IHSG Tinggalkan Zona Nyaman 6.000

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup di level 5.988,29 pada perdagangan Selasa (14/11)

  • Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Validnews/Don Peter
    Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Validnews/Don Peter

    JAKARTA- Untuk pertama kalinya di bulan November 2017, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) meninggalkan zona nyaman 6.000, setelah ditutup di level 5.988,29 pada perdagangan Selasa (14/11). Aksi profit taking dinilai menjadi penyebab lengsernya IHSG.

    Selama lima hari perdagangan terakhir, IHSG terus mengalami koreksi. Pada penutupan perdagangan Selasa (14/11), IHSG turun 33,16 poin atau sebesar 0,55% dari harga penutupan sehari sebelumnya, 6.021,46. Sebanyak 212 saham mengalami penurunan, 226 saham stagnan tidak mengalami perubahan, dan 126 saham mengalami kenaikan.

    Banyaknya frekuensi perdagangan sebanyak 340.760 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 11,691 juta lembar saham senilai Rp7,735 miliar. Investor asing melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp721,86 miliar.

    Penurunan harga saham emiten rokok dan perbankan juga menyebabkan IHSG lengser di bawah zona 6.000. Beberapa saham yang menjadi pemberat turunnya IHSG antara lain saham Bank BRI (BBRI) yang turun 2,8%, saham HM Sampoerna (HMSP) yang turun 1,2%, saham Gudang Garam (GGRM) yang turun 3,8% dan saham Bank Mandiri (BMRI) yang turun 1,4%.

    Hampir semua indeks sektoral mengalami penurunan dengan saham-saham sektor barang konsumsi mengalami penurunan terbesar, setelah turun 1,01% dari nilai sehari sebelumnya. Adapun satu-satunya sektor yang mengalami kenaikan adalah sektor perdagangan, jasa dan investasi yang mengalami kenaikan 0,85%.

    Jika dibandingkan dengan bursa regional lainnya, persentase penurunan IHSG termasuk yang cukup besar ketimbang penurunan yang dialami indeks bursa regional lainnya. Indeks KOSPI (Korea Selatan) melemah 0,15%, indeks Nikkei 225 (Jepang) melemah 0,004%, dan indeks Hang Seng (Hong Kong) mengalami penurunan 0,10%. Sementara, indeks SET (Thailand) justru mengalami kenaikan 0,95%.

    Terakhir kali IHSG ditutup di bawah zona 6.000 adalah ketika penutupan perdagangan 30 Oktober lalu, kala IHSG ditutup pada level 5.974,08.

    Profit Taking
    Menurut analis dari Recapital Kiswoyo Adi Joe menurunnya IHSG terjadi lantaran aksi profit taking (ambil untung) dari para investor.

    “Selama beberapa hari terakhir IHSG mengalami koreksi teknikal karena aksi profit taking dari para investor,” ujar Kiswoyo saat dihubungi Validnews, Selasa (14/11).

    Menurut Kiswoyo, saat berhasil menembus level 6.000, IHSG tertopang oleh membaiknya keadaan ekonomi global. Sementara, saat ini belum ada sentimen positif lainnya yang mampu mendorong IHSG.

    “Pertumbuhan ekonomi Indonesia (year on year atau yoy) tumbuh 5,06% di kuartal III, hanya tumbuh sedikit dari kuartal sebelumnya yaitu 5,01%. Hal ini membuat investor mengambil kesempatan jual bila ada untung. Menurut saya, level support dan resistance IHSG akan berada di level 5.800-5.900 untuk akhir tahun ini,” ujar Kiswoyo menambahkan.

    Kiswoyo merekomendasikan beberapa saham agrikultur seperti Gozco Plantation (GZCO) dan London Sumatera (LSIP) layak untuk dicermati. Hal ini sesuai tren kenaikan harga sawit (CPO).

    Sementara itu, pengamat pasar modal Satrio Utomo menilai saat ini IHSG berada di tahap konsolidasi mencari arah pergerakan harga baru.

    “Menurut saya IHSG masih minim sentimen positif. Saat ini terkoreksi karena memang teknikal saja, kemarin-kemarin sudah cukup terlalu tinggi. Sentimen global juga belum ada yang mempengaruhi banyak apalagi belakangan investor domestik lebih dominan ketimbang asing,” ujar analis yang akrab dipanggil Tomi itu kepada Validnews.

    Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia, dari nilai perdagangan pada Selasa (14/11), 58% transaksi dilakukan oleh investor domestik dengan besarnya nilai perdagangan sebesar Rp4,5 triliun. Sementara itu, porsi nilai transaksi oleh investor asing adalah sebesar 42% atau senilai Rp3,2 triliun.

    Sepanjang perdagangan 2017 ini, sebesar 64% atau sekitar Rp974,1 triliun dilakukan oleh investor domestik, sedangkan 36% atau sekitar Rp558 triliun dilakukan oleh investor asing.

    Menurut Tomi, investor asing ataupun lokal yang hendak menanamkan dananya untuk jangka panjang, saat ini sedang menunggu tren perekonomian Indonesia ke depan. Untuk itu investor disarankan untuk melakukan pembelian pada saat harga rendah atau buy on weakness.

    “Setidaknya mereka menunggu hingga 1-2 kuartal ke depan. Sebelum ada target yang jelas mereka akan menunggu. Kalau untuk jangka pendek pergeserennya mendatar dan volatilitas cukup tinggi, pasti banyak yang melakukan profit taking,” ujar Tomi. (Rizal)