JALAN BERLIKU MENUJU MANDIRI DAGING

Harga Tinggi Terhambat Distribusi

Rantai pasok daging sapi di Indonesia dibedakan antara daging sapi asal ternak sapi lokal, daging sapi asal ternak sapi impor (dari Australia) dan daging sapi asal daging beku impor (dari Australia, Selandia Baru, dan lain sebagainya). Daging sapi lokal berasal dari sapi yang  dikembangbiakkan di berbagai daerah di Indonesia, seperti dari NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Jawa.

  • Caption : Pedagang berada di antara sapi kurban jualannya di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (29/8). Pemintaan sapi di Makassar meningkat menjelang hari raya Idul Adha 1438 H dan sapi-sapi kurban yang didatangkan dari luar kota Makassar tersebut dijual Rp10 juta hingga Rp50 juta per ekor. ANTARA FOTO/Yusran Uccang/aww/17.
    Caption : Pedagang berada di antara sapi kurban jualannya di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (29/8). Pemintaan sapi di Makassar meningkat menjelang hari raya Idul Adha 1438 H dan sapi-sapi kurban yang didatangkan dari luar kota Makassar tersebut dijual Rp10 juta hingga Rp50 juta per ekor. ANTARA FOTO/Yusran Uccang/aww/17.

    Oleh : Dr. Nugroho Pratomo* dan *Sita Wardhani SE, MSc

    Daging sapi memiliki posisi dalam konsumsi protein hewani masyarakat yang penting karena konsumsi 100 gram daging sapi tanpa lemak dapat memenuhi 60% dari kebutuhan protein harian. Meski demikian, daging sapi bukan merupakan daging favorit bagi masyarakat Indonesia.

    Di tahun 2015, daging ayam merupakan jenis daging yang paling besar konsumsinya per tahun, sebesar 6,7 kg/kapita/tahun, dan babi sebagai daging yang dikonsumsi terbesar kedua oleh masyarakat Indonesia, konsumsi pertahunnya mencapai 2.28 kg/kapita. Konsumsi daging sapi sendiri hanya mencapai 1.8 kg/kapita/tahun.

    Jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, Filipina, dan Vietnam, konsumsi daging masyarakat Indonesia sangat rendah. Pada tahun 2015, konsumsi daging Indonesia tidak berbeda jauh dengan Thailand, dan kalah jauh dengan Vietnam, yang pertahun konsumsi dagingnya mencapai 9.5 kg/kapita dan Malaysia 5,45 kg/kapita. Di tahun 2017, konsumsi daging Indonesia meningkat 60% dari konsumsi di tahun 2015, menjadi sebesar 2,9 kg/tahun.

    Rendahnya tingkat konsumsi daging sapi oleh masyarakat Indonesia disebabkan dua hal utama, yaitu masalah daya beli dan kedua terkait persediaan dan rantai pasok. Harga daging sapi dibandingkan daging ayam memang cukup jauh. Berdasarkan laman harga kebutuhan pokok milik Kemendag, di akhir bulan September 2017 ini, harga daging ayam adalah 30 ribu/kg, sedangkan daging sapi mencapai 120 ribu/kg. Tingginya harga daging sapi ini pula yang mengakibatkan konsumsi daging sapi rendah.

    Di sisi lain, meskipun konsumsi perkapita masih rendah, namun dari segi pasokan pemenuhan daging sapi secara umum juga belum dapat sepenuhnya dipenuhi produksi dalam negeri. Pemerintah telah memberikan berbagai upaya untuk dapat memenuhi kebutuhan domestik dan menstabilkan harga sapi di pasar domestic, baik melalui peningkatan produktivitas melalui pengadaan sapi lokal maupun melalui impor.

    Produksi daging sapi lokal
    Populasi sapi potong delapan tahun terakhir terlihat fluktuatif. Angka BPS sementara untuk tahun 2016, populasi sapi potong mencapai 16,09 juta ekor. Fluktuasi populasi disebabkan karena peternak sapi sebagian besar adalah rumah tangga, dimana skala produksi mereka rendah. Selain itu, sapi menjadi aset yang dapat dengan mudah diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhan yang memerlukan dana cukup besar.

    Akibatnya para peternak akan menjual ternak sapinya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat sesaat, sebagai contoh untuk keperluan anak yang khitanan atau ada yang hendak wisuda.

