Indonesia Berupaya Keluar dari Daftar Tercela

The International Intellectual Property Alliance memperkirakan dalam satu bulan, sebanyak 18 juta kopi film, musik dan software bajakan beredar di Indonesia, baik di toko online maupun offline

  • Ilustrasi. Pembajakan. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal) Deskripsi : Foto (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal) - abe. Terkini/Pembajakkan/09032018
    Ilustrasi. Pembajakan. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal) Deskripsi : Foto (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal) - abe. Terkini/Pembajakkan/09032018

    JAKARTA – Indonesia–Amerika Serikat sepakat untuk membahas kembali rencana kerja bersama terkait Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang diusung sejak 2012 lalu. Kesepakatan ini diraih dalam pertemuan Indonesia–USA Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) ke-17.

    Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo menuturkan, dalam rencana kerja tersebut dibahas best practices aturan HAKI sesuai dengan komitmen kedua negara di tingkat global. Juga, program kerja sama kedua negara dalam mendorong penghormatan dan perlindungan HAKI.

    “Rencana kerja HAKI dapat mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan kesadaran HAKI yang tinggi dan mendorong industri nasional, seperti industri kreatif, dan pemanfaatan indikasi geografis komoditas ekspor, hak paten, maupun beragam inovasi anak bangsa lainnya perlu mendapat perlindungan dan penghargaan yang layak,” terang Iman sebagaimana yang dikutip dari rilis pers Kementerian Perdagangan, di Jakarta, Kamis (17/5).

    Lebih lanjut, terkait dengan hubungan bilateral Indonesia-AS, sebagai target jangka pendek Indonesia berharap rencana kerja HAKI ini dapat mendorong dikeluarkannya Indonesia dari Priority Watch List (PWL) AS.

    Sebagai informasi, PWL adalah daftar penilaian yang dibuat pemerintah AS terhadap mitra dagang mereka.

    Hingga saat ini, meskipun sudah banyak dilakukan perbaikan dan perubahan di bidang HAKI, namun kebijakan pemerintah Indonesia itu dinilai oleh pemerintah AS belum cukup. Karena itu, Indonesia tak beranjak dari daftar prioritas untuk diawasi berkaitan dengan kepatuhan terhadap kekayaan intelektual.

    Dikutip dari export.gov, The International Intellectual Property Alliance memperkirakan dalam satu bulan, sebanyak 18 juta kopi film, musik dan software bajakan beredar di Indonesia, baik di toko online maupun offline. Harco Glodok, salah satu pusat perdagangan terbesar di Indonesia untuk barang elektronik, termasuk dalam daftar Notorious Markets dari Kementerian Perdagangan Amerika Serikat pada 2017.

    Dalam pertemuan TI FA yang digelar pada awal pekan ini di Jakarta, kedua negara juga sepakat berbagi informasi terkait perkembangan terkini niaga elektronik (e-commerce) di AS, termasuk kebijakan pemerintah AS dalam mengembangkan sektor perdagangan tersebut.

    “Sesi khusus best practice e-commerce tersebut sangat berguna sebagai masukan dalam membuat kebijakan yang seimbang untuk mendorong bertumbuhnya bisnis dan mengurangi risiko yang muncul dari perkembangan pesat e-commerce,” kata Iman.

    Setiap tahunnya, forum komunikasi bilateral AS dengan Indonesia ini diadakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi, serta berbagai potensi kerja sama antar kedua negara, khususnya untuk penguatan akses pasar Indonesia di AS di sektor produk pakaian, buah-buahan, dan investasi restoran.

    Secara lebih rinci, beberapa poin pembahasan terkait dengan perdagangan yang dibahas dalam TIFA antara lain adalah sistem preferensi umum (Generalized System of Preferences /GSP), akses pasar di bidang pertanian, perikanan, isu digital, dan jasa keuangan.

    Dalam pertemuan kali ini, juga diadakan business luncheon bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), dan Kamar Dagang AS (Amcham).

     

    Baca Juga:

     

    Hubungan Dagang
    Sejauh ini, selama periode 2013-2017 total perdagangan barang Indonesia - AS menunjukkan tren peningkatan sebesar 0,39%. Pada 2017, total perdagangan Indonesia-AS mencapai US$25,90 miliar, naik 10,53% dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencapai US$23,43 miliar.

    Ekspor Indonesia ke AS pada 2017 tercatat menembus angka US$17,78 miliar. Di sisi lain impor dari AS hanya sebesar US$8,12 miliar. Dengan demikian, surplus neraca perdagangan Indonesia terhadap AS mencapai US$9,66 miliar pada 2017.

    Raihan tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2016), di mana neraca perdagangan antar kedua negara ini hanya memberikan surplus bagi Indonesia sebesar US$8,84 miliar, dengan ekspor senilai US$16,1 miliar dan impor dari AS sebanyak US$7,29 miliar.

    Sementara itu pada periode Februari 2018, tercatat neraca perdagangan Indonesia terhadap AS surplus US$1,41 miliar.

    Secara umum, negeri Paman Sam merupakan tujuan ekspor utama Indonesia ke-2 setelah China.

    Sementara itu, dari sisi investasi, AS termasuk sumber investasi terbesar di Indonesia. Nilai investasi AS di Indonesia mencapai US$ 1,9 miliar, menempati peringkat ke-3 setelah Jepang dan Singapura.

    Komoditas seperti industri pakaian jadi, industri makanan, dan industri karet menjadi andalan Indonesia untuk dikirim ke AS. Di tahun 2016, industri pakaian jadi asal Indonesia masuk ke pasar AS dengan total nilai mencapai US$3,61 miliar, dan US$1,73 miliar untuk komoditas industri karet.

    Di antara ketiga komoditas tersebut, industri makanan adalah produk yang paling berjaya, di mana tren kenaikannya mencapai 16,05%. Pada 2015, nilai ekspornya hanya sebesar US$2,55 miliar dan meningkat hingga mencapai US$2,99 miliar di 2016. (Shanies Tri Pinasthi)