Jejak Pengusaha Besar Industri Mobil Nusantara

Industri mobil menggeliat sejak sebelum kemerkaan dan terus berkembang hingga saat ini

  • Toyota Kijang 'Buaya' di Museum Astra, Sunter, Jakarta Utara, Jumat (9/3). Validnews/Benny Silalahi
    Toyota Kijang 'Buaya' di Museum Astra, Sunter, Jakarta Utara, Jumat (9/3). Validnews/Benny Silalahi

    JAKARTA – Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaanya pada Jumat, 17 Agustus 1945. Spirit nasionalisme di tiap-tiap individu masyarakat Indonesia kala itu membuncah, membayangkan negeri ini lepas dari penjajah dan akan membangun masa depannya sendiri tanpa campur tangan bangsa lain. Tanpa mengenyampingkan faktor-faktor lain yang sibuk dipersiapkan pasca kemerdekaan, yang menarik adalah ada satu sektor yang sejak lama ada dan ingin dikembangkan di Indonesia, yakni industri otomotif.

    Dalam buku Sejarah Mobil dan Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini karya James Luhulima menceritakan, industri otomotif Indonesia dimulai tahun 1920 ketika General Motors (GM), sebuah perusahaan otomotif multinasional yang bermarkas di Amerika Serikat, mendirikan pabrik perakitan mobil Chevrolet di Tanjung Priok. Selain memproduksi Chevrolet, General Motors juga memproduksi merek mobil lain, yakni Pontiac, Cadillac dan Buick 8 yang dirilis pada 1938. Dalam sejarahnya, Buick 8 nantinya akan menjadi mobil kepresidenan Indonesia pertama yang dipakai Soekarno.

    Sayang, situasi Perang Dunia II kali itu berdampak langsung pada eksistensi bangsa lain yang ada di Indonesia. Pendudukan Jepang (1942—1945) membuat pabrik General Motors diambil alih dan operasional pabrik dihentikan sejak Maret 1942. General Motors pun menarik semua investasi di Hindia Belanda. Barulah usai Perang Dunia II General Motors kembali menancapkan kakinya di Indonesia dengan membuka cabang di Jakarta untuk mengoperasikan pabrik perakitan mobil. 

    Pada 1950-an industri mobil di Indonesia mulai menggeliat. Muncul pemain-pemain besar baru di tanah air. Salah satunya adalah Hasjim Ning, seorang pengusaha asal Padang, Sumatra Barat. Setelah pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel 1951, Hasjim berdagang mobil dan mendirikan Djakarta Motor Company, yang saat itu dipercaya menjual mobil-mobil pabrikan Eropa.

    Sukses menekuni bisnis penjualan mobil, ia kemudian dipercaya menjadi Direktur Eksekutif PT Indonesia Service Company yang didirikan oleh Menteri Perhubungan kala itu, Ir. Herling Laoh. Insting bisnisnya sebagai pengusaha tidak diragukan, ia lalu mengambil alih perakitan mobil Ford dan Dodge ke dalam negeri. Pada tahun 1952 Hasjim mendirikan PT Daha Motor dan berhasil mengimpor mobil bermerek Fiat. Semua perusahaan yang didirikan Hasjim Ning berkiblat pada mobil-mobil Eropa. Saat itu industri mobil Jepang belum booming di Nusantara.

    Waktu terus bergulir, medio tahun 1970-an serbuan mobil-mobil Jepang terus menggerus pasar otomotif Indonesia. Tokoh-tokoh bermodal besar, seperti Liem Sioe Liong (Suzuki), Sjarnubi Said (Mitsubishi), Ang Kang Ho (Honda), Mochtar Riyadi (Suzuki), Bachtiar Lubis (Mazda), Affan Family (Nissan), masuk ke dunia otomotif untuk ikut serta membangun industri otomotif nasional. Belum lagi grup Astra (Toyota) yang dimodali langsung dari Jepang, semua membuat “kue” yang tersaji harus dibagi-bagi.

    “Mobil-mobil keluaran AS yang sampai 1960-an mendominasi ruas-ruas jalan di kota-kota besar di Indonesia, pada awal 1970-an berangsur-angsur menghilang. Mulai digantikan oleh mobil-mobil keluaran Jepang,” tulis James Luhulima.

