Jajakan Nurtanio, Pemerintah Bidik Pasar Amerika Selatan 

Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Meksiko sudah sepakat berkerja sama di sektor penerbangan antarkedua negara. Di antaraya melalui proses penandatanganan 'Bilateral Airworthines Agreement'

  • Presiden Joko Widodo (kedua kanan) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo berbincang usai melakukan upacara pemberian nama Pesawat N219 di Base Ops, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (10/11).  Nama Nurtanio diberikan kepada pesawat N219 yang merupakan karya anak bangsa hasil kerjasama PTDI dan LAPAN. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
    Presiden Joko Widodo (kedua kanan) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo berbincang usai melakukan upacara pemberian nama Pesawat N219 di Base Ops, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (10/11). Nama Nurtanio diberikan kepada pesawat N219 yang merupakan karya anak bangsa hasil kerjasama PTDI dan LAPAN. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

    JAKARTA- Pemerintah mulai menyasar Amerika Selatan sebagai pasar pesawat N219 (Nurtanio) produksi PT (Persero) Dirgantara Indonesia. Penetrasi pasar sedianya dimulai dari Meksiko, kemudian akan terus menyebar ke Guatemala, El Salvador dan Belize.

    Direktur Jenderal Perhubungan Udara Agus Santoso di Jakarta, Rabu (15/11) seperti dilansir Antara mengatakan, sebelum transaksi jual-beli pesawat berlangsung, antarnegara harus melakukan perjanjian terlebih dahulu. "Setelah Meksiko, akan dibuat penetrasi pasar ke Guatemala, El Salvador dan Belize. Tapi tentu terlebih dahulu ada perjanjian antarpemerintah,” tuturnya.

    Menurutnya, sejauh ini pemerintah Indonesia dan Pemerintah Meksiko sudah sepakat berkerja sama di sektor penerbangan antarkedua negara. Di antaraya melalui proses penandatanganan Bilateral Airworthines Agreement antara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dengan Directorate General of Civil Aeronautics Republic Mexico.

    Perjanjian kerjasama tersebut disampaikan pada acara Forum Konsultasi Bilateral ke-6 Indonesia-Meksiko yang diselenggarakan di Meksiko tanggal 10—12 November lalu. Perjanjian kerja sama tersebut dikaitkan dengan Perjanjian Layanan Udara antara Pemerintah RI dan Meksiko, dimana kedua belah pihak menjadi bagian dari Konvensi Penerbangan Sipil Internasional yang ditandatangani di Chicago pada Tanggal 7 Desember 1944 silam

    Selain itu, kerjasama tersebut juga berisikan kesepakatan untuk saling mempromosikan layanan udara internasional. Termasuk  untuk membangun layanan terjadwal antara masing-masing wilayah serta memastikan tingkat keselamatan dan keamanan tertinggi dalam layanan udara internasional.

    "Meksiko adalah mitra penerbangan bilateral yang penting bagi Indonesia. Untuk itu, sangat perlu melakukan kerjasama pengakuan sistem kelaikudaraan antar kedua negara ini, agar hubungan kita lebih baik lagi dan menguntungkan kedua negara di masa mendatang," ujar Agus.

    Ia yakin, ada potensi bagus bagi Indonesia untuk menjadikan Meksiko dan negara-negara sekitarnya sebagai pasar penerbangan, salah satunya adalah untuk penjualan pesawat N219 produksi PT Dirgantara Indonesia kepada Promotora Aerospacial El Paso (PAEP) Meksiko.

    PAEP yang merupakan perusahaan Meksiko bekerja sama dengan Pemerintah Negara Bagian Chihuahua untuk mengembangkan regional airline untuk menghubungkan kota-kota di seantero Meksiko dan Amerika Serikat. Selain itu, ada peluang kerja sama untuk menjual pesawat N219 produksi PTDI ke Meksiko dan negara tetangganya seperti Guatemala, El Salvador.