    Berdasarkan daerah dan  propinsi produsen daging sapi nasional,  data BPS menunjukkan bahwa Pulau Jawa masih merupakan produsen terbesar sapi nasional. Secara umum 61% produksi sapi nasional berasal dari Pulau Jawa. Diikuti oleh Pulau Sumatra sebesar 21%. Sedangkan pulau-pulau lainnya hanya menyumbang 6% produksi sapi nasional. Apabila dilihat berdasarkan propinsinya pada tahun 2016, maka Jawa Timur merupakan produsen daging sapi terbesar, diikuti oleh Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.

    Impor
    Kurangnya kapasitas produksi sapi nasional baik dari sisi kuantitas maupun kualitas untuk dapat memenuhi permintaan dalam negeri, menjadikan impor daging sapi sebagai alternatif pasokan.

    Kebijakan impor pada dasarnya dimulai semenjak adanya Paket Kebijakan Mei 1995. Ketika itu, pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan untuk membuka impor produk dan komoditas pertanian. Pemerintah kemudian menurunkan tarif impor produk ternak sapi dari 10% menjadi 5%. Pemerintah juga menurunkan tarif impor komoditas sapi bibit dan sapi bakalan dari 5% menjadi 0%. Hal tersebut semakin “diperkuat” ketika terjadi krisis 1997-1998 dimana IMF masuk ke Indonesia, yang menyebabkan semua hambatan perdagangan dihapuskan (Ilham, 2009).

    Impor sapi hidup dilakukan sebagai upaya untuk menambah pasokan daging nasional. Namun demikian kebijakan ini menimbulkan permasalahan tersendiri. Permasalahan utama adalah bagi para peternak yang memandang bahwa kebijakan tersebut dapat  mematikan usaha para peternak sapi dalam negeri. Semakin banyaknya pengusaha penggemukan sapi impor (feedloter) mulai melakukan pemotongan, menyebabkan harga sapi hidup di tingkat peternak mengalami penurunan (Aria, 2013). Hal inilah yang kemudian juga berdampak negatif pada daerah-daerah yang menjadi sentra produksi sapi nasional, seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

    Distribusi
    Sentra produksi sapi potong yang selama ini menjadi andalan sumber sapi potong nasional yaitu NTT dan NTB, dan wilayah sentra konsumsi yaitu Jabodetabek. Namun demikian, beberapa tahun kebelakang daerah penjualan sapi dari NTT dan NTB tidak lagi Jabodetabek, melainkan beralih ke wilayah Kalimantan.

    Beberapa alasannya yang melatarbelakangi peralihan pasar adalah: (1) Pasar di wilayah Jabodetabek sudah cukup jenuh dengan masuknya sapi impor dari Australia; (2) Biaya angkutan dan risiko perjalanan dari NTT dan NTB ke Jabodetabek lebih tinggi dibanding ke Kalimantan karena untuk ke Jakarta menggunakan kapal turun di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, lalu pindah ke truk untuk angkutan ke Jakarta dengan waktu tempuh yang lama, sementara angkutan ke Kalimantan cukup menggunakan kapal saja dan lebih cepat sampai; (3) Harga jual di Kalimantan lebih tinggi dibanding di Jakarta; (4) Pasokan sapi jantan di NTT dan NTB sudah menipis; dan (5) Pedagang ternak antar pulau NTT dan NTB sering ditipu oleh pedagang ternak/Jagal di Jabodetabek.

    Selain itu, jika kita amati rantai pasok daging sapi di Indonesia dibedakan antara daging sapi asal ternak sapi lokal, daging sapi asal ternak sapi impor (dari Australia) dan daging sapi asal daging beku impor (dari Australia, Selandia Baru, dan lain sebagainya). Daging sapi lokal berasal dari sapi yang  dikembangbiakkan di berbagai daerah di Indonesia, seperti dari NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Jawa.

    Secara umum, pola rantai pasok untuk sapi potong di Indonesia memiliki mata rantai yang terdiri atas beberapa pelaku, yaitu Peternak, Belantik, Pasar Hewan, Pedagang Pengumpul, Pedagang Pengumpul Besar, Pedagang Antar Propinsi, Jagal, Rumah Potong Hewan (RPH), dan Konsumen. Pola rantai pasok daging sapi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

    Pasokan Daging Sapi dan Permasalahannya
    Namun sayangnya, pemenuhan kebutuhan daging sapi oleh produksi lokal baru mencapai 70%. Dengan demikian, sekitar 30% kebutuhan daging sapi harus dipenuhi dengan cara impor (Rusono, 2015).   

