MENJAGA KESINAMBUNGAN "TAMBANG EMAS HIJAU"

Hilirisasi Jadi Solusi Keberlangsungan Sawit Dalam Negeri

Salah satu kelemahan kita, database industri sawit di Indonesia khususnya di sektor hilir belum terkompilasi dengan baik. Ada data ekspor-impor, Tapi Indonesia belum punya database detail terkait 'end user' di dalam negeri

  • Direktur Eksekutif GAPKI, Danang Girindrawardana. Validnews/Teodora Nirmala Fau
    Direktur Eksekutif GAPKI, Danang Girindrawardana. Validnews/Teodora Nirmala Fau

    JAKARTA – Hilirisasi produk sawit sudah sejak lama menjadi isu tersendiri. Pasalnya pasar domestik yang besar seringkali justru menjadi sasaran produk turunan sawit asing. Jika pangsa pasar produk turan sawit ini tak dioptimalkan, kekhawatiran akan serbuan produk sawit yang bahan bakunya justru dari tanah air hampir dipastikan bakal terjadi.    

    Jika disandingkan dengan Malaysia sebagai produsen sawit lain misalnya, produk turunan Negeri Jiran tersebut kian hari kian bertumbuh signifikan. Jika tak cepat sadar, Malaysia yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Indonesia, bukan tak mungkin menguasai pasar Indonesia.

    Untungnya, meskipun bergerak secara perlahan, sekarang mulai ada pertumbuhan positif untuk industri hilir kelapa sawit di negeri ini. Para pengusaha menyadari, mengarap sektor hilir sawit dapat menjadi penyelamat jika ke depannya pintu ekspor ke berbagai negara benar-benar tertutup karena berbagai alasan perang dagang.

    Dengan hilirisasi produk sawit, diyakini pasar akan berubah. Konsumsi domestik akan menjadi pasar utama dalam penjualan sawit. Luar negeri pun cuma akan mendapat sisa kecil dari oversuplai produksi sawit Indonesia. Alasan inilah pula yang membuat Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) seolah tak peduli dengan banyaknya kampanye dan kebijakan luar negeri yang mencoba mengganggu pasar sawit nusantara. Ya, mereka tampak santai menghadapinya.

    Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Danang Girindrawardana menjelaskan soal hilirasi sawit yang sedang berkembang di Indonesia saat ini. Tidak tanggung-tanggung, dalam 10 tahun mendatang diyakini bahwa 70% produksi sawit akan berbentuk hilirisasi dan bisa diserap dalam negeri. Berikut petikan wawancara lengkapnya kepada Validnews.

     

    Sebenarnya kondisi hilirisasi sawit di Indonesia saat ini bagaimana? Sejauh ini untuk anggota-anggota Gapki sendiri lebih mengandalkan ekspor produk hilir atau hulu sawit?

    Di ekspor sawit kita kan sudah bergeserlah antara CPO yang belum diproses menjadi bahan baku untuk industri. Artinya, ekspor kita lebih banyak sudah bisa menjadi bahan-bahan siap pakai untuk industri oleofood.

    Hanya oleofood saja?

    Yang chemical juga, tapi sedikit lebih kecil. Kalau yang food, lebih banyak. Ini yang harus kita pahami. Selama ini kita masih berpikir bahwa ekspor mentah. Enggak kok. Nilai tambahnya di hilir sudah sangat tinggi. Bahkan kita sudah mengejar target capaian sampai 70:30. Nantinya, yang kita ekspor hanya 30%, yang lainnya sudah diproses menjadi olefood atau oleochemical. Jadi, sudah bergeser ke situ.

    Di mana sih serapan oleo kita di dalam negeri? Banyak sekali. Industri-industri consumer goods itu saat ini sudah menggunakan bahan dasar CPO untuk memproduksi mereka punya produk toiletries, makanan. Itu di Indonesia sudah sangat banyak dan berkembang.

    Nah, ini yang harus kita kejar supaya nanti ekspor CPO juga tidak tergantung dengan politik kebijakan luar negeri. Sekararang ini kita masih diserang banyak campaign, CPO kita tidak akan banyak terpengaruh karena pembenahan di dalam tata kelola sudah dilakukan dengan sangat baik. Deforestasi sudah tidak ada. Tatakelola gambut juga lebih baik saat ini. Inilah yang seharusnya menjadi kebanggaan Indonesia.