    “Untuk itulah diperlukan kerjasama terkait kelaikudaraan sehingga mempermudah proses penjualan pesawat tersebut. Salah satu elemen utama yang akan disertakan dalam BAA tersebut adalah sertifikasi produk-produk penerbangan di Indonesia sehingga bisa dipakai dan diakui langsung di Meksiko," kata Agus.

    Menurut Agus, pesawat N219 yang pesawat ujinya resmi diberi nama Nurtanio oleh Presiden Joko Widodo merupakan produk penerbangan unggulan Indonesia yang sedang dipasarkan ke manca negara. Untuk itu jajaran Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan melakukan berbagai upaya guna mendorong suksesnya pengembangan bisnis pesawat ini, mengingat sebelumnya sudah banyak pesawat dari PT DI yang dbeli oleh Meksiko.

    Rute Pendek
    Agus juga menambahkan N-219 dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan penerbangan yang bisa melayani rute pendek dengan 19 penumpang. Pesawat jenis ini dinilai sangat pas untuk menghubungkan banyak daerah terpencil di gunung maupun pada kondisi ekstrem lainnya.

    "Dengan kinerja awal, N219 mampu mendarat di landasan pacu pendek dengan fasilitas bandara minimum. Dengan demikian, kami berharap pesawat ini bisa menjawab kebutuhan pesawat kecil untuk negara kita dan juga negara sahabat kita", tuturnya.

    Hanya sjaa, dengan rencana pembelian oleh Meksiko dan negara-negara lain terhadap produk dari PTDI, maka sebelumnya harus dilakukan penyesuaian airworthines antara kedua negara. PTDI yang diwakili anak perusahaan IPTN North America dengan PAEP sedang dalam penandatanganan kesepakatan dan pembuatan kerangka kerja lanjutan.

    Dengan penandatanganan FOA tersebut diharapkan dapat mendorong penjualan 30 pesawat N219 di Meksiko dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Selain itu, IPTN North America juga telah mencapai kesepakatan sekaligus menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Light Blue. S.A. (Aero Resource Energy) Guatemala pada 8 Mei 2017 lalu.

    Sekadar informasi, Nurtanio diambil dari nama perintis industri pesawat terbang Indonesia, Laksamana Muda (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebelumnya menjelaskan, pengembangan pesawat N219 merupakan program nasional yang melibatkan peran beberapa kementerian, lembaga dan BUMN.

    Tujuannya, kata Airlangga, untuk menciptakan pesawat udara jarak menengah dalam rangka membangun konektivitas dan memobilisasi daerah-daerah terluar, terpencil, dan tertinggal, serta mempertahankan penguasaan teknologi kedirgantaraan.

    Pengembangan prototipe pesawat N219 dimulai pada 2013 dan saat ini sedang menjalani beberapa test uji kelaikan untuk mendapatkan type certificate. Sertifikat kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat untuk N219 ini akan dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara, Kementerian Perhubungan.

    PT DI menyiapkan dua purwarupa pesawat N219 untuk uji terbang hingga mencapai 300 flight hours dan dua purwarupa lainnya untuk dilakukan fatigue test, flight test development dan flight test certification yang membutuhkan 3.000 cycle fatigue test untuk mendapatkan type certificate di tahun 2018.

    Selanjutnya dimulailah tahapan serial production untuk mendapatkan production certificate, sehingga pada tahun 2019 nanti, pesawat pertama N219 sudah siap dan laik untuk memasuki pasar. Priorotas pertama memang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang kompetitif.

    "Kemenperin juga akan mendukung pengembangan pesawat N219 Amphibi. Beberapa dukungan yang bakal dilakukan, di antaranya membuat regulasi, menyiapkan industri pendukung (komponen dan MRO), sosialisasi dan promosi, fasilitasi pembiayaan ekspor, pengembangan komponen yang dibutuhkan, serta dukungan fasilitas lainnya,” tandas Airlangga. (Faisal Rachman)