Habiburrahman El Shirazy, Sang Novelis Yang Optimis

  • Habiburrahman El-Shirazy. Ist
    Habiburrahman El-Shirazy. Ist

    JAKARTA – Menulis berbagai kisah cinta, mulai dari yang berakhir bahagia hingga tragis mengharu biru perasaan, tak terhitung orang yang melakukannya. Namun, menuliskan kisah percintaan dengan muatan syiar Islam, tak banyak orang yang memilih jalur tersebut.

    Salah satunya Habiburahman El Shirazy. Sastrawan yang terkenal dengan karya-karya yang mengandung syiar Islam.

    Tak heran jika Kang Abik, begitu panggilan akrabnya, disebut sebagai sastrawan aliran sastra moralis terkemuka di Tanah Air. Lembaga dakwah Universitas Diponegoro, Insani, pun menyematkan gelar novelis nomor satu di Indonesia.

    Gelar ini bukan berlebihan. Pasalnya, belasan novel Islami yang sudah ia tulis, sambutan hangat masyarakat selalu ia terima.

    Tak hanya sebagai sastrawan, Kang Abik juga dikenal masyarakat sebagai sutradara, penyair, budayawan dan dai., seorang yang dapat melakukan banyak hal ini, sering diundang untuk mengisi dan Karenanya pembicara dalam forum-forum nasional dan internasional.

    Kang Abik lahir pada 30 September 1976 di kota Venice Van Java atau Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah anak pertama dari pasangan KH. Saerozi Noor dan Hj. Siti Khadijah.

    Ia dibesarkan di dalam keluarga yang mementingkan dan menganut disiplin agama islam. Prinsip dari keluarganya sangat tegas dan keras dalam urusan agama. Hal ini, yang membuat Kang Abik memiliki jiwa religius.

    Sejak kecil Kang Abik dikenal sebagai anak yang memiliki jiwa keingintahuan yang tinggi. Berbagai hal yang sekiranya tidak ia tahu, akan ia tanyakan kepada keluarganya. Ini diungkapkan Ahmad Mujib El Shirazy, dalam bukunya yang berjudul The Inspiring Life of Habiburrahman El Shirazy.

    Ahmad Mujib El Shirazy tak lain adalah adik kandung Kang Abik.

    Masa Sekolah
    Ketertarikan Kang Abik pada dunia sastra dimulai sejak ia masih berusia belia. Kala itu, Kang Abik menempuh pendidikan di SD Sembungharjo, Semarang. Di bangku sekolah dasar inilah Kang Abik sering mengikuti lomba puisi dan sering menyabet gelar juara.

    Ketertarikan Kang Abik pada bidang sastra semakin besar dan terus berlanjut  hingga masa pendidikan di MTs (Madrasah Tsanawiyah). Di sini, ia mengikuti berbagai lomba di PORSENI antar pelajar se Kabupaten Demak dan menjuarai lomba baca puisi saat itu.

    Setelah selesai menempuh pendidikan di MTs, ia melanjutkannya di pendidikan MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus). Kegemarannya mengikuti berbagai lomba di bidang sastra masih ia lanjutkan. Berbagai kejuaraan pun ia raih.

    Kang Abik juga memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Al-Anwar, Mranggen, Demak.  Ia belajar di bawah asuhan KH. Abdul Basyir Hamzah selama 3 tahun.

    Saat itu, Kang Abik menulis  karya teaterikal puisi dengan judul Dzikir Dajjal. Tak hanya menulis, ia pun terjun langsung sebagai sutradaranya pada tahun 1992.

    Selama mempelajari ilmu agama, keinginan untuk ikut serta mendongkrak kembali cahaya peradaban Islam di Indonesia tumbuh dalam hati Kang Abik. Karena itu, ia pun berniat melanjutkan pendidikan sebagai bekal mewujudkan niat hati tersebut.

    Niat untuk melanjutkan pendidikan ini sejalan dengan cita-cita semenjak Kang Abik kecil. Yakni, melanjutkan studi ke negara dengan peradaban Islam terbesar di dunia.

    Doa berbanding lurus dengan hasil dan usaha, begitu keyakinan hati Kang Abik. Ia pun lantas mencari cara demi mewujudkan cita-cita meraih pengetahuan di Mesir. Keyakinannya berbuah manis. Kang Abik berhasil mendapat beasiswa kuliah di universitas Islam paling terkemuka di dunia, Jurusan Hadits, Unversitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

    Menjejakkan kaki di Mesir, kesempatannya untuk memperdalam ilmu agama dan juga memperlajari karya-karya sastra Arab terbuka lebar.

    Menamatkan pendidikan S1 dirasa tak memuaskan bagi Kang Abik. Ia ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi. Sayangnya, beasiswa yang ia dapatkan hanya untuk pendidikan S1 dan tidak ada lagi beasiswa khusus S2 untuknya.

    Bekerja demi membiayai pendidikan S2 pun tak mungkin dilakukan. Waktu itu, universitas di Mesir tidak memperbolehkan para pelajarnya mengambil pekerjaan sambilan sambil berkuliah.