    Masuknya tokoh-tokoh bermodal besar ke dunia otomotif Indonesia, persaingan bisnis semakin ketat. Semua pilihan aneka ragam mobil sangat tergantung pada selera konsumen. Konsumen Indonesia kebanyakan lebih memilih mobil-mobil Jepang karena harga yang ditawarkan lebih murah dari pada mobil non Jepang, meski sedikit harus mengorbankan kenyamanan.

    PT Daha Motor dan PT Indonesia Service Company dimiliki Hasjim Ning, mulai terkena dampaknya. Lezatnya 'Kue' dari industri mobil-mobil Eropa makin lama makin mengecil walaupun pabrikan Eropa telah mengeluarkan beberapa varian baru. Puncaknya pada tahun 1980, Hasjim Ning terpaksa melakukan PHK terhadap sebagian besar karyawannya. Waktu itu hanya menyisakan 2 orang karyawan, di luar security, yaitu Presiden Direktur H. Sarosa Ratam dan Tjaslam sebagai OB (Office Boy).

    Infografis Pemain Awal Mobil

    Jusuf Kalla Sang Pionir
    Tumbangnya mobil pabrikan Eropa dan Amerika di awal tahun 1970 menjadi gerbang pembuka bagi mobil rakitan Jepang. James Luhulima, penulis Sejarah Mobil & Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini, menyebutkan mobil Jepang pertama yang masuk ke Nusantara adalah Toyota Land Cruiser. Mobil ini memiliki atap berupa canvas atau terpal. Karena itu, sebutan jip Toyota canvas lebih dikenal masyarakat.

    “Saat itu, sebanyak 100 jip Toyota canvas didatangkan oleh Departemen Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa yang akan mengadakan Musyawarah Nasional Koperasi di Surabaya,” tulis James

    Toyota Land Cruiser, adalah mobil produksi Negara Jepang yang pertama kali datang di Indonesia. Kendaraan ini sangat terkenal pada waktu itu, bahkan mantan Presiden Soeharto, menggunakan jip Toyota Land Cruiser yang beratap kanvas sebagai kendaraan utama sewaktu menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pada tahun 1965. Kemudian disusul oleh jip Nissan Patrol. Kedua mobil itu digunakan di kalangan militer, polisi, pertambangan, dan perkebunan pada saat-saat kejatuhan Presiden Soekarno.

    Segmen mobil jenis jip  ini kemudian dikapitalisasi oleh sejumlah pengusaha nasional, antara lain Jusuf Kalla dengan bendera PT Hadji Kalla, William Soeryadjaya dari PT Astra Internasional, Sjarnoebi Said  menggunakan perusahaan PT Kramyuda Tiga Berlian Mitshubishi dan Sudono Salim dari PT Indomobil. Melihat adanya perebutan ceruk pasar tersebut, pemerintah akhirnya  mengubah peta bisnis invasi mobil Jepang ke Indonesia, dengan skema keharusan membentuk Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) sejak 1968 bagi produsen mobil asing.

    Melihat peluang tersebut, Jusuf Kalla bergerak cepat. Ia terbang ke Jepang untuk melobi Toyota agar diberi kepercayaan sebagai Agen Tunggal Pemegang Merek. Saat itu, JK langsung membeli 10 mobil Toyota Jeep, jenis Canvas, pembeli pertama adalah Kantor Gubernur Sulsel, sebanyak 5 unit untuk dijadikan mobil dinas.

    Tahun 1969, PT. Hadji Kalla menjadi agen tunggal pemasaran mobil Toyota untuk daerah  Sulsel, Sultra, Sulteng, dan Irja. Kendaraan yang dijual adalah kendaraan penumpang dan komersial. Cabang penjualannya berjumlah 18 kota. Karena keberhasilannya perusahaan sering memperoleh Triple Crown Award dari Toyota Corporation, Jepang. Yaitu penghargaan untuk tingkat keberhasilan market share di atas 40% melampaui wilayah lain di Indonesia.

    "Kami duluan jual mobil Toyota daripada Astra," ucap JK bangga.

    Pada tahun 1973 PT. Hadji Kalla mendirikan dealer dan bengkel mobil di Jl. HOS Cokroaminoto Makassar, dan seiring dengan besarnya angka penjualan, pada tahun 1979 Bengkel Toyota PT. Hadji Kalla kemudian dipindahkan dari Jl. HOS Cokroaminoto ke Jl. Urip Sumohardjo dan masih aktif hingga saat ini.

