MENGALAP SURGA DEVISA PARIWISATA

Jaring Wisman, Sumba Kembali Gelar Parade 1001 Kuda Sandelwood

Pada 2016, total wisatawan di Kabupaten Sumba Timur mencapai 13.927 orang, di mana 94,8% di antaranya atau sebanyak 13.205 pengunjung adalah wisnus

  • Dua peserta melemparkan tongkat dari atas kudanya dalam tradisi Pasola di Wanukaka, Sumba, NTT. FOTO ANTARA/Fouri Gesang Sholeh
    Dua peserta melemparkan tongkat dari atas kudanya dalam tradisi Pasola di Wanukaka, Sumba, NTT. FOTO ANTARA/Fouri Gesang Sholeh

    SUMBA – Menyandang gelar sebagai New Teritorial Tourism, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) makin memacu sektor pariwisata yang selama ini memiliki peranan penting bagi provinsi kepulauan tersebut.

    Gugusan pulau di provinsi yang berhadapan dengan Australia ini memang tengah digandrungi baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara dalam beberapa tahun terakhir.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, terdapat 3 wilayah yang menjadi jawara wisata NTT, yakni Kota Kupang dengan pengunjung mencapai 42,22% dari total wisatawan atau sebanyak 496.081 orang di tahun 2016.

    Posisi Kota Kupang disusul oleh Kabupaten Manggarai Barat, di mana bentang alamnya mampu menjaring sebanyak 91.601 wisatawan. Lalu, Kabupaten Sikka yang didominasi oleh wisata berbasis budaya berhasil menarik 32.043 pengunjung.

    Melihat potensi wisata yang masih luas Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun berupaya untuk kian mempromosikan berbagai destinasi wisata di NTT, salah satunya adalah Pulau Sumba. Kali ini, Kemenpar memasukkan berbagai perhelatan daerah di Pulau Sumba dalam Calendar of Event (CoE) tahunannya.

    Kegiatan parade 1001 Kuda Sandelwood menjadi bagian dari CoE besutan Kemenpar yang diadakan di Pulau Sumba. Beriringan dengan Festival Tenun Ikat Sumba, acara yang akan digelar pada 5-12 Juli 2018 ini disebut sebagai program yang dinantikan oleh wisman dan wisnus.

    "Parade kuda ini unik dan khas, hanya ada di NTT. Parade Kuda ini akan dipadukan dengan Festival Tenun Ikat yang akan dihadiri penenun se-NTT. Ada culture unik yang ditampilkan di sini," ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu, dalam laman resmi Kemenpar pada Rabu (20/6).

    Lebih rinci, terdapat empat titik penyelenggaraan parade 1001 Kuda Sandelwood. Di mulai dari Kabupaten Sumba Barat Daya pada 5-6 Juli, kemudian Kabupaten Sumba Barat di tanggal 7-8 Juli, lalu dan Sumba Tengah pada 9-10 Juli. Sebagai tuan rumah, Kabupaten Sumba Timur akan menutup final dari parade ini pada 11-12 Juli mendatang.

    Sebagai informasi, BPS mencatat pada tahun 2016 Kabupaten Sumba Timur memiliki pengunjung terbanyak jika dibandingkan dengan daerah di Pulau Sumba lainnya. Total wisatawan mencapai 13.927 orang, 94,8% di antaranya atau sebanyak 13.205 pengunjung adalah wisnus.

    Sedangkan untuk Kabupaten Sumba Barat Daya mampu menarik wisatawan mencapai 4.705 wisnus dan 421 pengunjung wisman. Disusul oleh Kabupaten Sumba Barat yang dikunjungi oleh sebanyak 4.312 orang, dengan rincian 546 orang wisman dan sisanya adalah wisatawan lokal.

    "Dalam parade kuda itu, para peserta akan menginap semalam di setiap kabupaten. Sedangkan untuk festival tenun ikat akan berlangsung di Tambolaka, Sumba Barat Daya," tambah Marius Ardu.

    Ia menjelaskan, kuda-kuda yang ikut serta dalam parade akan dihias dengan berbagai pernak-pernik, para penunggang kuda juga diharuskan mengenakan pakaian adat. Tidak hanya itu, panitia parade juga sudah menyiapkan kuda untuk ditunggangi wisatawan yang hadir untuk menikmati atraksi wisata berkuda ke destinasi-destinasi yang ada di Sumba.

    "Nantinya, juri akan menilai masing-masing kelompok berdasarkan beberapa kriteria, seperti penampilan serta keterampilan mengatur dan mengendalikan kuda-kudanya," terang Marius Ardu.

    Sedangkan dalam kegiatan festival tenun, akan ada fashion show dari empat kabupaten dengan masing-masing tenun ikatnya, juga atraksi kolosal khas Sumba. Marius Ardu menegaskan bahwa wisatawan tidak dikenakan biaya untuk menikmati kegiatan ini.

    Selaku penanggung jawab dari CoE Kemenpar, Esthy Reko Astuti mengapresiasi dan menyampaikan harapannya terkait kegiatan parade 1001 Kuda Sandelwood dan festival tenun ikat sumba ini.

    "Kita kaya akan destinasi dan tempat menarik di daerah seperti bahari juga budaya. Saya berharap, kedua agenda besar itu menjadi branding baru. Bisa memperkuat branding pariwisata yang telah ada, seperti pasola, peninggalan megalitik, budaya marapu dan savana," kata Esthy.

    Terkait dengan penyelenggaraan acara ini, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengaku bangga jika di daerah memiliki banyak event untuk mempromosikan wisata asalnya kepada dunia. Terlepas dari apresiasinya, Arief Yahya juga memberikan sebuah catatan penting.

    Event yang digelar bukan asal-asalan, namun harus tersusun rapi. Sudah dipromosikan jauh-jauh hari dan digarap benar-benar sesuai jadwal,” terang Arief Yahya.

    Menpar pun memberikan contoh daerah Solo dan Banyuwangi yang memiliki berbagai event unggulan, di mana pihak penyelenggara berani meluncurkan CoE dalam kurun waktu setahun sebelumnya.

    Menpar Arief Yahya memang selalu mengingatkan kepada para kepala dinas pariwisata daerah, agar CoE jangan sampai batal, mundur atau maju dari yang sudah dijadwalkan, lantaran travellers sudah melakukan searching, booking sampai payment dalam waktu yang berbeda-beda. (Shanies Tri Pinasthi)