang mencekam. Film horor dikenal sebagai film dengan pengaturan ruangan yang gelap, suasana mencekam, dan musik yang mendukung ketegangan. Charles Derry, seorang kritikus film dan penulis buku dari Amerika, menjelaskan bahwa genre horor terbagi ke dalam tiga sub genre, yaitu horor psikologis, horor bencana, dan horor hantu (Handi Oktavianus, 2015).

    Horor psikologis merupakan sub-genre dengan karakter-karakter yang pada awalnya biasa dan normal, namun kemudian menunjukkan sisi iblis pada akhirnya. Karakter tersebut dikenal sebagai seseorang yang sakit jiwa dan terasingkan. Horor psikologis bisa juga diwarnai dengan adegan pembunuhan yang mengerikan karena penuh dengan cipratan darah. Salah satu contoh film horor psikologis Indonesia menurut pengamatan penulis adalah Modus Anomali oleh Joko Anwar yang ditayangkan tahun 2012, Fiksi oleh Mouly Surya tahun 2008, dan Rumah Dara oleh Mo Brothers tahun 2009.

    Sub-genre yang kedua, yaitu horor bencana, adalah jenis yang mengangkat kekhawatiran dan ketakutan manusia akan akhir dunia. Terdapat kepercayaan bahwa dunia akan hancur suatu hari nanti dan manusia akan mati. Ada beberapa faktor penyebab keruntuhan dunia, yaitu peristiwa alam seperti ledakan gunung dan tsunami, serangan makhluk asing, serangan binatang, dan kombinasi dari seluruhnya.

    Ada sejumlah film horor bencana yang menampilkan mayat-mayat hidup atau dikenal dengan zombie, yang mencari orang-orang hidup untuk dimakan atau bahkan dijadikan zombie juga. Contoh film horor bencana di Indonesia adalah Bangkit! tahun 2016 dengan sutradara Rako Prijanto, yang disebut sebagai film bencana pertama di Tanah Air dan bercerita tentang kehancuran Kota Jakarta.

    Sub-genre terakhir adalah sub-genre yang paling dikenal dalam dunia perfilman horor, yaitu horor hantu. Film horor hantu menawarkan cerita mengenai upaya seseorang dalam melawan kehadiran makhluk halus, sekaligus berisi kekhawatiran akan diganggu setan yang mengancam hidupnya. Hantu digambarkan dalam sosok spiritual. Contoh film horor hantu di Indonesia adalah Pengabdi Setan yang juga menampilkan horor bencana berupa zombie dan film Jelangkung.

    Keinginan Ditakut-Takuti
    Film horor merupakan film yang paling memungkinkan sineas untuk bebas berkreasi, mulai dari yang paling rasional hingga di luar logika. Dari sisi penonton, penggemar film dengan genre horor memiliki apa yang disebut dengan kenikmatan paradoksal. Sebutan ini mengandaikan kebutuhan akan kenikmatan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan/menyiksa. Penonton menyambangi bioskop untuk mengalami ketakutan, kengerian, dan menjijikkan secara sadar. Mereka menghindari hal-hal yang dekat dengan realitas sehari-hari karena tidak ada kenikmatan yang diperoleh (Suma Riella, 2010).

    Selain itu, didikan secara rasional seperti yang diberikan pada orang Eropa dan Amerika memunculkan kebutuhan akan konfirmasi atas pertanyaan-pertanyaan mengenai dunia supernatural yang tak terjawab. Misalnya, apakah roh yang membalas dendam itu ada. Menikmati cerita horor membuat manusia bisa mengonfirmasi keraguan tersebut, karena setidaknya mereka berhadapan dengan sesuatu yang mustahil dalam kehidupan sehari-hari ketika menonton film horor. Indonesia, sebagai negara dengan sejumlah suku yang memiliki ajaran ilmu supernatural, juga tak lepas dari kebutuhan akan konfirmasi tersebut. Sebab, tidak semua orang memiliki pengalaman supernatural (Suma Riella, 2010).

    Kemenangan film Pengabdi Setan dalam Overlook Film Festival 2018 di Amerika menandakan kemampuan film dalam memenuhi ekspektasi penonton akan sebuah sajian horor. Film ini bisa memenuhi kebutuhan akan konfirmasi yang terus berkembang, yang tidak hanya berputar pada pertanyaan ada atau tidak adanya roh, tapi juga bagaimana dan kenapa mereka muncul.

    Pengalaman inilah yang perlu dipertahankan oleh sineas horor, bahwa pertanyaan demi pertanyaan dan kejutan demi kejutan menjadi kunci kesuksesan sebuah film horor (Suma Riella, 2010). Film Pengabdi Setan bukan hanya meraih keberhasilan yang tidak perlu dipertanyakan lagi oleh dunia, namun juga kemampuan film ini dalam menaikkan standard kualitas film horor lokal tidak perlu dipertanyakan lagi oleh Indonesia.

    *) Peneliti Muda Visi Teliti Saksama

    Referensi:
    Angga Permana, Karis Singgih. (2014). ANALISIS GENRE FILM HOROR INDONESIA DALAM FILM JELANGKUNG (2001). Universitas Airlangga.

    Rusdiarti, Suma Riella. (2010). Film Horor Indonesia: Dinamika Genre. Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

    Oktavianus, Handi. (2015). PENERIMAAN PENONTON TERHADAP PRAKTEK EKSORSIS DI DALAM FILM CONJURING. Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra Surabaya.