INOVASI, SEBUAH PELUANG ATAU ANCAMAN?

Meskipun mendorong efisiensi dan meningkatkan profit, di sisi lain inovasi juga mengancam dunia pekerjaan.

  • Pengunjung berinteraksi dengan sebuah robot dalam Singapore International Robo Expo pada November 2017 di Singapura. ROSLAN RAHMAN / AFP
    Pengunjung berinteraksi dengan sebuah robot dalam Singapore International Robo Expo pada November 2017 di Singapura. ROSLAN RAHMAN / AFP

    Oleh: Sita Wardhani S., SE, MSc*

    Sumber daya alam dan jumlah tenaga kerja merupakan modal utama bagi pertumbuhan ekonomi. Ditambah dengan mesin, maka produktivitas akan meningkat. Namun demikian, akumulasi modal dan menambah input produksi bukan satu-satunya jalan keluar untuk meningkatkan output. Dalam ekonomi, dikenal istilah diminishing return dari faktor produksi, yaitu kondisi ketika jumlah tenaga kerja dan mesin sudah pada titik optimal, maka pertambahan input akan menyebabkan pertambahan output mengalami penurunan (diminish).

    Di tahun 1950-an, seorang ekonom bernama Robert Solow menunjukkan bahwa faktor yang dapat mencegah diminishing return dari faktor produksi adalah teknologi. Namun, teori yang dikembangkan Robert Solow ini tidak menjelaskan bagaimana mendapatkan teknologi. Teorinya hanya menyebutkan bahwa teknologi bersifat eksogenus, tidak dapat dikendalikan, atau bisa dikatakan datang dari langit.

    Namun, di tahun 1990-an, seorang ekonom lain mencoba menyempurnakan teori Robert Solow dengan mencoba menjelaskan peran teknologi, dan memasukannya sebagai variabel yang dapat dikendalikan (endogenous). Ekonom tersebut adalah Paul Romer.

    Dalam teorinya, Paul Romer menyatakan bahwa perkembangan teknologi merupakan hasil dari sebuah ide. Ide menghasilkan inovasi teknologi yang dapat mendorong pertumbuhan output.

    Penyempurnaan yang dilakukan oleh Paul Romer terhadap teori yang diusung oleh Robert Solow telah menjadi sebuah kepercayaan bahwa untuk mencegah perlambatan pertumbuhan akibat fenomena diminishing return, inovasi perlu untuk dilakukan.

    Namun, inovasi memiliki kelemahan. Biaya inovasi sangat mahal. Namun, sekali sudah diproduksi, setiap orang dapat menikmati resep/cetak biru dari inovasi teknologi tersebut dengan biaya yang sangat murah. Hal ini dapat menjadi disinsentif bagi inovator.

    Di sinilah paten berperan. Paten melindungi hak cipta bagi inovator, dan bagi orang yang ingin mendapatkan resep terhadap sebuah inovasi, mereka harus membeli resep tersebut kepada sang pemilik hak cipta.

    Teori yang dikembangkan oleh Paul Romer memberikan sebuah panduan bagaimana mendorong inovasi; (1) pendidikan, (2) pemberian subsidi untuk penelitian; (3) impor teknologi dari luar; (4) hukum perlindungan hak cipta. Berdasarkan hal ini, setiap negara mengolah resepnya masing-masing, baik dari sisi pemerintah dengan kebijakannya, maupun kerja sama dengan industri, untuk mendorong inovasi. Bagi industri sendiri, inovasi menguntungkan karena mendorong efisiensi dan meningkatkan profit.

    Inovasi dan Dampaknya pada Pekerjaan
    Salah satu inovasi terbesar yang terjadi di abad ke-20 adalah komputer dan internet. Teknologi komputer dan robot telah mendorong terjadinya otomatisasi dari proses produksi. Komputer dan robot memungkinkan produksi menjadi detail dan cepat, melengkapi hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia sebelumnya. Sebagai contoh, produksi makanan dengan skala industri di mana proses pencampuran bahan makanan dilakukan oleh mesin. Peran manusia adalah dalam hal kontrol mesin serta pada proses pengepakan.

    Inovasi kedua adalah internet. Di awal perkembangannya, internet hanya digunakan untuk bertukar data melalui email. Namun, saat ini internet telah berkembang luar biasa sehingga memunculkan berbagai potensi yang sebelumnya tidak pernah ada. Sebagai contoh, dulu kita menggunakan peta berbentuk buku atau kertas yang sangat besar untuk memandu jalan. Sekarang, kita cukup membuka peta di aplikasi ponsel, dan peta tersebut dapat memberikan alternatif jalan yang bisa membuat kita terhindar dari kemacetan. Sebuah fitur yang tidak bisa diberikan oleh peta fisik tradisional.