    Kalau hampir seluruhnya, katakanlah 70%, bisa dikonsumsi sendiri untuk industri-industri consumer goods maka kita akan terlalu bergantung dengan politik kebijakan luar negeri yang relatif lebih represif terhadap Indonesia dan Malaysia.

    Sebanyak 70% targetnya untuk nantinya dikonsumsi sendiri? Berarti hilirisasi ini diharapkan bukan untuk diekspor?

    Ya, hilirisasi itu nanti fokusnya pada dua kepentingan besar domestik. Satu untuk oleofood, dua untuk oleochemical. Untuk biodiesel, kita masih banyak ekspor.

    Jadi begini, CPO di Indonesia ini kan diproses ke dalam tiga kategori besar. Satu untuk bahan campuran biodiesel. Dua untuk oleofood. Tiga untuk oleochemical. Nah, yang biodiesel ini yang relatif cukup banyak untuk ekspor.

    Untuk oleofood, sudah mulai banyak dikonsumsi di dalam negeri; industri makanan dan minuman, industri minyak goreng, kemudian farmasi. Itu sudah sebagian besar menyerap CPO kita. Yang kemudian CPO untuk chemical juga relatif bertumbuh banyak di dalam negeri. Dia bisa dipakai untuk macam-macam produknya untuk campuran industri berteknologi tinggi.

    Gambarannya begini, tahun 2016 saja, produsen oleofood sudah 25 juta ton. Terus produksi oleochemical sebanyak 3,4 juta ton. Nah, biodiesel ini yang baru 2,9 juta ton.

    Kalau semakin banyak industri hilir menyerap ini, deviasi atau ketergantungan kita terhadap mekanisme ekspor kan menjadi rendah. Kan serapannya lebih banyak di dalam negeri. Jadi, ke depannya adalah bagaimana mengembangkan processing CPO itu.

    Memang sekarang belum terlalu berkembang ya?

    Sementara ini kan baru beberapa perusahaan. Belum banyak sehingga terkesan oleh publik ada sedikit monopoli dari beberapa korporasi. Tapi, ini bukan monopoli karena memang hanya adanya itu.  Tantangannya ke depan, mestinya investasi mulai melirik bagaimana membangun pabrik-pabrik yang mencetak bahan siap pakai untuk industri turunan berikutnya.

    Di anggota Gapki sendiri, beberapa perusahaan itu siapa saja yang sudah bermain di hilirisasi sawit?

    Kan ada Musim Mas, Wilmar. Ada juga ada Mas sama Astra Agro. Baru empat.

    Baru empat? Sedangkan jumlah anggota saat ini?

    Kita punya 700-an.

    Kenapa baru empat ini?

    Karena itu memang industri yang padat teknologi. Tidak banyak perusahaan yang bisa mewujudkan teknologi itu. Selain tinggi teknologi, ini juga jauh lebih mahal daripada investasi perkebunan.

    Cuma saya kira, para grup besar itu juga mengembangkan lini bisnis processing mereka di pulau-pulau. Jadi, tidak ada masalah bahwa nanti terfokus ke beberapa grup itu saja. Tidak ada. Kan mereka bahan bakunya juga dari grup-grup lain, dari petani juga maupun dari industri. Tidak ada soal. Tetapi, tetap kita harapkan agar muncul juga pabrik-pabrik baru yang bisa mengelola itu.

     

     

    Bapak bilang saat ini sudah terserapnya banyak di dalam negeri. Tapi kan kalau kita lihat dari ekspor kita, perbandingannya jomplang sekali. Untuk dipakai di dalam negeri itu sekitar 10 jutaan, sedangkan diekspor angkanya sekitar 20 juta lebih. Itu penghitungannya bagaimana?

    Ya kan kita harus detail. Di ekspor tipe yang apa? Kan ada juga ekspor produk turunan. Jadi, produk CPO yang kita ekspor bukan mentah. Sudah banyak CPO yang sudah processing. Itu yang nilai tambahnya ada di situ.

    Sepuluh tahun mungkin ekspor minyak sawit Indonesia itu 55%-nya masih minyak mentah. Tapi, sudah tidak lagi sekarang. Di 2016 kemarin sudah 78% ekspor kita itu dalam bentuk minyak sawit olahan.

    Nah, itu juga terjadi di dalam negeri. Kalau untuk ekspor, kan lebih banyak yang biodiesel karena merekalah (negeri lain) yang memproses, Amerika, Jerman, Inggris. Itu memang tidak diproses di dalam negeri.

