Jim Geovedi; "One Of The Most Dangerous Person"

  • Jim Geovedi. Ist
    Jim Geovedi. Ist

    JAKARTA- “Kalau mau, saya bisa mengontrol internet seluruh Indonesia. Saya bisa mengalihkan traffic (lalu lintas data-red), saya bisa mengamati traffic yang keluar ataupun masuk Indonesia. Saya bisa memodifikasi semua transaksi keuangan…”

    Kalimat ini jelas menggambarkan rasa percaya diri yang begitu tinggi akan kapasitas atau kemampuan si pengucapnya. Atau sebagian orang mungkin menilainya angkuh, arogan, lebai atau bahkan pemimpi.

    Tapi tidak bagi Jim Geovedi, laki-laki berkewarganegaraan Indonesia yang kemampuan hacking-nya (meretas) diakui dunia. Kalimat di atas adalah penggalan wawancaranya dengan stasiun TV dan Radio asal Jerman, Deutsche Welle beberapa waktu lalu.

    Jim memang tidak asal ngomong. Ia bukan seorang hacker pemula atau kacangan. Usianya memang masih terbilang muda, kelahiran 1979, namun Jim adalah seorang hacker ulung. Di dunia maya ia bahkan dianggap sebagai one of the most dangerous person alias orang yang berbahaya. Berbahaya karena dengan kemampuannya yang dimilikinya Jim dapat mewujudkan apa saja yang ia mau lakukan dari jarak jauh.

    Jim mengisahkan sekali waktu ia diminta menguji sistem keamanan kontrol satelit milik China yang menjadi kliennya. Seketika kliennya kagum namun juga menjadi panik karena Jim menggeser posisi satelit dari orbitnya. Pasalnya sulit mengembalikan kedudukan satelit ke orbitnya, dan Jim mampu melakukannya.

    “… lalu ya saya geser…dan itu membuat mereka panik karena agak sulit mengembalikan satelit itu ke orbit. Untung mereka punya bahan bakar ekstra. Mereka bilang, oke cukup jangan diteruskan,” kisah Jim seperti dipublikasikan Deutsche Welle.

    Tak hanya satu satelit, Jim bahkan pernah mengubah rotasi satelit milik negeri kelahirannya, Indonesia.

    “Satelit itu sistemnya cukup unik. Orang yang bisa mengontrol satelit harus tahu A sampai Z tentang isi satelit. Dan satu-satunya cara adalah anda harus masuk ke ruang operator atau berada dalam situasi kerja sang operator (dengan meretasnya-red). Dari sana anda akan memahami semua hal, satelit ini diluncurkan kapan, bagaimana cara kontrol, sistem apa yang digunakan. Setelah itu anda akan bisa memahami, oh di sini toh kelemahan sistemnya,” Jim menuturkan.

    “Itu semua total insting. Semakin sering anda mempelajari kasus, jika berhadapan dengan kasus lain, anda akan bisa melihat adanya kesamaan pola. Kalau anda sudah melihat kesamaan pola, maka anda akan tahu,” imbuh pemuda asal Bandar Lampung ini.

    Pada bulan Januari 2009 silam, hasil penelitiannya atas kelemahan sistem satelit menjadi acuan salah satu topik pembicaraan dalam Black Hat Security Conference di Washington, D.C, sebagaimana dilansir sebuah situs bernama Men’s Obsession.

    Jim mengingatkan, kedua pengalaman itu dilakukannya karena diminta oleh perusahaan yang menjadi kliennya, bukan karena keisengan, mencari popularitas atau alasan-alasan lainnya yang mengarah pada tindakan atau perbuatan melawan hukum.

    Jim Geovedi. Ist

    Masa Kelam
    Bisa dibayangkan jika kita memiliki kemampuan setara seperti yang dipunyai Jim, namun di dalam diri kita tumbuh subur benih-benih kriminal atau kejahatan, maka akan terjadi begitu banyak kekacauan sebagai akibat penyalahgunaan anugerah yang diberikan Tuhan.

    Jika dia mau, setiap saat ia bisa mengintip rekening orang lain, mencuri data-data lalu lintas transaksi bank, laporan keuangan perusahaan atau bahkan mengamati sistem pertahanan negara. Karena itulah ia dianggap berbahaya.

    Dengan latar belakangnya yang pernah menjadi “anak jalan”, stigma hacker badung, berandal, terlebih penjahat pasti langsung tersemat pada dirinya. Beruntung Jim bukanlah bagian dari stigma sosial itu. Dunia hacking digelutinya justru dengan tujuan memberi manfaat bagi orang lain.

    “Saya termasuk orang yang bersyukur atas apa yang saya punya. Saya nggak punya interest berlebihan soal materi,” ucapnya.

