Jepang Gantikan AS Serap Ekspor Ikan Bali

Nilai ekspor ikan dan udang Bali diketahui mencapai US$14,46 juta pada November 2017, meningkat US$1,34 juta alias 10,98% dibandingkan nilai di Oktober 2017 yang tercatat US$13,12 juta

  • Nelayan memperbaiki jaring saat tidak melaut di Pantai Kelan, Bali, Senin (20/11). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
    Nelayan memperbaiki jaring saat tidak melaut di Pantai Kelan, Bali, Senin (20/11). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

    JAKARTA – Tidak hanya mengandalkan panorama yang indah dan budaya kental guna menarik pendapatan dari pariwisata, nyatanya Pulau Dewata juga memiliki sejumlah komoditas yang mampu bersumbangsih bagi ekspor Pulau Dewata.

    Komoditas ekspor Bali yang dari tahun ke tahun tampak menunjukkan konsistensi adalah ikan dan udang. Pada bulan November 2017 saja, nilai ekspor ikan dan undang mampu bersumbangsih 31,51% dari total pundi-pundi yang diperoleh Bali dari ekspor.

    Ikan dan udang dari Bali memang diminati banyak negara. Tidak heran jika komoditas ini dari tahun 2010 selalu masuk sebagai komoditas unggulan ekspor di peringkat pertama. Amerika Serikat kerap menjadi pelanggan utama guna komoditas ini, baru disusul oleh Jepang dan Singapura.

    Mengambil contoh pada 2014. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik Bali, Amerika Serikat menjadi penyerap utama ikan dan udang yang diekspor Bali dengan nilai US114,23 juta. Baru kemudian disusul dengan Jepang sebesar US$61,54 juta dan Singapura dengan nominal US$47,34 juta.

    Hanya saja pada November 2017, Jepang akhirnya menggeser posisi adidaya tersebut sebagai negara tujuan ekspor terbesar untuk produk ikan dan udang Bali. Dari total pengeksporan ikan dan udang senilai US$14,46 juta pada November kemarin, nilai ekspor ke Jepang tercatat 21,35%.

    "Hasil tangkapan nelayan dan perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan kapal-kapal besar mangkal di Pelabuhan Benoa itu produksinya menembus berbagai negara di belahan dunia. Setelah Jepang, menyusul Amerika Serikat yang menampung 18,91%," tutur Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Sabtu (13/1), seperti dilansir Antara.

    Sudah menjadi rahasia umum memang bahwa Jepang merupakan salah satu negara pengonsumsi makanan laut terbanyak di dunia. Bahkan menurut FAO, konsumsi Jepang untuk ikan telah mencapai 53,7 kilogram per kapita tiap tahunnya pada 2013.  Amerika Serikat pada tahun yang sama tercatat hanya mengonsumsi ikan sebanyak 21,8 kilogram per kapita tiap tahunnya. Untuk Jepang, bahkan pada tahun 1998, konsumsi ikan di negara tersebut sempat mencapai 72,6 kilogram tiap kepala per tahunnya.

    Selain oleh Jepang, Adi menyebutkan, ikan dan udang dari Bali itu diminati pasaran Australia yang menampung 8,41% dari total nilai ekspor. Menyusul di belakangnya ada Singapura dengan persentase 5,65%; Thailand 3,25%; China 1,81%; Taiwan 1,24%; Hong Kong 2,35%, Vietnam 6,87%; dan Jerman 2,54%.Sisanya sebanyak 27,63% menembus berbagai negara lainnya di belahan dunia.

    Baca Juga:
    Protes Larangan Cantrang, Aktivitas TPI Batang Lumpuh
    Alat Bantu Tangkap dan Kapal Jadi Fokus Bantuan KKP 2018

    Penyejuk
    Nilai ekspor ikan dan udang Bali diketahui mencapai US$14,46 juta pada November 2017. Angka ini meningkat US$1,34 juta alias 10,98% daripada nilai di Oktober 2017 yang tercatat US$13,12 juta.

    "Dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya juga meningkat US$2,64 juta atau 22,43%,” imbuh Kepala BPS provinsi ini.

    Untuk diketahui, pengapalan ikan dan udang pada November 2016 di provinsi ini tercatat sebesar US$11,81 juta.

    Peningkatan nilai ekspor ikan dan udang di Bali menjadi angin penyejuk di tengah lesunya ekspor dari provinsi tersebut. Adi menyebutkan, total nilai ekspor Bali pada November 2017 menurun US$1,79 juta atau 3,76% dari bulan sebelumnya. Pada Oktober 2017, nilai total ekspor Bali mencapai US$47,60 juta, sementara pada November hanya US$45,90 juta.

    Ikan dan udang sendiri memberikan kontribusi 31,51% dari total nilai ekspor bulan tersebut. Tak ditampik, ikan dan udang memang merupakan salah satu dari lima komoditas utama ekspor Pulau Dewata. Menyusul di belakangnya ada andil  produk perhiasan (permata) sebesar 15,94%; pakaian jadi bukan rajutan 11,17%; produk kayu dan barang dari kayu 9,02%; serta produk perabot dan penerangan rumah 5,75%. (Teodora Nirmala Fau)