    Diharapkan dalam 2 tahun ke depan, 2019, bisa meningkat lagi khususnya untuk dalam negeri. Mengapa begitu? Karena serapan biodiesel di dalam negeri menaik terus setiap tahun, Kalau dalam satu tahun bisa mengejar, katakanlah 20% saja sehingga kita bisa mencapai B30—komposisi kandungan biodiesel dan solar—maka mereka bisa serap lebih dari 20% dari produksi minyak sawit.  

    Sejauh ini dari tiga sektor hilirisasi itu, yang paling besar untuk diproduksi dan diserap dalam negeri?

    Masih oleofood yang dominan. Food juga masih dominan lokal. Chemical nih yang angkanya masih sulit sebab ketika diekspor, kita enggak tahu produk hilir ini diolah jadi apa lagi di luar negeri. Tapi, penggunaan di dalam negeri untuk chemical relatif lebih rendah daripada oleofood. Ya paling untuk plastik, pabrik kaca, otomotif, IT. Hampir semua pakai minyak sawit, toh.

    Kalau dibandingkan Malaysia, banyak yang bilang industri hilirisasi mereka lebih maju dan banyak? Sebenarnya perbandingannya bagaimana dengan Indonesia? Ada yang bilang 1:10, ibaratnya Indonesia baru 20 turunan, mereka 200.

    Ya, ini salah satu kelemahan kita. Database industri sawit di Indonesia, terutama di sektor hilir, ini belum terkompilasi dengan baik. Kita punya data ekspor-impor, tapi kita belum punya database yang sangat detail terkait dengan user di tingkat dalam negeri. Kita belum punya komparasi dengan negara lain dalam memproduksi produk hilir. Jadi, kita belum bisa menunjukkan seberapa banyak akuratnya komposisinya dalam dan luar negeri. Intinya tapi begini, semakin kuat di industri hilir, go to hell negara lain.

    Tadi Bapak bilang salah satu kendalanya kan padat modal dan teknologi kalau untuk hilirisasi. Memang seberapa besar sih investasi yang dibutuhkan?

    Kan data lagi kan. Sekarang coba bayangkan, crowded processing di pabrik CPO? Konsumsi gas untuk itu tinggi, listrik tinggi. Mahalnya di situ.

    Perkiraannya?

    So far tidak pernah dipublikasikan besaran investor untuk membangun pabrik hilir. Saya belum pernah mendapatkan report dari anggota Gapki. Itu sangat individual di masing-masing mereka.

    Selain modal dan teknologi; kalau dari regulasi dan lain-lain ada kesulitan tidak?

    Memang tantangan terbesarnya di industri sawit ini kan bukan pada pasar ekspor. Tantangannya justru di kebijakan dalam negeri. Kita lihat di berbagai publikasi, dua kementerian setidaknya menunjukkan kekurangbijakan dalam rangka melakukan regulasi terhadap perkebunan sawit.

    Contoh mengenai masalah lahan gambut. Dua, masalah keputusan penetapan kawasan hutan. Ya ini yang harus kita kaji dan kita mohonkan perbaikan dan penyesuaian kepada menteri-menteri terkait. Supaya apa sih sebenarnya tujuan kita? Bukan untuk mempertahankan industri perkebunan kok, yang paling utama justru datanya ada 48% dari industri itu adalah perkebunan milik rakyat. Kalau 52% milik perusahaan okelah, tetapi juga di dalam perusahaan itu anak bangsa kita ada di situ. Hampir US$300 triliun nilai APBN kita dari sektor itu.

    Artinya, mestinya pemerintah saat ini sejajar antara visinya masing-masing kementerian dengan visinya Bapak Presiden Jokowi untuk membangun investasi yang cepat dan berkualitas di republik kita. Saat ini produk-produk kebijakannya tidak sejalan. Antara beberapa kementerian pun masih tidak sinkron produk kebijakan mereka. Itu bukan produk kebijakan lama, itu kebijakan baru.

     

    Biodiesel Sawit. FOTO ANTARA/Ahmad Subaidi

     

    Itu kan tadi di perkebunannya kan? Kalau di industri hilir sawitnya?

