LIMBUNG BERDAULAT DI DUNIA MAYA

INTERNET JADI CELAH PEMENUH KEBUTUHAN AKAN PENGHARGAAN

Kebutuhan untuk diapresiasi menjadi hal yang dianggap penting, terutama setelah kemunculan media sosial

  • Dwi Hartanto. (kominfo.go.id)
    Dwi Hartanto. (kominfo.go.id)

    Oleh: Novelia, M.Si*

    Lima tahun belakangan, Indonesia digegerkan oleh beberapa fenomena orang-orang yang membuat pengakuan palsu tentang prestasinya. Pada tahun 2013, nama Arya Pradana Budiarto tiba-tiba muncul ke permukaan semenjak pengakuannya sebagai salah satu tim dokter andalan klub sepakbola dunia asal negeri Spanyol, Real Madrid. Salah satu media berita daring, melalui salah satu surat elektronik, melakukan wawancara terhadap pemuda yang saat itu berusia 25 tahun tersebut. Ia mengaku telah menangani sejumlah pesepakbola ternama, seperti Iker Cassilas dan Cristiano Ronaldo. 

    Keanehan sebenarnya mulai tercium, ketika Arya meminta media tersebut untuk tidak memublikasikan foto dirinya dengan alasan privasi. Setelah beberapa lama, media terkait melakukan permintaan maaf kepada pembacanya karena tidak dapat membuktikan status Arya. Usut punya usut, melalui penelusuran yang dilakukan, pemuda tersebut diketahui sedang melakukan kerja magang di Rumah Sakit Wirosaban, Yogyakarta, pada waktu yang bersamaan. Media terkait sampai akhir tidak mampu memperoleh keterangan lebih lanjut karena yang bersangkutan selalu berkilah saat diajak bertemu.

    Pada tahun 2016, Dwi Hartanto mengklaim dirinya sebagai Asisten Profesor di Technische Universiteit (TU) Delft dalam bidang aerospace, serta menjadi juara dengan risetnya yang berjudul “Lethal Weapon in The Sky” dalam lomba riset teknologi antarlembaga penerbangan dan antariksa di Jerman. Dengan berbagai prestasi tersebut, Dwi disebut-sebut sebagai Habibie muda, terutama semenjak beredarnya foto ia bersama tokoh ternama bangsa tersebut. Ia bahkan sempat diwawancara dalam sebuah talk show di stasiun televisi.

    Sama seperti Arya Pradana, pengakuan Dwi akan berbagai prestasi akhirnya diketahui hanya kebohongan. Setelah didesak rekan-rekannya sesama pelajar di negeri tersebut, melalui klarifikasi yang diunggahnya pada situs Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft, Dwi mengklarifikasi sejumlah klaim prestasi yang sempat dikatakan maupun dibagikan melalui media sosial peribadinya. Nyatanya, Dwi hanya seorang mahasiswa doktoral di universitas yang sama.

    Mendekati pertengahan tahun ini, warganet kembali dihebohkan dengan dugaan plagiarisme Asa Firda Nihaya, atau yang lebih dikenal sebagai Afi Nihaya, seorang remaja putri berusia 18 tahun. Status Afi dituduh menyalin tulisan sebelumnya yang pernah diunggah oleh Mita Handayani pada Juni 2016. Awalnya, remaja ini terus menyangkal hal tersebut, namun pada akhirnya ia mengakui bahwa status pada akun Facebook yang diunggahnya ia ambil dari tulisan tersebut dengan menambahkan beberapa buah pikirannya sendiri.

    Meskipun berbeda-beda dalam hal mengakui atau tidaknya para pelaku kebohongan, ada satu yang seragam dalam fenomena ini. Hal tersebut adalah bagaimana ketiga tokoh tersebut menggambarkan diri mereka sebagai seorang yang patut dihargai dan diapresiasi. Demi mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitar, atau lebih luas lagi, mereka melakukan pengakuan-pengakuan yang sebenarnya tidak dilakukannya sendiri.

    Fenomena ini menjadi menarik karena dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya tidak terlalu membutuhkan pengakuan. Dwi Hartanto misalnya, sebenarnya sudah dapat dianggap menginspirasi dengan statusnya sebagai mahasiswa doktoral di TU Delft. Atau Arya yang juga tengah melakukan internship di sebuah rumah sakit, meskipun bukan di Real Madrid. Namun, hal tersebut nampaknya tidak cukup untuk membuat mereka puas karena belum mendapatkan perhatian khalayak, sehingga akhirnya kebohongan yang tidak perlu pun mereka lakukan.

    Hierarki Kebutuhan Maslow
    Keinginan akan pengakuan dan rasa hormat dari orang lain sebenarnya merupakan salah satu poin yang dibahas dalam Hierarki Kebutuhan Maslow. Abraham Maslow (dalam Kendra, 2017) mengklasifikasi kebutuhan-kebutuhan manusia ke dalam lima tingkatan yang kemudian disusunnya dalam bentuk piramida. Urutan piramida ini dari tingkat yang paling bawah adalah kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta, kebutuhan akan penghargaan, dan yang paling tinggi adalah kebutuhan akan aktualisasi diri.

     

    Maslow beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan pada tingkat rendah harus atau setidaknya cukup terpenuhi sebelum kebutuhan yang ada di tingkat lebih tinggi menjadi motivasi dan akhirnya juga terpenuhi. Maka, untuk memenuhi kebutuhan akan penghargaan dan apresiasi dari orang lain, sebenarnya seseorang perlu memenuhi kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, serta kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki terlebih dahulu.

