RISALAH PERGANTIAN TAHUN

Fokus Genjot Jumlah, Nilai Emisi IPO 2017 Rendah

Besarnya nilai emisi atau dana yang berhasil dihimpun dari proses pencatatan saham perdana sepanjang tahun ini adalah sebesar Rp9,56 triliun, atau yang terendah dalam tiga tahun terakhir

  • Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Validnews/rizal
    Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Validnews/rizal

    JAKARTA- Tahun ini Bursa Efek Indonesia (BEI) memang berhasil memecahkan rekor jumlah perusahaan yang melakukan penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO). Sepanjang tahun ini, terdapat 37 anggota baru penghuni lantai bursa.

    Jumlah emiten IPO tahun ini pun menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah, mengalahkan rekor sebelumnya yakni 31 emiten dalam satu tahun pada 2001 dan 2013. Meski demikian, nilai emisi atau dana yang terhimpun dari proses IPO 37 emiten baru tersebut merupakan yang terendah dalam tiga tahun terakhir.

    Berdasarkan data yang dihimpun dari Statistik Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan diolah oleh Validnews  maka nilai emisi sepanjang tahun ini adalah sebesar Rp9,56 triliun, terendah sejak 2014 yang kala itu hanya mencapai Rp8,3 triliun.

    Angka ini lebih rendah dari nilai emisi tahun 2016 sebesar Rp12,07 triliun dan 2015 sebesar Rp11,31 triliun, meski saat itu jumlah perusahaan yang IPO hanya 14 dan 16 emiten.

    Bahkan, nilai emisi 2017 masih lebih rendah ketimbang pencapaian di tahun 2013 (Rp16,73 triliun), 2011 (Rp19,7 triliun) dan tahun 2012 (Rp10,35 triliun). Adapun jumlah IPO di tahun 2011, 2012 dan 2013 masing-masing adalah sebanyak 25, 24 dan 30 emiten baru.

    Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat, dana yang terhimpun dari IPO tahun ini memang lebih kecil. Hal ini disebabkan karena sebagian besar perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO di tahun ini adalah perusahaan berskala kecil dan menengah.

    “Kabar gembiranya perusahaan yang berukuran medium dan kecil itu sudah banyak yang mau dan berani menggunakan alternatif penghimpunan dana dari pasar modal. Ini menunjukkan pengetahuan para pelaku usaha akan pasar modal mulai meningkat,” ujar Samsul saat ditemui Validnews di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (29/12).

    Keberanian para perusahaan kecil dan menengah untuk terjun ke pasar modal diharapkan mampu mendorong perusahaan lainnya, khususnya perusahaan besar untuk turut berani mencari alternatif pendanaan dari pasar modal.

    “Di Indonesia itu ada ribuan perusahaan, yang kami lihat memiliki prospek itu ada ratusan. Secara potensi, pasar modal kita paling besar ketimbang bursa-bursa regional lainnya,” ucap Samsul menambahkan.

    Emiten Pamungkas
    Pada perdagangan Jumat (29/12) atau hari perdagangan terakhir di tahun 2017, BEI kembali kehadiran penghuni baru. Ialah PT Prima Cakrawala Abadi Tbk, yang secara resmi menjadi emiten pamungkas yang melantai tahun 2017 ini, sekaligus menjadi emiten ke-567 yang tercatat di BEI.

    Saham Prima Cakrawala Abadi akan diperdagangkan dengan kode PCAR dan dicatatkan di papan pengembangan. Perusahaan yang bergerak dalam bidang industri produk perikanan khususnya rajungan itu akan masuk dalam sektor barang konsumsi (consumer goods) dengan sub sektor makanan dan minuman (food and beverages).

    “Kami merupakan emiten terakhir yang melantai di tahun ini, namun kami menjadi pabrik pengolahan rajungan pertama yang berhasil mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia,” ujar Direktur Utama PT Prima Cakrawala Abadi Tbk Raditya Wardhana dalam peresmian pencatatan saham PCAR di BEI, Jumat (29/12).

    Dalam aksi korporasi itu, PT Prima Cakrawala Abadi Tbk melepas saham ke publik sebanyak 466.666.700 lembar atau setara dengan 40% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Harga IPO saham PCAR sendiri ditetapkan Rp150, yang membuat perseroan meraup dana segar sekitar Rp70 miliar.

    “Sekitar 28,1% dana yang terhimpun akan kami gunakan untuk belanja modal perseroan, sisanya untuk modal kerja perseroan,” ujar Raditya menambahkan.

    Rinciannya dari belanja modal tersebut adalah 40% untuk pembelian peralatan baru untuk meningkatkan efisiensi biaya proses produksi. Kemudian, 20% digunakan untuk renovasi pabrik, sedangkan 40% lainnya digunakan untuk pembangunan fasilitas baru di daerah Rembang, Tuban, Cirebon, Lampung dan Belitung. Fasilitas baru tersebut akan digunakan sebagai tempat pengukusan dan pengupasan sehingga bisa menghemat biaya logistik perseroan.

    Adapun untuk modal kerja perseroan, rinciannya adalah 20% digunakan untuk pembelian daging dari nelayan, dan 80% digunakan untuk pembelian bahan baku, pembayaran utang usaha, beban produksi, beban pemasaran, acara pameran dan lain-lain.

    “Harapannya dana dari IPO ini mampu dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi kami. Target kami adalah menjadi produsen pengolahan hasil laut khususnya rajungan yang terbesar di dunia,” kata Raditya.

    Berdasarkan kinerja keuangan perusahaan, total pendapatan perusahaan hingga akhir Agustus 2017 melonjak hingga 318,63 persen menjadi Rp95,49 miliar dari periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp22,81 miliar. Meski demikian, perusahaan masih membukukan kerugian sebesar Rp3,55 miliar, atau turun dari kerugian di periode yang sama setahun sebelumnya sebesar Rp6,46 miliar.

    “Karena kami ada beban bunga sebelum-sebelumnya, dan juga produksi masih belum maksimal kemarin-kemarin ini. Namun bulan Agustus lalu utang bank berhasil kami lunasi. Tahun depan kami targetkan kenaikan penjualan menjadi Rp406 miliar,” ujar Raditya menambahkan.

    Prima Cakrawala Abadi sendiri mengandalkan pasar ekspor, dimana hampir sekitar 95% penjualan dihasilkan dari ekspor khususnya Amerika Serikat seperti Florida, Boston, New York dan Baltimore. Total ekspor dari awal tahun hingga Agustus 2017 mencapai 292 ton, naik 21 ton atau sekitar 7,19% dari tahun sebelumnya.

    Pada debut perdagangannya di BEI, PCAR langsung dibuka pada level Rp254 atau naik 69,33% dari harga IPO, alias menyentuh batas auto rejection IPO (70%). Hingga penutupan sesi perdagangan I, saham PCAR masih bertahan di level yang sama, dan baru diperdagangkan sebanyak 7 kali, dengan volume perdagangan sebesar 156 lot serta nilai perdagangan Rp3.962.400. (Rizal)