    Kedekatan JK dengan Toyota pun berlanjut hingga tahun 1977. Saat itu Toyota yang menunjuk PT Astra sebagai ATPM di Indonesia, sedang merakit mobil model kendaraan niaga. JK menceritakan, ia diminta untuk memberikan nama baru mobil pabrikan Indonesia tersebut.

    “Saya gembira saat pertama Kijang diluncurkan dalam konferensi Toyota. Waktu itu dibuat sayembara untuk menentukan nama, saya termasuk dari enam orang yang memilih nama Kijang," kata JK.

    Sejak saat itu Kijang merupakan cikal bakal kesuksesan Toyota di Indonesia, sebagai kendaraan multiguna andalan keluarga Indonesia.

    Tak sampai di situ, dominasi JK di Toyota Indonesia berlanjut pada tahun 2004. JK yang saat itu menjadi Wakil Presiden untuk pertama kalinya mengganti mobil dinas para menteri yang sebelumnya menggunakan Volvo berganti menjadi Toyota Camry.

    Proses pergantian mobil dinas tersebut ditulis dalm buku Kiprah Toyota Melayani Indonesia 2002-2014 terbitan Kompas Gramedia. Di situ tertulis kalau selepas pembentukan kabinet, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) berbincang soal mobil dinas untuk para menteri. Dikarenakan masih ada menteri yang menggunakan mobil reot dari kantornya.

    Dikutip dari buku Solusi JK (2009), JK menyarankan SBY agar pengurusan mobil para menteri diserahkan kepadanya. JK beralasan jika masih menggunakan merek Volvo harganya terlampau mahal. Ia kemudian menghubungi Presdir PT Toyota-Astra Motor saat itu Johnny Darmawan dan memintanya untuk menemuinya. JK bertanya, sedan Toyota apa yang populer dan kualitas andal saat itu. Kelas menengah, namun tak terlalu mewah.

    Jawaban Johnny saat itu jelas, Camry. Mobil ini nyaman dan tidak terlampau mahal untuk ukuran kelas menengah. Harganya saat itu sekitar Rp425 juta per unit.

    Menilik ke belakang, JK memang punya sejarah panjang dengan Toyota. Perusahaan keluarga JK, NV Hadji Kalla Trading Co (kini PT Hadji Kalla) sudah mengimpor mobil Toyota sejak 1968 setelah mengirim surat kepada Kedutaan Besar Jepang untuk bertanya prosedur impor mobil dari Jepang. Dan mendapat jawaban kalau Toyota dapat diimpor melalui Toyota Tsusho yang membuka cabang di bilangan Imam Bonjol, Jakarta.

    Tak heran jika JK sangat paham tentang bisnis Toyota dan menawarkan pembelian Camry dengan harga sangat miring bagi para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu dengan konsekuensi keuntungan branding gratis bagi Toyota. Sayang di buku itu tidak dijelaskan berapa harga miring Camry yang dibeli oleh pemerintah.

    Prediksi JK tak meleset. Begitu para menteri memakai Camry, pelan-pelan para pejabat ikut memakainya. Sektor swasta pun demikian. Dan hingga kini Camry tetap digemari.
    Langkah JK itu masih bertahan hingga kini, mengingat Toyota masih menjadi mobil resmi para menteri. Setelah Camry, Toyota Crown Royal Saloon G terpilih sebagai mobil dinas para menteri dan pejabat lembaga tinggi. Kendaraan baru itu sekelas lebih tinggi dari Camry.

    Geliat Astra Internasional
    Salah satu sosok yang menorehkan namanya pada perkembangan otomotif Indonesia adalah William Soerjadjaja. Pria Tionghoa kelahiran Majalengka bernama asli Tjia Kian Liong itu, mulai menyelami bisnis otomotif sejak tahun 1962. Bisnis otomotif ini berjalan di bawah perusahaan bernama PT Astra Internasional Inc., perusahaan yang ia bangun dengan adik dan temannya sejak tahun 1957.

    Mulanya Astra merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran minuman ringan merek Prem Club, dan kemudian merambah pada ekspor hasil bumi. Dalam perkembangan berikutnya, lahan garapan usaha Astra meluas ke sektor otomotif, peralatan berat, peralatan kantor, perkayuan, dan sebagainya.