    Bagaimanapun, meski teori kebutuhan ini terpotret sebagai hierarki yang sangat kaku, Maslow sendiri mencatat bahwa sebenarnya urutan atau tingkatan yang ada dalam piramida terkait tidak selalu sesuai dengan fakta di lapangan. Misalnya, kebutuhan akan penghargaan diri beberapa individu mungkin saja menjadi lebih penting daripada kebutuhan akan cinta. Tak jarang juga yang terjadi adalah kebutuhan akan penghargaan lebih diutamakan dibandingkan kebutuhan fisiologis dan rasa aman.

    Dalam artikel Validnews sebelumnya yang berjudul Konsumerisme Tak Bersuara Dunia Maya, Penulis membahas bagaimana dewasa ini, didukung dengan perkembangan siber yang terjadi, masyarakat seringkali mengabaikan kebutuhan pokok seperti makanan, hanya untuk membeli barang-barang berharga kurang terjangkau, dengan tujuan menunjukkan bahwa dirinya masuk ke dalam kelas sosial tertentu.

    Hal ini menggambarkan bahwa kebutuhan akan apresiasi dan rasa hormat sudah menjadi hal sangat penting yang perlu didapatkan, seperti dengan fenomena-fenomena pengakuan bohong yang dilakukan ketiga tokoh yang dibahas di atas.

    Pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan akan rasa hormat dari orang lain yang dapat membuatnya percaya diri dan berharga sebagai seseorang di dunia apabila hal tersebut terpenuhi. Dan apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang akan cenderung merasa rendah, lemah, dan tidak berharga.

    Kemunculan internet, terutama media sosial, kemudian membantu orang-orang di dunia untuk dapat membagikan kehidupan sehari-harinya, termasuk prestasi dan berbagai hal-hal baik yang memiliki potensi untuk diapresiasi warganet lainnya. Alur ini berujung pada terjadinya persaingan dalam berbagai hal, salah satunya unjuk prestasi untuk meraih apresiasi. Melalui internet, informasi menyebar sangat cepat, menjadi jalan pintas bagi orang-orang yang ingin terkenal.

    Jarak Sosial dan Keintiman Semu
    Fenomena pengakuan dan klaim prestasi yang dilakukan Arya, Dwi, dan Afi, mengingatkan kita pula pada mungkinnya tercipta jarak pada penggunaan media di internet. Media sosial, terutama, memiliki dua elemen yang bersifat paralel sekaligus paradoks, yaitu keintiman palsu dan jarak sosial (Atwood & Gallo, 2011: 16). Hal ini berkontribusi pada terjadinya hubungan yang minim orisinalitas dan sangat canggung.

    Dalam interaksi di dunia maya, seseorang merasa aman untuk mengunggah hal apapun. Ini dikarenakan adanya perasaan bahwa yang ada di layar tidak mungkin nyata atau memiliki bobot sosial yang sama.

    Atwood dan Gallo juga mengungkapkan bahwa internet dan media sosial menawarkan keintiman semu. Tanpa sebab yang jelas, menjadi penting bagi para peselancar dunia maya untuk mengetahui keseharian rekan-rekannya, bahkan yang tidak pernah mereka temui selama puluhan tahun. Internet menciptakan rasa terkoneksi bagi semua orang.

    Jarak sosial dan keintiman semu inilah yang kemudian menjadi celah bagi beberapa orang untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Satu hal yang juga sama dari klaim-klaim yang dilakukan Arya, Dwi, dan Afi, adalah bahwa ketiganya melibatkan internet dalam aksinya. Arya yang hanya mau diwawancara melalui surat elektronik, Dwi yang turut menyebarkan pengakuan prestasi palsunya di lini masa media sosialnya, serta Afi yang juga menyebarkan status inspiratifnya di media sosial.

    Keintiman semu yang menjadi elemen penting di internet mendukung fenomena klaim prestasi ini. ‘Teman-teman’ ketiga tokoh ini di dunia maya tertarik untuk mengikuti prestasi-prestasi dan pemikiran inspiratif mereka, dan bahkan membagikannya dengan teman-teman lainnya di dunia maya.

     

    Jarak sosial juga menjadi kunci aksi ini. Ketika melakukan klaim dan pengakuan tersebut, ketiganya muncul di dunia maya dengan yakin. Hal ini terjadi karena rasa takut bila kebohongannya terbongkar sangat minim dibandingkan bila mereka melakukannya di dunia nyata. Akhirnya, penghargaan dan pengakuan diraih dengan cara yang salah, yaitu menyebarkan klaim palsu yang meninggikan kualitas diri mereka.

    Perkembangan dunia siber secara nyata menciptakan berbagai dampak bagi penggunanya, baik positif maupun negatif. Namun, yang harus disadari adalah bahwa setiap perbuatan dan pengakuan selalu ada konsekuensinya, meskipun hanya di dunia maya. Terutama sejak adanya peraturan dalam penggunaannya, warganet perlu mempelajari bagaimana memanfaatkan teknologi ini secara bijaksana dan sesuai etika, sehingga tidak merugikan pengguna lainnya.

    *Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

     

    Referensi:

    Atwood, Joan D. dan Gallo, Conchetta. 2016. The Effects of The Internet on Social Relationships: Therapeutic Considerations. iUniverse, Inc: Bloomington.

    Cherry, Kendra. May 16, 2017. The Five Levels of Maslow's Hierarchy of Needs, dikutip dariTop of Form https://www.verywell.com/what-is-maslows-hierarchy-of-needs-4136760