    Padahal, biaya yang dikeluarkan untuk melanjutkan studinya tidaklah kecil. Ia juga tak tega, untuk meminta biaya tambahan kepada orang tuanya, karena adik-adiknya masih perlu juga.

    Kondisi ini tak membuat Kang Abik putus asa dan kehilangan ide untuk meraup uang lebih. Tekad yang besar akan membawa seseorang lebih berusaha, bukan hanya sekadar bermimpi, begitulah Kang Abik berupaya meraih cita-citanya.

    Lantas, berbekal kecintaannya dan banyak penghargaanya di bidang sastra, ia memutuskan untuk menulis kala itu. Pekerjaan ini bisa ia lakukan di rumah, atau di sela waktu kuliah.

    Kang Abik pun bergabung dengan sebuah tim penerjemah di Kairo. Pekerjaan pertamanya adalah menerjemahkan sebuah buku dengan tebal 200 halaman dalam kurun waktu 1 bulan. Sayangnya, hasil karyanya ditolak.

    Sisi baiknya, ia masih diberi kesempatan kedua. Kali ini, ia diberi waktu 1 minggu untuk memperbaiki karyanya. Rasa syukur ia panjatkan kepada Allah, karena karyanya berhasil diterima.

    Di luar kegiatan belajar yang ia ikuti, Kang Abik aktif dalam berbagai kegiatan. Ia ikut mencetuskan ide berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kairo. Ia juga pernah dipercaya untuk memimpin kelompok Kajian Majelis Intensif Studi Yuridis dan Kajian Pengetahuan Islam di Kairo.

    Tak Mudah Menyerah
    Mewujudkan mimpi untuk menjadi bagian dari upaya menumbuhkan peradaban Islam di tanah air tak semudah memutar balikan telapak tangan. Berbagai halangan ia rasakan, termasuk harus dirawat di rumah sakit.

    Setelah menyelesaikan masa pendidikan S2-nya di The Institute For Islamic Studies, Kairo dan kembali ke tanah air, Kang Abik memilih pekerjaan yang mulia, yaitu sebagai guru di MAN 1 Yogyakarta.

    Pada masa ini, tepatnya Mei 2003, Kang Abik mengalami kecelakaan. Patah kaki yang ia alami cukup serius sehingga ia harus dirawat cukup lama.

    “Saya dirawat di rumah sakit selama sembilan hari dan oleh dokter tidak diperbolehkan ke mana-mana selama sepuluh bulan agar kaki saya tidak menapak,” kata Kang Abik, dikutip dari Antara.

    Keterbatasan aktivitas karena harus berada di rumah membuat Kak Abik merasa terpuruk. Perasaan putus asa membayangi karena ia merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

    Tak mau berlama-lama berputus asa, Kang Abik berusaha bangkit.

    “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan jalan keluar dan menjamin kepadanya rejeki yang tak disangka-sangka”, Surat Ath-Thalaq ayat 2-3.

    Dengan segala pikiran positifnya terhadap Allah, ayat tersebut dipasangnya di kamar rumah saat ia sakit. Lantas, saat menjalani perawatan di rumah, demi melawan rasa putus asa, ia menulis cerpen untuk dikirim ke media massa.

    Akhirnya ia pun teringat pada sebuah cerpen berjudul Suatu Hari di Musim Panas, yang ia tulis saat pulang dari Kairo tahun 2002. Cerpen itu belum selesai, baru dua lembar.

    “Setelah saya teruskan di malam hari ternyata bablas 23 halaman. Kemudian, saya azam-kan (niatkan) menjadi novel. Kemudian saya buatkan alur ceritanya dan mulai besoknya saya garap. Saya menyelesaikan novel ini selama satu bulan,” kata suami dari Muyasarotun Sa’idah ini.

    Kak Abik mengungkapkan, ia mengumpulkan banyak informasi untuk menulis novel tersebut. Salah satu ilhamnya adalah ayat Alquran Surat Az Zukhruf ayat 67 dan Surat Yusuf. Yang mana, Allah berfirman sebagaimana orang-orang yang saling mencintai dan akrab pada hari kiamat, akan bermusuhan melainkan mereka yang bertakwa.

    Tak dinyana, novel yang berangkat dari cerpen yang belum rampung itu laris manis. Ayat-Ayat Cinta, begitu judul novelnya, berhasil menjadi Best Seller dengan perolehan royalti sekitar Rp1,5 miliar.

    Novel Ayat-Ayat Cinta ini berkisah tentang cinta yang sarat akan ajaran islami, kesetiaan cinta, keberagaman agama, suku dan ras serta cinta terhadap Tanah Air. Novel ini banyak bertutur tentang cara dan upaya menaklukkan masalah kehidupan dan cinta secara ajaran islam.

    Ayat-Ayat Cinta
    Sedikit cerita mengenai novel tersebut. Adalah seorang pemuda Indonesia bernama Fachri yang sedang menjalani pendidikannya di Universitas Al-Azhar. Pada suatu hari, di dalam kendaraan ia memergoki seorang yang menghina agamanya. Ia pun langsung membela agamanya. Bagi Fachri, penghinaan itu tindakan yang tak bisa dibiarkan.