    Bisnis di bidang otomotif pun semakin berkembang, tatkala perusahaannya kecipratan kebijakan pemerintah kala itu. Dengan program rehabilitasi besar-besaran yang diberlakukan pemerintah Orde Baru pada tahun 1968—1969, Astra diperkenankan memasok 800 kendaraan truk merek Chevrolet. Karena rehabilitasi yang dimaksud benar-benar memberi angin sejuk pada hampir seluruh sektor usaha, kendaraan truk itu laris manis karena banyak yang membutuhkan.

    Akhirnya pada tanggal 1 Juli 1969, PT Astra Internasional Incorporated mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Republik Indonesia sebagai agen tunggal kendaraan bermotor merek Toyota. Sehingga Astra menjadi distributor tunggal kendaraan Toyota di Indonesia. Kemudian pada tahun 1970 PT Astra International Incorporated membentuk divisi baru dalam perusahaan yang khusus menangani distribusi dan pemasaran kendaraan bermerek Toyota dengan nama Toyota Division.

    Melihat perkembangan pemasaran kendaraan merek Toyota maju pesat di Indonesia, Toyota Motor Sales Co Ltd Jepang berminat membina industri Toyota di Indonesia melalui Astra. Dengan menangani distribusi dan pemasaran kendaraan bermerek Toyota guna meningkatkan pelayanan kepada para peminat kendaraan merek Toyota.

    Maka pada akhir tahun 1971 didirikan perusahaan baru dengan nama PT Toyota Astra Motor, hasil kerja sama antara Toyota Motor Sales Co Ltd Jepang dengan PT Astra International Incorporated dan PT Gaya Motor. Yakni perusahaan yang bergerak di bidang perakitan (assembling) kendaraan bermotor dari berbagai jenis dan merek.

    Setelah PT Toyota Astra Motor berdiri maka status agen tunggal kendaraan merek Toyota untuk seluruh wilayah Indonesia dialihkan dari PT Astra International Incorporated kepada PT Toyota Astra Motor.

    Sejak itu pula Astra kerap ditunjuk sebagai rekanan pemerintah dalam menyediakan berbagai sarana pembangunan. Dikutip dari 100 Tokoh Yang Mengubah Indonesia, William juga ternyata pernah memenangkan tender pengadaan kendaraan bermotor untuk Pemilu pada tahun 1971. Sehingga pria kelahiran 20 Desember 1922 itu tak pernah menampik pertumbuhan bisnisnya memang dipengaruhi campur tangan pemerintah.

    Bidang usaha PT Astra Toyota Motor mencakup lingkup yang sangat luas, mulai dari mengimpor kendaraan merek Toyota bersifat completely knocked down dari Jepang. Hingga merakitnya di PT Multi Astra, salah satu usaha perakitan kendaraan merek Toyota yang didirikan pada 13 Agustus 1973 dan bertugas mengganti komponen dalam negeri pada kendaraan Toyota. PT Toyota Motor Sales pun kemudian menjalin hubungan dengan beberapa local partsupplies.

    Pada tahun 1973, Astra kemudian ditunjuk sebagai agen tunggal dari produk Daihatsu. Karena sudah memasarkan kendaraan selain Toyota, William akhirnya mengubah Toyota Division menjadi Motor Vehicle Division.

    Saat mempersiapkan diri untuk go public, PT Astra Motor Sales bergabung ke PT Astra Internasional Inc. dan menjadi divisi Toyota dengan nama PT Astra International Toyota Sales Operation atau yang disebut juga AUTO 2000.

    Dalam perjalanan selanjutnya, Astra tak hanya sebatas memasok, tetapi juga mulai merakit sendiri truk Chevrolet. Lalu, mengageni dan merakit alat besar, Komatsu, mobil Toyota, dan Daihatsu, sepeda motor Honda, dan mesin fotokopi Xerox. Akhirnya, sektor otomotif pun menjadi core product bagi pengembangan jaringan bisnis PT Astra Internasional Inc.

    Ia juga merupakan salah satu pelopor modernisasi industri otomotif nasional. Ia membangun jaringan bisnis dengan core product di sektor otomotif. Keberhasilannya dalam berbisnis menjadikan ia menduduki banyak jabatan penting di sejumlah perusahaan, terutama yang berbasis otomotif. Hingga 2007, Astra internasional menguasai 55% pangsa pasar mobil, 52% pangsa motor di Indonesia, 42% pangsa pasar alat berat.