    Semakin besarnya permintaan daging sapi seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat, perubahan gaya hidup, perkembangan industri pariwisata terutama hotel dan restoran, mengharuskan pemerintah untuk terus dapat mendorong kuantitas maupun kualitas daging sapi lokal. Namun demikian, hal tersebut bukan merupakan perkara yang mudah untuk diwujudkan. Berbagai permasalahan menyebabkan pengembangan peternakan sapi di Indonesia tidak dapat sepenuhnya dijalankan sebagaimana harapan dari berbagai pemangku kepentingan di sektor daging sapi.

    Berbagai permasalahan tersebut pada akhirnya berdampak pada harga daging sapi yang terus mengalami fluktuasi. Bahkan pada bulan-bulan tertentu, harga daging sapi mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Adanya rutinitas tahunan menjelang bulan puasa dan hari raya Idul Fitri, seringkali menjadi waktu-waktu yang berulang setiap tahunnya dimana harga daging sapi mengalami kenaikan.

    Rutinitas tahunan inilah yang seharusnya menjadi salah satu alasan mengapa pengadaan dan pengendalian harga daging sapi menjadi salah satu perhatian utama pemerintah. Mulai dari sektor produksi hingga hilir, dimana pengendalian pasokan dan harga menjadi indikator kinerjanya.

    Untuk ketersediaan pangan berkualitas, khususnya daging, Pemerintah dalam hal ini mengeluarkan sejumlah kebijakan. Salah satunya  melalui paket Kebijakan Ekonomi Jilid lX yang  perluasan asal wilayah impor sapi/kerbau. Pengadaan ini tak bisa serta-merta memenuhi kebutuhan daging Indonesia.

    Di sisi lain, harga haruslah distabilkan. Karenanya, pada 2016 lalu, upaya lain ditempuh. Pemerintah memperluas membuat kompetisi lebih baik untuk pengadaan daging sapi. Semula, Indonesia hanya mengimpor daging sapi dari negara-negara tertentu sebagaimana diamanatkan pada undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

    Peraturan ini menyatakan impor sapi berdasarkan country based atau hanya boleh dari negara yang bebas penyakit mulut dan kuku (PMK). Di tingkat implementasi, dikeluarkan pula   Peraturan Pemerintah Nomor 4 tahun 2016 tentang Pengubahan Kebijakan Kesehatan Hewan dari Country Based ke Zona Based.

    Konsumsi daging merah masyarakat Indonesia masih rendah, padahal daging sapi merupakan sumber protein tinggi serta vitamin B12. Rendahnya konsumsi terutama disebabkan oleh harga daging merah yang masih cukup tinggi. Stabilisasi harga bukan hanya masalah pasokan sapi local, tetapi juga masalah distribusi yang dapat menyebabkan harga sapi melonjak. Untuk itu, pemerintah perlu mengembangkan sentra produksi sapi yang tidak hanya terpusat pada daerah tertentu, sehingga pada akhirnya tidak tergantung pada sapi impor.

    *Direktur Penelitian Visi Teliti Saksama
    ** Peneliti Utama Visi Teliti Saksama dan Pengajar FEB UI

     

    Referensi:

    1. Adityowati, P. (2016, Mei 28). https://m.tempo.co/about/. Dipetik Mei 30, 2017, dari https://m.tempo.co/: https://m.tempo.co/read/news/2016/05/28/151774861/menjelang-ramadan-pungli-truk-barang-marak
    2. BPS. (2017). https://www.bps.go.id/index.php/masterMenu/view/id/1#masterMenuTab1. Diambil kembali dari https://www.bps.go.id: https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1016
    3. BPS. (2016). https://www.bps.go.id/. Diambil kembali dari https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1038
    4. Fik/Ndw. (2013, September 7). http://www.liputan6.com/info/redaksi. Dipetik Mei 30, 2017, dari http://www.liputan6.com/: http://bisnis.liputan6.com/read/686186/peternak-ri-baru-jual-sapi-amp-kerbau-waktu-sunatan-anaknya
    5. Aria, P. (2013, Juli 23). Dipetik Juni 2, 2017, dari https://www.tempo.co/: https://bisnis.tempo.co/read/news/2013/07/23/092498769/pembebasan-impor-sapi-siap-potong-rugikan-peternak