    Saat itu, ada seorang gadis Turki-Jerman berdarah Palestina bernama Aisha yang melihat aksi Fachri dan mulai mengaguminya. Berlalunya waktu, Fachri dan gadis itu menjalani proses ta’aruf dan akhirnya menikah.

    Di sisi lain, seorang gadis beragama Kristen bernama Maria yang memiliki rasa kagum terhadap Islam dan senang membaca Alquran. Gadis tersebut juga mengagumi sosok pemuda Indonesia itu dan kemudian perasaan itu berubah menjadi cinta.

    Pemuda Indonesia itu tahu tentang perasaan Maria tersebut. Maka, atas izin Allah dan restu istri pertamanya, ia menikahi Maria.

    “Dalam novel ini, cinta yang dimaksud dalam cinta sesuai Islam, yakni yang bertanggung jawab. Namun, sebetulnya cinta dalam novel ini bukan sekedar cinta. Cinta hanyalah kemasan agar kisah dalam buku ini menjadi indah,” tutur Kang Abik.

    Novel tersebut mengungkapkan perasaan Fahri yang tertata dengan baik, ketika menjadi rebutan para perempuan. Ajaran tentang cinta dalam Islam disuguhkan dalam novel tersebut.

    Novel islaminya yang tak kalah populer ialah Ketika Cinta Bertasbih. Dikisahkan seorang pemuda Indonesia bernama Azam yang berjuang bertahan hidup di Kairo. Azam juga harus membiayai sekolah dan kehidupan keluarganya di Indonesia.

    Lewat novel yang kemudian –sama seperti Ayat-ayat Cinta— diangkat ke layar lebar memang bertujuan untuk memotivasi pemuda agar hidup mandiri.

    “Jangan hanya mau Pegawai Negeri Sipil (PNS), tapi jualan temped an bakso sebagaimana ditampilkan dalam film ini, bila ditangani professional pasti menjamin masa depan,” kata Kang Abik.

    Kang Abik mendapatkan inspirasi menulis Ketika Cinta Bertasbih saat menjadi dosen di Solo. Waktu itu, ia menemukan sejumlah mahasiswa yang enggan menyelesaikan skripsi.

    “Sejumlah mahasiswa itu khawatir jatah dari orang tua terputus dan dikejar orang tua agar bekerja atau menikah,” lanjutnya.

    Karya-karya lain yang dibuat oleh Kang Abik antara lain Dalam Mahrab Cinta, Bumi Cinta, Cinta Suci Zahrana dan lainnya. Selain novel, karya yang ia ciptakan adalah cerpen, puisi, serta kumpulan kisah-kisah Islami.

    Hampir semua karya yang ia buat mengandung pesan-pesan moral dan dakwah. Dengan apik, ia menyelipkan pesan keagamaan --tentang Allah, Rasulullah, diri sendiri, keluarga, negara dan kehidupan sosial-- dalam berbagai karyanya.

    Melalui karya sastranya, ia secara tidak langsung berdakwah kepada masyarakat. Cara tersebut dianggapnya mumpuni untuk membuat masyarakat kembali sadar akan ajaran-ajaran islam.

    Karya-karyanya tak hanya diminati oleh masyarakat Indonesia, tapi juga negara-negara lain, seperti, Malaysia, Singapura, Brunei dan lainnya.

    Layar Lebar
    Novel Kang Abik yang digemari publik baik dalam negeri maupun manca, mengundang pesinema Hanung Bramantya dan Chaerul Umam untuk mengangkat karyanya ke layar lebar.

    Bagi Kang Abik, hadirnya film yang diadaptasi dari novelnya berarti memperluas kesempatannya untuk berdakwah.

    “Berdakwah lewat sinema itu penting, karena Islam itu adalah universal seluruh aspek kehidupan, maka semua aspek kehidupan harus disentuh,” ujar ayah dua anak, Muhammad Neil Author dan Muhammad Ziaul Kautsar.

    Menurutnya, berdakwa lewat sinema itu merupakan hal yang potensial, karena sinema bagian dari media sangat luas jangkauan dan perannya. Karena itu, Kang Abik beranggapan, pelaku dakwah penting untuk melakukan dakwah melalui sinema.

    Dari belasan novel yang telah diterbitkan, setidaknya ada lima yang diangkat ke layar lebar. Yaitu Ayat-ayat Cinta 1 dan 2, Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, juga Dalam Mihrab Cinta.  Ayat-ayat Cinta 2 baru ditayangkan akhir tahun lalu.

    Ayat-ayat Cinta 1 terbilang sukses dan mampu menarik 3,6 juta penonton. Sementara, penonton Ayat-ayat Cinta 2  menembus 1 juta orang hanya dalam lima hari setelah ditayangkan.

    Beberapa penghargaan pun ia dapatkan atas hasil usaha dan kerja keras, seperti Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006.

    Setelah beberapa karyanya yang mendunia dan menginspirasi banyak orang, saat ini Kang Abik sedang mempersiapkan untuk melanjutkan kegiatan menulisnya. Serta, untuk selalu berdakwah di jalan Allah SWT, sesuai harapan dan cita-cita ayahnya. (Hani Setiawati)