    Selepas menamatkan studi di tingkat sekolah menengah atas (SMA kala itu), Jim sebenarnya diterima di sebuah perguruan tinggi negeri. Hanya saja masa perkuliahan itu cukup singkat dijalaninya, tidak lebih dari tiga bulan. Penyebabnya adalah karena ketiadaan biaya, apalagi ia baru saja ditinggal oleh orang tuanya yang meninggal dunia.

    Jim seperti kehilangan segalanya. Untuk menyambung hidup ia memilih menjalani kerasnya hidup di jalan dengan berprofesi sebagai seniman grafis di Bandar Lampung.

    “Aku hanya fokus pada rasa sakit, satu-satunya hal yang nyata bagiku…Aku terlahir sebagai seorang procrastinator alami…”

    Begitu ia menggambarkan dirinya yang dilahirkan di dunia dan menjalani kehidupan keras keras, sebagaimana ia tuliskan dalam situs pribadinya dan dilansir di situs Men’s Obsession.

    Procrastination yang dimaksud Jim adalah sebuah perilaku dalam ilmu psikologi dimana seseorang lebih suka melakukan hal menyenangkan dan menunda hal yang penting. 

    Ia juga mengaku sebagai seorang perokok berat yang tidak pernah berusaha berhenti, tak memiliki selera humor dan bisa tiba-tiba bersikap sarkastik. Jim bahkan mengakui pandai membuat masalah, suka berpura-pura jenius. serta mampu menjadi pengaruh buruk bagi jiwa-jiwa yang lemah.

    “Aku senang memperhatikan orang lain dalam jarak yang aman…Kadang aku menikmati saat menghina kecerdasan mereka...Aku sulit menyatu dengan orang lain.” Tulisnya.

    Dari cukilan perjalanan hidupnya di atas, jelas bahwa kemampuan yang kini dimiliki Jim bukanlah bersumber dari bangku perkuliahan. Jim sebelumnya sama sekali tidak pernah mengenyam Pendidikan formal di bidang komputer.

    Suratan nasib yang digariskan Tuhan-lah yang membawanya berkenalan dengan dunia siber. Adalah seorang pendeta yang memperkenalkan komputer dan internet kepadanya ketika Jim masih bergelut di kehidupan jalanan.

    Kesempatan itu dimanfaatkannya belajar otodidak secara sungguh-sungguh. Makna chating yang di dulu dibenaknya hanyalah wadah mencari gebetan berubah menjadi wadah belajar. Jim menjaring ilmu dari hacker-hacker dunia lewat chating. Ia kembali merasakan gairah kehidupan di komunitas itu, bahkan termotivasi menjadi seorang hacker.

    Pengetahuannya dalam hal mengotak-atik program berkembang pesat. Satu hal yang menjadi daya tarik dan focus perhatiannya adalah dunia sekuritas informasi. Selama dua tahun ia melakukan riset dan usaha kerasnya itu membuat namanya semakin diperhitungkan di komunitas sekuritas underground.

    Anak Tangga Kesuksesan
    Langkah kesuksesan Jim ditapakinya secara alami dan rasa syukur. Kesohorannya di lingkungan sekuritas underground perlahan menjadikannya sebagai sebagai pembicara di berbagai even seminar teknologi informasi. Berbagi pengetahuan adalah tujuan utamanya. Ia membuktikan,  pengetahuan dan kemampuan hacking ternyata sangat bermanfaat dan menjanjikan jika digunakan dengan benar.

    Tahun 2001, Jim mendirikan C2PRO Consulting, sebuah perusahaan konsultan TI umum untuk lembaga pemerintahan. Tiga tahun kemudian, tepatnya di tahun 2004, Jim mendirikan dan mengoperasikan perusahaan konsultan keamanan TI Bellua Asia Pacific yang berubah nama menjadi Xynexis International. Di tahun yang sama ia mendirikan perusahaan jasa keamanan Noosc Global. 

    Kapasitas kemampuannya diuji ketika diminta membongkar identitas pelaku penjebol pusat data penghitungan suara pemilu Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tahun 2004. Hasilnya Jim berhasil mengetahui identitas peretas yang bernama Dani Firmansyah A.K.A Xnuxer, dan dijadikan sebagai informasi bagi satuan Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya saat menangkap si peretas pada 24 April 2004.

    Jim menjelma menjadi seorang hacker dengan reputasi global. Berlin, Amsterdam, Paris, Torino, hingga Krakow adalah kota-kota yang bolak-balik dikunjunginya dalam kapasitas dirinya sebagai pembicara pada pertemuan para hacker internasional.

    Terlebih setelah ia membutktikan mampu meretas satelit, namanya semakin harum. Keshoronnya di dunia siber juga yang kemudian membawanya pergi meninggalkan Indonesia. Sejak 2012, Jim memutuskan pindah ke London dan mendirikan perusahaan jasa sistem keamanan teknologi informasi. Dia menangani para klien yang membutuhkan jasa pengamanan sistem satelit, perbankan dan telekomunikasi. (Rafael Sebayang)