Garuda-Sriwijaya Bersinergi, Setengah Pangsa Pasar Domestik Diraup

Kerja sama tersebut juga melingkupi anak perusahaan masing-masing maskapai, yaitu Citilink Indonesia dan NAM Air

  •  Pesawat perintis jenis ATR 72-600 milik maskapai Garuda Indonesia lepas landas di kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
    Pesawat perintis jenis ATR 72-600 milik maskapai Garuda Indonesia lepas landas di kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

    TANGGERANG — Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air bekerja sama code share penerbangan guna memperluas jaringan, khususnya pasar domestik. Hitung punya hitung, sinergi dua maskapai lokal ini  bisa memenuhi setengah dari pangsa pasar penerbangan domestik di Indonesia.

    Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury dan Direktur Utama Sriwijaya Air Chandra Lie menandatangani perjanjian code share tersebut di Kantor Garuda Indonesia, Tangerang, Banten, Rabu (16/5). Kerja sama tersebut juga melingkupi anak perusahaan masing-masing maskapai, yaitu Citilink Indonesia dan NAM Air.

    Pahala menyebutkan, pihaknya memiliki total 202 pesawat, di antaranya 104 Garuda Indonesia dan 58 Citilink dengan jumlah rute dan destinasi yang terbatas. "Total 51-52% pangsa pasar dari total pangsa pasar domestik. Kami bersyukur, Sriwijaya Group dan Garuda Indonesia Group bersama-sama melayani transportasi udara, makin lama makin tinggi," kata Pahala seperti dilansir Antara.

    Ia mengatakan dengan adanya code share maka ketergunaan pesawat bisa maksimal. "Enggak semua dari 104 pesawat bisa kita tingkatkan, cakupan utilisasi tingkat pengisian pesawat luas," serunya.

    Pahala melihat rute-rute Garuda dan Sriwijaya banyak perbedaan sehingga sangat berpotensi untuk dikerjasamakan. Kerja sama ini juga sebagai bentuk mengembangkan jaringan karena enggak semua tempat bisa dikembangkan sendiri oleh maskapai, tetapi antarmaskapai.

    “Wilayah operasi di Indonesia sebagai negara kepulauan ini memiliki cakupan yang sangat luar, kita punya keterbatasan armada yang dimiliki," tuturnya.

    Dengan adanya kerja sama tersebut, rute bisa berkembang tidak hanya rute-rute yang dilintasi Garuda, tetapi juga bisa meluas dengan menggunakan rute-rute dari Sriwijaya. Ia mencontohkan Garuda hanya memiliki rute Jakarta-Lombok, sementara Sriwijaya Lombok-Waingapu, jadi penerbangan bisa berlanjut dari Jakarta ke Waingapu, tanpa harus memindahkan bagasi dan pemesanan di platform reservasi tiket yang sama.

    "Kalau tadinya ada rute-rute yang belum kita terbangkan tapi diterbangkan Sriwijaya, interkoneksi lebih seamless juga reservasi sistem pembelian yang dimiliki," imbuhnya.

    Beberapa Fase
    Sebagai tahap awal kerja sama dilaksanakan melalui dua skema kerja sama yang saling menguntungkan yaitu skema perjanjian Special Prorate Agreement (SPA) dan Codeshare Agreement. Ke depannya pembukaan rute-rute pada agreement tersebut akan dibagi dalam beberapa fase.

    Kerja sama code share/SPA di rute-rute yang hanya diterbangi oleh salah satu maskapai (Garuda Indonesia sebagai maskapai yang mengoperasikan atau Sriwijaya sebagai maskapai yang mengoperasikan). Contoh, Yogyakarta - Palembang (dioperasikan oleh Sriwijaya, dan dipasarkan oleh Garuda Indonesia atau sebaliknya).

    Kerja sama code share juga dilakukan dengan mengombinasikan penerbangan yang dimiliki oleh kedua maskapai, contoh, Rute Jakarta - Sampit via Semarang; Jakarta - Semarang (dioperasikan oleh Garuda), Semarang - Sampit (dioperasikan oleh Sriwijaya). Kemudian, Rute Jakarta - Alor via Kupang; Jakarta - Kupang (dioperasikan oleh Garuda), Kupang - Alor (dioperasikan oleh Sriwijaya).

    Melalui kerja sama tersebut, Garuda Indonesia/Citilink akan menempatkan nomor penerbangan (flight number) pada penerbangan yang dikerjasamakan (codes share) dengan Sriwijaya/NAM Air. Sebaliknya Sriwijaya/NAM Air juga akan menempatkan nomor penerbangnya (flight number) pada penerbangan yang dikerjasamakan dengan Garuda Indonesia/Citilink.

    "Kita berharap ini akan baik bagi kedua maskapai. Kita bisa saling mengisi satu dengan lainnya. Membantu saling mengisi satu dengan lainnya," ujar Pahala.

    Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nusatyo menyebutkan, saat ini rata-rata tingkat keterisian pesawat yang dimiliki Sriwijaya Air sebesar 85%. Dengan kerja sama tersebut diharapkan bisa mengisi kekosongan 15%.

    "Dengan kerja sama ini kita pasti dapat pasar baru, tahun lalu penumpang kita 12,7 juta, sementara Garuda dan Citilink 36 juta," ucapnya.

    Direktur Utama Sriwijawa Group Chandra Lie pun optimistis, kerja sama ini menjadi suatu catatan sejarah dalam dunia jasa penerbangan di Indonesia, karena ada dua kekuatan maskapai besar yang bersinergi untuk membangun negeri.

    "Komitmen kerja sama dalam pelayanan ini diharapkan akan membawa kontribusi positif buat kemajuan transportasi udara di Indonesia dan mengedepankan kepentingan pelanggan dalam melakukan perjalanannya dari Sabang hingga Merauke," katanya.

    Kerja sama code share kedua group maskapai tersebut, akan efektif dua atau tiga bulan ke depan. Sedangkan kerja sama code share rute luar negeri sedianya akan dilakukan tahun ini, namun terlebih dahulu dilakukan penerbangan domestik yang efektif dua atau tiga tahun ke depan. (Faisal Rachman)