Istri Melahirkan, PNS Pria Boleh Cuti Satu Bulan

Ketentuan tersebut terdapat pada Perka BKN Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti PNS

  • Ilustrasi PNS. Agung Natanael/Validnews.co
    Ilustrasi PNS. Agung Natanael/Validnews.co

    JAKARTA - Pemerintah menetapkan peraturan baru untuk pegawai negeri sipil (PNS) pria. Mereka diberikan izin cuti paling lama satu bulan demi mendampingi istrinya yang sedang melahirkan.

    Peraturan itu diatur secara rinci oleh pemerintah dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti PNS berdasarkan jenis cuti, diantaranya adalah cuti alasan penting (CAP).

    Lampiran Perka BKN Nomor 24 Tahun 2017 poin IIE Nomor 3 disebutkan, PNS pria kala istri melahirkan baik normal maupun melalui operasi sesar, mereka dapat diberikan cuti karena alasan penting. Izin cuti itu diberikan dengan melampirkan surat keterangan rawat inap dari Unit Pelayanan Kesehatan.

    “Lamanya cuti karena alasan penting ditentukan oleh Pejabat Yang Berwenang Memberikan Cuti paling lama 1 (satu) bulan,” bunyi poin IIE Nomor 6 Lampiran Perka BKN itu seperti dilansir Antara, Selasa (13/3).

    Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Kepegawaian Negara (BKN) Mohammad Ridwan menjelaskan, kebijakan pemberian cuti bagi PNS laki-laki untuk mendampingi istrinya melahirkan itu merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah pada pengarusutamaan gender dengan memberikan kesempatan sama kepada PNS laki-laki dan wanita dalam mengurus keluarga.

    “Dalam Peraturan BKN Nomor 24 Tahun 2017 disebutkan CAP bagi PNS laki-laki yang mendampingi istri bersalin tersebut tidak memotong cuti tahunan, dan selama menggunakan hak atas cuti karena alasan penting, PNS yang bersangkutan menerima penghasilan PNS,” kata Ridwan.

    Penghasilan sebagaimana dimaksud terdiri atas gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan pangan, dan tunjangan jabatan sampai dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah yang mengatur gaji, tunjangan, dan fasilitas PNS.

    Secara umum pemberian cuti melahirkan bagi pekerja laki-laki di Indonesia belum diatur dalam aturan khusus, kata dia, dan jika terdapat perusahaan swasta yang memberlakukan kebijakan tersebut, jangka waktu cuti yang diberikan beragam.

    “Sebagai contoh, dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 93 Ayat (4) huruf e diatur bahwa pekerja laki-laki di Indonesia memperoleh hak cuti mendampingi istri melahirkan hanya selama 2 (dua) hari,” ucap dia.

    Sementara itu kebijakan cuti melahirkan bagi PNS laki-laki melalui CAP yang diatur dalam Peraturan Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor 24 Tahun 2017 disebutkan bahwa lamanya cuti karena alasan penting ditentukan oleh Pejabat yang Berwenang Memberikan Cuti paling lama 1 (satu) bulan.

    Pentingnya Pendampingan
    Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Sumatera Barat (Sumbar) mengapresiasi kebijakan BKN dengan memberikan kesempatan cuti kepada PNS pria untuk mendampingi istrinya yang bersalin dengan rentang waktu hingga satu bulan.

    "Artinya pemerintah sudah memandang penting peran ayah dalam pengasuhan dimulai sejak hari pertama kelahiran," kata Ketua AIMI Sumbar, Ria Oktorina di Padang, seperti dilansir Antara, Selasa (13/3).

    Menurutnya peran ayah dalam mendampingi ibu melahirkan merupakan salah satu penentu keberhasilan pemberian Air Susu Ibu (ASI).

    "Berdasarkan survei, istri yang mendapatkan dukungan penuh saat melahirkan maka tingkat keberhasilan pemberian ASI mencapai 98%, sementara yang tidak mendapatkan dukungan hanya 27%," jelasnya.

    Ia menilai kebijakan ini cukup bagus apalagi selama ini budaya yang berkembang di timur urusan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu. Dengan adanya kebijakan ini ayah dapat berperan lebih banyak dalam mendampingi istri saat bersalin, apalagi waktu cuti lebih panjang hingga satu bulan.

    Akan tetapi ia mengingatkan cuti selama satu bulan tersebut benar-benar harus dioptimalkan untuk mendampingi istri, jangan sampai suami merasa bebas begitu saja atau melakukan pekerjaan lain.

    Ia menyarankan seorang suami harus banyak membantu istri saat persalinan apalagi saat itu kondisi pasangannya stres dan lelah usai bersalin. "Caranya bahagiakan istri, penuhi kebutuhannya," kata dia.

    Ria juga menyampaikan salah satu kunci kelancaran ASI pada hari pertama kelahiran adalah ibu tidak boleh stres dan membutuhkan apa yang disebut dengan hormon oksitosin atau hormon cinta.

    "Hormon tersebut akan keluar kalau si ibu senang dan para ayah punya peran di sini," tambahnya.

    Makanya para ayah tidak boleh ragu membantu pekerjaan rumah, menggendong bayi, mengganti popok hingga memasak dan menghubungi konselor ASI jika ada kendala menyusui.

    Apalagi salah satu budaya yang ada, saat kelahiran anak juga ada tradisi berkunjung dan saat itu tentu saja ada yang berkomentar macam-macam soal bayi.

    "Oleh sebab itu, ayah harus jadi benteng perlindungan istri agar tidak stres," lanjutnya.

    Ia menambahkan para ayah harus memanfaatkan masa cuti persalinan tersebut sebaik-baiknya untuk mendampingi buah hati sejak hari pertama kelahiran.

    "Kami juga berharap cuti tersebut bukan hanya untuk PNS, namun juga pekerja swasta ke depan ada aturannya," ujarnya. (Denisa Tristianty)