    Industri hilir sawit ini yang belum banyak sentuhan dan memang tidak terlalu membutuhkan sentuhan saat ini. Paling dari Kementerian Perindustrian. Tetapi, pada intinya, kita mestinya melihat bahwa industri hilir ini permintaannya juga tinggi, tapi tidak membutuhkan insentif yang cukup sering.

    Yang dibutuhkan justru disuplai pasok bahan bakunya di industri perkebunannya. Kalau di industri hilir, sudah sangat profesional menghasilkan produk-produk. Mereka sampai saat ini sudah dinikmati oleh banyak produsen consumer goods. Misalnya produsen makanan dan minuman, hampir semuanya menggunakan sawit.

    Tapi kan targetnya mau 70% nih serapannya, di sisi lain baru empat perusahaan yang main di industri hilir ini. Yakin tidak butuh insentif pemerintah?

    Memang targetnya 70%. Tapi, insentif apa yang kita butuhkan tidak terlalu banyak di industri itu. Justru gangguannya itu di sektor hulu. So far market juga berjalan dengan baik. Kalau sudah baik, untuk apa pemerintah perlu lakukan intervensi? Biarkan saja market berjalan tumbuh. Itu yang diharapkan.

    Soalnya semakin sedikit pemerintah mengatur, kan semakin baik Kalau ada masalah, barulah pemerintah intervensi. Kan filosofi kebijakan publik di situ. Kebijakan publik yang baik adalah semakin sedikit pemerintah mengatur. Itu sudah diaplikasikan di negara-negara maju. Semakin sedikit pemerintah terlibat, semakin baik.

    Dalam artian berarti saat ini kebijakan pemerintah yang sedikit di bidang hilir itu malah membuat industri hilir sawit ini lebih baik dibanding hulunya?

    Ya. Industri hilir dengan sedikitnya campur tangan pemerintah, lebih bagus. Di industri hulu, makin banyak cawe-cawe pemerintah malah makin berantakan.

    Adanya moratorium pembukaan lahan sawit dan lain-lain, bisa berpengaruh seberapa jauh terhadap industri hilir?

    Jika moratorium ini benar-benar dilakukan secara membabi buta oleh pemerintah, industri hilir kita bisa kekurangan stok bahan baku. Yang paling kentara saat ini, kalau industri hulunya selalu diganggu dengan penutupan-penutupan pabrik, tidak diizinkan berekspansi, atau dipaksa mengembalikan lahan mereka menjadi lahan gambut; maka kurang lebih proyeksi kita baik di industri sawit maupun HTI (hutan tanaman industri), itu akan lay-off sekitar 1,2 juta karyawan. Mereka akan kehilangan mata pencaharian dan pekerjaan dari situ. Ini angka yang sangat tinggi dan berbahaya buat masalah sosial berikutnya.

    Soal industri hilir ini, sebenarnya seberapa besar nilai tambahnya?

    Nilai tambah dari industri hilir selalu lebih tinggi daripada industri hulu. Contohnya adalah petani tebu di industri hulu, kita bisa lihat tingkat kesejahteraan petani tebu tidak lebih baik daripada perusahaan-perusahaan pemroses gula menjadi kue, gula menjadi minuman. Selalu ada nilai tambah yang lebih baik. Nah, di industri hilir sawit ya sama, lipatan value added-nya terhadap di industri hilir selalu lebih besar daripada industri hulu.

    Tetapi, dibandingkan dengan nilai investasinya, jatuhnya rata-rata sama. Perkebunan sawit mungkin tidak lebih mahal daripada nilai investasi membangun pabrik CPO atau membangun pabrik penggilingan kelapa sawit. Beda.

    Itu yang membuat banyak pengusaha, khususnya anggota Gapki, “agak malas” menggarap industri hilir ini?

    Enggak malas. Ada kok rencana. Para anggota Gapki sedang mengembangkan. Di hampir pulau-pulau terbesar mereka akan kembangkan.

    Lebih ke arah mana pengembangannya?

    CPO processing. Karena bahan baku ada, pasar ada maka butuh CPO processing.

    Itu dari dalam negeri tidak terlalu banyak aturan, dari luar negerinya hambatannya apa untuk ekspor produk hilir dibandingkan produk hulu?

    Sebenarnya tidak terlalu banyak. Hambatan dari luar negeri hampir tidak ada. Yang ada adalah rencana treasurebility. Itu teman-teman di Uni Eropa sedang meminta setiap produsen yang menggunakan CPO mengaudit sumber CPO. Tracking. Itu rencana yang tidak benar.