    Inovasi membawa perubahan. Di satu sisi mempermudah kehidupan, namun di sisi lain dapat mengancam pekerjaan. Sebuah studi yang dilakukan oleh (Frey & Osborne, 2013) mencoba melihat pekerjaan yang terancam akibat komputerisasi dan otomatisasi. Beberapa pekerjaan yang memiliki risiko tinggi di antaranya digambarkan pada gambar di bawah ini.

     

    Inovasi akan selalu membawa perubahan. Pekerjaan yang saat ini ada, mungkin 20 tahun lalu tidak ada, dan pekerjaan yang akan ada 30 tahun lagi, bisa jadi tidak terpikirkan akan pernah ada di saat ini. Berbagai perubahan dalam bidang bekerja yang terjadi saat ini di antaranya penerapan penggunaan uang elektronik untuk membayar tol, yang telah menghapus pekerjaan penjaga gerbang tol. Informasi serta buku elektronik yang dengan mudah beredar di dunia maya dapat mengancam dunia pendidikan, karena saat ini orang dapat belajar sendiri dengan mencari informasi di dunia maya. Rumah produksi yang dapat mencetak seorang selebrititas dapat di gantikan oleh media sosial, seperti YouTube dan Instragram sehingga mencetak apa yang disebut dengan selebgram. Pengemudi taksi atau pekerjaan sebagai sopir dapat tergantikan dengan mobil otonom (autodrive car).

    Perkembangan Teknologi dan Kurikulum Indonesia
    Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif inovasi terhadap kesejahteraan, terutama terkait lapangan pekerjaan? Seperti yang telah disebut di atas, terdapat empat hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk mendukung inovasi, salah satunya pendidikan.

    Namun, salah satu kemunduran yang telah dilakukan pemerintah adalah penghapusan pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI). Melalui Permendikbud 68 tahun 2014, mata pelajaran TIK dan KKPI dinyatakan dilebur dalam mata pelajaran lain. Selain itu, mata pelajaran ini berstatus sebagai layanan TIK sebagaimana layanan bimbingan konseling yang artinya TIK / KKPI seolah menjadi pelengkap dalam mata pelajaran lain.

    Dengan memasukkan TIK dan KKPI dalam kurikulum, penduduk usia sekolah mendapat paparan teknologi dari sekolah, sebuah fasilitas publik yang disediakan pemerintah. Namun, jika dihapuskan, akan dapat mendorong ketimpangan. Sebab, yang mendapat akses terhadap teknologi sekali lagi hanyalah masyarakat kelas menengah ke atas yang mampu untuk membeli perangkat desktop/laptop serta koneksi internet.

    Dengan era serba komputasi serta otomatisasi, pengenalan komputer dan teknologi penting dilakukan, terutama di Indonesia. Berdasarkan data BPS, 48% angkatan kerja adalah lulusan SMP dan SMA. Dengan era internet dan otomatisasi seperti ini, kebutuhan untuk dapat mengoperasikan komputer sangat tinggi. Di sisi lain, dengan pengenalan TIK dan KKPI, pelajar Indonesia terbiasa untuk mengoperasikan komputer dan pemrograman komputer yang membutuhkan logika matematika yang kuat. Sebuah kemampuan dasar yang penting untuk menghadapi perkembangan teknologi yang terjadi di dunia.

    Inovasi terus berjalan, dunia terus berubah, teknologi semakin berkembang. Pemerintah harus memiliki visi jauh ke depan untuk dapat mengejar ketertinggalan. Dengan penduduk ke-4 terbesar di dunia, Indonesia harus mampu memanfaatkan sumber daya ini, sehingga nantinya masyarakat Indonesia ke depan tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga sebagai sumber inovasi teknologi.

    *Peneliti Utama Visi Teliti Saksama dan Pengajar FEB UI

     

    Referensi

    Frey, C. B., & Osborne, M. A. (2013). THE FUTURE OF EMPLOYMENT: HOW SUSCEPTIBLE ARE

    JOBS TO COMPUTERISATION?∗. Machines and Employment Workshop (pp. 1-72).

    Oxford: Oxford University Engineering Sciences Department.