    Suasana arus lalulintas Jakarta tempo dulu. iptc.org/photometadata

    Mitsubishi Masuk Indonesia
    Salah satu raksasa otomotif dari Jepang lainnya, yakni Mitsubishi, dibawa masuk ke pasar mobil Indonesia pada tahun 1970 oleh Sjarnoebi Said. Di bawah bendera PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), Sjarnoebi menandatangani kerja sama dengan Chujiro Fujino dari Mitsubishi Corporation.

    Untuk diketahui, perusahaan induk pabrik mobil ini di Jepang (principal) adalah Mitsubishi Motors Corporation (MMC) dan Mitsubishi Fuso Truck & Bus Corporation (MFTBC). MMC menangani mobil penumpang (passenger vehicles), sedangkan MFTBC mobil niaga (commercial vehicles).

    Di awal kariernya, Mitsubishi Colt T200 menjadi cikal bakal dari kendaraan truk ringan Colt Diesel di Indonesia. Produk Colt Diesel kemudian berkembang, hingga tahun 1979 hadirlah Colt Diesel FE101 dan FE111. Disusul lahirnya varian 6-wheels pertama Colt Diesel FE114 pada 1983.

    Didukung beberapa pabriknya di Indonesia, KTB mengandalkan tiga pilar produk mobilnya. Antara lain commercial vehicle (CV), commercial light vehicle (LCV), dan passenger car (PC). Di segmen CV, jenis produknya antara lain Fuso, Colt Diesel & tractor head. Di segmen ini penjualan telah mencapai angka 1,13 juta unit. Sedangkan Colt Diesel, selalu memimpin sejak pertama masuk pasar Indonesia pada 1976. Penjualannya masuk angka satu juta unit pada tahun 2017.

    Di segmen LCV, produk Mitsubishi yang memimpin pasar pikap kecil ukuran 4x2 di Indonesia adalah Colt L300. Sedangkan Triton yang masih dalam segmen LCV, baru memimpin kelas pikap ukuran 4x4 sejak tahun 2004.

    Dan di segmen PC atau mobil penumpang, KTB merevitaliasasi produknya sejak tahun 2008. Bebrapa produknya adalah All New Pajero Sport, Delica, Outlander Sport, dan Mirage, yang berhasil terjual  sebanyak 316.658 unit hingga tahun 2016.

    Kemunculan Salim Grup
    Pemain lainnya yang berjaya di industri otomotif adalah PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (Perseroan). Sama dengan Astra, perusahaan yang saat ini dikenal sebagai perusahaan otomotif terbesar kedua di Tanah Air ini, awalnya tidak menjalankan bisnis otomotif. Perseroan didirikan pada tahun 1976 dengan nama PT. Indomobil Investment Corporation itu, merakit dan memasarkan mobil merek Audi, Nissan, Renault, dan Volvo.

    Saat ini Indomobil menjadi usaha terpadu yang memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang otomotif yang terkemuka di Indonesia. Dan pada tahun 1997 dilakukan penggabungan usaha (merger) dengan PT. Indomulti Inti Industri Tbk.

    Sejak tahun 1997 pula, Indomobil Grup memiliki 90 anak usaha meliputi, jasa pembiayaan kendaraan bermotor, distributor suku cadang dengan merek “IndoParts”, perakitan kendaraan bermotor, produsen komponen otomotif. Serta pemegang lisensi merek dan distributor penjualan kendaraan.

    Dengan saham seharga Rp5.200 per lembar pada tahun 2012, Indomobil menyandang status sebagai pemain otomotif terbesar kedua di Indonesia setelah Astra Internasional.

    Kini, Indomobil dan anak-anak perusahaannya merupakan agen tunggal pemegang merek (ATPM) dan atau distributor dari sembilan merek kendaraan yang terkenal. Yaitu, Audi, Chery, Foton, Hino, Nissan, Renault, Suzuki, SsangYong, Volkswagen, dan Volvo. Dengan ragam produk yang mencakup kendaraan roda empat dan dua, ATV, mesin motor tempel, kendaraan niaga, kendaraan serbaguna, truk, bis, alat berat dan kendaraan angkutan umum. (Benny Silalahi, Zsazya Senorita)