    Mengecek sumber kan berarti juga mengecek pemasoknya. Misalnya perusahaan sudah memiliki sertifikasi, tetapi dia menerima pasokan dari petani rakyat yang belum tersertifikasi, tidak tembus dong?

    Iya, ini bisa jadi masalah besar. Karena yang menjadi hambatan justru suplai dari petani rakyat yang tidak bisa memenuhi sertifikasi.

    Jadi, ada kemungkinan produk-produk hilir itu akan dicek juga?

    Iya, tapi kita akan melawan hal itu kok.

     

     

    Tindakan Gapki sejauh ini, perlawanannya bagaimana?

    Ya, kita biarkan saja mereka bikin regulasi. Tidak ada pengaruh dengan regulasi itu. Untuk apa kita harus mematuhi semua regulasi luar negeri?

    Kenapa Gapki begitu percaya diri tidak ada pengaruhnya?

    Tidak akan terlalu terpengaruh di dalam konteksnya di industri hilir. Industri hulu, iya mungkin itu pengaruh. Di industri hilir, ketika sudah jadi produk jadi, itu bukan hanya perintah kepada industri perkebunan sawit. Tapi, silakan itu berbicara dengan Unilever, dengan semua perusahaan internasional yang memproduksi makanan dan minuman, toiletries, dan chemical. Bukan di kita masalah. Kalau mereka mematuhi treasurebility concept—belum regulasi ya, masih konsep—silakan membangun industri CPO sendiri barangkali.

    Meskipun masih konsep, soal treasurebility ini kan bisa menjadi ancaman. Ada kemungkinan tidak jika hilirisasi kita ini optimal, kita tidak perlu ekspor minyak sawit karena semuanya terserap?

    Tidak, karena kita tetap over suplai sampai saat ini. Artinya, kita tetap membutuhkan pasar luar negeri. Makanya, Rusia, China, India, dan Pakistan itu bagian penting dari market baru kita. Eropa kan relatif sedikit kita jual ke sana, tapi sedikit itu yang rewel.

    Tadi Bapak bilang meskipun industri hilir berkembang optimal, kita tetap over suplai? Seberapa besar oversuplai kita?

    Kalau tahun lalu, dari produksi 35,58 juta ton kan untuk konsumsi domestik cuma 11,10 juta ton. Terus sampai Oktober tahun ini, konsumsi domestik yang terdata 9,18 juta ton padahal produksi 34,04 juta ton.  Tapi nantinya, kalau proyeksi kita 70:30. Jika itu bisa tercapai maka 30% itu yang harus tetap kita ekspor.

    Saat ini, masih kondisi terbalik. Pada tahap berapa lama lagi kita bisa membalikkan ini ke 70:30? Wah ini, kalau di forecast kita butuh sekitar waktu 10 tahun lagi.

    Tapi begini untungnya, kalau industri hilirnya sudah semakin banyak, semakin kita konsumsi produk untuk dalam negeri, nilai ekspor juga bisa semakin mahal. Kan karena demand di dalam negeri tinggi. Itu yang mau kita kejar supaya industri hilir di dalam negeri itu menyerap lebih banyak CPO jadi demand di dalam negeri lebih banyak daripada di luar negeri. Saat ini, demand luar negeri lebih banyak. Kondisinya terbalik.

    Berarti, intinya masih tetap butuh pasar ekspor untuk sektor hulu?

    Masih.

    Nantinya jika sudah berkembang optimal, produk hilir dari CPO ini akan lebih fokus ke ekspor atau untuk penyerapan dalam negeri?

    Jauh lebih baik apabila produk-produk kita dominasinya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jadi, tidak rewel dengan urusan luar negeri. Di sisi lain, kalau industri CPO based yang masih mentah, permintaan ekspor itu masih tinggi. Merekalah yang mengolah itu menjadi apa dan masih susah membedakan mereka mau pakai untuk apa.

     

     

    Andaikata makin banyak perusahaan yang mau berinvestasi di industri hilir dalam negeri, tapi permintaan terhadap CPO based ini nggak berkurang-kurang nih. Mendahulukan mana nih kalau dari pelaku usaha?

    Market yang akan bicara soal price-nya. Hukum dagang akan berbicara mana yang bisa beli lebih mahal, dia akan jual ke situ. Cuma pasar dalam negeri akan tetap jadi lebih dominan karena komponen harga yang lain menjadi jauh lebih murah. Katakan di dalam negeri kita jual US$100, di luar negeri offering-nya US$110. Tapi, di dalam negeri itu Anda tidak perlu pikir ongkos ekspor, tidak perlu lagi pikir pajak ekspor untuk mereka yang akan menjadi duplikasi harga. Jatuh-jatuhnya harganya sama.

    So, industri kita akan bilang, saya jual saja ke Indofood. Lebih kompetitif harganya antara market dalam negeri. Luar negeri mungkin mereka akan terus-menerus memberi penawaran yang lebih mahal, tapi kan banyak komponen lainnya.

    Nanti jadinya sisa minyak aja yang kita ekspor. Nah, nanti negara bisa intervensi jika sudah terjadi seperti itu. Saat ini belum terjadi. Negara tidak perlu intervensi.

    Mungkin dalam waktu 5—10 tahun ke depan, kita bisa memetik hasilnya lebih baik. Estimasi produksi CPO kita dalam 10 tahun ke depan kan meningkat hampir 20—30% sekian. Jadi kurang lebih dalam lima tahun bisa meningkat 10—15% dari produksi sekarang yang. Maka, industri hilir kita akan otomatis bertambah karena suplainya banyak. Akan muncul lebih banyak juga industri hilir CPO karena bahan bakunya gampang.

    Kan sekarang juga sebenarnya bahan baku gampang, apa cuma tetap empat perusahaan itu saja yang memproses produk hilirnya?

    Ya, kan semakin gampang, akan semakin memancing. Itu juga sangat tergantung dengan kebijakan kementerian yang memberikan insentif, misalnya kepada industri makanan dan minuman. Misalnya dia membuka, oke untuk industri baru yang bergerak di makanan dan minuman dalam lima tahun ke depan akan mendapat insentif pajak tenaga kerja. Misalnya. Atau misalnya pajak untuk beli CPO hilang. Kan juga pengaruh itu. Ya, policy itu nanti bisa saja muncul dari Kementerian Perindustrian atau Kementerian Perdagangan. Itu akan memicu juga.

    Intinya, market itu tumbuh dengan caranya sendiri. Mereka melihat peluang. Bisnis akan tumbuh dengan caranya sendiri. Jika ada tantangan dan peluang, pasti ada dinamika bisnis baru. Makin sedikit suplai, makin sedikit pula tumbuh bisnis produk itu. Tapi, semakin banyak, pasti akan memunculkan. Itu sudah hukum alam di bisnis. Tidak harus melihat dari sisi pasar saja. Lihat juga dari sisi suplai karena supply created demand.

    Dari luar negeri, apakah ada regulasi yang menghambat program hilirisasi?

    Nggak, so far. Ya, paling perbankan sedang digosok-gosok untuk tidak memberikan dana. Itu gangguan? Iya, itu potensi gangguan. Tapi, belum menjadi gangguan besar saat ini. Perbankan akan tetap menggunakan hukum alam juga. Mereka lihat industri CPO tumbuh kembang, enggak ada NPL di situ, mereka akan tetap support.

    Harapan ke depannya untuk industri hilir sawit dan konklusi rencana Gapki mengenai pemasaran produk-produk hilir sawit dari para anggotanya?

    Ya, kalau di Gapki kan dari sisi produsen. Sampai saat ini sebagai asosiasi produsen terbesar berharap sektor-sektor yang menggunakan CPO makin tinggi di Indonesia. Paling tidak di Asia. Kalau di dalam negeri sendiri, serapan itu sudah cukup banyak.

    Harapan kita juga kepada investor di industri makanan dan minuman mulai melihat fakta-fakta objektif mengenai keunggulan sawit. Selama ini fakta-fakta yang disajikan masih subjektif sekali dan menunjukkan seolah-olah sawit adalah musuh buat kesehatan. Bohong besar di situ. Artinya, sangat terpengaruh dengan kampanye hitam yang dimunculkan oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab.

    Pada kenyataannya, mereka yang mencoba memengaruhi kita pun mengonsumsi. Lihat Eropa, hampir semua produk makanan, minuman, toiletries mereka pakai sawit. Ngapain mereka menyerang kita? Itu contohnya. Intinya, industri hilir juga jangan termakan isu negatif dari industri hulunya. Harapan kita hanya itu paling tinggi. (Teodora Nirmala Fau)